Dunsanak ABP ysh,
  Mengenai istilah Paderi sendiri, tentulah bukan berasal dari Badri.
  Penamaan ini menurut hemat saya diberikan di dalam literatur Belanda pada 
saat itu terhadap gerakan keagamaan yang bercirikan “paderi”. Dulu saya coba 
menelusuri istilah ini, dan bertemu dengan suatu riwayat seorang pendeta 
Kristen di Eropah yang berpenampilan sangat sederhana, dan cenderung fakir. 
Metode dakwah yang dilakukannya adalah mendatangi keluarga-keluarga miskin 
serta mengajarkan kebijakan Kristen melalui penampilan yang sederhana. 
Kemudiannya syiar Kristen dengan metode tersebut dinamakan dengan Paderi 
(pendeta fakir).
   
  Bilamana kita mencoba menerawang kondisi awal Paderi di Minangkabau, ke-3 
haji dan berikutnya adalah Harimau nan Salapan melakukan dakwah dari rumah ke 
rumah, mendatangi tokoh-tokoh setempat, melakukan negosiasi dlsb, untuk 
kemudiannya menghimpun kekuatan secara perlahan-lahan. Penampilan kaum Paderi 
sangat sederhana, di antaranya dengan mengenakan pakaian putih-putih, yang 
menggambarkan tiadanya keinginan untuk meraih kepentingan duniawi; suatu hal 
yang merupakan antitesis terhadap kepentingan politik kemasyarakatan pada saat 
itu. Hal ini kemudian dianalogikan dengan gerakan Paderi, terutama diistilahkan 
dalam literatur Barat.
   
  Cerita Paderi dalam catatan AQD saya teruskan sebagai berikut :
   
  “…..Kemenangan pertama yang gemilang bagi kaum Padri, mendorong Tuanku Nan 
  Renceh sebagai pimpinan gerakan ini untuk memperkuat dan melengkapi 
  persenjataan pasukan Padri. Tindakan ofensif bagi daerah--daerah yang 
  menentang kaum Padri segera dilakukan. Daerah Kamang Hilir ditaklukkan, 
  kemudian menyusul daerah Tilatang. Dengan demikian seluruh Kamang telah 
  berada di tangan kaum Padri. 
   
  Dari Kamang operasi pasukan Padri ditujukan ke luar yaitu Padang Rarab dan 
  Guguk jatuh ketangan kaum Padri. Lalu daerah Candung, Matur dan bahkan 
  pada tahun 1804 seluruh daerah Luhak Agam telah ber-ada di dalam kekuasaan 
  kaum Padri. 
   
  Keberhasilan kaum Padri menguasai daerah Luhak Agam, selain kesungguhan 
  yang keras, tetapi juga kondisi masyarakatnya memang sangat memungkinkan 
  untuk cepat berhasil. Sebab daerah Luhak Agam terkenal tempat bermukimnya 
  ulama-ulama besar seperti Tuanku Pamansiangan dan Tuanku Nan Tuo, 
  sedangkan pengaruh para penghulu sangat tipis. Wibawa para peng-hulu 
  berada di bawah pengaruh para ulama. 
   
  Operasi pasukan Padri ke daerah Luhak Lima Puluh Kota berjalan dengan 
  damai. Sebab penghulu daerah ini bersedia menyatakan taat dan patuh kepada 
  kaum Padri serta siap membantu setiap saat untuk kemenangan kaum Padri. 
   
  Dengan berkuasanya kaum Padri; maka daerah--daerah yang berada di dalam 
  kekuasaannya diadakan perubahan struktur pemerintahan yaitu pada setiap 
  nagari diangkat seorang 'Imam dan seorang Kadhi'. Imam bertugas memimpin 
  peribadahan seperti sembahyang berjam aah lima waktu sehari semalam, 
  puasa, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah-masalah ibadah. Kadhi 
  bertugas untuk menjaga kelancaran dijalankannya syari'at Islam dalam arti 
  kata lebih luas dan menjaga ketertiban Umum. 
   
  Di daerah Luhak Tanah Datar, pasukan kaum Padri tidak semudah dan selicin 
  di daerah Luhak Adam dan Lima Puluh Kota untuk memperoleh kekuasaannya. Di 
  sini pasukan kaum Padri mendapat perlawanan yang sengit dari golongan 
  penghulu dan pemangku adat. Sebab Luhak Tanah Datar adalah merupakan pusat 
  kekuasa-an adat Minangkabau. Kekuasaan itu berpusat di Pagaruyung yang 
  dipimpin oleh Yang Dipertuan Minangkabau. Di  waktu itu Yang Dipertuan atau 
Raja Minangkabau adalah Sultan Arifin Muning Syah. 
   
  Pada pemerintahan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung terdapat tiga 
  orang raja yang berkuasa yang dikenal dengan nama Raja Tigo Selo, yaitu : 
  (a) Raja Alat atau Yang Dipertuan Pagaruyung, adalah yang memegang 
  kekuasaan tertinggi di seluruh Minangkabau. (b) Raja Adat, adalah yang 
  memegang kekuasaan dalam masalah adat. (c) Raja Ibadat adalah yang 
  memegang kekuasaan dalam masalah agama. 
   
  Dalam pelaksanaan pemerintah sehari-hari Raja Tigo Selo dibantu oleh Basa 
  Empat Balai yang berkedudukan sebagai menteri dalam pemerintahan 
  Minangkabau di Pagaruyung. Mereka itu adalah : 
   
  - Dt. Bandaharo atau Tuan Tittah di Sungai Tarab, yang mengepalai tiga 
  orang lainnya atau dapat dikatakan sebagai Perdana Menteri; 
  - Makkudun di Sumanik, yang menjaga kewibawaan istana dan menjaga bubungan 
  dengan daerah rantau dan daerah-daerah lainmya; 
  - Indomo di Suruaso, yang bertugas menjaga kelancaran pelaksanaan adat; 
  - Tuan Kadhi di Padang Ganting; yang bertugas menjaga kelancaran syari'at 
  atau agama. 
   
  Di samping Basa Empat Balai ada seorang lagi, yaitu Tuan Gadang di Batipuh 
  yang bertindak sebagai Pang-lima Perang, kalau Pagaruyung kacau dialah 
  bersama pasukannya untuk mengamankannya. 
   
  Kekuasaan Raja Minangkabau sebetulnya tidak begitu terasa oleh rakyat 
  dalam kehidupan sehari-hari, karena nagari-nagari di Minangkabau mendapat 
  otonomi yang sangat luas, sehingga segala sesuatu di dalam nagari dapat 
  diselesaikan oleh kepala nagari melalui 
   kerapatan adat nagari. Kalau masalahnya tidak selesai dalam nagari baru 
  dibawa ke pimpinan Luhak (kira-kira sana dengan kabupaten sekarang). Kalau 
  masih belum selesai diteruskan ke Basa Empat Balai untuk selanjut-nya 
  diteruskan ke Raja Adat atau Raja Iba dat, tergantung pada masalahnya. 
  Kalau semuanya tak dapat menyelesaikan masalahnya, maka akan diputuskan 
  oleh Raja Minangkabau. 
   
  Oleh karena itu gerakan Padri oleh Raja Minang-kabau dan stafnya dianggap 
  satu bahaya besar, sebab gerakan ini akan mengambil kekuasaan mereka. 
  Selain itu para bangsawan pun cemas, karena khawatir adat nenek-moyang 
  yang telah turun-menurun akan lenyap, ji ka kaum Padri berkuasa. 
   
  Pertempuran sengit di daerah Luhak Tanah Datar antara pasukan Padri dengan 
  pasukan Raja berjalan sangat alot. Perebutan daerah Tanjung Barulak, salah 
  satu jalan untuk masuk ke pusat kekuasaan Minang-kabau dari Luhak Agam, 
  sering berpindah tangan, terkadan g dikuasai pasukan Padri, terkadang 
  dapat di-rebut kembali oleh pasukan raja. Walaupun begitu, pasukan Padri 
  makin hari makin maju, sehingga daerah kekuasaan para penghulu makin lama 
  makin kecil. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk bagi para penghulu, 
  akhirnya atas persetujuan Yang Dipertuan di Pagaruyung, Basa Empat Balai 
  meng adakan perundingan dengan kaum Padri. 
   
  Perundingan itu dilaksanakan di nagari Koto Tangah pada tahun 1808, 
  sesudah enam tahun gerakan kaum Padri melancarkan aksinya. Kaum Padri 
  dalam perun-dingan itu dipimpin oleh Tuanku Lintau yang datang dengan 
  seluruh pasukannya, sedangkan para penghulu dip impin oleh Raja 
  Minangkabau sendiri. Seluruh staf raja dan sanak keluarganya hadir dalam 
  pertemuan ter-sebut, tanpa menaruh curiga sedikit juga, karena gencatan 
  senjata telah disepakati sebelumnya. 
   
  Tetapi sekonyong-konyong keadaan menjadi kacau sebelum perundingan 
  dimulai. Karena kesalah-pahaman antara bawahan Tuanku Lintau yang bernama 
  Tuanku Belo dengan para staf raja, yang berakibat meledak men-jadi 
  perkelahian dan pertumpahan darah. 
   
  Raja dan hampir sebagian terbesar staf dan keluarga-nya mati terbunuh 
  dalam perkelahian itu, hanya ada beberapa orang dari para penghulu dan 
  seorang cucu raja yang dapat selamat meloloskan diri sampai ke Kuantan. 
   
  Mendengar peristiwa berdarah ini, Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan 
  tertinggi gerakan Padri sangat marah terhadap Tuanku Lintau dan 
  pasukannya, karena dianggap melanggar gencatan senjata yang telah 
  di-sepakati dan berarti menggagalkan usaha perdamaian. 
   
  Dengan peristiwa ini, maka praktis seluruh Luhak Tanah Datar menyerah 
  kepada kaum Padri tanpa per-lawanan, karena takut melihat pengalaman di 
  Koto Tangah. …..”
   
  Kemudian mengenai Tuanku Imam Bonjol, alhamdulillah awal tahun ini saya 
akhirnya berkesempatan mengunjungi makam beliau di Pineleng Manado. Rasanya 
haru di malam itu membayangkan perjuangan beliau hingga akhirnya dibuang begitu 
jauh dari kampung halaman. Beliau meninggal dalam usia tua, setelah 27 tahun 
berada di pengasingan. Dari diskusi dengan Prof. Waworuntu disebutkan, ada 
sebuah pantai di Manado yang kondisinya begitu sama dengan sebuah pantai di 
Padang. Hal ini mungkin kiranya beliau merasa cukup betah berada dalam 
pengasingan.
   
  Sebenarnya keberadaan beliau dalam Perang Paderi baru dimulai pada era antara 
tahun 1808 s/d 1812-an. Dengan demikian beliau adalah generasi kedua dalam 
Perang Paderi. Saya tampilkan lagi catatan AQD mengenai beliau :
   
  “…..Untuk mengokohkan gerakan kaum Padri, Tuanku Nan Renceh telah 
  memerintahkan salah seorang murid-nya yang bernama Malin Basa atau Peto 
  Syarif atau Muhammad Syahab, untuk membuat sebuah benteng yang kuat, 
  sebagai markas gerakan kaum Padri. Pemilihan Malin B asa, yang kemudian 
  bergelar Tuanku Mudo nntuk membuat benteng besar, guna menjadi pusat 
  gerakan kaum Padri, disebabkan karena Malin Basa (Tuanku Mudo) seorang 
  murid yang pandai, alim dan berani. 
   
  Perintah Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan ter-tinggi gerakan Padri dan 
  guru dari Tuanku Mudo, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan 
  keberanian dan berhasil memilih tempat di sebelah timur Alahan Panjang, di 
  kaki bukit yang bernama Bukit Tajadi. Deng an bantuan seluruh umat Islam 
  yang tinggal di sekitarAlahan Panjang, di mana setiap hari bekerja tidak 
  kurang dari 5000 orang, akhirnya 'Benteng Bonjol' yang terletak di bukit 
  Tajadi itu menjelma menjadi kenyataan dengan ukuran panjang kelilingnya 
  kira-ki ra 800 meter dengan areal seluas kira-kira 90 hektar, tinggi 
  tembok empat meter dengan tebalnya tiga meter. Di sekelilingnya ditanami 
  pagar aur berduri yang sangat rapat. 
   
  Di tengah-tengah benteng Bonjol berdiri dengan megahnya sebuah masjid yang 
  lengkap dengan per-kampungan pasukan Padri dan rakyat yang setiap saat 
  mereka dapat mengerjakan sawah ladangnya untuk keperluan hidup 
  sehari-hari. Sesuai dengan, fungsinya, maka be nteng Bonjol juga 
  diperlengkapi dengan per-senjataan perang, guna setiap saat siap 
  menghadapi per-tempuran. Benteng Bonjol itu dipimpin langsung oleh Tuanku 
  Mudo yang bertindak sebagai 'imam' dari masyarakat benteng Bonjol, yang 
  sesuai dengan struktur pem erintahan kaum Padri. Oleh sebab itu, Tanku 
  Mudo digelari dengan 'Imam Bonjol'. …..”
   
  Saya masih mencari literatur mengenai Tuanku Imam Bonjol ini, kalau tidak 
salah ada sebuah buku yang khusus menulis tentang sejarah beliau. Termasuk 
untuk mencari jawaban atas beberapa pertanyaan :
  - Suatu alasan bila beliau berangkat dari Pasaman untuk berguru ke sekitar 
Agam, atau malah sampai ke Kamang?
  - Suatu alasan kenapa benteng itu dibangun di Bonjol Alahan Panjang pada saat 
itu? Mengingat Belanda belum masuk ke Minangkabau.
   
  Seorang rekan di Bandung mengatakan, bahwa dari buku Sejarah Sumatera karya 
Sir Stamford Raffles (?), bahwa ada upaya penyebaran pengaruh Inggris hingga ke 
Minangkabau, terutama dengan kian menangnya Perancis di Eropah. Dengan demikian 
Benteng Bonjol dimaksudkan untuk menahan serangan Inggris dari Timur.
   
  Atau sebenarnya juga, Imam Bonjol berusaha “meluruskan” gerakan Paderi yaitu 
sebagai upaya mengIslamkan wilayah utara? Hal ini coba kita baca lagi dari 
catatan AQD sbb:
   
  “…..Setelah benteng Bonjol selesai dan struktur pemerin-tahan lengkap 
berdiri, 
  Imam Bonjol memulai gerakan Padrinya ke daerah-daerah sekitar Alahan 
  Panjang dan berhasil dengan sangat memuaskan. Keberbasilan Imam Bonjol 
  dengan pasukannya menimbulkan kecemasan para penghulu di Alahan Panjang 
  seperti antara lain Datuk Sati. Kecemasan ini melahirkan satu gerakan para 
  penghulu di Alahan Panjang untuk menyerang pasukan Imam Bonjol dan merebut 
  benteng sekaligus. Pada tahun 1812 Datuk Sati dengan pasukannya menyerbu 
  benteng Bonjol, tetapi sia-sia dan kekalahan diderita olehnya. Untuk 
  mencegah hal-hal yang lebih buruk, maka Datuk Sati mengajak diadakannya 
  perdamaian antara para penghulu dengan Imam Bonjol. 
   
  Keberhasilan Imam Bonjol menguasai seluruh daerah Alahan Panjang, ia 
  kemudian diangkat menjadi pe-mimpin Padri untuk daerah Pasaman. Untuk 
  meluaskan kekuasaan kaum Padri, Imam Bonjol mengarahkan pasukannya ke 
  daerah Tapanuli Selatan. Mulai Lubuk Sikaping sampai Rao diserbu oleh 
  pasukan Imam Bonjol. Dari sana terus ke Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku dan 
  seluruh pantai barat Minangkabau sebelah utara. 
   
  Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk memperkuat basis pertahanan 
  untuk penyerangan ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di 
  Dalu-Dalu. Benteng ini terletak agak ke sebelah utara Minang-kabau. 
  Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao, sedang-kan 
   benteng Dalu-Dalu dikepalai oleh Tuanku Tambusi. Kedua perwira Padri ini 
  berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol. 
   
  Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi sebagai pimpinan kaum 
  Padri di Tapanuli Selatan, gerakan Padri berjalan dengan sangat berhasil, 
  tanpa menghadapi perlawanan yang berarti. Daerah--daerah di sini bagitu 
  setia untuk menjalankan syari'at Islain 
   secara penuh, sesuai dengan missi yang diemban oleh gerakan Padri. …..”
   
  Dengan demikian saya simpulkan sementara waktu bilamana Tuanku Imam Bonjol 
sebenarnya telah “meluruskan” perjuangan Paderi dalam format perjuangan 
keIslaman yang lebih simpatik. Lebih lanjut babakan Perang Paderi tidaklah satu 
priode, tapi sekurang-kurangnya tiga atau empat priode.
   
  Sementara demikian dulu, dan wassalam.
   
  -datuk endang


abp malin bandaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Assalamualaikum ww

Suai bona ambo jo Dt Endang ............... mari kito cek baliak, syukran
---------------------------------------------

Istilah Padri berasal dari al Badri

Angin malam membawa berita bahwa tanah Hejaz telah diserbu para Kafir Nejed, 
hanya beberapa kilometer lagi jika tidak segera dibendung akan sampailah mereka 
ke Tanah Haram Makkah al Mukaramah

Gemuruh darah didado hati nan indak sanang lai, kampuang halaman kedua setelah 
Ranah Bundo dalam keadaan terancam, ingin rasanya terbang saat ini juga 
berjihad bersama para mujahid lain-nya mengusir Kapia2 Nejed, tapi ka- baa-lah 
tugas da’wah sadang tabangkalai, tabayang wajah guru2 para Syaikh yang telah 13 
tahun “membina” (1790-1802) sejak dari Syaikh Ibrahim bin Muhammad al Amir ash 
Shan’ani al Makki, Syaikh Muhammad ad Dasuqi asy Syafi’i, Syaikh Muhammad Said 
bin Muhammad Sanbal, Syaikh Tahir bin Muhammad Said, Syaikh Sayid Ahmad Alwi 
Jamalulail dan masih selusinan lagi berkualifikasi tim penguji S3, namun yang 
paling mengesankan tentu saja Syaikh Ahmad bin Muhammad Yunus al Badri al 
Madani dari Mesjid Nabawi Madinah al Munawarah, dosen yang satu ini sangat 
berpengaruh baik karena keilmuan yang dimilikinya maupun pesona tampilan dan 
suaranya yang memukau dan lebih dari itu beliau memiliki kemantapan beribadah 
sehingga banyak murid2nya menisbahkan diri” padanya dan
menyebut diri sebagai ‘al Badriyin” (kaum Badri) yang kemudian dengan 
berjalan-nya sang waktu kita baca sebagai “Kaum Padri” 

6 kuda berlari kencang meninggalkan kepulan debu 3 al Badriyin H. Miskin Pandai 
Sikek, H Abdul Rahman Piobang Payakumbuah dan H Sumaniak Batu Sangkar bersama 
asisten masing2 ngebut menuju Bonjol tepatnya Kampuang Koto surau Sayid Usman 
saudagar mubalig asal Yaman yang baru tiba bersama istrinya yang orang Bonjol 
itu setelah hampir setahun berdagang hingga ke Maghribi Arab sono

Walau kafir Nejed dapat dihalau namun perang tersebut telah menelan korban 
tidak sedikit terutama kader2 da’wah yang telah menguasai berbagai disiplin 
Ilmu2 Islam hasil “didikan” para Syaikh Masjidil Haram dan Nabawi, demikian 
tutur Sayid Usman sumando rang Bonjol itu

Silaturahmi ke Bonjol membawa berkah lain, tidak jauh dari surau tersebut 
adalah sebuah rumah adik perempuan Sayid Usman yang bernama Hamatun yang 
bersuamikan saudara sepupu istri sayid Usman yang mempunyai anak bernama 
Muhammad Sahab (lahir 1772) pemuda berwajah Arab Hadhramaut yang sedang 
giat2nya memperdalam ilmu2 Islam yang karena kealiman-nya mendapat gelar Malin 
Mudo yang kelak dikenal sebagai Peto Syarif Panglima Perang Padri Tuanku Imam 
Bonjol

Walau Peto Syarif bukan jebolan Makkah Madinah namun memiliki buku2 lengkap kan 
paman-nya Sayid Usman yang saudagar mancanegara itu tiap pulang “menggalas” 
membawa oleh2 buku bermutu, tidak heran “kutu buku” yang satu ini telah 
menghasilkan karya2 Ilmiyah dalam bahasa Arab, lebih dari itu Peto Syarif yang 
lancar ngomong Arab ini ternyata mempunyai fikrah sejalan dengan 3 Wahabi Muda 
murid al Badri dan siap meperjuangkan da’wah di Minangkabau
Setelah mendapat “juklak” dari 3 al Badriyin ini, Peto Syarif mulai merekrut 
dan men-tarbiyah calon2 kader da’wah, kalau selama ini Peto Syarif berda’wah 
menggunakan system belajar mengajar, pidato2an dan ceramah2an yang monolog 
“masuak talingo suok kalua talingo kida” yang kurang efektif itu, kini mulai 
menggunakan system terpadu memiliki program berjenjang dengan silabus yang 
lengkap dengan system monitoring dan evaluasi, Alhamdulillah, sejak itu tampak 
perubahan signifikan dalam ber-Islam di Bonjol dan sekitarnya 

Adalah Tuanku nan Tuo yang lemah lembut dalam berda’wah dibanding muridnya 
Tuanku nan Renceh yang tegas dalam Syariat Islam (bahkan sempat menerapkan 
hukum qisas walau kepada saudara ibunya yang bersalah), setelah silarurahmi 
dengan H Miskin membuka cakrawala ber-da’wah yang selama ini “salingka nagari” 
kini “dilayangkan pandang nan jauah ditukiakan pandang nan hampia tatumbuak 
pandang katanah Batak” maka mufakat menugaskan Tuanku Nan Renceh kesana, 
Alhamdulillah sukses tarbiyahnya juga mengorbitkan pemuda berbakat marga 
Harahap sebagai “korlap Kordinator Lapangan yang kelak dikenal sebagai “Tuanku 
Rao” 

Di Luhak Tanah Datar Wilayah Da’wah H Sumaniak pun terkatrol anak muda yang 
kita kenal sebagai ‘Tuanku Lintau” yang mendapat tugas ke Pagaruyuang diakhir 
1803 menyeru orang2 istana meninggalkan tradisi2 jahiliyah dan ber-Islam-lah 
secara kaffah serta bertaqwa dengan se-benar2 taqwa yang disambut Rajo Alam 
Muningsyah III dengan baik namun diluar Istana terjadi ketegangan yang dipicu 
seorang keluarga istana yang kurang simpatik (“urusan doso pahalo urusan 
sorang2, indak paralu bana kalian cikarau urusan kami”) yang berujung bentrok 
fisik ditengah keramaian acara peringatan 40 hari kematian kerabat istana di 
Koto Tangah Tanjuang Barulak, rombongan kecil Tuanku Lintau terdesak namun 
salah seorang anggotanya lolos yang selanjutnya dapat ditebak dengan 
berdatangan murid2 Padri yang berakhir dengan huru hara ber-darah2 yang 
me-newaskan Raja Muningsyah III dan Istano Alam Pagaruyung musnah terbakar dan 
malam itu juga keluarga Istana terutama putra mahkota Sutan Bagagarsyah yang
masih berumur 9 tahun dan kakak perempuannya Tuan Gadih Reno Haluih dan 
suaminya Yam Tuan Garang Tuanku Sati gelar Tuanku Sumbayang III Rajo Ibadat 
yang berkedudukan di Sumpur Kudus mengungsi ke Istano Rajo Tuan Gadih di 
Singingi Rantau Kuantan (Riau) yang selanjut dipengasingan Tuanku Sembahyang 
III sebagai temporary assignment Wali Raja Minangkabau hingga Sutan Bagagarsyah 
dewasa kelak

Walau insiden2 kecil sudah sering terjadi dengan kaum adat diperbagai pelosok 
yang dimasuki “Islam Reformis” namun insiden Pagaruyuang ini telah membuka 
jalan kapia2 Bulando untuk lebih mencengkeramkan kaki kepedalaman Minangkabau, 
makmalin kembali setelah ini

Wasalam
abp 

                        
---------------------------------
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small 
Business.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke