Sekedar meluruskan :
ASK NOT WHAT YOUR COUNTRY CAN DO FOR YOU, BUT ASK WHAT
YOU CAN DO FOR YOUR COUNTRY. ( John. F Kennedy).

Dalam Sebuah buku, pernah ada yg menuliskan bahwa
kalimat di atas pernah dikatakan oleh Presiden RI
Soekarno. Bahkan lebih lama lagi, sebelum Indonesia
terbentuk, Patih Gajahmada pun pernah mengucapkan
Kalimat di atas.
Tapi entah kenapa, kita mengatakan bahwa John F
Kennedy lah yg pertama kali mengatakannya. Barangkali
kita kurang perhatian terhadap Tokoh2 Sejarah kita.

Maaf, perihal ini jangan di bahas, hanya sekedar lewat
saja . Terima kasih.

Rgds,
Harris Sipahutar

--- Light Bringer <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Kenapa ya, banyak dari kita sebagai orang Indonesia,
> selalu melihat Negara kita sendiri dengan pandangan
> NEGATIF.kita terlalu sering complain tentang keadaan
> negara kita TANPA BERUSAHA MEMPERBAIKINYA. Kita
> komplain tentang harga BBM yang hampir 6000 rupiah,
> tapi coba anda datang ke philippine dan lihat berapa
> harga BBM disini. Kita komplain tentang kota Jakarta
> yang kotor, tetapi kita sendiri tidak pernah
> berhenti membuang sampah sembarangan. Kita selalu
> komplain tentang tingkat kemiskinan yang tinggi di
> Indonesia, tetapi kita tidak pernah berusaha
> menolong orang miskin di sekeliling kita.     
>     
>     Kita selalu mengkritik pemerintah dan SYSTEM
> pemerintahan Indonesia. Sebenarnya terdiri dari
> apakah sebuah system pemerintahan? Apakah hanya
> Presiden saja? Apakah hanya MPR/DPR saja?. Tidak.
> Karena System pemerintahan terdiri dari rakyat biasa
> seperti kita. kalau kita ingin memperbaiki system
> pemerintahan Indonesia, kalau kita ingin memperbaiki
> Negeri ini, kita harus mulai dari diri kita sendiri.
> Setelah kita berhasil memperbaiki diri kita, barulah
> kita bisa mengubah Indonesia. 
> 
> 
>     ASK NOT WHAT YOUR COUNTRY CAN DO FOR YOU, BUT
> ASK WHAT YOU CAN DO FOR YOUR COUNTRY. ( John. F
> Kennedy)
> 
> 
> 
> Darmawan Triosa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      
>                          
>  
>   Tanggal 20 Mei 2008 ini adalah Hari Kebangkitan 
> Nasional, tetapi 
> rasanya lebih cocok kalau disebut sebagai "Hari 
> Keterpurukan 
> Nasional" (HARKITNAS = Hari Sakit Nasional),
> masalahnya  prestasi apa 
> yang bisa kita banggakan sebagai kebangkitan
> nasional,  terkecuali 
> harga BBM maupun harga bahan pangan yang benar-benar
> bangkit;  
> melejit bangkit terus menerus tiada hentinya.
> 
> Prestasi yang kita  miliki di hari Kebangkitan
> Nasional ini adalah: 
> 60% pengangguran dan menurut  Education Watch
> Indonesia (EWI) 36,73 % 
> anak putus sekolah dan puluhan juta  anak tak
> tertampung entah di 
> bangku SD maupun perguruan tinggi. Lebih dari  5,1
> juta balita 
> bergizi buruk, bahkan 50% atau 2,6 juta terancam
> mati  kelaparan.
> 
> Dalam bidang olahragapun tidak beda jauh, ternyata
> impian yang  sudah 
> lebih dari 12 tahun lamanya untuk dapat merebut
> kembali Piala Uber  
> telah pupus, karena keok sama China. Tapi beruntung
> bangsa kita ini  
> termasuk manusia sabaran, sehingga masih bisa
> menunggu untuk 12 
> tahun  mendatang. 
> 
> Bahkan tanpa perlu diragukan lagi, kita sekarang
> sudah bisa  
> menyanyikan lagu; "Dari Sabang sampai Merauke;
> Indonesia Mati  
> Kelaparan", karena mahalnya harga bahan pangan.
> Lihat di Aceh saja 
> sudah  23 anak mati, karena busung lapar dan ini
> terjadi bukan 
> sekedar di Aceh saja  melainkan hampir di seluruh
> tanah air hingga 
> Papua. 
> 
> Apa salahnya   apabila kita memberikan laporan
> kepada yang berkuasa di 
> negeri ini:  "Lapor Pak, kami Lapar !" Hanya dengan
> entengnya dijawab 
> oleh JK: "Itu kan  hanya di Koran. Kita memiliki
> beras cukup, apanya 
> yang kurang, bahkan  pemerintah sudah memberikan
> Raskin (Beras untuk 
> orang miskin) !" (Sumber  SCTV – 6 April 2008).
> Memang beras di toko 
> sih banyak, hanya rupanya  walaupun ia seorang
> saudagar, tapi tidak 
> menyadari bahwa beras itu harus  dibeli bukannya
> pakai batu, tapi 
> pakai uang yang tidak dimiliki oleh  rakyat.
> 
> Pernahkah Anda makan raskin, selainnya tidak sehat
> juga bikin  orang 
> sakit ditenggorokan. Raskin ini sebenarnya hanya
> layak untuk  
> dijadikan umpan ayam. Maka dari itu kita  usulkan
> bagaimana,  
> apabila pada bulan puasa mendatang ini, para pejabat
> tinggi mulai 
> dari  President s/d Bupati tidak perlu puasa lagi,
> melainkan sebagai 
> gantinya  makan raskin sebulan penuh.
> 
> Boro-boro harga beras biasa, harga raskin  yang
> dihargai pemerintah 
> Rp. 2.000 sudah tidak terjangkau, maka tidaklah 
> heran apabila ada 
> orang yang mengatakan: "Lebih baik aku makan Racun  
> yang "Mengenyangkan" daripada aku harus Mati
> Kelaparan !" Lihat saja  
> Nyonya Base dan anaknya yang mati kelaparan.
> 
> Berdasarkan berita hari  ini di Jerman ada sekitar
> 13% penduduknya 
> miskin, hanya bedanya disana orang  sudah dinilai
> miskin apabila 
> penghasilannya dibawah Rp 11.700.000,--  per bln/per
> orang. Sedangkan 
> pemerintah Indonesia orang baru bisa/boleh  dinilai
> miskin, apabila 
> pendapatan per harinya dibawah Rp. 5.500.  
> 
> Dengan dengan uang Rp 5.500 boro-boro bisa makan
> sehari tiga kali  
> untuk untuk makan/minum sehari DUA kali (2 x Rp
> 3.000) saja tidak 
> cukup.  Nasib manusia di sini lebih buruk daripada
> hewan yang tidak 
> perlu rumah,  pendidikan, maupun sabun.
> Harga BBM dari Rp 4.500 akan naik menjadi Rp 6.000 
> per liter, banyak 
> pejabat menilai bahwa ini hanya berpengaruh bagi
> wong  gede-an yang 
> punya mobil saja, tetapi rupanya mereka itu buta,
> bahwa wong  cilik 
> juga harus naik angkot/bis; begitu juga nelayan yang
> butuh BBM untuk  
> melaut. Imbasnya bagi rakyat kecil; ini berlipat
> kali ganda jauh 
> lebih  buruk, sudah harga sembako naik, otomasis
> harga pangan pun 
> akan dinaikan  lagi, karena adanya kenaikan harga
> BBM. 
> 
> Harga BBM naik dengan alasan  harga minyak di
> pasaran dunia juga 
> naik, tapi mereka rupanya lupa, bahwa  Indonesia
> adalah penghasil 
> export minyak, seharusnya kenaikan harga BBM ini 
> menjadi berkah bagi 
> rakyat, bukannya kebalikan menjadi kutukan. Sebagai 
> perbandingan 
> harga BBM di Venezuela hanya Ro 460/liter, Nigeria
> Rp  920/liter, 
> Iran Rp. 828/liter, sedangkan di Indonesia akan
> menjadi enam kali  
> lipat jauh lebih mahal daripada di negara-negara tsb
> diatas.
> 
> Cobalah  renungkan oleh  kita , misalnya Exxon Mobil
> saja; berdasarkan 
> laporan  resmi di tahun 2007, mereka telah bisa
> meraup keuntungan 
> sebesar 40,6 milyar  Dollar As = Rp. 3.723.20
> Triliun Rupiah atau 
> hampir Rp 12 juta per detik.  Keuntungan dari Exxon
> Mobil ini, bahkan 
> melebihi daripada Produk Domestik  Bruto (PDB) 120
> negara di kolong 
> langit ini.
> 
> Disinilah letak  keanehannya, kok rakyat Indonesia,
> sebagai pemilik 
> ladang minyak, bukannya  kecepretan keuntungan,
> bahkan dibebankan 
> dengan lebih banyak lagi hutang  maupun kenaikan
> harga BBM yang sudah 
> tinggi menjadi lebih tinggi lagi. Maka  benarlah
> ucapan dari Kwik 
> Kian Gie, dimana ia mengucapkan dengan adanya 
> kenaikan harga BBM di 
> pasaran dunia, seharusnya penduduk Indonesia, bukan 
> saja harga BBM 
> harus bisa diturunkan, tetapi juga memiliki dana
> lebih yang  bisa 
> disalurkan untuk kesejahteraan rakyatnya.
> 
> Tetapi "Don't wori en  bi hepi-lah", sebab dimata
> dunia Indonesia itu 
> hebat, wong bisa nyumbang  satu juta AS$ untuk para
> korban topan di 
> Birma, bukankah ini sama seperti  juga "Monyet di
> hutan disusui; 
> sedangkan anak dirumah mampus  kelaparan"
> 
> Maka dari itu sudah tiba saatnya dimana kita harus
> merubah  
> 
=== message truncated ===



      

Kirim email ke