Tanggal 20 Mei 2008 ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, tetapi 
rasanya lebih cocok kalau disebut sebagai "Hari Keterpurukan 
Nasional" (HARKITNAS = Hari Sakit Nasional), masalahnya prestasi apa 
yang bisa kita banggakan sebagai kebangkitan nasional, terkecuali 
harga BBM maupun harga bahan pangan yang benar-benar bangkit; 
melejit bangkit terus menerus tiada hentinya.

Prestasi yang kita miliki di hari Kebangkitan Nasional ini adalah: 
60% pengangguran dan menurut Education Watch Indonesia (EWI) 36,73 % 
anak putus sekolah dan puluhan juta anak tak tertampung entah di 
bangku SD maupun perguruan tinggi. Lebih dari 5,1 juta balita 
bergizi buruk, bahkan 50% atau 2,6 juta terancam mati kelaparan.

Dalam bidang olahragapun tidak beda jauh, ternyata impian yang sudah 
lebih dari 12 tahun lamanya untuk dapat merebut kembali Piala Uber 
telah pupus, karena keok sama China. Tapi beruntung bangsa kita ini 
termasuk manusia sabaran, sehingga masih bisa menunggu untuk 12 
tahun mendatang. 

Bahkan tanpa perlu diragukan lagi, kita sekarang sudah bisa 
menyanyikan lagu; "Dari Sabang sampai Merauke; Indonesia Mati 
Kelaparan", karena mahalnya harga bahan pangan. Lihat di Aceh saja 
sudah 23 anak mati, karena busung lapar dan ini terjadi bukan 
sekedar di Aceh saja melainkan hampir di seluruh tanah air hingga 
Papua. 

Apa salahnya  apabila kita memberikan laporan kepada yang berkuasa di 
negeri ini: "Lapor Pak, kami Lapar !" Hanya dengan entengnya dijawab 
oleh JK: "Itu kan hanya di Koran. Kita memiliki beras cukup, apanya 
yang kurang, bahkan pemerintah sudah memberikan Raskin (Beras untuk 
orang miskin) !" (Sumber SCTV - 6 April 2008). Memang beras di toko 
sih banyak, hanya rupanya walaupun ia seorang saudagar, tapi tidak 
menyadari bahwa beras itu harus dibeli bukannya pakai batu, tapi 
pakai uang yang tidak dimiliki oleh rakyat.

Pernahkah Anda makan raskin, selainnya tidak sehat juga bikin orang 
sakit ditenggorokan. Raskin ini sebenarnya hanya layak untuk 
dijadikan umpan ayam. Maka dari itu kita  usulkan bagaimana, 
apabila pada bulan puasa mendatang ini, para pejabat tinggi mulai 
dari President s/d Bupati tidak perlu puasa lagi, melainkan sebagai 
gantinya makan raskin sebulan penuh.

Boro-boro harga beras biasa, harga raskin yang dihargai pemerintah 
Rp. 2.000 sudah tidak terjangkau, maka tidaklah heran apabila ada 
orang yang mengatakan: "Lebih baik aku makan Racun 
yang "Mengenyangkan" daripada aku harus Mati Kelaparan !" Lihat saja 
Nyonya Base dan anaknya yang mati kelaparan.

Berdasarkan berita hari ini di Jerman ada sekitar 13% penduduknya 
miskin, hanya bedanya disana orang sudah dinilai miskin apabila 
penghasilannya dibawah Rp 11.700.000,-- per bln/per orang. Sedangkan 
pemerintah Indonesia orang baru bisa/boleh dinilai miskin, apabila 
pendapatan per harinya dibawah Rp. 5.500. 

Dengan dengan uang Rp 5.500 boro-boro bisa makan sehari tiga kali 
untuk untuk makan/minum sehari DUA kali (2 x Rp 3.000) saja tidak 
cukup. Nasib manusia di sini lebih buruk daripada hewan yang tidak 
perlu rumah, pendidikan, maupun sabun.
Harga BBM dari Rp 4.500 akan naik menjadi Rp 6.000 per liter, banyak 
pejabat menilai bahwa ini hanya berpengaruh bagi wong gede-an yang 
punya mobil saja, tetapi rupanya mereka itu buta, bahwa wong cilik 
juga harus naik angkot/bis; begitu juga nelayan yang butuh BBM untuk 
melaut. Imbasnya bagi rakyat kecil; ini berlipat kali ganda jauh 
lebih buruk, sudah harga sembako naik, otomasis harga pangan pun 
akan dinaikan lagi, karena adanya kenaikan harga BBM. 

Harga BBM naik dengan alasan harga minyak di pasaran dunia juga 
naik, tapi mereka rupanya lupa, bahwa Indonesia adalah penghasil 
export minyak, seharusnya kenaikan harga BBM ini menjadi berkah bagi 
rakyat, bukannya kebalikan menjadi kutukan. Sebagai perbandingan 
harga BBM di Venezuela hanya Ro 460/liter, Nigeria Rp 920/liter, 
Iran Rp. 828/liter, sedangkan di Indonesia akan menjadi enam kali 
lipat jauh lebih mahal daripada di negara-negara tsb diatas.

Cobalah renungkan oleh  kita , misalnya Exxon Mobil saja; berdasarkan 
laporan resmi di tahun 2007, mereka telah bisa meraup keuntungan 
sebesar 40,6 milyar Dollar As = Rp. 3.723.20 Triliun Rupiah atau 
hampir Rp 12 juta per detik. Keuntungan dari Exxon Mobil ini, bahkan 
melebihi daripada Produk Domestik Bruto (PDB) 120 negara di kolong 
langit ini.

Disinilah letak keanehannya, kok rakyat Indonesia, sebagai pemilik 
ladang minyak, bukannya kecepretan keuntungan, bahkan dibebankan 
dengan lebih banyak lagi hutang maupun kenaikan harga BBM yang sudah 
tinggi menjadi lebih tinggi lagi. Maka benarlah ucapan dari Kwik 
Kian Gie, dimana ia mengucapkan dengan adanya kenaikan harga BBM di 
pasaran dunia, seharusnya penduduk Indonesia, bukan saja harga BBM 
harus bisa diturunkan, tetapi juga memiliki dana lebih yang bisa 
disalurkan untuk kesejahteraan rakyatnya.

Tetapi "Don't wori en bi hepi-lah", sebab dimata dunia Indonesia itu 
hebat, wong bisa nyumbang satu juta AS$ untuk para korban topan di 
Birma, bukankah ini sama seperti juga "Monyet di hutan disusui; 
sedangkan anak dirumah mampus kelaparan"

Maka dari itu sudah tiba saatnya dimana kita harus merubah 
perkataan "Who Care" - EGP (Emangnya Gw Pikirin), menjadi "I Care" 
atau "YA, Saya Pikirkan dan Saya Perduli!"

Kita usul ; apabila Anda merasa tidak puas dengan keadaan di 
negeri ini, ungkapkanlah ketidak puasan Anda ini dengan "Daftar Jadi 
Penulis" di www.kabarindonesia.com, koran tempat berdemo-ria secara 
intelektual; jadi bukannya melalui demo dijalanan.

Kirim email ke