Kenapa ya, banyak dari kita sebagai orang Indonesia, selalu melihat Negara kita
sendiri dengan pandangan NEGATIF.kita terlalu sering complain tentang keadaan
negara kita TANPA BERUSAHA MEMPERBAIKINYA. Kita komplain tentang harga BBM yang
hampir 6000 rupiah, tapi coba anda datang ke philippine dan lihat berapa harga
BBM disini. Kita komplain tentang kota Jakarta yang kotor, tetapi kita sendiri
tidak pernah berhenti membuang sampah sembarangan. Kita selalu komplain tentang
tingkat kemiskinan yang tinggi di Indonesia, tetapi kita tidak pernah berusaha
menolong orang miskin di sekeliling kita.
Kita selalu mengkritik pemerintah dan SYSTEM pemerintahan Indonesia.
Sebenarnya terdiri dari apakah sebuah system pemerintahan? Apakah hanya
Presiden saja? Apakah hanya MPR/DPR saja?. Tidak. Karena System pemerintahan
terdiri dari rakyat biasa seperti kita. kalau kita ingin memperbaiki system
pemerintahan Indonesia, kalau kita ingin memperbaiki Negeri ini, kita harus
mulai dari diri kita sendiri. Setelah kita berhasil memperbaiki diri kita,
barulah kita bisa mengubah Indonesia.
ASK NOT WHAT YOUR COUNTRY CAN DO FOR YOU, BUT ASK WHAT YOU CAN DO FOR YOUR
COUNTRY. ( John. F Kennedy)
Darmawan Triosa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Tanggal 20 Mei 2008 ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, tetapi
rasanya lebih cocok kalau disebut sebagai "Hari Keterpurukan
Nasional" (HARKITNAS = Hari Sakit Nasional), masalahnya prestasi apa
yang bisa kita banggakan sebagai kebangkitan nasional, terkecuali
harga BBM maupun harga bahan pangan yang benar-benar bangkit;
melejit bangkit terus menerus tiada hentinya.
Prestasi yang kita miliki di hari Kebangkitan Nasional ini adalah:
60% pengangguran dan menurut Education Watch Indonesia (EWI) 36,73 %
anak putus sekolah dan puluhan juta anak tak tertampung entah di
bangku SD maupun perguruan tinggi. Lebih dari 5,1 juta balita
bergizi buruk, bahkan 50% atau 2,6 juta terancam mati kelaparan.
Dalam bidang olahragapun tidak beda jauh, ternyata impian yang sudah
lebih dari 12 tahun lamanya untuk dapat merebut kembali Piala Uber
telah pupus, karena keok sama China. Tapi beruntung bangsa kita ini
termasuk manusia sabaran, sehingga masih bisa menunggu untuk 12
tahun mendatang.
Bahkan tanpa perlu diragukan lagi, kita sekarang sudah bisa
menyanyikan lagu; "Dari Sabang sampai Merauke; Indonesia Mati
Kelaparan", karena mahalnya harga bahan pangan. Lihat di Aceh saja
sudah 23 anak mati, karena busung lapar dan ini terjadi bukan
sekedar di Aceh saja melainkan hampir di seluruh tanah air hingga
Papua.
Apa salahnya apabila kita memberikan laporan kepada yang berkuasa di
negeri ini: "Lapor Pak, kami Lapar !" Hanya dengan entengnya dijawab
oleh JK: "Itu kan hanya di Koran. Kita memiliki beras cukup, apanya
yang kurang, bahkan pemerintah sudah memberikan Raskin (Beras untuk
orang miskin) !" (Sumber SCTV 6 April 2008). Memang beras di toko
sih banyak, hanya rupanya walaupun ia seorang saudagar, tapi tidak
menyadari bahwa beras itu harus dibeli bukannya pakai batu, tapi
pakai uang yang tidak dimiliki oleh rakyat.
Pernahkah Anda makan raskin, selainnya tidak sehat juga bikin orang
sakit ditenggorokan. Raskin ini sebenarnya hanya layak untuk
dijadikan umpan ayam. Maka dari itu kita usulkan bagaimana,
apabila pada bulan puasa mendatang ini, para pejabat tinggi mulai
dari President s/d Bupati tidak perlu puasa lagi, melainkan sebagai
gantinya makan raskin sebulan penuh.
