Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

Da Nal,
    Hebat sekali cara berpikir orang sekarang ini. Memang zaman edan ini.
Untuk membasmi penyakit di ladang padi, diberi obat yang bisa membuat
padinya ikutan mati. Untuk membasmi penyakit yang namanya korupsi, dihantam
shalatnya...apa nggak ada obat yang lain apa ?. Untuk membasmi penyakit yang
namanya 'tindak kekerasan, terorisme dan anarki' ke penganut agama lain,
dianggap penyakit itu karena pelakunya merasa benar sendiri, yang lain tidak
atau kafir, karena itu dikasih obat bahwa agama yang lain benar juga
lho, sehingga goyang lah fondasi-fondasi dasar itu, and many more...
    Mungkin Emha lagi sakit sehingga Tuhan ada di dalam dirinya sehingga
keluarlah penilaian seperti itu....Tapi untung lah tidak begitu yang terjadi
sebenarnya.
Rasanya mungkin ada baiknya dan tidak ada salahnya para muslim scholar ini
membaca (lagi, kalau udah pernah) buku Madilog Tan Malaka...(what a
masterpiece)..


cheers,
.ari

On 12/5/06, Syafrinal Syarien <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tolong dibaca aturan di footer dibawah
> --------------------------------------
>
>
> Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak "Ndeso"
> Beragama yang Tidak Korupsi
> Oleh: Faisal
>
> Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan
> beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada
> waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga
> pilihan, yang harus dipilih salah satu:  pergi ke
> masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang,
> atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit
> akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"
>
>
> Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang
> kecelakaan."
> "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?"
> kejar si penanya.
> "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.
> "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau
> masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan
> lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang
> memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.
>
> Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga
> harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid,
> melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan
> mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata
> Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang
> sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian,
> Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan
> orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
>
> Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan
> suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang
> yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun
> masjid, tapi korupsi uang negara.
>
> Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal
> al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia
> sendiri kaya-raya, pelit,  dan mengobarkan semangat
> permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak
> membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi,
> dan penuh kasih sayang?"
>
> Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.
> Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun
> neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang
> rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi
> menginjak-injaknya.  Kalau korupsi uang rakyat, itu
> namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang
> orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh
> kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya
> sembahyang dan membaca al-quran.
>
> Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat
> shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu
> dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau
> misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output
> sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis,
> cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi,
> membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti
> shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak
> korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih
> sayang.
>
> Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama
> adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan
> kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila
> kita cuma puasa, shalat,
> baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura,
> menurut saya, kita belum layak disebut orang yang
> beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak
> mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi
> makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah
> orang beragama.
>
> Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari
> kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan
> sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan
> sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa
> menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang
> yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang
> yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada
> kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi
> dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu,
> orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa
> sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan
> dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter
> darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
>
>
> Source:
> http://www.jalal-center.com/
>
>
>
>
>
> ____________________________________________________________________________________
> Yahoo! Music Unlimited
> Access over 1 million songs.
> http://music.yahoo.com/unlimited
>
> --------------------------------------------------------------
> Website: http://www.rantaunet.org
> =========================================================
> * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
> keanggotaan,
> silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
> * Posting dan membaca email lewat web di
> http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
> dengan tetap harus terdaftar di sini.
> --------------------------------------------------------------
> UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
> - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
> - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
> 1. Email ukuran besar dari >100KB.
> 2. Email dengan attachment.
> 3. Email dikirim untuk banyak penerima.
> ================================================
>
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke