HOYAK TABUT
Oleh ; Dr.H.K.Suheimi
Waktu kecil saya selalu menunggu pesta hoyak tabut, ketika
hoyak tabut itulah Pariaman di datangi oleh banyak manusia.
Tampaklah dua buah tabut yang di Hoyak-hoyak itu di tengah lautan
manusia. Kota Pariaman itu biasanya lengang, tapi bila musim
tabut berobah menjadi lautan manusia sangat ramai dan berdesak-
desak, sehingga sebuah lagupun di dendangkan dengan Syair :
Pariaman tadanga langang,
musim tabut makonyo rami.
Tuan kanduang tadanga sanang,
bawolah tompang badan kami
Memang di hari-hari biasa Pariaman lengang, tapi di Hoyak
Tabut, dia terbangun, manusianya melimpah ruah, berbondong-bon
dongan ndak terhitung betapa banyaknya. Diwaktu kecil saya ndak
pernah melewati kesempatan yang sebaik seperti musim tabut itu,
saya sengaja pulang kampung, saya ikut beramai-ramai mengangkat,
mengarak dan menghoyaknya. Akan lebih bersemangat lagi kalau di
dera dan di bakar oleh bunyi Gandang Tabut, bagaikan gendang
perang, apalagi ditingkah oleh suara Tasa yang melejit-lejit dan
memekik-mekik. Terlebih-lebih kalau yang memukul Tasanya berpen­
galaman dan pintar, dan Tasanya sudah di panas dan dihangatkan
dengan menyangainya diatas kerisik daun kelapa kering yang di
bakar, maka suasana bertambah semarak. Dan yang mengangkat serta
yang menghoyak tabutpun seperti tak kenal lelah terbakar seman­
gatnya.
Dulu sebelum di Pariaman ada Listrik, maka Tabut itu dengan
leluasa dapat di arak keliling kota dan di hoyak dengan semangat
yang tinggi sambil berteriak "Hoyak Husein-Hoyak Husein" "Hoyak
Tabuik Hoyak" sebetulnya bukan "Hoyak" tapi adalah "Hayya Hu­
sein" artinya hidup Husein. Mengingatkan kita akan Husein Cucu
Nabi Muhammad SAW yang terbunuh di Padang Karbala dengan sangat
menggenaskan.
Dalam sejarah tercatat Husein terkepung , suasana panas ,
dia letih dia kehausan, sehingga membuat Husein lengah. Ketika
itulah Ibnu Syarik tentara Yazid menebas jari dan lengan Husein,
jari dan tangan itupun putus tercampak. Disaat seperti itulah
Sinnan bin Anis menusuk dadanya dan syammar bin Ziljausab memeng­
gal lehernya hingga putus, lalu memamerkan kepala Husein Bin Ali
pada ujung tombaknya. Kepala yang terputus itu di bawa ke kota
Kuffah untuk di persembahkan kepada Gubernur Abdullah bin Ziyad,
kemudian di kirim ke Khalifah Yazid di Damascus.
Tatkala Khalifah Yazid menyaksikan kepala Husein diatas baki
yang diserahkan oleh utusan, air matanya berlinag dan berkata,
"Aku tidak memerintahkan untuk membunuh Husein. Terkutuklah kau
anak Marjanah, seandainya aku berada disitu, pasti aku akan
memberikan keampunan kepadanya
Tubuh Husein Bin Ali di makamkan di Karbala (Sekarang terle­
tak di negara Irak menjadi kota suci bagi kaum syiah), sedangkan
kepalanya, atas perintah Khalifah Yazid di kuburkan dengan penuh
penghormatan di Madinah disisi makam ibunda Fatimah dan saudara
nya Hasan bin Ali.
Peristiwa inilah yang di coba gambarkan dalam pesta Tabut
setiap Tahun di Pariaman. Puncaknya ialah terjadi di hari Asura
10 muharam. Karena di hari itulah 10 muharam tahun 61 H Husein
terbunuh dengan sangat menggenaskan di Padang Karbala. Maka
sebelum pesta puncak Tabut di angkat bersama-sama diarak dan
akhirnya di bawa ke pinggir pantai untuk di buang ke laut lepas
Kira-kira seminggu sebelumnya ada acara-acara seperti Me
ngambil tanah, menebang batang pisang dan meng harak jari-jari.
Semua itu saya ikuti sewaktu masih kecil, ketika tinggal di
kampung di Pariaman. Kalau hari sudah senja disaat matahari mulai
tenggelam, terlihat cahayanya memantulkan warna merah darah, dan
lautpun memantulkan warna yang sama merahnya, disaat itulah Tabut
di buang ke Laut lepas. Itu pulalah saat-saat yang paling menye­
nangkan bagi kami anak-anak, berebutan mengambil kain beludru
yang meliliti bambu, memperebutkan bunga salapan, tidak peduli
akan gulungan hombak dan derasnya arus serta alunan laut. Sebagai
anak Asli Pariaman saya tak pernah gentar menghadapi gelombang
laut dan ombak yang berdebur. Sering kami mempermainkan dan di
permainkan oleh ombak. Sebagaimana nantinya akan sering di per­
mainkan oleh ombak dan gelombang kehidupan. Makanya terkenal
orang Pariaman sebagai perantau yang tangguh, ada di mana-mana
dan tidak gentar mengharungi lautan ke hidupan walaupun jauh di
rantau orang, jauh dari kampung dan sanak famili
Sekarang kesenangan-kesenangan seperti itu telah tak mungkin
saya nikmati lagi, tapi saya ingin tahu apa sebetulnya Tabut itu.
Dalam kepustakaan saya temukan bahwa Tabut berarti peti kayu yang
dilapisi dengan emas sebagai tempat menyompan manuskrip kitab
Taurat yang di tulis diatas batu. Di dalam Al-Qur'an pun terbaca
kata-kata Tabut dalam rangkain ceritra Talut dan Jalut. Disebut­
kan bahwa sebagai tanda Talut akan menjadi raja ialah kembalinya
tabut tersebut ke tangan Bani Israil setelah tabut itu hilang
diambil oleh musuh pada masa pemerintahan Samuel. Nabi mereka
mengatakan kepada mereka "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja
ialah kembalinya tabut kepadamu, didalamnya terdapat ketenangan"
Surat Al Baqarah ayat 248.
Diadakannya pesta tabut adalah untuk mengenang kembali
peristiwa sejarah yang sangat penting yang terjadi pada hari
Asura yaitu musibah pembantaian Husein bin Ali bersama pengikut
dan keluarganya di Padang karbala oleh pasukan Yazid dari dinasti
umayyah. Peristiwa ini ternyata membawa dampak yang amat besar
dalam sejarah perkembangan Islam. Disatu sisi hati umat Islam
tersayat oleh perbuatan biadab dari pasukan Yazid dan disisi lain
rasa hormat terhadap Husein semakin besar. Rasa haru dan rasa
hormat itu akhirnya menumbuhkan hasrat untuk menjadikan hari
kematian Husein itu sebagai hari yang perlu di peringati, apalagi
hari itu memang hari yang di muliakan Allah swt dan RasulNya
yaitu hari Asura.
Pada mulanya memperingati terbunuhnya Husein tersebut hanya
dalam bentuk sederhana, berupa ziarah ke tempat peristiwa berda
rah itu, tapi lama kelamaan membudaya menjadi suatu peringatan
yang dilakukan secara besar-besaran.
Dari hal diatas timbulah inisiatif pemuka Islam di zaman
lampau untuk merayakan hari Asura tersebut. Upacara perarakan
tabut yang yang diiringi dengan sorakan "hayya Husein" atau
"Hidup Husein" sudah pasti mempunyai kaitan yang erat dengan
peristiwa sejarah diatas. Oleh karena itu, tidak salah kalau
timbul suatu dugaan bahwa aliran Syiah pernah menjejakkan kakinya
diperairan Barat Pulau Sumatera, sehingga di Bengkulupun perayaan
Tabut ini meriah. Namun kemungkinan itu belum di teliti dengan
Memadai
Dari latar belakang diatas kelihatan bahwa tujuan pembua­
tan dan pengarakkam tabut itu mempunyai kaitan yang erat dengan
ekspressi rasa duka dan rasa hormat terhadap Husein bin Ali
yang meninggal pada hari asura. Sebagai simbol dari rasa duka
sekali gus hormat itu dibuatlah rangkaian "bunga raksasa" yang
disebut tabut. Seperti karangan bunga yang berwarna putih pertan­
da berduka, seperti bunga kamboja yang di kampung saya disebut
dengan bunga salapan. Membuang tabut ke laut bagaikan menabur
karangan bunga sebagai ungkapan duka yang dalam.
Waktu saya kecil yang suka bergembira, berteriak bermain
ombak dan berebutan memperebutkan tabut yang di buang, saya
sangat menantikan saat-saat seperti itu ialah ketika tabut itu di
buang. Tapi kini setelah saya beranjak dewasa, timbul fikiran
lain, bukankah sesuatu yang dibuang-buang itu sia-sia dan muba­
zir? Dan Mubazirun Ikhwanul Syaitan?. Apalagi kalau yang di buang
itu dua buah tabut besar yang biayanya bukan main, membuatnya
membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang sangat besar. Tidak
mudah membuatnya dan tak mudah pula mengumpulkan dana yang demi­
kian besar, hanya untuk di buang?. Apakah tidak sebaiknya, tabut
itu diarak juga ke pinggir laut, dan secara simbolis ada sesuatu
yang di buang kelaut sebagai penganti tabut. Bisa saja tabut mini
yang kecil yang biasa diarak waktu minta sumbangan sebelum Tabut
besar keluar. Atau yang di buang itu salah satu saja dari bunga
salapan yang di potong dan dihanyutkan ke laut lepas, sedangkan
yang lain-lainnya di simpan dan di pelihara kembali, karena pesta
tabut ini akan berulang setiap tahunya. Dan disaat pembuangan ke
laut diadakan tata cara yang baik sambil mengingatkan dan menge­
nang sejarah Husein dan berduka atas kepergiannya. Mungkin ada
kata-kata yang menusuk dan menggugah hati untuk mengingat kembali
bahwa Islam ini pernah tercabik-cabik, hanya oleh karena persoa­
lan kecil dan sepele dan juga karena terjadinya salah pengertian,
dan saling curiga. Kita peringati agar peristiwa itu tidak
terulang lagi. Supaya kita bersatu padu jangan sampai terpecah.
Kita rasakan akibat terpecah menimbulkan kemunduran dan kerancuan
dalam agama kita. Untuk itu saya teringat akan sebuah Firman
Tuhan dalam Al=Qur'an dalam surat Al hujarat ayat 11:
"Hai Orang-orang beriman Janganlah suatu kaum meng olok-
olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang di olok-
olokkan) lebih baik dari mereka (Yang meng olok-olokan) dan
jangan pula wanita-wanita (meng olok-olok an) wanita lain (kare­
na) boleh jadi wanita (yang di olok-olokan) lebih baik dari pada
yang mengolok-olokkan, dan janganlah kamu panggil memanggil
dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah
(panggilan) yang buruk sesudah (mereka) beriman dan barang siapa
yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim"
P a d a n g 29 Juni 1994
---------------------------------
Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================