moms...ini hasil searching saya dr google..sori kl panjang bgt

untuk nambah wawasan biar kita lbh tau lg ttg SJS, saya juga punya 2 anak, 1 
batita dan 1 lg masih 7bulan. dan anak saya yg 7bulan alergi berat sama susu 
sapi, krn itu saya juga hrs ekstra ati2 stl baca sharing drmom dyah..
thanks a lot buat sharingnya ya mom dyah..

dan fyi..ternyata alergi susu sapi pun efeknya bs sangat mengerikan moms...!!  
jidat  dan perut bagian bawah puser baby saya berwarna merah tua, trs keluarin 
cairan kuning kaya nanah gt..baby saya nangis terus sampe saya ikutan nangis 
deh liatnya
duh rasanya...kl bs saya aja yg gantiin deh..jangan dia..kasian waktu itu baru 
sebulan umurnya :'(

sekarang sih uda baek tp ga bs makan/minum produk turunan susu sapi: keju 
juga..baru makan dikit langsung bruntusan merah2, berhari-hari ga ilang

semoga artikelnya bermanfaat ya moms...


Alergi dan Stevens Johnson Syndrome 
Hannah K Damar
Seorang anak
sering sakit-sakitan, batuk pilek, kadang demam dan gatal-gatal pada
tangan dan kaki yang hilang timbul. Hampir setiap minggu dia pergi ke
dokter. Banyak dokter dia datangi. Namun, penyakit anak ini tidak
kunjung sembuh sampai akhirnya dia memutuskan berobat ke luar negeri.
Ternyata di sana penyakit ini sembuh dengan sendirinya. Dia pun kembali
ke Tanah Air. Akan tetapi, yang terjadi, anak ini kembali sakit.
Akhirnya dia menyadari ada sesuatu yang tidak cocok, mungkin alergi
sebagai penyebabnya. Setelah dilakukan tes ternyata debu yang berasal
dari karpet dan sofa yang jarang dibersihkan yang menjadi penyebabnya.
Setelah barang-barang tersebut dibersihkan dan dipindahkan, kini anak
itu jarang sakit-sakitan lagi. 
Contoh
kasus di atas menunjukkan alergi terhadap sesuatu bisa menimbulkan
penyakit yang berkepanjangan. Untungnya alergi seperti itu tidak
berlebihan dan bisa diketahui sumbernya sehingga bisa dihindari. Namun,
ada pula alergi yang timbul secara berlebihan dan bermanifestasi
sebagai keadaan yang berpotensi fatal yang dikenal dengan Stevens
Johnson Syndrome (SJS).
Istilah Stevens
Johnson Syndrome akhir-akhir ini memang kerap terdengar di media massa.
Meskipun nama penyakit ini sudah lama dikenal di kalangan medis, namun
karena penderitanya jarang sehingga kurang diketahui masyarakat. SJS
bisa terjadi karena adanya kompleks imun di dalam tubuh. Ketika terjadi
ikatan antara antigen dan antibodi yang disebut sebagai kompleks imun,
kompleks imun tersebut menimbulkan reaksi pada tempat dia mengendap
sehingga menimbulkan kerusakan jaringan. SJS ini secara khusus
melibatkan kulit dan membran mukosa atau selaput lendir.
SJS sebetulnya
merupakan reaksi hipersensitivitas. Gell and Combs membagi reaksi
hipersensitivitas menjadi empat kelompok. Pertama adalah reaksi
anafilaksis, yaitu reaksi yang sangat cepat timbul dan sering fatal,
biasanya reaksi ini diperantarai imunoglobin E. Kelompok kedua adalah
reaksi sitotoksik yang menyebabkan kematian dan kerusakan sel. Kelompok
ketiga, yakni reaksi imun kompleks. Reaksi ini terjadi jika ada alergen
dari luar, misalnya, obat-obatan yang bereaksi dengan antibodi yang ada
dalam tubuh. Kemudian antibodi dan alergen bersatu dan kompleks imunnya
merusak organ-organ tertentu. Adapun kelompok keempat, yaitu reaksi
hipersensitivitas tipe lambat. Reaksi alergi ini tidak segera terjadi,
tetapi justru berlangsung setelah beberapa hari atau minggu. Contoh
yang dapat kita jumpai adalah pemakaian kosmetik yang baru menimbulkan
alergi setelah beberapa kali pemakaian. SJS diduga merupakan bagian
dari reaksi kelompok tiga atau empat. Selain itu, contoh yang paling
jelas juga kalau kita membuat reaksi pada kulit dengan melakukan tes
mantoux. Reaksinya baru bisa dibaca tiga hari kemudian.
Penyebab SJS itu
sendiri bisa dikategorikan empat kelompok, yakni obat- obatan, infeksi,
keganasan seperti kanker, serta penyebab yang tidak diketahui pasti
atau idiopatik. SJS bisa disebabkan oleh obat-obatan seperti
antibiotika golongan penisilin, cefalosforin, dan sulfa, obat-obatan
anti nyeri seperti non steroid anti inflammatory drugs (NSAIDs)
allopurinol untuk asam urat, phenytoin, karbamazepin, barbiturat untuk
obat anti kejang dan antilepsi. Contoh penyebab infeksi adalah virus
herpes simplex (HSV), AIDS, infeksi virus coxsackie, influensa,
hepatitis, mumps (gondongan), infeksi mycoplasma, lymphogranuloma
venereum (LGV), infeksi ricketsia, dan variola. Infeksi bakteri,
misalnya, disebabkan oleh grup A beta streptokokus, diptheria,
brucellosis, mycobacteriae, mycoplasma pneumonia, tularemia, dan
typhoid.
Infeksi juga bisa
disebabkan oleh jamur seperti coccidiodomycosis, dermatophytosis, dan
histoplasmosis. Sementara infeksi parasit seperti pada penderita
malaria dan trichomoniasis. Pada anak-anak infeksi sering terjadi
disebabkan oleh virus Epstein Barr dan enterovirus.
Penyebab lainnya
adalah kanker seperti karsinoma dan limfoma. Kita harus ingat di satu
sisi, yaitu sekitar 25 persen-50 persen penderita SJS tak jelas
penyebab pastinya. Untuk orang dewasa SJS biasanya disebabkan kanker
dan obat-obatan. Adapun pada anak lebih banyak karena infeksi.
Untuk
pencegahannya adalah dengan cara menghindari alergen karena memang
penyebab masalahnya adalah alergi. Nah, hal inilah yang sulit karena
sering kali kita tak mengetahui alergi yang ada pada diri kita sendiri.
SJS biasanya
mulai timbul dengan gejala-gejala seperti infeksi saluran pernapasan
atas yang tidak spesifik, kadang-kadang 1-14 hari. Ada demam, susah
menelan, menggigil, nyeri kepala, rasa lelah, sering kali juga muntah-
muntah dan diare. Muncul kelainan kulit, seperti koreng, melepuh,
sampai bernanah, serta sulit makan dan minum. Bahkan juga mengenai
saluran kencing menyebabkan nyeri.
Kelainan kulit
bisa dimulai dengan bercak kemerahan tersebar hingga tumbuh
lenting-lenting yang berair dan membesar hingga menimbulkan koreng,
terutama pada selaput lendir seperti di hidung, mulut, mata, alat
kelamin, dan lain-lain. Berat ringannya manifestasi klinis SJS
bervariasi pada tiap individu bisa dari yang ringan sampai berat
menimbulkan gangguan pernapasan dan infeksi berat sampai mematikan.
Selain SJS, ada
pula bentuk alergi lain yang dikenal dengan Toxic Epidermal Necrolysis
Syndrome (TENS). Bedanya, kalau pada SJS terutama terjadi antara
selaput lendir dengan kulit seperti hidung, mata, mulut serta alat-alat
vital sampai anus, sedangkan TENS menyebabkan kulit melepuh, mengelupas
seperti ketika kulit habis terbakar.
Penyakit SJS bisa
mengenai semua umur dari anak-anak sampai orangtua, laki-laki dan
perempuan, walaupun dilaporkan banyak wanita yang cenderung terkena SJS
dibandingkan dengan laki-laki seperti yang diungkap dalam website SJS.
Namun, kecenderungan ini tidak menyebutkan diskriminasi rasial atau
diskriminasi seksual.
SJS juga bisa
mengenai mata dan menimbulkan kebutaan akibat adanya peradangan pada
kornea atau selaput bening mata. Jika terjadi infeksi atau inflamasi
pada seluruh bola mata disebut panophthalmitis. Kasus ini terjadi pada
sekitar 3 persen-10 persen pasien. SJS bisa menyebabkan perlukaan pada
alat kelamin hingga menjadi jaringan parut dan menyebabkan kesulitan
berkemih.
Dalam praktik
sehari-hari sebaiknya dokter dan pasien saling mengingatkan apakah ada
alergi terhadap obat-obatan tertentu bila akan diberikan obat- obatan.
Pertanyaan singkat dari seorang dokter tentang apakah si pasien alergi
terhadap sesuatu sangat penting untuk diperhatikan karena hal ini
sangat menentukan obat-obatan yang bakal diberikan untuk mengurangi
sakit pasien. Misalnya, bila pasien alergi dengan antalgin dokter pasti
tidak akan memberikan obat yang mengandung antalgin.
Jika pasien tidak
mengetahui jenis obatnya, minimal memberitahukan ke dokter penyakit
yang pernah diderita dan juga gejala yang pernah dirasakan setelah
minum obat tertentu. Pasien jangan ragu mengatakan kepada dokter jika
memang mengalami banyak alergi, misalnya, sering bersin karena debu,
suka gatal-gatal jika makan makanan tertentu. Hal ini sangat membantu
dokter untuk berhati-hati memberikan obat terlebih lagi jika pasien
menyadari adanya alergi dengan obat tertentu. Yang sulit adalah kalau
pasien tidak pernah tahu ada riwayat alergi sebelumnya sehingga dokter
sulit memprediksikan kemungkinan reaksi alergi. Reaksi seperti ini bisa
saja terjadi. Biasanya dokter akan berhati-hati dengan melakukan tes
kulit sebelum memberikan obat terutama suntikan antibiotika. Namun,
cara ini juga masih mempunyai keterbatasan karena tidak semua obat bisa
dilakaukan tes kulit mengingat berat molekul obat tersebut.
Tes kulit yang
negatif tidak berarti bahwa pasien pasti 100 persen tidak akan alergi
terhadap obat tersebut, karena tes dilakukan dalam waktu singkat. Saat
dilakukan tes kulit tidak ada gatal, tidak ada bentol sama sekali
ataupun kemerahan, tetapi ketika obat tersebut disuntikkan bisa saja
masih timbul reaksi. Tes kulit positif menunjukkan pasien ini alergi
sehingga dokter tidak akan memberikan obat tersebut karena ada
kemungkinan besar akan timbul reaksi alergi.
Memang untuk
menilai ada tidaknya alergi adalah dengan challenge test, artinya orang
tersebut diberikan obat dahulu untuk mengetahui alergi atau tidak.
Apabila timbul reaksi, berarti pasien tersebut mengalami alergi.
Masalah kembali muncul ketika challenge test itu ternyata langsung
menimbulkan reaksi yang berlebihan dan fatal. Dalam hal ini tes seperti
ini tidak dilakukan.
SJS tidak hanya
terjadi karena obat suntikan. Namun, bisa juga timbul karena obat yang
diminum. Kasus demikian banyak terjadi dan cukup menyulitkan dokter
dalam mengobati.
SJS ini bisa
disembuhkan bila pasien cepat datang mencari pertolongan dan reaksi
yang timbul tidak berat. Tingkat kematian juga tidak tergolong tinggi
mencapai 3 persen-15 persen, tetapi jika sudah terkena SJS bisa
berpotensi mematikan.
Dr Hannah K Damar, Sp KK Pengajar
FK UPH dan Dokter Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin, Siloam
Gleneagles Hospital Lippo Karawaci Siloam HealthCare Group
 Regards,


Rina Tanujaya
[ Kiddie Smiles Rent a Toy ]
Penyewaan Mainan Anak yang Berkualitas juga menjual Mainan,Stroller, Carseat, 
Diaper Bag yg modis dan keren
kunjungi www.kiddiesmiles.wordpress.com




________________________________

Info berlangganan hubungi: Emma di (021) 70408785, 527 7302 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group  | Yahoo! Groups Terms of Use  | Unsubscribe  
Recent Activity
        *  26
New Members
        *  2
New PhotosVisit Your Group  
Give Back
Yahoo! for Good
Get inspired
by a good cause.
Y! Toolbar
Get it Free!
easy 1-click access
to your groups.
Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
. 

   


      

Kirim email ke