Yth mas Kokok ip,

 

Terima kasih atas tanggapan mas kokok tentang sekolah pelaut di Indonesia. Apa yang mas Kokok sampaikan itu adalah merupakan ‘keluhan pelanggan’ bagi diklat maritim di Indonesia yang seharusnya ditanggapi secara positif dan ditindaklanjuti oleh fihak yang terkait.

 

Namun ada hal yang perlu saya sampaikan ke mas Kokok karena tulisan mas itu dibaca oleh orang yang ‘MENNGERTI’ dan orang yang ‘TIDAK MENGERTI’.  Orang yang ‘tidak mengerti’ tadi ada yang ‘TAHU’ (Tidak mau tahu) ada yang ‘TIDAK TAHU’ (awam).

 

  1. Mengenai waktu diklat. Pengurangan waktu itu ada 2 perkara. a) Sesuai Kurikulum/silabus harus dilakukan misalnya 36 jam. Ini mutlak harus dipenuhi agar diklat itu diakui. Secara empirik dengan metode pengajaran yang lebih maju, 18 jam saja sudah bisa karena kebanyakan peserta sudah memiliki pengalaman di kapal (bukan new entry). b) Pelaut sendiri mayoritas menghendaki pengurangan waktu, sebagaimana pengalaman saya waktu menyusun silabus BTM yang ditolak oleh perusahaan pelayaran karena terlalu lama. Pada awalnya biasanya ditawarkan ke peserta diklat.
  2. Kualitas pengajar, ide mas Kokok itu bagus sekali, tapi untuk melaksanakannya ada banyak kendala: a) Pelaut yang berpengalaman biasanya tidak mau jadi pengajar karena gajinya kecil, disisi lain ’life must go on’. Wal hasil, ’tiada rotan akarpun berguna’. Gila kan? b) Kalau mengundang dosen tamu beayanya bisa 10 kali lipat, terutama untuk diklat di luar Jakarta (kalau dari India/Singapore mungkin 50 kali lipat), sedangkan pelaut sendiri menuntut beaya diklat semurah mungkin. Banyak pelaut yang tidak dapat mengikuti diklat dan tidak dapat meningkatkan sertifikatnya karena alasan dana yang tidak mencukupi (walau menurut penelitian beaya diklat maritim di Indonesia paling murah sedunia....dan mungin paling parah juga. Ha....ha....ha....)
  3. Sebenarnya memang tidak dibenarkan mengajar itu menyampaikan materi diluar pelajaran, apalagi bernostalgila. Seharusnya memang sesuai silabus. Mungkin ybs sedang merindukan masa lampau. Makanya perlu adanya perkumpulan pelaut dari segala zaman dan beda profesi agar kerinduan itu dapat ditumpahkan disitu, tidak didepan kelas.
  4. Seharusnya siswa itu memiliki hak untuk mendapat pengajaran yang layak, dan menuntut untuk diberi pelajaran sesuai jadwal. Yang sering terjadi, siswa tidak menuntut kalau tidak di ajar. Nanti nuntutnya kalau ujian tidak lulus, yang disalahkan pengajarnya. Malah dulu ada segerombolan pelaut (mungkin pelaut gadungan) demo ke Dirjen-Perla nuntut LULUS UJIAN NEGARA padahal kalau diuji ya tidak lulus betulan? Bagaimana pendapat mas Kokok?
  5. Lha, ini juga memalukan dunia pelaut. Yang minta uang itu mesti bekas pelaut, yang memberikan itu juga pelaut. Konyol ya? Kalau di satu tempat tidak bisa pakai uang, pelaut itu akan mengikuti diklat ditempat lain (alasannya di sana lebih mudah lulusnya). Pernah suatu diklat tidak ada pesertanya karena susah lulusnya. Sering para pelaut itu memaksa memberi uang agar bisa cepet lulus. Lagi2 konyol kan?

 

Mengenai kapal latih mas (daripada membangun sekolahan baru), Indonesia tidak perlu memiliki 100 atau sejumlah sekolahan. Di Jepang, 5 kapal latih itu digunakan untuk semua sekolah pelayaran dan perikanan di Jepang. Menurut saya ini perlu agar diklat dapat dilakukan di atas kapal, mengingat banyak mualim, masinis, nakhoda, KKM apalagi bawahan dikapal yang tidak sudi mengajari taruna yang prola di kapal. Selain itu banyak waktu terbuang para peserta diklat awal pelayaran hanya untuk menunggu kapal. Begitu dapat kapal, mau jadi ”Ahli Nautika Tingkat III” prolanya di kapal Tug-Boat yang berlayar di ’kolam susu’, tidak ada muatannya, olah geraknya seprti parkir mobil. Gimana tuh?

 

Yang terakhir, saya setuju banyak pendapat mas Kokok, kelihatannya yang perlu dibenahi itu mental orang-orangnya, mulai dari pejabat terkait, pengajar, sampai dengan pelautnya juga.

 

Wassalam, and mohon maaf lahir bathin

Hadi Sp

kokok ip <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Numpang lewat,
 
Kalau boleh saya memberi saran, sekolah / kursus untuk pelaut sudah cukup banyak belum lagi ditambah yang di daerah seperti Jogja, Bitung, Medan dll. Namun yang perlu dipertanyakan apakah kualitasnya bagus & dapat diandalkan?
Saya sangat ragu untuk mengatakan kualitas sekolah / kursus pelaut saat ini yang ada kualitasnya bagus, sekalipun sekolah negeri seperti BPLP/STIP/BP3IP. 
 
Beberapa tempat kursus yang pernah saya ikuti, belum ada satupun yang bisa memberikan hasil maksimal sesuai dengan tujuan kursus maupun penilaian pribadi saya ( maaf ini bukan mencela / menjelekkan ), beberapa contoh yang mungkin bisa jadi masukan :
1. Hampir semua kursus yang pernah saya ikuti KORUPSI WAKTU, jadwal kursus yang misalnya 4 hari disunat jadi 2 hari dg alasan dipadatkan. Padahal kenyataanya materi yang diberikan juga tidak lengkap.
2. KWALITAS PENGAJAR yang tidak mencukupi, contoh : untuk kursus advance tanker, tenaga pengajar ada yang hanya berpengalaman sbg mualim 3 dan dikapal kecil / DWT di bwh 10.000 t. Saya tidak mengatakan kalau mualim 3 di kapal kecil tidak layak untuk jadi pengajar tapi apakah tidak bisa dicarikan tenaga pengajar yang ex master VLCC yang sudah berpengalaman 10 th lebih dan pelayaran internasional?. Kalau di Indonesia belum ada mungkin bisa undang dosen tamu dari India / Singapore dll, sehingga siswa memperoleh masukan yang maksimal.
3. Sebagian waktu kursus yang pernah saya ikuti hanya MENGHABISKAN WAKTU UNTUK BERCERITA, pengajar banyak menceritakan nostalgia waktu masih kerja dikapal, sering terucap kalau siswa sudah lebih pengalaman & lebih senior jadi pengajar malah kurang menyampaikan materi kursus tapi lebih didominasi ngobrol2 yang kurang perlu
4. Dengan banyaknya kursus, siswa calon pelaut malah jadi KORBAN. Sering sekali terlihat kelas calon pelaut kosong karena dosen lebih senang mengajar di kelas ketrampilan. Sedikit banyak hal ini tentu berpengaruh thd kualitas calon pelaut Indonesia.
5. Sudah jadi rahasia umum kalau mau lulus ujian / tingkatan tertentu harus ada DANA EKSTRA, [EMAIL PROTECTED]^&*()_+...?????????
 
Saran saya lebih baik sistim pengajaran dibenahi / diaudit secara fair demi kemajuan pelaut khususnya & dunia pendidikan Indonesia umumnya. Bukan sarana sekolah / penambahan sekolah yang diutamakan, 100 kapal latih diberikan / 100 sekolah didirikan tapi kalau man power yang ada didalamnya gak baik hanya akan menghabiskan uang negara & rakyat yang sudah menderita.
 
Kalupun akan ada penambahan sekolah lebih baik dialokasikan diluar jawa & dialihkan ke Indonesia Timur, itupun sekolah yang ada sekarang ini diaudit secara ketat, yang tidak standart segera ditutup sehingga tidak mengorbankan siswanya.
 
Sekali lagi mohon maaf, bukan saya bermaksud menuduh pihak tertentu, kalau tulisan yang saya sampaikan tidak sesuai / bertentangan dg kenyataan, anggap saja tulisan diatas tidak pernah ada.
 
hormat saya,
kokok ip  
----- Original Message -----
Sent: Friday, November 11, 2005 9:38 AM
Subject: Re: [pelaut] New poll for pelaut

To whom it may concern (yth pak Budiman ?)
 

At the moment, maritime education and training in Indonesia for various levels are sufficient in amount. It means, it is no reason for us to discuss about establishing a new school. Not this time.

 

The most crucial matter and big problem for us now is, how to ensure that STCW 95 is well implemented, so, every country have no doubt on employing Indonesian seafarers as they satisfy with Indonesian seafarer’s competencies.

 

Existing Education and Training for seafarers in Indonesia both government and non-government are too many, and their quality are mostly doubted. They need to be improved in quality instead of quantity. Like BP2IP Barombong, originally it was established to perform as “Rating school”. Nowadays BP2IP Barombong is not focusing in competencies of “Supporting Level” seafarers as they now more concern in ANT-ATT-IV and V (Operational Level).

Frankly speaking, most of private schools in Indonesia are only want to collect money from participant for they own interest instead of orientation nationally.

 

The most important thing now for us (we, who are thinking intensively for better Indonesian Seafarers in future) is try to fight for getting TRAINING SHIPS.

Ask to Mr. Isogai, how many students for all maritime E/T institutions in Japan? They have 5 training ships. We have roughly more than 5 times in amount of students compares to Japanese. We do not have even a single training ship…….?????????????

 

Intinya pak, kita sekarang ini tidak butuh tambahan sekolah, tetapi perlu membenahi mutu pendidikan dari setiap sekolahan yang sudah ada. Yang sangat kita butuhkan adalah KAPAL LATIH setidaknya seperti TS SEIUN MARU.

Maaf saya bicara idealnya. Kalau tujuannya lain saya nggak tahu…….

Wassalam

 

Capt. Hadi Supriyono, Sp.1, MM. M.Mar

HP.08155086152

                                                                                                     

 


[email protected] wrote:

Enter your vote today!  A new poll has been created for the
pelaut group:

Dengan adanya Sekolah Rating (BP2IP) di Barombong, Surabaya dan Tangerang dan rencana pembangunan dua lagi di Sorong dan Pangkalan Berandan, apakah menurut anda masih diperlukan pembangunan sekolah rating lagi ?

  o Sangat Perlu
  o Sudah cukup
  o Belum perlu utk saat ini


To vote, please visit the following web page:
http://groups.yahoo.com/group/pelaut/surveys?id=2026238

Note: Please do not reply to this message. Poll votes are
not collected via email. To vote, you must go to the Yahoo! Groups
web site listed above.

Thanks!








Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

JALESVEVA YAYAMAHE



YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke