Memang benar kata orang, kita baru akan merasa mencintai seseorang kita jika kita benar2 kehilangan untuk selamanya. Tapi semua itu adalah pelajaran hidup dan amat berharga. Seperti titik balik dalam hidup saya. Sekarang saya berusaha melakukan yang terbaik saja untuk keluarga. Kalau mom and dad ingat nyanyian bimbo, 'berbuat baik janganlah ditunda-tunda', salah satunya adalah jangan menunda-nunda bila kita ingin meminta maaf pada siapa pun.
Thanks for all your supports, every word means a lot for my strengthness. --- Pada Kam, 5/3/09, - Yusri - <[email protected]> menulis: Dari: - Yusri - <[email protected]> Topik: Re: Bls: [parentsguide] Fw: Jangan "ngambek" berkepanjangan terhadap orang yg kamu kasihi Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 5 Maret, 2009, 5:57 AM Aduh Mom... Saya sangat terharu membaca kisah yg dialami Mom. Semoga Almarhum mendapat tempat yg layak di sisi Allah swt dan diampuni segala kesalahan dan kekhilafannya. Dan semoga keluarga yg ditinggalkan akan selalu mendapat limpahan berkah dari Allah swt dan tentu saja diberi kesabaran atas semua cobaan ini. Yakin lah.....Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umat-Nya. Dan saya sangat berterima kasih...Mom mau berbagi pengalaman yg sangat berharga ini. Krn bagi saya.....kisah Mom menjadi pelajaran berharga bagi saya......supaya saya bisa bersikap lebih baik lagi terhadap suami dan anak2. Dan saya selalu memohon agar diberikan kesabaran yg tiada batas oleh Allah swt dalam bersikap dan melayani keluarga tercinta. Amin Regards, YUSRI email: [email protected] Sent from my BlackBerry® wireless deviceFrom: Hartatiek Kurniawan Date: Wed, 4 Mar 2009 21:05:39 +0800 (SGT) To: <[email protected]> Subject: Bls: [parentsguide] Fw: Jangan "ngambek" berkepanjangan terhadap orang yg kamu kasihi Membaca cerita ini walaupun belum semua tapi langsung mengingatkanku pada alm. suamiku. Sebelum suamiku meninggal kita memang sedang 'perang dingin' (selama +/- 10 hari). Dan semua itu awal dari keegoisan kami. Usia pernikahan yang mungkin baru seumur jagung (baru berjalan 3 tahun), mungkin salah satu faktor ketidakdewasaan kami dalam bersikap.. Waktu itu suamiku mengajak tinggal di rumah ibunya (mertuaku) dan aku tidak mau dengan alasan takut menimbulkan konflik menantu dan mertua, tapi ternyata suamiku marah dan malah menjawab akan membawa anak kami bila aku tetap tidak menurut (kata orang salah satu tanda2 orang mau meninggal yaitu membuat kesal orang di sekitarnya). Waktu itu kami sudah mengontrak rumah petakan. Akhirnya sejak saat itu hingga suamiku mengakhiri masa hidupnya kami jarang berkomunikasi dan hanya berbicara untuk hal yang biasa saja, sudah tidak ada lagi canda tawa, rayuan gombal dan hal2 yang seharusnya tidak perlu terjadi. Tapi sebagai istri aku tetap melayani suami, menyiapkan sarapan, memasak, mengurus rumah dan tentunya mengurus anakku. Sehari sebelum suamiku meninggal sebenarnya aku sudah memutuskan untuk akhirnya menuruti keinginan suamiku karna orang tuaku sudah ikut menasehati agar sebaiknya aku ikut saja kemana suamiku tinggal, hanya saja kata2 itu belum pernah terucap dan hanya dalam hati saja. Rencana untuk mengatakan masih ku tunda, tidak langsung aku ucapkan. Dan pada sore hari alm. pulang kerja, alm. sudah terlihat seperti biasa, bercanda pada aku dan anakku bahkan sempat mencium pipiku untuk yang terakhir kalinya. Hanya saja aku masih sangat egois dengan tidak membalas candaannya, dan bersikap tetap bete. Keesokan harinya karna orang tuaku mau pulang kampung, akhirnya aku pulang ke rumah orang tuaku dan pulang kerja suamiku menyusul. Ketika pulang terlihat ada yang berbeda dengan suamiku. Dia terlihat diam saja tidak banyak bicara, dan seperti ada yang dipikirkan atau mungkin membuat gelisah. Sampai akhirnya pada malam harinya setelah mengantar orang tuaku ke stasiun, suamiku sempat mampir ke kontrakan kami karna ada obat anakku yang ketinggalan, dan sekembalinya pulang dari kontrakan terjadilah hal yang tidak pernah aku duga, suamiku ditabrak motor dalam kecepatan tinggi ketika sedang akan menyebrang. Suamiku juga mengendarai motor. Alhamdulillah suamiku cepat dibawa ke rumah sakit oleh orang2 yang melihat. Dan aku segera menyusul ke rumah sakit. Tapi ternyata nyawanya tidak dapat ditolong lagi. Sampai di rumah sakit suamiku dinyatakan sudah tidak bernyawa. Bagai petir di siang bolong, rasanya badan ini juga ikut tidak bernyawa. Aku merasa semua itu tidak mungkin terjadi tapi semua ini nyata. Aku tidak pernah menyangka orang yang selama ini aku cintai dan aku pikir akan bersama2 aku dalam waktu yang lama ternyata meninggalkanku terlebih dahulu. Tapi inilah hidup kita tidak pernah tau awal dan akhirnya. Penyesalanku yang mungkin tidak akan pernah hilang adalah aku merasa belum sepenuhnya bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku. Kadang aku bertanya apakah suamiku sudah memaafkan kesalahanku karna tidak menurut? Aku sangat sedih kalau ingat itu. Tapi Allah SWT Maha Kuasa, Dia lah yang paling tau yang terbaik untuk umatnya, walaupun aku ditinggal suami tapi Alhamdulillah masih ada anak yang memotivasi hidupku. Sekarang aku hidup untuk anakku saja. Rasanya cintaku pada suamiku tidak pernah pudar, aku masih bisa merasakan cinta suamiku, saat2 dimana dia begitu mencintaiku dan hanya aku dihatinya. Cintaku rasanya ikut terkubur. Tapi kalau suatu saat Allah SWT memberikan jodoh untukku dan kalau itu memang sudah takdir hidupku aku akan menerimanya selama jodoh itu menyayangi anakku seperti anak kandungnya sendiri. Maafkan aku suamiku, aku selalu berdoa semoga kita bisa berkumpul di surga bersama dengan anak keturunan kita. Semoga alm. suamiku diampuni dosa2nya dan ditempatkan di tempat yang terbaik. Amiin...ya robbal 'Alamin..... Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3! ___________________________________________________________________________ Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo..com/newdomains/id/