Boro-boro harga beras biasa, harga raskin yang dihargai pemerintah
Rp. 2.000 sudah tidak terjangkau, maka tidaklah heran apabila ada
orang yang mengatakan: "Lebih baik aku makan Racun
yang "Mengenyangkan" daripada aku harus Mati Kelaparan !" Lihat saja
Nyonya Base dan anaknya yang mati kelaparan.
Berdasarkan berita hari ini di Jerman ada sekitar 13% penduduknya
miskin, hanya bedanya disana orang sudah dinilai miskin apabila
penghasilannya dibawah Rp 11.700.000,-- per bln/per orang. Sedangkan
pemerintah Indonesia orang baru bisa/boleh dinilai miskin, apabila
pendapatan per harinya dibawah Rp. 5.500.
Dengan dengan uang Rp 5.500 boro-boro bisa makan sehari tiga kali
untuk untuk makan/minum sehari DUA kali (2 x Rp 3.000) saja tidak
cukup. Nasib manusia di sini lebih buruk daripada hewan yang tidak
perlu rumah, pendidikan, maupun sabun.
Harga BBM dari Rp 4.500 akan naik menjadi Rp 6.000 per liter, banyak
pejabat menilai bahwa ini hanya berpengaruh bagi wong gede-an yang
punya mobil saja, tetapi rupanya mereka itu buta, bahwa wong cilik
juga harus naik angkot/bis; begitu juga nelayan yang butuh BBM untuk
melaut. Imbasnya bagi rakyat kecil; ini berlipat kali ganda jauh
lebih buruk, sudah harga sembako naik, otomasis harga pangan pun
akan dinaikan lagi, karena adanya kenaikan harga BBM.
Harga BBM naik dengan alasan harga minyak di pasaran dunia juga
naik, tapi mereka rupanya lupa, bahwa Indonesia adalah penghasil
export minyak, seharusnya kenaikan harga BBM ini menjadi berkah bagi
rakyat, bukannya kebalikan menjadi kutukan. Sebagai perbandingan
harga BBM di Venezuela hanya Ro 460/liter, Nigeria Rp 920/liter,
Iran Rp. 828/liter, sedangkan di Indonesia akan menjadi enam kali
lipat jauh lebih mahal daripada di negara-negara tsb diatas.
Cobalah renungkan oleh kita , misalnya Exxon Mobil saja; berdasarkan
laporan resmi di tahun 2007, mereka telah bisa meraup keuntungan
sebesar 40,6 milyar Dollar As = Rp. 3.723.20 Triliun Rupiah atau
hampir Rp 12 juta per detik. Keuntungan dari Exxon Mobil ini, bahkan
melebihi daripada Produk Domestik Bruto (PDB) 120 negara di kolong
langit ini.
Disinilah letak keanehannya, kok rakyat Indonesia, sebagai pemilik
ladang minyak, bukannya kecepretan keuntungan, bahkan dibebankan
dengan lebih banyak lagi hutang maupun kenaikan harga BBM yang sudah
tinggi menjadi lebih tinggi lagi. Maka benarlah ucapan dari Kwik
Kian Gie, dimana ia mengucapkan dengan adanya kenaikan harga BBM di
pasaran dunia, seharusnya penduduk Indonesia, bukan saja harga BBM
harus bisa diturunkan, tetapi juga memiliki dana lebih yang bisa
disalurkan untuk kesejahteraan rakyatnya.
Tetapi "Don't wori en bi hepi-lah", sebab dimata dunia Indonesia itu
hebat, wong bisa nyumbang satu juta AS$ untuk para korban topan di
Birma, bukankah ini sama seperti juga "Monyet di hutan disusui;
sedangkan anak dirumah mampus kelaparan"
Maka dari itu sudah tiba saatnya dimana kita harus merubah
perkataan "Who Care" EGP (Emangnya Gw Pikirin), menjadi "I Care"
atau "YA, Saya Pikirkan dan Saya Perduli!"
Kita usul ; apabila Anda merasa tidak puas dengan keadaan di
negeri ini, ungkapkanlah ketidak puasan Anda ini dengan "Daftar Jadi
Penulis" di www.kabarindonesia.com, koran tempat berdemo-ria secara
intelektual; jadi bukannya melalui demo dijalanan.