Aduh Mom...
Saya sangat terharu membaca kisah yg dialami Mom.
Semoga Almarhum mendapat tempat yg layak di sisi Allah swt dan diampuni segala 
kesalahan dan kekhilafannya.
Dan semoga keluarga yg ditinggalkan akan selalu mendapat limpahan berkah dari 
Allah swt dan tentu saja diberi kesabaran atas semua cobaan ini.
Yakin lah.....Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umat-Nya.

Dan saya sangat berterima kasih...Mom mau berbagi pengalaman yg sangat berharga 
ini. 
Krn bagi saya.....kisah Mom menjadi pelajaran berharga bagi saya......supaya 
saya bisa bersikap lebih baik lagi terhadap suami dan anak2. 
Dan saya selalu memohon agar diberikan kesabaran yg tiada batas oleh Allah swt 
dalam bersikap dan melayani keluarga tercinta.

Amin


Regards,
YUSRI
email: [email protected]

Sent from my BlackBerry® wireless device

-----Original Message-----
From: Hartatiek Kurniawan <[email protected]>

Date: Wed, 4 Mar 2009 21:05:39 
To: <[email protected]>
Subject: Bls: [parentsguide] Fw: Jangan "ngambek" berkepanjangan terhadap orang 
yg kamu kasihi


Membaca cerita ini walaupun belum semua tapi langsung mengingatkanku pada alm. 
suamiku. Sebelum suamiku meninggal kita memang sedang 'perang dingin' (selama 
+/- 10 hari). Dan semua itu awal dari keegoisan kami. Usia pernikahan yang 
mungkin baru seumur jagung (baru berjalan 3 tahun), mungkin salah satu faktor 
ketidakdewasaan kami dalam bersikap. Waktu itu suamiku mengajak tinggal di 
rumah ibunya (mertuaku) dan aku tidak mau dengan alasan takut menimbulkan 
konflik menantu dan mertua, tapi ternyata suamiku marah dan malah menjawab akan 
membawa anak kami bila aku tetap tidak menurut (kata orang salah satu tanda2 
orang mau meninggal yaitu membuat kesal orang di sekitarnya). Waktu itu kami 
sudah mengontrak rumah petakan. Akhirnya sejak saat itu hingga suamiku 
mengakhiri masa hidupnya kami jarang berkomunikasi dan hanya berbicara untuk 
hal yang biasa saja, sudah tidak ada lagi canda tawa, rayuan gombal dan hal2 
yang seharusnya tidak perlu terjadi. Tapi sebagai
 istri aku tetap melayani suami, menyiapkan sarapan, memasak, mengurus rumah 
dan tentunya mengurus anakku. Sehari sebelum suamiku meninggal sebenarnya aku 
sudah memutuskan untuk akhirnya menuruti keinginan suamiku karna orang tuaku 
sudah ikut menasehati agar sebaiknya aku ikut saja kemana suamiku tinggal, 
hanya saja kata2 itu belum pernah terucap dan hanya dalam hati saja. Rencana 
untuk mengatakan masih ku tunda, tidak langsung aku ucapkan. Dan pada sore hari 
alm. pulang kerja, alm. sudah terlihat seperti biasa, bercanda pada aku dan 
anakku bahkan sempat mencium pipiku untuk yang terakhir kalinya. Hanya saja aku 
masih sangat egois dengan tidak membalas candaannya, dan bersikap tetap bete. 
Keesokan harinya karna orang tuaku mau pulang kampung, akhirnya aku pulang ke 
rumah orang tuaku dan pulang kerja suamiku menyusul. Ketika pulang terlihat ada 
yang berbeda dengan suamiku. Dia terlihat diam saja tidak banyak bicara, dan 
seperti ada yang dipikirkan atau
 mungkin membuat gelisah. Sampai akhirnya pada malam harinya setelah mengantar 
orang tuaku ke stasiun, suamiku sempat mampir ke kontrakan kami karna ada obat 
anakku yang ketinggalan, dan sekembalinya pulang dari kontrakan terjadilah hal 
yang tidak pernah aku duga, suamiku ditabrak motor dalam kecepatan tinggi 
ketika sedang akan menyebrang. Suamiku juga mengendarai motor. Alhamdulillah 
suamiku cepat dibawa ke rumah sakit oleh orang2 yang melihat. Dan aku segera 
menyusul ke rumah sakit. Tapi ternyata nyawanya tidak dapat ditolong lagi. 
Sampai di rumah sakit suamiku dinyatakan sudah tidak bernyawa. Bagai petir di 
siang bolong, rasanya badan ini juga ikut tidak bernyawa. Aku merasa semua itu 
tidak mungkin terjadi tapi semua ini nyata. Aku tidak pernah menyangka orang 
yang selama ini aku cintai dan aku pikir akan bersama2 aku dalam waktu yang 
lama ternyata meninggalkanku terlebih dahulu. 
Tapi inilah hidup kita tidak pernah tau awal dan akhirnya. Penyesalanku yang 
mungkin tidak akan pernah hilang adalah aku merasa belum sepenuhnya bisa 
menjadi istri yang baik untuk suamiku. Kadang aku bertanya apakah suamiku sudah 
memaafkan kesalahanku karna tidak menurut? Aku sangat sedih kalau ingat itu.
Tapi Allah SWT Maha Kuasa, Dia lah yang paling tau yang terbaik untuk umatnya, 
walaupun aku ditinggal suami tapi Alhamdulillah masih ada anak yang memotivasi 
hidupku. Sekarang aku hidup untuk anakku saja. Rasanya cintaku pada suamiku 
tidak pernah pudar, aku masih bisa merasakan cinta suamiku, saat2 dimana dia 
begitu mencintaiku dan hanya aku dihatinya. Cintaku rasanya ikut terkubur. Tapi 
kalau suatu saat Allah SWT memberikan jodoh untukku dan kalau itu memang sudah 
takdir hidupku aku akan menerimanya selama jodoh itu menyayangi anakku seperti 
anak kandungnya sendiri.
Maafkan aku suamiku, aku selalu berdoa semoga kita bisa berkumpul di surga 
bersama dengan anak keturunan kita. Semoga alm. suamiku diampuni dosa2nya dan 
ditempatkan di tempat yang terbaik. Amiin...ya robbal 'Alamin.....






      Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/

Kirim email ke