Pak firman, saya ingin berbagi pngalaman. Ini adalah pengalaman kakak 
saya. Anaknya (3 taun 6 bln) juga aktif. Bahkan sudah masuk ke 
kategori hiperaktif ringan. Maka oleh kakak saya langsung di bawa ke 
psikiater anak yg mampu menanganinya. Mungkin ada baiknya bpk juga 
melakukan hal yg sama. Mengenai istri, memang lebih baik tinggal 
dirumah sendiri, walaupun hanya ngontrak. Dan gunakan jasa pengasuh 
untuk membantu istri bapak. Terima ksh --- In 
[email protected], Firman Juliansyah 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Anaknya sangat aktif, ibunya putus asa.
>    
>    
>   Saya punya putra 1.5 tahun. Sangat aktif, hanya diam ketika 
tidur. Bulan oktober, November kami baru pindah ke Jakarta. Di 
Jakarta, kami tinggal bersama kakak kandung saya yang (kebetulan) 
menempati rumah yang cukup besar (delapan kamar tidur, plus ruang 
tengah, dapur, dan pekarangan yang luas) berlantai dua. Meskipun ke 
kakak, kami juga berusaha membiayai makan dan tinggal sewajar 
mungkin. Di sana, Anak saya sering manjat trails jendela hingga 
ketinggian dua meter dari lantai, naik motor yang diparkir, dan 
segera kabur kalo pintu depan terbuka sedikit saja. Alhasil istri 
saya tertekan karena dihantui kecemasan atas keselamatan putra kami. 
Pernah saya usulkan untuk meng-hire pengasuh, istri saya cenderung 
menunda. Di luar jam kerja, saya juga selalu membantu segala hal a-z 
mengurus dan mengasuh anak. Tapi tampaknya istri saya masih saja 
dirundung kecemasan. Padahal di rumah kakak saya, ada banyak orang 
yang bisa dititipi mengasuh (barang 30 menitan).
>    
>   Akhirnya dia meminta izin saya untuk sementara tinggal di ibunya 
(mertua saya) di sebuah kabupaten di Jabar. Istri saya yakin hal itu 
akan membuat saya dan dia lebih dapat beristirahat. Putra kami pun 
akan lebih aman dan terurus. Saya setuju saja, apalagi mertua dan 
kakak ipar saya di sana sangat baik, pengertian, dan mendukung 
keputusan kami. 
>    
>   Sebulan sudah berjalan. Terakhir ibunya mengeluh karena merasa 
putus asa dalam mengurus putra kami. Dia seakan menyatakan 
ketidaksanggupannya mengurus putra kami. Dia merasa sudah terlalu 
banyak memusingkan mertua saya. Semuanya diungkapkan dengan ketulusan 
dan kesadaran, tidak ada percekcokan. Bahkan dia menyarankan saya 
untuk mencari istri lagi. Waduuh, piyye ikiĀ…?? Dia juga mau kembali 
ke Jakarta namun ingin mengontrak rumah sendiri (yang saya agendakan 
baru dua bulan lagi).
>    
>   Kemungkinan yang saya akan ambil adalah, istri saya tinggal di 
Jakarta, masih bersama kakak saya, dan menyewa pengasuh; baru jika 
istri saya betul2 butuh tempat sendiri, mungkin satu-dua bulan ke 
depan kami akan mengontrak rumah.
>    
>   Apa yang harus saya lakukan untuk istri saya?
>   Apa yang harus saya lakukan untuk putra saya?
>    
>    
>    
>   Firman Juliansyah
> 
>        
> ---------------------------------
> Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! 
Search.
>


Kirim email ke