http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/21/sumbagut/2969229.htm



Kemiskinan
Model Pengentasan yang Berbasis Nagari


Di zaman reformasi ini, tidak banyak pejabat di daerah yang peduli pada 
kemiskinan warganya. Hampir di semua provinsi, angka kemiskinan terus naik. 
Memang tak dapat dipungkiri, kenaikan itu seiring dengan kenaikan harga 
bahan bakar minyak yang makin melemahkan daya beli rakyat kebanyakan.

Tetapi, persoalan menjadi lain, ketika pejabat daerah mau meluangkan waktu 
untuk memikirkan kepentingan rakyatnya yang miskin, tidak hanya memikirkan 
bagaimana meraih "kue pembangunan" yang dibagi-bagikan pemerintah pusat. Di 
Sumbar, pola pengentasan kemiskinan yang diterapkan Gubernur Gamawan Fauzi 
kemiskinan menarik perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tak tanggung-tanggung, Gamawan diminta presentasi, di hadapan Presiden SBY 
di Istana Negara. "Di tengah berbagai kritikan dan sorotan yang diarahkan ke 
Presiden, mencermati pola Sumatera Barat mengentaskan kemiskinan, Presiden 
seakan-akan mendapat jawaban dari kritikan itu. Karena itu, disepakati 
pencanangan pola atau model yang diterapkan di Sumbar bisa menjadi cantoh 
bagi daerah lain," kata Gamawan Fauzi, ketika bincang-bincang khusus dengan 
Kompas, Rabu (20/9).

Model pengentasan kemiskinan itu, tidak jauh berbeda dengan konsep para 
pakar. Tetapi, Gamawan melengkapi konsep itu dengan perhatian dan sentuhan 
yang lebih manusiawi.

Setiap nagari yang akan dikembangkan, dibedah dulu kelebihan dan 
kekurangannya, termasuk sumber daya manusianya. Setelah diketahui dengan 
pasti, pejabat diminta memberi pemahaman kepada masyarakat miskin dan 
bagaimana mereka dapat keluar dari kondisi keterbelakangan itu. "Selama ini, 
kebijakan makro yang dirancang menjadi sering tidak operasional di tingkat 
implementasi karena missing link antara persepsi pemerintah (pelaku) dengan 
pemahaman masyarakat," jelasnya.

Di lapangan, kata Gamawan, penduduk di tingkat nagari harus tumbuh secara 
mandiri dan perpaduan antara kebijakan makro dan mikro. "Pola ini harus 
didukung komitmen penerapan tata kelola pemerintahan yang baik, bersendikan 
prinsip transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi," katanya.

Untuk menghidupkan dan menggerakkan kapasitas dan peranserta masyarakat 
bawah dalam berusaha, menurut Gamawan, tingkat keberhasilannya harus 
dipantau dan dievaluasi secara sistematis dan "berkedekatan". Untuk dapat 
melaksanakan itu, diperlukan mekanisme yang disepakati bersama. "Di sini 
nilai agama dan adat menjadi faktor penguat," katanya.

Gubernur yang mendapat penghargaan sebagai tokoh anti korupsi; Bung Hatta 
Anti-Corruption Award itu, masuk ke penentuan wilayah, kelompok, sektor 
sasaran penanggulangan yang dilaksanakan secara terpadu dan sinergis. 
"Konsep ini mengandalkan sinkronisasi dan koordinasi di tingkat nagari 
sebagai institusi pelaksana terdepan," katanya. (Yulnardi)





Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke