Dear Seafarers..
Akhirnya Pak Moderator turun tangan juga menengahi masalah ini... salut Pak. Terlepas dari saling tuding menuding atau tidak, rasanya memang sangat pantas kalo kita sama2 saling mengkoreksi diri, sebelum melempar suatu posting di milis ini. Karena pasti akan ada pro maupun kontra atas komentar dan tulisan kita. Tapi marilah kita menyikapinya dengan bijak, karena perbedaan itu indah sepanjang kita tidak saling merendahkan pendapat orang lain. Merujuk ke beberapa kajadian kecelakaan belakangan ini, saya sangat setuju dengan Pak Modrtr, bahwa mawas diri dan belajar tiada henti pasti ada manfaatnya buat kita. Nah, banyak pertanyaan yang muncul setelah kecelakaan yang beruntun belakangan ini.... apa dan siapa yang salah. Operator? Port Regulator dan instansi terkait? atau Seamanshipnya yang ngga benar? Kalo diurut urut memang semua pasti punya salah. Tapi menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran kedepannya... itu yang lebih penting. Dulu, waktu kursus ARPA & Radar, saya sempat mendengar adanya perdebatan antara dosen (yg kebetulan bukan pelaut) dengan seorang Master kawakan yang kebetulan sangat mencintai profesinya. Sumbernya sederhana, tapi sangat menggelitik, hanya karena sang dosen bilang, bahwa pelaut itu sama saja dengan sopir truk, dan tidak punya kemampuan berpikir yang maju. Ini dibantah sampai berhujung ke pertengkaran. Karena Sang Master mengatakan bahwa, Navigasi itu bukan seperti menyetir mobil, tapi ada perpaduan suatu seni, olah gerak, dan prinsip keselamatan untuk mengemudikan kapal sesuai dengan prinsip seamanship yang cakap. Mungkin rekan2 sekalian pasti tersinggung juga kalau mendengar "sindiran" demikian. Tapi merenung (seperti kata Mas Ponti) dari semua kejadian terakhir... apa iya seni dalam olah gerak atau prinsip keselamatan dalam suatu kecakapan pelaut sudah hilang saat ini? atau disaat terjadinya kecelakaan beruntun? Apa prosedur keselamatan yang ada tidak diterapkan? Atau apa mungkin dengan banyaknya prosedur, justru bukan membuat sistem semakin baik sehingga malah lebih ruwet dan menjurus ke arah yang salah? Mungkin ini yang layak kita renungkan.... Dibilang bapak2 penggede diatas tidak punya konsep yang baik... saya kurang setuju! Dibilang prosedur yang salah? Tidak mungkin juga. Prosedur sudah benar, tapi mungkin penerapannya yang salah! Tanya kenapa? Nah itulah yang perlu kita ( kembali ke......) renungkan..... SBY ataupun Sutiyoso, dalam memimpin pasti punya konsep yang brilian dan didukung oleh tenaga2 yang ahli dibidangnya. Demikian juga dengan bapak2 penggede diatas. Mereka bukan baru melek trus diangkat. Pengalaman, cara kerja, juga menentukan dalam penunjukan mereka ( NGGA TAU KALO ADA HAL2 LAIN) sama seperti kita, bisa naik dari satu jabatan ke jabatan yang lain pasti ada assesmentnya. Tapi tetap saja banyak program mereka yang tidak jalan! Tanya kenapa? Kembali ke.... renungkan.... Malaysia atau singapore, rasanya memang contoh yang baik! Tapi bukan berarti kita gagal. Seorang Mahatir atau Lee Kwan Yew juga belum tentu bisa mengurus Indonesia. Kenapa? Karena luas wilayah daratan dan lautan kita begitu besar. Trus pola dan cara hidup dari berbagai etnis yang ada di Indonesia juga tidak sama dengan di dua negara tersebut yang cuma didominasi oleh etnis China dan Melayu, ditambah dengan wilayahnya yang tidak begitu luas. Pola pikir Orang Medan ama orang Jawa, banyak bertentangan, demikian juga dengan orang Timur sana..... Manado, sangir..ambon dll. Menyatukan semua ini bukan hal yang mudah. Ini tercermin dari situasi politik belakangan ini. Belum lagi biaya yang sangat besar yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur yang ada. Ini butuh waktu, biaya, dan political will yang positif untuk mewujudkannya. Jadi sangat naif kalo kita membandingkan kita dengan kedua negara tersebut. Nah, masalah korupsi atau apalah istilahnya.... memang sepertinya sudah menjadi "budaya" di kita. Lingkaran setan yang ada di banyak instansi memang sulit untuk diputuskan. Belakangan ini banyak yang mencoba peruntungannya di dunia kepegawaian negeri (Dephub, Bea Cukai, dll) tapi apa iya motivasinya memang untuk berbakti buat negara? atau bagaimana caranya mendapatkan tempat basah? Maaf....moga2 saya salah menduga... kalo salah..yach seperti tadi..... kembali ke renungan. Bahkan pernah ada seorang pemilik kapal yang termasuk TOP di negeri kita, pernah mengeluhkan betapa sulitnya mencari seorang branch manager, karena banyak talenta2 muda, tapi sayang...sudah terkontaminasi oleh pola hidup konsumtif, sehingga arah ke jalan korupsi akan sangat besar. Memang gaji kecil, adalah alasan dari berbagai pihak untuk melegalkan berbagai upaya korupsi, sedangkan biaya hdup sangat tinggi apalagi di jakarta. Makanya, jangan heran.... kadang2 calo di Syahbandar maupun di Imigrasi, banyak yang berseragam. Hal yang sama juga terjadi di dunia pelayaran kita. Seandainya ada kontrol yang ketat, audit yang benar2 audit. Mungkin tidak akan ada kecelakaan, atau bisa diminimalisir. Tapi susah juga. Dengan kondisi masyarakat yang ada saat ini, sangat sulit. Safety itu sangat mahal.... biayanya pun mahal, otomatis akan ada kenaikan dari biaya lain dan pastinya operator akan membebankan itu ke penumpang. Nah, kalo udah gitu, pasti akan sedikit penumpang yang akan naik, apalagi dengan kondisi sekarang, sehingga daripada membayar biaya untuk safety, lebih baik kompromi denga safety, n bayar ke pihak2 yang terkait....gitu kali pemikirannya.... Jadi terlepas dari semrawutnya pelayaran kita, rasanya ekonomi secara makro harus dibenahi dulu, barulah sektoral itu bisa berjalan dengan baik. Tidak akan mungkin pelayaran kita maju, kalo masyarakat dan negara kita belum masuk ke fase yang lebih baik dari sekarang. Jadi, kalo merenungkan semua itu, kita juga harus melihat kondisi umum bangsa kita. Mengkritisi memang gampang. Seorang Andi Mallarangeng, saat menjadi pemerhati politik, begitu fasih dia mengkritik pemerintah, tapi lihat aja sekarang, bagaimana dia harus bersusah payah menjawab berbagai kritikan yang dialamatkan ke Presiden.Tapi tentu kritik yang positif, wajar2 saja kita lontarkan... Namun tentunya kita tetap harus punya pengharapan dan usaha yang positif dalam membantu kemajuan dunia pelayaran kita. Dan tentu kita tidak henti berharap agar ada political will yang baik dari para penggede diatas, n kalo bisa.... kalo sudah merasa gagal, yach lebih baik gentle untuk mundur lah.... Buat kita pelaut... saran saya, good seamanship rasanya layak untuk kita gali dan tiada henti untuk kita pelajari. Sebagai Master diatas kapal, kita punya Overriding authority, dimana kita bisa melakukan tindakan apapun tanpa campur tangan dari operator, maupun pihak Port regulator, apabila kita merasa tidak aman atau mengancam keselamatan kapal, lingkungan dan manusia. Untuk itu....terlepas dari panjangnya uraian dan email saya..rasanya pantas untuk kita supaya selalu belajar dan memperbaiki diri... agar kecakapan pelaut itu bukan hanya sekedar slogan, tapi memang ada di diri kita semua sebagai pelaut. Thanx.... God bless all of u on the sea.....and keep prosperous all seafares communities.... everywhere u are... Cheers Victor --- In [email protected], "ybbn" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekan Milist, > > > > Dari diskusi yang berkembang dimulai dari Diklat Pertamina, saya akan rubah > subjeknya jadi MAWAS DIRI. Ini akan kita kaitkan dengan banyaknya > kejadian/kecelakaan laut. > > > > Tanpa harus mencari kambing yg hitam marilah kita "Mawas Diri". Saya rasa > hal yang paling sulit adalah mencari kelemahan diri kita. Dengan mengetahui > kelemahan kita saya yakin kita akan dapat nilai tambah. > > > > Dalam ISM (yang saya pernah denger lho) didengungkan "latihan yang tiada > habis" dan istruktur terkadang bergurau latihan teraklhir adalah latihan > mati. Juga "kemajuan yang berkelanjutan" jadi grafiknya selalu naiklah > (lumayan biar Cuma 0,5 derajat juga.). Menurut Ustad yg juga manusia katanya > " Rugilah kita yg hari ini lebih jelek dari hari kemarin" (Kalo soal tampang > aq kan dari sononya udah jelek) > > > > Kaitannya dengan prilaku kita setelah keluar sekolah formal. Kita menghadapi > persaingan nyata dalam "belajar hidup atau ilmu hidup". Kekurangan kita yang > disadari atau tidak adalah kita tidak gemar membaca. Kalau boleh tidak baca > text book kenapa tidak, sudah dapat diktat, minta kisi kisi lagi. Tapi oke > lah jaman sekolah. > > Ada lelucon soal bagaimana kita menghargai buku bacaan. Kalu hujan orang > kita bukunya dipake paying. Kalo orang "sono" bukunya diselamatkan. > > > > Saya harap rekan rekan ada keinginan untuk belajar. Sebagai professional ya > kita dituntut untuk itu. Akhirnya pelaut juga akan ada spesialisasi. > Spesialisasi AHTS, RORO, Tanker dll. > > > > Kalau perusahaan yg menerapkan ISM dgn baik, semua buku peraturan > Nasional/Internasional pasti dan harus ada dikapal. Kalau bahasa Inggris > jadi kendala, mungkin kita bisa mencari terjemahannya. Kalau belum ada, > kenapa kita tidak buat. > > > > Saya sudah merasakan kebersamaan rekan rekan Milis. Bisa berdiskusi dengan > segala kelapangan dada. Toh ini untuk kemajuan kita bersama. > > > > Dalam kesempatan ini saya juga merasa sedih karena dari 50 pelaut dari > berbagai jabatan yang ditest untuk TUG BOAT, tidak ada satupun yg lulus. > Saya tidak tahu harus menjawab bagaimana. Kalau gaji yang ditawarkan lebih > besar , apakah ini akan menyelesaikan masalah ? Mungkin sebagian. Tetapi > masalah intinya adalah yg 50 tadi ILMU KEPELAUTANNYA mana ? Menurut yang > nguji, seorang Nakhoda atau c/o tug boat nggak bisa buat towing arrangement > ya keterlaluan. Kalaupun bisa nggak tahu alasannya kenapa harus demikian. > TANYA KENAPA > > > > Mungkin sekian dulu dan saya tunggu komentar/saran urun rembug dan solusinya > > > > Laporan dari DEPLU entar aza yah. > > Lagi bete nih. > > > > Salam > > Budiman > > > > _____ > > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of > dhani jaguar > Sent: Wednesday, February 28, 2007 1:04 PM > To: [email protected] > Subject: Re: [pelaut] Diklat Pertamina > > > > > Dear All Seafarer's, > > Apa yang bisa kita lakukan setelah kita merenung? Karena kejadian demi > kejadian silih berganti menimpa bidang transportasi di negeri tercinta > Indonesia. > Menurut hemat saya tidak hanya dengan merenung; tapi kita harus berbuat, > kemampuan apa yang bisa kita sumbangkan untuk bisa tercapai suatu iklim yang > > kondusif; alangkah terpujinya bagi kita yang mempunyai kemampuan/ ahli dalam > > bidang keselamatan transportasi bisa share disini, sehingga dapat bermanfaat > > untuk menambah wawasan dan diharapkan akhirnya mengurangi tingkat kecelakaan > > yang disebabkan oleh minimnya pengetahuan /ilmu. > > Coba kita lakukan kiat di bawah ini; > 1. Mulai dari diri sendiri > 2. Mulai saat ini > 3. Mulai dari hal yang kecil > > Kacamata yang harus kita pakai adalah kacamata positif; tidak harus saling > menuding siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab. Tapi mari > kita berbuat semampu kita untuk mencoba menyumbangkan sesuatu yang terbaik > yang kita miliki. > > Sedikit ilustrasi "Bilamana anda memakai kacamata merah; maka yang dilihat > akan berwarna merah; bilamana memakai kacamata kebencian; sebaik apapun > pekerjaan orang akan dinilai buruk" > > Wassalam, > DJ > > >From: Ponti <[EMAIL PROTECTED] <mailto:ponti_anus%40yahoo.com> com> > >Reply-To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:pelaut%40yahoogroups.com> com > >To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:pelaut%40yahoogroups.com> com > >Subject: Re: [pelaut] Diklat Pertamina > >Date: Tue, 27 Feb 2007 13:08:56 -0800 (PST) > > > >Dengan hormat > > Sebetulnya saya mohon maaf atas pendapat saya yang terlalu, tapi saya > >mengajak semua untuk merenungkan, karena kalo reformasi juga susah, malah > >yang kader baru juga sama saja, malah tambah butho ijo. sebetulnya kalo > >pendapat saya ya membutuhkan kesadaran untuk memperbaiki cara kerja. masak > >kita malah kalah sama murid. contoh malaysia sekarang, dunia pelayaran > >lebih maju. pelabuhan2 diperbaharui. kita punya pelabuhan peninggalan > >kolonial. ngak teratur, semua bisa masuk ruang steril juga kalo kenal orang > > >, gampang aja bisa menerobos masuk, disitulah kalo penumpang kapal melebihi > > >manifest. coba liat pelabuhan penumpang di priok, batam, tanjung pinang, > >dll. preman, asongan. semua bisa masuk asal bapak2 senang, dan kenal ama > >petugas atau crew kapal > > > > Saya ngak menuding siapa2. cuma kalo yang punya hajat atau peraturan > >menjalankan peraturan dengan lurus, dan diri sendiri tidak menyimpang , > >pasti menjalankan peraturan dengan enak dan tidak terbebani. > > masyarakat hanya menurut saya kira kalo peraturan tegas pasti akan di > >ikuti, dan takut melanggar. > > Pelabuahan adalah gate way suatu peradaban, dimana pelabuhan itu bersih > >aman dan yaman, pasti akan menambah devisa negara , contoh kapal2 pesiar > >akan banyak datang ke indonesia.padahal kita mempunyai lautan luas. > > dan banyak menyerap tenaga lokal. kan juga menguntungkan pelaut kawan > >kita.di pelabuhan dibutuhkan orang yang sadar peraturan, membuat para > >pengguna jasa aman, dan yaman, dan teratur. > > > > Untuk para operator harus juga sadar. safety first, padahal di sejumlah > >kapal terlihat tulisan safety first, tapi teryata nol. banyak juga > >surveyor2 datang survey ke kapal dari pihak class atau flag tapi banyak > >juga yang asal2 yang penting uang sangu, jadi memang terkait dari pihak > >operator mending ngasih uang siluman daripada, meng update kepentingan > >operational/maitenance kapal yang pengeluaranya lebih mahal. dan juga dari > >sisi pelautnya/perwiranya, asal selamat dan asal bapak yang dikantor > >senang, aman posisinya, kalo ngak mau banyak kok yang antri dibelakang. > > > > Mohon maaf saya tidak menyinggung atau menyalahkan, coba renungkan dan > >buat bapak2 yang sudah di atas singasana, berpalinglah binalah majulah > >dunia pelayaran kita, yang adil > > > > maaf sekali lagi > > salam > > Ponti/tian > > onboard Drillingship > > at Sea of japan to Shakalin ( Rusia ) > > > > > > > > > > > > > >kuncung bawuk <[EMAIL PROTECTED] <mailto:kuncungb%40yahoo.com> com> wrote: > > Salam Pelaut, > > > > Mas ponti ini cukup aktif kalau saya lihat di milis, dan banyak > >memberikan pendapat yang cukup masuk akal bila di pikir lebih jauh. > > > > Tanpa mengurangi rasa hormat saya, sesungguhnya reformasi masyarakat > >maritim Indonesia memang perlu segera di lakukan, lebih baik dari sekedar > >saling tunjuk siapa yang salah; > > > > Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel panjang di > >milis ini, dan mungkin rekans miliser malas membacanya, karena panjangnya. > > > > Rangkuman saya; > > 1.Regulator, dalam hal ini pemerintah beserta jajaran administrator, > >diklat, sertifikasi, ujian dll. Harus berani mereformasi system yang selama > > >ini berjalan untuk kebaikan bersama, tegakkan 'law enforcement' tanpa > >pandang bulu. > > > > 2.Operator, yaitu para pengusaha pelayaran, mulai berpikir dalam > >kerangka manajemen modern dimana keselamatan jiwa harta dan lingkungan > >harus menjadi prioritas dengan mematuhi peraturan yang ada , jangan mencari > > >celah yang bisa di pakai untuk cincai2.. > > > > 3.Pelanggan, yaitu masyarakat, harus mulai mematok pelayanan untuk > >keselamatan dan pelayanan untuk mereka sendiri. Jangan tutup mata bila ada > >penyelewengan dari regulator maupun pengusaha. Yang saya tangkap masyarakat > > >kadang acuh saja, mau dapat ijasah malah nyogok, mau standar keselamatan > >tinggi namun tidak mau bayar tiket, menjadi penumpang gelap dsb. > > > > 4.NGO dan kontrol dari media, harus secara kontinyu dan jujur memberikan > >penilaian dan melaporkan temuannya secara obyektif ke masyarakat. > > > > Sekali lagi, tidak ada gunanya saling tuding siapa yang lebih > >bertanggung jawab, mulai sekarang mulailah dari diri sendiri, kita pelaut > >yang menjadi bagian masyarakat maritim Indonesia sudah selayaknya berbuat > >sesuatu, jangan hanya komplain tanpa solusi. > > > > Jayalah Maritim Indonesia!!! > > > > Kuncung > > > >Ponti <[EMAIL PROTECTED] <mailto:ponti_anus%40yahoo.com> com> wrote: > > > > Nah terjadi lagi, kecelakaan yang seharusnya bisa dicegah kalo, aparat > >instansi yang terkait tahu dan mengerti prosedure safety. Masak menaiki > >bangkai kapal tidak memakai alat2 safety . > > Maka perlu digalakan DIKLAT buat para instansi yg terkait. dan dirombak > >habis tata cara berpikir dan management. dan perlunya pendidikan moral > >untuk bersaing dalam bidang pelayaran. dan harus seimbang dengan para > >pelaut yang sudah di jejel dengan STCW 95 and menuruti standart IMO, Tapi > >borok dan kurangnya pendidikan di dalam instansi yg terkait bagaimana bisa > >berjalan...???? COBA RENUNGKAN. yang meng audit kok malah kurang > >pelatihan...Lucu ya nama bangsa kok buat dolanan. SEKALI LAGI COBA > >Renungkan > > > > salam > > > > Tian > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >--------------------------------- > > It's here! Your new message! > >Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar. > > > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Check out the new improvements in Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/4It09A/fOaOAA/yQLSAA/vbOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> JALESVEVA YAYAMAHE Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/pelaut/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/pelaut/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
