Membaca cerita ini walaupun belum semua tapi langsung mengingatkanku pada alm.
suamiku. Sebelum suamiku meninggal kita memang sedang 'perang dingin' (selama
+/- 10 hari). Dan semua itu awal dari keegoisan kami. Usia pernikahan yang
mungkin baru seumur jagung (baru berjalan 3 tahun), mungkin salah satu faktor
ketidakdewasaan kami dalam bersikap. Waktu itu suamiku mengajak tinggal di
rumah ibunya (mertuaku) dan aku tidak mau dengan alasan takut menimbulkan
konflik menantu dan mertua, tapi ternyata suamiku marah dan malah menjawab akan
membawa anak kami bila aku tetap tidak menurut (kata orang salah satu tanda2
orang mau meninggal yaitu membuat kesal orang di sekitarnya). Waktu itu kami
sudah mengontrak rumah petakan. Akhirnya sejak saat itu hingga suamiku
mengakhiri masa hidupnya kami jarang berkomunikasi dan hanya berbicara untuk
hal yang biasa saja, sudah tidak ada lagi canda tawa, rayuan gombal dan hal2
yang seharusnya tidak perlu terjadi. Tapi sebagai
istri aku tetap melayani suami, menyiapkan sarapan, memasak, mengurus rumah
dan tentunya mengurus anakku. Sehari sebelum suamiku meninggal sebenarnya aku
sudah memutuskan untuk akhirnya menuruti keinginan suamiku karna orang tuaku
sudah ikut menasehati agar sebaiknya aku ikut saja kemana suamiku tinggal,
hanya saja kata2 itu belum pernah terucap dan hanya dalam hati saja. Rencana
untuk mengatakan masih ku tunda, tidak langsung aku ucapkan. Dan pada sore hari
alm. pulang kerja, alm. sudah terlihat seperti biasa, bercanda pada aku dan
anakku bahkan sempat mencium pipiku untuk yang terakhir kalinya. Hanya saja aku
masih sangat egois dengan tidak membalas candaannya, dan bersikap tetap bete.
Keesokan harinya karna orang tuaku mau pulang kampung, akhirnya aku pulang ke
rumah orang tuaku dan pulang kerja suamiku menyusul. Ketika pulang terlihat ada
yang berbeda dengan suamiku. Dia terlihat diam saja tidak banyak bicara, dan
seperti ada yang dipikirkan atau
mungkin membuat gelisah. Sampai akhirnya pada malam harinya setelah mengantar
orang tuaku ke stasiun, suamiku sempat mampir ke kontrakan kami karna ada obat
anakku yang ketinggalan, dan sekembalinya pulang dari kontrakan terjadilah hal
yang tidak pernah aku duga, suamiku ditabrak motor dalam kecepatan tinggi
ketika sedang akan menyebrang. Suamiku juga mengendarai motor. Alhamdulillah
suamiku cepat dibawa ke rumah sakit oleh orang2 yang melihat. Dan aku segera
menyusul ke rumah sakit. Tapi ternyata nyawanya tidak dapat ditolong lagi.
Sampai di rumah sakit suamiku dinyatakan sudah tidak bernyawa. Bagai petir di
siang bolong, rasanya badan ini juga ikut tidak bernyawa. Aku merasa semua itu
tidak mungkin terjadi tapi semua ini nyata. Aku tidak pernah menyangka orang
yang selama ini aku cintai dan aku pikir akan bersama2 aku dalam waktu yang
lama ternyata meninggalkanku terlebih dahulu.
Tapi inilah hidup kita tidak pernah tau awal dan akhirnya. Penyesalanku yang
mungkin tidak akan pernah hilang adalah aku merasa belum sepenuhnya bisa
menjadi istri yang baik untuk suamiku. Kadang aku bertanya apakah suamiku sudah
memaafkan kesalahanku karna tidak menurut? Aku sangat sedih kalau ingat itu.
Tapi Allah SWT Maha Kuasa, Dia lah yang paling tau yang terbaik untuk umatnya,
walaupun aku ditinggal suami tapi Alhamdulillah masih ada anak yang memotivasi
hidupku. Sekarang aku hidup untuk anakku saja. Rasanya cintaku pada suamiku
tidak pernah pudar, aku masih bisa merasakan cinta suamiku, saat2 dimana dia
begitu mencintaiku dan hanya aku dihatinya. Cintaku rasanya ikut terkubur. Tapi
kalau suatu saat Allah SWT memberikan jodoh untukku dan kalau itu memang sudah
takdir hidupku aku akan menerimanya selama jodoh itu menyayangi anakku seperti
anak kandungnya sendiri.
Maafkan aku suamiku, aku selalu berdoa semoga kita bisa berkumpul di surga
bersama dengan anak keturunan kita. Semoga alm. suamiku diampuni dosa2nya dan
ditempatkan di tempat yang terbaik. Amiin...ya robbal 'Alamin.....
Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/