Assalamualaikum wr.wb.
   
  Dusanak pencinta sejarah Minang. Berikut ambo berikan cuplikan isi buku 
SUMATERA BARAT HINGGA PLAKAT PANJANG karangan Rusli Amaran Alm. yang 
menceritakan sejarah tentang PERANG PIDARI. Kenapa Sulit-Air menjadi  nagari 
perang pertama dapat dilihat alasannya.
  Kebetulan saya punya buku ini dan dulu pernah hilang kemudian saya dapatkan 
lagi pada waktu pameran buku di JHCC tahun ini. Buat saya buku ini adalah yang 
paling beharga untuk mengkaji sejarah Minang masa penjajahan Belanda
   
  Buku ini tebalnya lebih kurang 650 halaman dan isinya adalah hasil riset  
diperpustakaan Belanda dan Indonesia. Bagi Bapak-Bapak yang belum membaca buku 
ini, berarti belum mengetahui sejarah Minangkabau secara lengkap terutama zaman 
Belanda.
  Saya cuplik sebagian kecil isinya, semoga ada gunanya.
   
  Ada suatu perbedaan yang menarik antar perang melawan Pidari di Sumatera dan 
perang lawan Diponegoro di Jawa. Di Jawa Belanda harus mengirim pasukan ke 
sana-sini untuk menggempur musuh sedangkan di Sumatera musuh selalu berada di 
belakang pertahanannya. Sekali-sekali, di bawah pimpinan dubalang yang fanatik, 
mereka mengadakan serangan gencar. Tetapi serangan –serangan begini tidak 
begitu berarti bagi kita. Dari pengalaman di Bonjol semenjak 1834, ternyata 
kalau kita bisa bertahan lama saja, meraka akhirnya akan kalah! Hendriks juga 
mengatakan bahwa bagaimana berani dan nekatnya orang-orang Pidari, sekali 
mereka menyerah, mereka sangat menurut, damai dan banyak yang dapat kita 
kerjakan dari mereka. Syarakatnya ialah asal kita perlakukan mereka secara 
wajar (billijk). Streng boleh, tapi wajar. Apa yang diutarakan Hendriks ini 
mengenai watak orang Minang sesudah dikalahkan, menarik juga.
   
  Kita ingat komentar orang-orang Belanda lainnya. Michiels umpamanya 
mengatakan keheranannya bahwa sesudah Bonjol jatuh, bekas-bekas musuh menjadi 
penduduk yang patuh. Walaupun Michiels menambahkan, tidak sampai terlalu 
merendahkan diri. Sewaktu di Sumatra Barat dijalankan tanaman paksa (oleh 
Michiels juga) yang mendatangkan begitu banyak malapetaka dan kesengsaraan bagi 
rakyat (terutama disebabkan oleh kopi), seorang pegawai Pemerintah Belanda 
tidak putus-putusnya geleng kepala, heran kenapa rakyat yang begitu terkenal 
sebagai pemberontak, diam saja dan menerima tekanan hidup tidak terhingga yang 
dibawa Belanda.
   
  Lain sekali dengan sikap mereka sebelumnya. Dalam laporan-laporan De Stuers, 
orang-orang di sana terkenal sebagai tidak mempunyai perasaan renah diri sama 
sekali terhadap orang Belanda. Mereka biasa saja menegur De Stuers di jalan, 
menyetop dan minta menyalakan rokok dari api cerutu yang diisap residen dan 
komandan militer tersebut. Malah Jenderal Van Swieten (pengganti Michiels 
sebagai gubernur militer Sumatra Barat) menganggap sudah baik, kaalu diminta 
terlebih dahulu. Kadang-kadang mereka berani menarik cerutu begitu saja dari 
mulut seorang Belanda.
   
  BELANDA MEMANCING PERANG
   
  Kini tiba waktunya, kita memulai dengan kontak senajata pertama antara 
gerakan kaum Pidari melawan Belanda. Sewaktu Du Puy mengambil alih pemerintahan 
dari tangan Inggeris di Padang dalam tahun 1819, dia segera mengingatkan 
atasannay di Batavia mengenai SIMAWANG dan minta bantuan tentara untuk 
mendudukinya. DIa juga mengirim laporan tentang pergolakan Pidari di daerah 
pedalam Minangkabau. Du Puy melaporkan bahwa banyak pengulu atau pemimpin adat 
yang dating kepadanya minta bantuan untuk memerangi kaum Pidari seperti yang 
juga mereka kerjakan sewaktu Inggris masih berkuasa dulu tetapi tidak diladeni.
   
  Antara yang datang minta bantuan itu, terdapat kedua Tuanku Suruaso yang 
pernah berhubungan dengan Raffles di Bengkulu dan membawa mereka ke Pagaruyung. 
Sesudah Inggris berangkat dan mereka kehilangan sumbangan tiap bulan, sekarang 
kedua Tuanku itu minta sumbangan dari Pemerintah Hindia Belanda. Setelah surat 
menyurat dengan Batavia, akhirnya disetujui untuk membantu mereka tiap bulan 
sebanyak 50 gulden untuk yang tua dan 10 gulden untuk yang lebih muda.
   
  Pemeritah di Batavia dalam hal ini melihat peluang untuk menguasai daerah 
pedalaman berhubung dengan timbulnya perang saudara itu. Apalagi karena lintas 
dagang dengan daerah-daerah pesisir telah terputus yang membawa kerugian bagi 
Belanda.
   
  Antara lain Du Puy menulis bahwa “tidak ada saat terbaik untuk bertindak 
seperti sekarang, karena rakyat walaupun sebagian tunduk kepada kaum Pidari dan 
menganut ajaran-ajarannya, hanya menunggu bantuan dari Belanda untuksegera 
berbalik dan menyerang orang-orang Pidari itu sendiri.” Dia mengusulkan supaya 
bertinda cepat, sebab kalau tidak, mungkin orang-orang anti Pidari akan meminta 
bantuan dari pihak lain. Yang dimkasudkan ialah Inggris yang masih berkuasa 
waktu itu di Bengkulu, Barus, Air Bangis dan Natal (Mereka baru meninggalkan 
tempat-tempat ini dalam tahun 1825)
   
  Untuk membuktikan kebenaran usul-usulnya, Du puy mengirim ke Batavia 
pernyataan para penghulu yang melarikan diri dari kejaran Pidari. Dalam 
pernyataan itu disebut bahwa mereka bersedia menyerahkan Kerajaan Minangkabau 
kepada Belanda, asal saja mereka dibantu memerangi kaum Pidari. Surat tersebut 
didapat Du Puy setelah menyuruh kedua Tuanku dari Suroaso tadi ke pedalaman 
dikawal tentara. Tawaran beberapa pengulu tersebut yang bersedia menyerahkan 
Alam Minangkabau kepada Belanda, begitu penting, hingga Du Puy dating sendiri 
ke Batavia untuk membicarakannya.
   
  Pimpinan Hindia Belanda segera setuju memberi”bantuan”. Setelah beberapa kali 
mengadakan perundingan (antaranya dengan keturunan Raja Minangkabau, Sutan Alam 
Bagagarsyah), pada tanggal 10 Februari 1821, ditandatanganilah sebuah 
perjanjian yang isinya antara lain sebagai berikut :
    
   Kepala-Kepala (para pengulu) dari Kerajaan Minangkabau, secara formal dan 
mutlak menyerahkan Nagari Pagaruyung, Sungaitarab dan Suroaso begitu juga 
daerah-daerah sekelilingnya dari Kerajaan Minangkabau, kepada Pemerintah Hindia 
Belanda.  
   Kepala-Kepala tersebut dengan sungguh-sungguh berjanji atas nama mereka dan 
rakyat maupun keturunan rakyat mereka, untuk mematuhi tanpa kecuali pemerintaha 
Hindia Belanada dan tidak akan menetang perintah apapun dari Hindia Belanda.  
   Pemerintah menyediakan satuan tentara terdiri atas 100 orang di bawah 
perwira-perwira bangsa Belanda dengan dua pucuk meriam. Tujuannya ialah untuk 
merebut daerah-daerah yang telah diserahkan kepada Pemerintah Hindia Belanda di 
sebut tadi dan untuk menduduki benteng SIMAWANG, guna melindungi rakyat 
terhadap serangan-serangan kaum Pidari dan untuk mengusir mereka dari dan 
membawa perdamaian ke daerah-daerah tersebut.  
   Para Kepala akan menyediakan kuli-kuli dalam jumlah yang dibutuhkan dan 
mengurus makanan tentara yang dibutuhkan, dengan sebaik-baiknya.  
   Adat dan kebiasaan lama dan hubungan kepala-kepala itu dengan penduduk, akan 
dipertahankan dan tidak akan dilanggar selama tidak bertentangan dengan 
pasal-pasal dalam perjanjian.
  Demikian secara ringkas isi perjanjian antara Pemerintah hindia Belanda 
dengan “pemimpin” rakyat, di mana mereka menyerahkan pusat Alam Minangkabau 
kepada Belanda, asal mereka dibantu melawan kaum Pidari. “ Pemimpin-Pemimpin” 
rakyat yang menandatanganinya, semua harus bersumpah setia dengan Quran untuk 
mereka dan anak cucu mereka, disaksikan oleh Panglima di Padang (Sutan Raja 
Mansyur Alamsyah) beserta wakilnya Tuanku Bandaro Raja Johan, para penghulu di 
Kota Padang, para pedagang penting dan lain-lain.
  Persetujuan itu sendiri ditandatangani oleh Residen Du Puy dan 20 orang 
kepada atau “wakil” rakyat, juga oleh Panglima sebagai saksi. Ada baiknya kita 
berikan nama-nama mereka yang menandatangani “atas nama” rakyat.
    
   Daulat Yang Dipertuan Sutan Alam Bagagarsyah dari Pagaruyung (seperti pernah 
kita tulis, dialah seroang yang dapat melarikan diri ke Padang bersama Sutan 
Muning Alamsyah yang pergi ke Lubuk Jambi)  
   Yang Dipertuan Raja Tangsir Alam dari Suroaso  
   Yang Dipertuan Sutan Kerajaan Alam dari Suroaso (kedua mereka ini adalah 
kakak adik yang sering kita sebut)  
   Datuk Basuko dan Datuk Mudo atas nama sendiri dan 12 Penghulu di batipuh  
   Datuk Satu dan Datuk palindih atas nama sendiri dan 6 penghulu di Singkarak  
   Datuk Rajo nando dan Datuk Rajo Bagagar atas nama sendiri dan 8 penghulu di 
Saningbakar.  
   Datuk Rajo Nan Sati atas nama sendiri dan 5 Penghulu dari Bungotanjung  
   Datuk Gadang Maharajo lelo atas nama sendiri dan 5 Penghulu dari Pitalah.  
   Datuk Sati atas nama snediri dan 6 pnghulu dari Tanjungbarulak.  
   Datuk Rajo Buhet atas nama sendiri dan 4 penghulu dari Gunungrajo  
   Datuk Penghulu Besar atas nama sendiri dan 4 penghulu dari Batusangkar  
   Datuk Maharajo lelo atas nama sendiri dan 6 penhulu dari Sumpur  
   Datuk Saripado atas nama sendiri dan 6 Penghulu dari Malalak  
   Datuk Nakoda Intan dan Datuk paduko atas nama snediri dan 40 pengulu 
selebihnya dari IX Kota  
   Datuk Mangun Nan Tuo dan Datauk bandaro Mudo atas nama sendiri dan 6 
penghulu dari Simawang
   
  Itulah mereka ke 20 pengulu dan kaum adat Pagaruyung yang menandatangani 
perjanjian dengan Belanda ditambah lebih dari 100 penghulu lainnya di pedalamam 
Sumatra barat yang mereka atas namakan saja (Footnote: Bahwa “penyerahan” ini 
hanya satu sandiwara saja, semua kita tahu, Sutan Alam Bagagarsyah sama sekali 
bukan raja dalam arti  kata yang kita ketahui. Tetapi Belanda pura-pura 
menganggapnya serius. Dengan dalil “melindungi” rakyat, mereka mulai perang 
melebarkan daerah jajahannya. Tetapi kira-kira 20 tahun kemudian (sesudah 
Belanda menang), barulah disebut bahwa mereka “terkecoh” atau “terjebak” oleh 
segelintir manusia yang sama sekali tidak berpengaruh dan tidak berhak 
“menjual” daerah Minangkabau, hingga Belanda akhirnya terlibat dalam 
perperangan yang lama dan dahsyat. Tetapi ini baru ditulis setelah tidak ada 
lagi kekuasaan yang mampu mengusir mereka waktu itu dari Sumatra Barat! (Baca 
antara lain surat sangat rahasia Gubernur/Komandan Militer A.V. Michiels No. 
La.Q
 tertanggal 3 Oktober 1942 terkenal sebagai standard-brief Michiels)).
   
  Segera setelah penandatanganan, diedarkan surat-surat terutama di daerah 
Pagaruyung, Suruaso dan Sungaitarab yang meganjurkan rakyat menentang Pidari 
dan minta perlindungan dari Belanda. Dikatakan bahwa “pemimpin-pemimpin” itu 
ialah orang-orang yang telah melarikan diri dan tidak berhak sama sekali 
mengatasnamakan rakyat. Namun harapan Belanda, bahwa rakyat sekonyong-konyong 
menyerang kaum Pidari atau berbondong-bondong datang kepada mereka, tidak 
terlaksana. Oleh karena itu baik residen Du Puy maupun komandan militer di 
Padang, Goffinet, berniat mengambil inisiatif sendiri saja memulai perperangan.
   
  Benteng SIMAWANG segera mereka duduki dan menempatkan meriam-meriam mereka di 
sana.
   
  Atas anjuran Du Puy, kapten Goffinet menyerang nagari SULITAIR karena 
rakyatnya tiadak ingin dilindungi Belanda. Serangan dilakukan pada tanggal 28 
April 1831, tetapi tanpa disangka sangka menadapat perlawanan sengit selama 
sehari. Boleh kita katakana bahwa serangan Goffinet terhadap SULITAIR ini, 
merupakan permulaan perang Belanda melawan Pidari, tanpa pernyataan perang. 
Selama serangan itu, menurut laporan Du Puy, dapat dihancurkan 3 desa dan 
direbut 3 meriam kecil. Dia menganjurkan agar pemerintahan terus menggempur 
pertahanan-pertahanan kaum Pidari dan pasti hasilnya akan menguntungkan Belanda.
   
  Berlainan sedikit dngan laporan Du Puy itu dan kemudian juga dengan karangan 
Kilestra dan De lange, bekas residen Francis menulis dalam tahun 1856, bahwa 
serangan Belanda pada hari-hari pertama, jauh dari berhasil. Sewaktu menyerang 
SULITAIR mula-mula pasukan Belanda terpukul mundur begitu juga waktu menyerang 
Sipinang. Korban-korban cukup tinggi dibandingkan dengan jumlah tentara yang 
menyerang. Itulah sebabnya semua anjuran du puy untuk segera mengirim pasukan 
lebih banyak, tidak dituruti Batavia. Dia meminta untuk menyelidiki beberapa 
kekuatan kaum Pidari sebenarnya dan apakah benar gerakan pidari ini menguasai 
seluruh Minangkabau 
     
  

Nofrijon Sofyan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Mak Ngah, ambo lai dapek pdfnyo tu. Kok ado nan paralu bisa japri ka
ambo bia ambo kirimkan...

Jon
Alabama

Sjamsir Sjarif wrote:
> Tata, Filenyo memang agak susah diakses tapi sudah cubo-cubo jo saba
> akhianyo bisa. MakNgah indak bisa simpan pdfnyo, jadi kito maakses sumber
> nan samo.
>
> Pak George Fowler nan sadang mantarjumahkan Siti Nurbaya dapek maaksesnyo.
> Silakan baco balasan emailnyo. Mudah-mudahan Rang Lapau nan Basamo dapek
> maakses dan mampalajarinyo.
>
> Salam,
> --MakNgah
> At 11:49 AM 9/15/2006 +0700, Febrita wrote:
>
> >Mak ngah
> >Ta indak bisa buka doh
> >Please sent as PDF to me by japri
> >
> >Ok kah

>Thanks before
>Tata



-- 
Nofrijon Sofyan
Materials Research and Education Center
275 Wilmore Lab, Auburn University, AL 36849-5341 USA
Phone: +1-334-844-3366 Fax: +1-334-844-3400
http://www.nofrijon.net

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================


                
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low  PC-to-Phone call rates.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke