Dunsanak ABP ysh,
Mengenai istilah Paderi sendiri, tentulah bukan berasal dari Badri.
Penamaan ini menurut hemat saya diberikan di dalam literatur Belanda pada
saat itu terhadap gerakan keagamaan yang bercirikan paderi. Dulu saya coba
menelusuri istilah ini, dan bertemu dengan suatu riwayat seorang pendeta
Kristen di Eropah yang berpenampilan sangat sederhana, dan cenderung fakir.
Metode dakwah yang dilakukannya adalah mendatangi keluarga-keluarga miskin
serta mengajarkan kebijakan Kristen melalui penampilan yang sederhana.
Kemudiannya syiar Kristen dengan metode tersebut dinamakan dengan Paderi
(pendeta fakir).
Bilamana kita mencoba menerawang kondisi awal Paderi di Minangkabau, ke-3
haji dan berikutnya adalah Harimau nan Salapan melakukan dakwah dari rumah ke
rumah, mendatangi tokoh-tokoh setempat, melakukan negosiasi dlsb, untuk
kemudiannya menghimpun kekuatan secara perlahan-lahan. Penampilan kaum Paderi
sangat sederhana, di antaranya dengan mengenakan pakaian putih-putih, yang
menggambarkan tiadanya keinginan untuk meraih kepentingan duniawi; suatu hal
yang merupakan antitesis terhadap kepentingan politik kemasyarakatan pada saat
itu. Hal ini kemudian dianalogikan dengan gerakan Paderi, terutama diistilahkan
dalam literatur Barat.
Cerita Paderi dalam catatan AQD saya teruskan sebagai berikut :
..Kemenangan pertama yang gemilang bagi kaum Padri, mendorong Tuanku Nan
Renceh sebagai pimpinan gerakan ini untuk memperkuat dan melengkapi
persenjataan pasukan Padri. Tindakan ofensif bagi daerah--daerah yang
menentang kaum Padri segera dilakukan. Daerah Kamang Hilir ditaklukkan,
kemudian menyusul daerah Tilatang. Dengan demikian seluruh Kamang telah
berada di tangan kaum Padri.
Dari Kamang operasi pasukan Padri ditujukan ke luar yaitu Padang Rarab dan
Guguk jatuh ketangan kaum Padri. Lalu daerah Candung, Matur dan bahkan
pada tahun 1804 seluruh daerah Luhak Agam telah ber-ada di dalam kekuasaan
kaum Padri.
Keberhasilan kaum Padri menguasai daerah Luhak Agam, selain kesungguhan
yang keras, tetapi juga kondisi masyarakatnya memang sangat memungkinkan
untuk cepat berhasil. Sebab daerah Luhak Agam terkenal tempat bermukimnya
ulama-ulama besar seperti Tuanku Pamansiangan dan Tuanku Nan Tuo,
sedangkan pengaruh para penghulu sangat tipis. Wibawa para peng-hulu
berada di bawah pengaruh para ulama.
Operasi pasukan Padri ke daerah Luhak Lima Puluh Kota berjalan dengan
damai. Sebab penghulu daerah ini bersedia menyatakan taat dan patuh kepada
kaum Padri serta siap membantu setiap saat untuk kemenangan kaum Padri.
Dengan berkuasanya kaum Padri; maka daerah--daerah yang berada di dalam
kekuasaannya diadakan perubahan struktur pemerintahan yaitu pada setiap
nagari diangkat seorang 'Imam dan seorang Kadhi'. Imam bertugas memimpin
peribadahan seperti sembahyang berjam aah lima waktu sehari semalam,
puasa, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah-masalah ibadah. Kadhi
bertugas untuk menjaga kelancaran dijalankannya syari'at Islam dalam arti
kata lebih luas dan menjaga ketertiban Umum.
Di daerah Luhak Tanah Datar, pasukan kaum Padri tidak semudah dan selicin
di daerah Luhak Adam dan Lima Puluh Kota untuk memperoleh kekuasaannya. Di
sini pasukan kaum Padri mendapat perlawanan yang sengit dari golongan
penghulu dan pemangku adat. Sebab Luhak Tanah Datar adalah merupakan pusat
kekuasa-an adat Minangkabau. Kekuasaan itu berpusat di Pagaruyung yang
dipimpin oleh Yang Dipertuan Minangkabau. Di waktu itu Yang Dipertuan atau
Raja Minangkabau adalah Sultan Arifin Muning Syah.
Pada pemerintahan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung terdapat tiga
orang raja yang berkuasa yang dikenal dengan nama Raja Tigo Selo, yaitu :
(a) Raja Alat atau Yang Dipertuan Pagaruyung, adalah yang memegang
kekuasaan tertinggi di seluruh Minangkabau. (b) Raja Adat, adalah yang
memegang kekuasaan dalam masalah adat. (c) Raja Ibadat adalah yang
memegang kekuasaan dalam masalah agama.
Dalam pelaksanaan pemerintah sehari-hari Raja Tigo Selo dibantu oleh Basa
Empat Balai yang berkedudukan sebagai menteri dalam pemerintahan
Minangkabau di Pagaruyung. Mereka itu adalah :
- Dt. Bandaharo atau Tuan Tittah di Sungai Tarab, yang mengepalai tiga
orang lainnya atau dapat dikatakan sebagai Perdana Menteri;
- Makkudun di Sumanik, yang menjaga kewibawaan istana dan menjaga bubungan
dengan daerah rantau dan daerah-daerah lainmya;
- Indomo di Suruaso, yang bertugas menjaga kelancaran pelaksanaan adat;
- Tuan Kadhi di Padang Ganting; yang bertugas menjaga kelancaran syari'at
atau agama.
Di samping Basa Empat Balai ada seorang lagi, yaitu Tuan Gadang di Batipuh
yang bertindak sebagai Pang-lima Perang, kalau Pagaruyung kacau dialah
bersama pasukannya untuk mengamankannya.
Kekuasaan Raja Minangkabau sebetulnya tidak begitu terasa oleh rakyat
dalam kehidupan sehari-hari, karena nagari-nagari di Minangkabau mendapat
otonomi yang sangat luas, sehingga segala sesuatu di dalam nagari dapat
diselesaikan oleh kepala nagari melalui
kerapatan adat nagari. Kalau masalahnya tidak selesai dalam nagari baru
dibawa ke pimpinan Luhak (kira-kira sana dengan kabupaten sekarang). Kalau
masih belum selesai diteruskan ke Basa Empat Balai untuk selanjut-nya
diteruskan ke Raja Adat atau Raja Iba dat, tergantung pada masalahnya.
Kalau semuanya tak dapat menyelesaikan masalahnya, maka akan diputuskan
oleh Raja Minangkabau.
Oleh karena itu gerakan Padri oleh Raja Minang-kabau dan stafnya dianggap
satu bahaya besar, sebab gerakan ini akan mengambil kekuasaan mereka.
Selain itu para bangsawan pun cemas, karena khawatir adat nenek-moyang
yang telah turun-menurun akan lenyap, ji ka kaum Padri berkuasa.
Pertempuran sengit di daerah Luhak Tanah Datar antara pasukan Padri dengan
pasukan Raja berjalan sangat alot. Perebutan daerah Tanjung Barulak, salah
satu jalan untuk masuk ke pusat kekuasaan Minang-kabau dari Luhak Agam,
sering berpindah tangan, terkadan g dikuasai pasukan Padri, terkadang
dapat di-rebut kembali oleh pasukan raja. Walaupun begitu, pasukan Padri
makin hari makin maju, sehingga daerah kekuasaan para penghulu makin lama
makin kecil. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk bagi para penghulu,
akhirnya atas persetujuan Yang Dipertuan di Pagaruyung, Basa Empat Balai
meng adakan perundingan dengan kaum Padri.
Perundingan itu dilaksanakan di nagari Koto Tangah pada tahun 1808,
sesudah enam tahun gerakan kaum Padri melancarkan aksinya. Kaum Padri
dalam perun-dingan itu dipimpin oleh Tuanku Lintau yang datang dengan
seluruh pasukannya, sedangkan para penghulu dip impin oleh Raja
Minangkabau sendiri. Seluruh staf raja dan sanak keluarganya hadir dalam
pertemuan ter-sebut, tanpa menaruh curiga sedikit juga, karena gencatan
senjata telah disepakati sebelumnya.
Tetapi sekonyong-konyong keadaan menjadi kacau sebelum perundingan
dimulai. Karena kesalah-pahaman antara bawahan Tuanku Lintau yang bernama
Tuanku Belo dengan para staf raja, yang berakibat meledak men-jadi
perkelahian dan pertumpahan darah.
Raja dan hampir sebagian terbesar staf dan keluarga-nya mati terbunuh
dalam perkelahian itu, hanya ada beberapa orang dari para penghulu dan
seorang cucu raja yang dapat selamat meloloskan diri sampai ke Kuantan.
Mendengar peristiwa berdarah ini, Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan
tertinggi gerakan Padri sangat marah terhadap Tuanku Lintau dan
pasukannya, karena dianggap melanggar gencatan senjata yang telah
di-sepakati dan berarti menggagalkan usaha perdamaian.
Dengan peristiwa ini, maka praktis seluruh Luhak Tanah Datar menyerah
kepada kaum Padri tanpa per-lawanan, karena takut melihat pengalaman di
Koto Tangah.
..
Kemudian mengenai Tuanku Imam Bonjol, alhamdulillah awal tahun ini saya
akhirnya berkesempatan mengunjungi makam beliau di Pineleng Manado. Rasanya
haru di malam itu membayangkan perjuangan beliau hingga akhirnya dibuang begitu
jauh dari kampung halaman. Beliau meninggal dalam usia tua, setelah 27 tahun
berada di pengasingan. Dari diskusi dengan Prof. Waworuntu disebutkan, ada
sebuah pantai di Manado yang kondisinya begitu sama dengan sebuah pantai di
Padang. Hal ini mungkin kiranya beliau merasa cukup betah berada dalam
pengasingan.
Sebenarnya keberadaan beliau dalam Perang Paderi baru dimulai pada era antara
tahun 1808 s/d 1812-an. Dengan demikian beliau adalah generasi kedua dalam
Perang Paderi. Saya tampilkan lagi catatan AQD mengenai beliau :
..Untuk mengokohkan gerakan kaum Padri, Tuanku Nan Renceh telah
memerintahkan salah seorang murid-nya yang bernama Malin Basa atau Peto
Syarif atau Muhammad Syahab, untuk membuat sebuah benteng yang kuat,
sebagai markas gerakan kaum Padri. Pemilihan Malin B asa, yang kemudian
bergelar Tuanku Mudo nntuk membuat benteng besar, guna menjadi pusat
gerakan kaum Padri, disebabkan karena Malin Basa (Tuanku Mudo) seorang
murid yang pandai, alim dan berani.
Perintah Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan ter-tinggi gerakan Padri dan
guru dari Tuanku Mudo, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan
keberanian dan berhasil memilih tempat di sebelah timur Alahan Panjang, di
kaki bukit yang bernama Bukit Tajadi. Deng an bantuan seluruh umat Islam
yang tinggal di sekitarAlahan Panjang, di mana setiap hari bekerja tidak
kurang dari 5000 orang, akhirnya 'Benteng Bonjol' yang terletak di bukit
Tajadi itu menjelma menjadi kenyataan dengan ukuran panjang kelilingnya
kira-ki ra 800 meter dengan areal seluas kira-kira 90 hektar, tinggi
tembok empat meter dengan tebalnya tiga meter. Di sekelilingnya ditanami
pagar aur berduri yang sangat rapat.
Di tengah-tengah benteng Bonjol berdiri dengan megahnya sebuah masjid yang
lengkap dengan per-kampungan pasukan Padri dan rakyat yang setiap saat
mereka dapat mengerjakan sawah ladangnya untuk keperluan hidup
sehari-hari. Sesuai dengan, fungsinya, maka be nteng Bonjol juga
diperlengkapi dengan per-senjataan perang, guna setiap saat siap
menghadapi per-tempuran. Benteng Bonjol itu dipimpin langsung oleh Tuanku
Mudo yang bertindak sebagai 'imam' dari masyarakat benteng Bonjol, yang
sesuai dengan struktur pem erintahan kaum Padri. Oleh sebab itu, Tanku
Mudo digelari dengan 'Imam Bonjol'.
..
Saya masih mencari literatur mengenai Tuanku Imam Bonjol ini, kalau tidak
salah ada sebuah buku yang khusus menulis tentang sejarah beliau. Termasuk
untuk mencari jawaban atas beberapa pertanyaan :
- Suatu alasan bila beliau berangkat dari Pasaman untuk berguru ke sekitar
Agam, atau malah sampai ke Kamang?
- Suatu alasan kenapa benteng itu dibangun di Bonjol Alahan Panjang pada saat
itu? Mengingat Belanda belum masuk ke Minangkabau.
Seorang rekan di Bandung mengatakan, bahwa dari buku Sejarah Sumatera karya
Sir Stamford Raffles (?), bahwa ada upaya penyebaran pengaruh Inggris hingga ke
Minangkabau, terutama dengan kian menangnya Perancis di Eropah. Dengan demikian
Benteng Bonjol dimaksudkan untuk menahan serangan Inggris dari Timur.
Atau sebenarnya juga, Imam Bonjol berusaha meluruskan gerakan Paderi yaitu
sebagai upaya mengIslamkan wilayah utara? Hal ini coba kita baca lagi dari
catatan AQD sbb:
..Setelah benteng Bonjol selesai dan struktur pemerin-tahan lengkap
berdiri,
Imam Bonjol memulai gerakan Padrinya ke daerah-daerah sekitar Alahan
Panjang dan berhasil dengan sangat memuaskan. Keberbasilan Imam Bonjol
dengan pasukannya menimbulkan kecemasan para penghulu di Alahan Panjang
seperti antara lain Datuk Sati. Kecemasan ini melahirkan satu gerakan para
penghulu di Alahan Panjang untuk menyerang pasukan Imam Bonjol dan merebut
benteng sekaligus. Pada tahun 1812 Datuk Sati dengan pasukannya menyerbu
benteng Bonjol, tetapi sia-sia dan kekalahan diderita olehnya. Untuk
mencegah hal-hal yang lebih buruk, maka Datuk Sati mengajak diadakannya
perdamaian antara para penghulu dengan Imam Bonjol.
Keberhasilan Imam Bonjol menguasai seluruh daerah Alahan Panjang, ia
kemudian diangkat menjadi pe-mimpin Padri untuk daerah Pasaman. Untuk
meluaskan kekuasaan kaum Padri, Imam Bonjol mengarahkan pasukannya ke
daerah Tapanuli Selatan. Mulai Lubuk Sikaping sampai Rao diserbu oleh
pasukan Imam Bonjol. Dari sana terus ke Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku dan
seluruh pantai barat Minangkabau sebelah utara.
Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk memperkuat basis pertahanan
untuk penyerangan ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di
Dalu-Dalu. Benteng ini terletak agak ke sebelah utara Minang-kabau.
Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao, sedang-kan
benteng Dalu-Dalu dikepalai oleh Tuanku Tambusi. Kedua perwira Padri ini
berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol.
Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi sebagai pimpinan kaum
Padri di Tapanuli Selatan, gerakan Padri berjalan dengan sangat berhasil,
tanpa menghadapi perlawanan yang berarti. Daerah--daerah di sini bagitu
setia untuk menjalankan syari'at Islain
secara penuh, sesuai dengan missi yang diemban oleh gerakan Padri.
..
Dengan demikian saya simpulkan sementara waktu bilamana Tuanku Imam Bonjol
sebenarnya telah meluruskan perjuangan Paderi dalam format perjuangan
keIslaman yang lebih simpatik. Lebih lanjut babakan Perang Paderi tidaklah satu
priode, tapi sekurang-kurangnya tiga atau empat priode.
Sementara demikian dulu, dan wassalam.
-datuk endang
abp malin bandaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamualaikum ww
Suai bona ambo jo Dt Endang ............... mari kito cek baliak, syukran
---------------------------------------------
Istilah Padri berasal dari al Badri
Angin malam membawa berita bahwa tanah Hejaz telah diserbu para Kafir Nejed,
hanya beberapa kilometer lagi jika tidak segera dibendung akan sampailah mereka
ke Tanah Haram Makkah al Mukaramah
Gemuruh darah didado hati nan indak sanang lai, kampuang halaman kedua setelah
Ranah Bundo dalam keadaan terancam, ingin rasanya terbang saat ini juga
berjihad bersama para mujahid lain-nya mengusir Kapia2 Nejed, tapi ka- baa-lah
tugas dawah sadang tabangkalai, tabayang wajah guru2 para Syaikh yang telah 13
tahun membina (1790-1802) sejak dari Syaikh Ibrahim bin Muhammad al Amir ash
Shanani al Makki, Syaikh Muhammad ad Dasuqi asy Syafii, Syaikh Muhammad Said
bin Muhammad Sanbal, Syaikh Tahir bin Muhammad Said, Syaikh Sayid Ahmad Alwi
Jamalulail dan masih selusinan lagi berkualifikasi tim penguji S3, namun yang
paling mengesankan tentu saja Syaikh Ahmad bin Muhammad Yunus al Badri al
Madani dari Mesjid Nabawi Madinah al Munawarah, dosen yang satu ini sangat
berpengaruh baik karena keilmuan yang dimilikinya maupun pesona tampilan dan
suaranya yang memukau dan lebih dari itu beliau memiliki kemantapan beribadah
sehingga banyak murid2nya menisbahkan diri padanya dan
menyebut diri sebagai al Badriyin (kaum Badri) yang kemudian dengan
berjalan-nya sang waktu kita baca sebagai Kaum Padri
6 kuda berlari kencang meninggalkan kepulan debu 3 al Badriyin H. Miskin Pandai
Sikek, H Abdul Rahman Piobang Payakumbuah dan H Sumaniak Batu Sangkar bersama
asisten masing2 ngebut menuju Bonjol tepatnya Kampuang Koto surau Sayid Usman
saudagar mubalig asal Yaman yang baru tiba bersama istrinya yang orang Bonjol
itu setelah hampir setahun berdagang hingga ke Maghribi Arab sono
Walau kafir Nejed dapat dihalau namun perang tersebut telah menelan korban
tidak sedikit terutama kader2 dawah yang telah menguasai berbagai disiplin
Ilmu2 Islam hasil didikan para Syaikh Masjidil Haram dan Nabawi, demikian
tutur Sayid Usman sumando rang Bonjol itu
Silaturahmi ke Bonjol membawa berkah lain, tidak jauh dari surau tersebut
adalah sebuah rumah adik perempuan Sayid Usman yang bernama Hamatun yang
bersuamikan saudara sepupu istri sayid Usman yang mempunyai anak bernama
Muhammad Sahab (lahir 1772) pemuda berwajah Arab Hadhramaut yang sedang
giat2nya memperdalam ilmu2 Islam yang karena kealiman-nya mendapat gelar Malin
Mudo yang kelak dikenal sebagai Peto Syarif Panglima Perang Padri Tuanku Imam
Bonjol
Walau Peto Syarif bukan jebolan Makkah Madinah namun memiliki buku2 lengkap kan
paman-nya Sayid Usman yang saudagar mancanegara itu tiap pulang menggalas
membawa oleh2 buku bermutu, tidak heran kutu buku yang satu ini telah
menghasilkan karya2 Ilmiyah dalam bahasa Arab, lebih dari itu Peto Syarif yang
lancar ngomong Arab ini ternyata mempunyai fikrah sejalan dengan 3 Wahabi Muda
murid al Badri dan siap meperjuangkan dawah di Minangkabau
Setelah mendapat juklak dari 3 al Badriyin ini, Peto Syarif mulai merekrut
dan men-tarbiyah calon2 kader dawah, kalau selama ini Peto Syarif berdawah
menggunakan system belajar mengajar, pidato2an dan ceramah2an yang monolog
masuak talingo suok kalua talingo kida yang kurang efektif itu, kini mulai
menggunakan system terpadu memiliki program berjenjang dengan silabus yang
lengkap dengan system monitoring dan evaluasi, Alhamdulillah, sejak itu tampak
perubahan signifikan dalam ber-Islam di Bonjol dan sekitarnya
Adalah Tuanku nan Tuo yang lemah lembut dalam berdawah dibanding muridnya
Tuanku nan Renceh yang tegas dalam Syariat Islam (bahkan sempat menerapkan
hukum qisas walau kepada saudara ibunya yang bersalah), setelah silarurahmi
dengan H Miskin membuka cakrawala ber-dawah yang selama ini salingka nagari
kini dilayangkan pandang nan jauah ditukiakan pandang nan hampia tatumbuak
pandang katanah Batak maka mufakat menugaskan Tuanku Nan Renceh kesana,
Alhamdulillah sukses tarbiyahnya juga mengorbitkan pemuda berbakat marga
Harahap sebagai korlap Kordinator Lapangan yang kelak dikenal sebagai Tuanku
Rao
Di Luhak Tanah Datar Wilayah Dawah H Sumaniak pun terkatrol anak muda yang
kita kenal sebagai Tuanku Lintau yang mendapat tugas ke Pagaruyuang diakhir
1803 menyeru orang2 istana meninggalkan tradisi2 jahiliyah dan ber-Islam-lah
secara kaffah serta bertaqwa dengan se-benar2 taqwa yang disambut Rajo Alam
Muningsyah III dengan baik namun diluar Istana terjadi ketegangan yang dipicu
seorang keluarga istana yang kurang simpatik (urusan doso pahalo urusan
sorang2, indak paralu bana kalian cikarau urusan kami) yang berujung bentrok
fisik ditengah keramaian acara peringatan 40 hari kematian kerabat istana di
Koto Tangah Tanjuang Barulak, rombongan kecil Tuanku Lintau terdesak namun
salah seorang anggotanya lolos yang selanjutnya dapat ditebak dengan
berdatangan murid2 Padri yang berakhir dengan huru hara ber-darah2 yang
me-newaskan Raja Muningsyah III dan Istano Alam Pagaruyung musnah terbakar dan
malam itu juga keluarga Istana terutama putra mahkota Sutan Bagagarsyah yang
masih berumur 9 tahun dan kakak perempuannya Tuan Gadih Reno Haluih dan
suaminya Yam Tuan Garang Tuanku Sati gelar Tuanku Sumbayang III Rajo Ibadat
yang berkedudukan di Sumpur Kudus mengungsi ke Istano Rajo Tuan Gadih di
Singingi Rantau Kuantan (Riau) yang selanjut dipengasingan Tuanku Sembahyang
III sebagai temporary assignment Wali Raja Minangkabau hingga Sutan Bagagarsyah
dewasa kelak
Walau insiden2 kecil sudah sering terjadi dengan kaum adat diperbagai pelosok
yang dimasuki Islam Reformis namun insiden Pagaruyuang ini telah membuka
jalan kapia2 Bulando untuk lebih mencengkeramkan kaki kepedalaman Minangkabau,
makmalin kembali setelah ini
Wasalam
abp
---------------------------------
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small
Business.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================