Ass Wr Wb bapak Suheimi yth
   
  Senang membaca tulisan bapak. 
  Hanifah sering juga menyaksikan pesta tabot di Bengkulu. Karena perayaannya 
dibuat besar-besaran. Jumlah tabotnya tidak hanya satu tapi banyak. Tabot 
itupun ada penilaiannya, jadi ada yang juara. Untuk meramaikan acara taboot, 
setiap malam selama 10 hari juga diadakan pesta / lomba seni budaya Bengkulu. 
Kadang kadang kami tersenyum ketika ada tari dari suatu daerah ternyata tarinya 
serupa dengan tari di minang yang di poles sedikit sehingga tidak percis sama.
   
  Tabot tersebut tidak semuanya dibuang, tapi yang agak aneh ketika berada 
dekat pusara tempat pembuangan taboot ( di bengkulu tabot dibuang bukan ke 
laut), entah pura-pura atau beneran beberapa diantara pengusung tabot (?) 
entahlah entah siapa, selalu ada yang kesurupan setiap tahunnya. 
   
  Ini tulisan tentang taboot Bengkulu
   
  http://www.fatimah.org/artikel/taboot.htm
   
  Wass
   
  Hanifah Damanhuri
  

suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  HOYAK TABUT

Oleh ; Dr.H.K.Suheimi

Waktu kecil saya selalu menunggu pesta hoyak tabut, ketika 

hoyak tabut itulah Pariaman di datangi oleh banyak manusia. 

Tampaklah dua buah tabut yang di Hoyak-hoyak itu di tengah lautan 

manusia. Kota Pariaman itu biasanya lengang, tapi bila musim 

tabut berobah menjadi lautan manusia sangat ramai dan berdesak-

desak, sehingga sebuah lagupun di dendangkan dengan Syair : 

Pariaman tadanga langang, 

musim tabut makonyo rami. 

Tuan kanduang tadanga sanang, 

bawolah tompang badan kami

Memang di hari-hari biasa Pariaman lengang, tapi di Hoyak 

Tabut, dia terbangun, manusianya melimpah ruah, berbondong-bon

dongan ndak terhitung betapa banyaknya. Diwaktu kecil saya ndak 

pernah melewati kesempatan yang sebaik seperti musim tabut itu, 

saya sengaja pulang kampung, saya ikut beramai-ramai mengangkat, 

mengarak dan menghoyaknya. Akan lebih bersemangat lagi kalau di 

dera dan di bakar oleh bunyi Gandang Tabut, bagaikan gendang 

perang, apalagi ditingkah oleh suara Tasa yang melejit-lejit dan


memekik-mekik. Terlebih-lebih kalau yang memukul Tasanya berpen&shy;

galaman dan pintar, dan Tasanya sudah di panas dan dihangatkan 

dengan menyangainya diatas kerisik daun kelapa kering yang di 

bakar, maka suasana bertambah semarak. Dan yang mengangkat serta 

yang menghoyak tabutpun seperti tak kenal lelah terbakar seman&shy;

gatnya.

Dulu sebelum di Pariaman ada Listrik, maka Tabut itu dengan 

leluasa dapat di arak keliling kota dan di hoyak dengan semangat 

yang tinggi sambil berteriak "Hoyak Husein-Hoyak Husein" "Hoyak 

Tabuik Hoyak" sebetulnya bukan "Hoyak" tapi adalah "Hayya Hu&shy;

sein" artinya hidup Husein. Mengingatkan kita akan Husein Cucu 

Nabi Muhammad SAW yang terbunuh di Padang Karbala dengan sangat 

menggenaskan. 

Dalam sejarah tercatat Husein terkepung , suasana panas , 

dia letih dia kehausan, sehingga membuat Husein lengah. Ketika 

itulah Ibnu Syarik tentara Yazid menebas jari dan lengan Husein, 

jari dan tangan itupun putus tercampak. Disaat seperti itulah 

Sinnan bin Anis menusuk dadanya dan syammar bin Ziljausab memeng&shy;

gal lehernya hingga putus, lalu memamerkan kepala Husein Bin Ali 

pada ujung tombaknya. Kepala yang terputus itu di bawa ke kota 

Kuffah untuk di persembahkan kepada Gubernur Abdullah bin Ziyad, 

kemudian di kirim ke Khalifah Yazid di Damascus.

Tatkala Khalifah Yazid menyaksikan kepala Husein diatas baki 

yang diserahkan oleh utusan, air matanya berlinag dan berkata, 

"Aku tidak memerintahkan untuk membunuh Husein. Terkutuklah kau 

anak Marjanah, seandainya aku berada disitu, pasti aku akan 

memberikan keampunan kepadanya

Tubuh Husein Bin Ali di makamkan di Karbala (Sekarang terle&shy;

tak di negara Irak menjadi kota suci bagi kaum syiah), sedangkan 

kepalanya, atas perintah Khalifah Yazid di kuburkan dengan penuh 

penghormatan di Madinah disisi makam ibunda Fatimah dan saudara 

nya Hasan bin Ali.

Peristiwa inilah yang di coba gambarkan dalam pesta Tabut 

setiap Tahun di Pariaman. Puncaknya ialah terjadi di hari Asura 

10 muharam. Karena di hari itulah 10 muharam tahun 61 H Husein 

terbunuh dengan sangat menggenaskan di Padang Karbala. Maka 

sebelum pesta puncak Tabut di angkat bersama-sama diarak dan 

akhirnya di bawa ke pinggir pantai untuk di buang ke laut lepas

Kira-kira seminggu sebelumnya ada acara-acara seperti Me 

ngambil tanah, menebang batang pisang dan meng harak jari-jari. 

Semua itu saya ikuti sewaktu masih kecil, ketika tinggal di 

kampung di Pariaman. Kalau hari sudah senja disaat matahari mulai 

tenggelam, terlihat cahayanya memantulkan warna merah darah, dan 

lautpun memantulkan warna yang sama merahnya, disaat itulah Tabut 

di buang ke Laut lepas. Itu pulalah saat-saat yang paling menye&shy;

nangkan bagi kami anak-anak, berebutan mengambil kain beludru 

yang meliliti bambu, memperebutkan bunga salapan, tidak peduli 

akan gulungan hombak dan derasnya arus serta alunan laut. Sebagai 

anak Asli Pariaman saya tak pernah gentar menghadapi gelombang 

laut dan ombak yang berdebur. Sering kami mempermainkan dan di 

permainkan oleh ombak. Sebagaimana nantinya akan sering di per&shy;

mainkan oleh ombak dan gelombang kehidupan. Makanya terkenal 

orang Pariaman sebagai perantau yang tangguh, ada di mana-mana 

dan tidak gentar mengharungi lautan ke hidupan walaupun jauh di 

rantau orang, jauh dari kampung dan sanak famili

Sekarang kesenangan-kesenangan seperti itu telah tak mungkin 

saya nikmati lagi, tapi saya ingin tahu apa sebetulnya Tabut itu. 

Dalam kepustakaan saya temukan bahwa Tabut berarti peti kayu yang 

dilapisi dengan emas sebagai tempat menyompan manuskrip kitab 

Taurat yang di tulis diatas batu. Di dalam Al-Qur'an pun terbaca 

kata-kata Tabut dalam rangkain ceritra Talut dan Jalut. Disebut&shy;

kan bahwa sebagai tanda Talut akan menjadi raja ialah kembalinya 

tabut tersebut ke tangan Bani Israil setelah tabut itu hilang 

diambil oleh musuh pada masa pemerintahan Samuel. Nabi mereka 

mengatakan kepada mereka "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja 

ialah kembalinya tabut kepadamu, didalamnya terdapat ketenangan" 

Surat Al Baqarah ayat 248.

Diadakannya pesta tabut adalah untuk mengenang kembali 

peristiwa sejarah yang sangat penting yang terjadi pada hari 

Asura yaitu musibah pembantaian Husein bin Ali bersama pengikut 

dan keluarganya di Padang karbala oleh pasukan Yazid dari dinasti 

umayyah. Peristiwa ini ternyata membawa dampak yang amat besar 

dalam sejarah perkembangan Islam. Disatu sisi hati umat Islam 

tersayat oleh perbuatan biadab dari pasukan Yazid dan disisi lain 

rasa hormat terhadap Husein semakin besar. Rasa haru dan rasa 

hormat itu akhirnya menumbuhkan hasrat untuk menjadikan hari 

kematian Husein itu sebagai hari yang perlu di peringati, apalagi 

hari itu memang hari yang di muliakan Allah swt dan RasulNya 

yaitu hari Asura. 

Pada mulanya memperingati terbunuhnya Husein tersebut hanya 

dalam bentuk sederhana, berupa ziarah ke tempat peristiwa berda 

rah itu, tapi lama kelamaan membudaya menjadi suatu peringatan


yang dilakukan secara besar-besaran.

Dari hal diatas timbulah inisiatif pemuka Islam di zaman 

lampau untuk merayakan hari Asura tersebut. Upacara perarakan 

tabut yang yang diiringi dengan sorakan "hayya Husein" atau 

"Hidup Husein" sudah pasti mempunyai kaitan yang erat dengan 

peristiwa sejarah diatas. Oleh karena itu, tidak salah kalau 

timbul suatu dugaan bahwa aliran Syiah pernah menjejakkan kakinya 

diperairan Barat Pulau Sumatera, sehingga di Bengkulupun perayaan 

Tabut ini meriah. Namun kemungkinan itu belum di teliti dengan 

Memadai

Dari latar belakang diatas kelihatan bahwa tujuan pembua&shy;

tan dan pengarakkam tabut itu mempunyai kaitan yang erat dengan 

ekspressi rasa duka dan rasa hormat terhadap Husein bin Ali 

yang meninggal pada hari asura. Sebagai simbol dari rasa duka 

sekali gus hormat itu dibuatlah rangkaian "bunga raksasa" yang 

disebut tabut. Seperti karangan bunga yang berwarna putih pertan&shy;

da berduka, seperti bunga kamboja yang di kampung saya disebut 

dengan bunga salapan. Membuang tabut ke laut bagaikan menabur 

karangan bunga sebagai ungkapan duka yang dalam.

Waktu saya kecil yang suka bergembira, berteriak bermain 

ombak dan berebutan memperebutkan tabut yang di buang, saya 

sangat menantikan saat-saat seperti itu ialah ketika tabut itu di 

buang. Tapi kini setelah saya beranjak dewasa, timbul fikiran 

lain, bukankah sesuatu yang dibuang-buang itu sia-sia dan muba&shy;

zir? Dan Mubazirun Ikhwanul Syaitan?. Apalagi kalau yang di buang 

itu dua buah tabut besar yang biayanya bukan main, membuatnya 

membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang sangat besar. Tidak

mudah membuatnya dan tak mudah pula mengumpulkan dana yang demi&shy;

kian besar, hanya untuk di buang?. Apakah tidak sebaiknya, tabut 

itu diarak juga ke pinggir laut, dan secara simbolis ada sesuatu 

yang di buang kelaut sebagai penganti tabut. Bisa saja tabut mini 

yang kecil yang biasa diarak waktu minta sumbangan sebelum Tabut 

besar keluar. Atau yang di buang itu salah satu saja dari bunga 

salapan yang di potong dan dihanyutkan ke laut lepas, sedangkan 

yang lain-lainnya di simpan dan di pelihara kembali, karena pesta 

tabut ini akan berulang setiap tahunya. Dan disaat pembuangan ke 

laut diadakan tata cara yang baik sambil mengingatkan dan menge&shy;

nang sejarah Husein dan berduka atas kepergiannya. Mungkin ada 

kata-kata yang menusuk dan menggugah hati untuk mengingat kembali 

bahwa Islam ini pernah tercabik-cabik, hanya oleh karena persoa&shy;

lan kecil dan sepele dan juga karena terjadinya salah pengertian, 

dan saling curiga. Kita peringati agar peristiwa itu tidak 

terulang lagi. Supaya kita bersatu padu jangan sampai terpecah. 

Kita rasakan akibat terpecah menimbulkan kemunduran dan kerancuan 

dalam agama kita. Untuk itu saya teringat akan sebuah Firman 

Tuhan dalam Al=Qur'an dalam surat Al hujarat ayat 11:

"Hai Orang-orang beriman Janganlah suatu kaum meng olok-

olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang di olok-

olokkan) lebih baik dari mereka (Yang meng olok-olokan) dan 

jangan pula wanita-wanita (meng olok-olok an) wanita lain (kare&shy;

na) boleh jadi wanita (yang di olok-olokan) lebih baik dari pada 

yang mengolok-olokkan, dan janganlah kamu panggil memanggil 

dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah 

(panggilan) yang buruk sesudah (mereka) beriman dan barang siapa 

yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim"

P a d a n g 29 Juni 1994


                
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls.  Great rates 
starting at 1ยข/min.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke