hai Mba Indah... Aku sharing juga ya...dulu temanku pernah cerita waktu kerja punya bos orang bule asal kanada, kebetulan dia suaminya orang Indonesia, dan lama banget ga punya anak, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk ngadopsi anak (asal Indonesia). Waktu temanku itu masih kerja sama dia, anaknya berumur sekitar 4-5 tahun. Dia bilang, dia suka banget sama tradisi Indonesia yang tidur bareng sama anak, karena menurut dia, saat tidur dan terbangun pertama kali melihat orang yang paling kita cintai adalah saat terbaik untuk memulai hari. Tapi sayangnya, karena tradisi orang barat langsung memisahkan kamar sejak bayi, dia punya tekanan besar dari pihak keluarga, terutama dari Ibunya yang melarang untuk tidur bersama (isu kemandirian paling utama). Akhirnya dia "terpaksa" mengikuti tradisi itu. Kebetulan, anaknya suka banget jam 1-2 pagi, trus menyusup ke kamarnya...nah, itu dia biarin aja... jadi ada solusinya deh..hihihihi. Ini cerita berkesan banget buat kami berdua (aku dan temanku), waktu itu kita belum nikah, trus terkesan saja bagaimana ada orang bule "ngiri" sama kebiasaan disini yang tidur bareng anak.
Trus, setelah aku punya anak, aku ikutan milis parenting dimana2, diantaranya juga beberapa milis luar negeri. Nah, tempo hari ada juga yang posting bingung karena anaknya yang cewek berusia 4 tahun akhir2 ini lebih suka tidur bareng dia (padahal sudah dibiasakan tidur sendiri sejak bayi), dan sudah berbagai cara dia lakukan supaya mau tidur sendiri, tapi anaknya ga mau. Dia pribadi sih sebenarnya seneng2 aja anaknya tidur bareng, tapi sekali lagi, tekanan orang sekitar cukup keras juga. Disana kan termasuk "aneh" kalo anak (apalagi sudah 4 tahun) kok tidur bareng orangtua. Yang bales panjang banget, diantaranya banyak juga yang ternyata membiarkan saja hal itu (tidur bersama) dengan berbagai alasan (misalnya, kapan lagi bisa tidur bareng, anak kan cepat besar).Waktu itu aku iseng ikutan membalas dengan bilang, justru di negaraku tradisi memisahkan anak tidur sendiri kadang masih dianggap aneh dan orangtua dianggap "tega", wah, banyak lho yang iri! hihihihi. Waktu itu kupikir mungkin saat disini orangtua mulai membangun kebiasaan tidur terpisah, justru dibelahan negara lain ada yang sedang membangun kebiasaan tidur bersama. Maaf kalau ga jawab pertanyaannya ya.... --- In [email protected], Indah Sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > dear... > sharing donk mengenai masalah anak tidur dengan orang tua or kamar sendiri, apa ada efek psikologisnya? > Rafe ku 1,5 th, saat ini masih tidur seranjang dengan kami, papa-mamanya. > Secara aku working mom, aku ingin waktu ku di rumah semaksimal mungkin dengan anak. > Aku enjoy banget keadaan seperti sekarang. > Sekarang Rafe ceritanya mau punya ade. Rasanya ranjang kami agak kekecilan bila ditiduri berempat nantinya. > suami saya lebih senang bila nantinya anak2 tidur di kamar mereka, lebih mandiri. > Tapi aku rasanya lebih seneng seranjang dengan Rafe dan adiknya nanti... > Saat ini rafe juga lagi disapih. Usaha menyapih agak terhalangai gara2 Rafe suka kebangun malem2 n minta nenen...sulit nolaknya, dan akan lebih mudah bila dia tidur di kamar sendiri. > Keliatannya akan ada kesulitan juga membiasakan dia tidur sendiri nantinya, lebih mudah bila ia tidur dg bs nya. > Tapi aku ga rela aja kalo anaku harus tidur sama BS nya. > > Maaf ya kepanjangan... bila temans ada tips2 n saran masalah tidur2 ini...most welcome... > > tx n rgds, > Indah > > > ________________________________________________________ > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/ >

