Alaikumsalam sanak.,
Baa ko pakuak jo pangua banyak tajadi? Jawab ringkasnyo: Ekonomi!
Kalau rakyat kesulitan ekonomi, susah cari karajo, manggaleh tak
ado modal. Ditambah bapikia pendek, tak penting citra bla..bla..bla..
Mako klau bisa mamangua, kalau bisa mamakuak kenapa tidak?
Urusan citra kota Padang, citra Minangkabau, urusan wisata,
emang gue pikirin.
Rasonyo dalam seri "Ranah Bako" ndak ado tentang pantai rancakko.
Silahkan simak tajuk dibawah
ajoduta/-60
http://www.hariansinggalang.co.id/link/tajuk.php
Diakui atau tidak, pantai Padang telah menjadi tujuan wisatawan di Kota
Padang. Buktinya, hampir setiap sore kawasan itu ramai oleh wisatawan, terutama
wisatawan lokal untuk menikmati indahnya sunset di ufuk barat.
Berada di pantai Padang membuat jiwa banyak orang merasa tenang. Walau deru
ombak memecah karang begitu bergemuruh, tapi itu mampu menyejukkan hati yang
sedang gundah. Apalagi, kala itu berhembus angin sepoi-sepoi, menerpa anak-anak
rambut, semakin indah mera­suk ke dalam perasaan.
Dikarenakan itu pulalah, agaknya orang mau berhabis waktu di pantai Padang.
Apalagi pada malam Minggu, kawasan itu bagaikan meledak oleh anak-anak muda
untuk menikmati malam panjang. Selain anak muda yang hanya untuk mengobrol
sambil bercengkerama, ada pula dari berbagai klub otomotif yang sengaja
menghabiskan waktu di tempat itu.
Begitulah pantai Padang. Semakin hari ia tampil semakin cantik. Ia tak
obahnya remaja yang sedang bersolek. Mempesona sekali.
Cuma sayang, semenjak lama keindahan nama pantai Padang selalu dicemari oleh
hal-hal yang kurang etis, terutama soal main pakuak oleh sebagian pedagang
makanan dan minuman. Entah kenapa, ada image miring dari sebagian pedagang
makanan dan minuman bahwa kepada setiap pengunjung bisa diterapkan harga
semaunya. Apalagi terhadap pasangan muda-mudi yang lagi kasmaran, harga makanan
atau minuman justru akan lebih tinggi lagi. Umpa­manya minuman botol yang
seharus Rp1.500/botol, kalau yang membe­linya pasangan anak muda, bisa saja
harganya menjadi Rp5.000/botol. Harga tergantung situasi, kondisi dan
toleransi.
Sebagaimana diberitakan surat kabar ini kemarin, kalangan wisata­wan
lokal mengeluh akibat ulah pedagang minuman dan makanan di kawasan pantai
Padang. Lebih dari itu, ada pula pedagang kecil di sana yang terkesan memeras.
Bila harga yang mereka patok ditawar pengunjung, bisa-bisa menimbulkan masalah
baru, seperti perteng­karan dan lain sebagainya. Konsumen, daripada
bertengkar dan lagipula makanan atau minuman sudah tandas, maka dengan rasa
terpaksa dibayar juga. Ini adalah kondisi riil yang dialami pengunjung, dan ini
baru pada satu sisi harga makanan atau minuman. Di sisi lain ada lagi yang
dikeluhkan, seperti bea parkir, pengamen yang tak pengertian dan sebagainya.
Tukang parkir di kawasan itu, terkesan menetapkan harga seenak perut saja.
Jika yang berkunjung adalah pasangan keluarga dengan anak-anak mereka, maka bea
parkir bisa dengan Rp1.000/sekali parkir. Tetapi, bila yang parkir itu pasangan
muda-mudi, maka biayanya bisa berlipat ganda. Yang paling tidak mengenakkan,
terkadang dalam beberapa menit saja bergantian orang yang menda­tangi
mereka. Ada sebagai tukang parkir, ada sebagai petugas keamanan lokasi dan ada
pula yang berlagak pengamen. Sekali lagi, ini adalah gambaran nyata objek
wisata pantai Padang yang kini menjadi primadona di Kota Padang. Di objek
tersebut telah melekat erat image bahwa itu adalah kawasan pakuak dan pangua .
Pertanyaannya, apakah Pemerintah Kota Padang atau dinas terkait telah
mengetahui hal itu? Atau hanya pura-pura tidak tahu dengan kondisi sebenarnya?
Punya mata, tapi dipejamkan saja, punya telinga, tapi ditutup rapat, sehingga
main garugah-pugah oleh pedagang, tukang parkir dan pengamen yang sudah lama
berlangsung itu dibiarkan begitu saja. Buktinya, kok tidak ada penertiban?
Barangkali, Pemko Padang perlu lebih serius lagi dalam menata objek wisata
daerah ini, terutama kawasan pantai Padang yang telah menjadi primadona oleh
banyak orang. Jika dibiarkan terus-menerus kondisi itu, bisa-bisa pantai Padang
berubah fungsi sebagai area pembantaian. ***
Sukseskan Pulang Basamo 2008
visit: www.west-sumatra.com
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================