Bpk2 Abimanyu, Djarot, Koko, ibu Nita dan milister semuanya ysh,
Utk ibu Nita …. tentang ‘kota penyangga’ saya kira para scholar beneran seperti
mas Koko dkklah yang paling mampu untuk menjelaskannya…. saya nggak bisa
karena hanya planner palsu saja ….
Untuk mas Koko… ‘kebebasan pers’ dan ‘urusan mencerdaskan atau membingungkan
masyarakat’ nampaknya adalah 2 hal yang berbeda……
Untuk pak Abimanyu… saya sepakat tentang keprihatinan berat pak Emil dan anda
pada masalah ekologi…. Tapi dengan realita (visi nasional) jumlah penduduk
nasional kita yang demikian besarnya sampai lebih 235 juta dan separuhnya dapat
dikatakan miskin serta terdapat persentase ‘petani’ yang besar yang tentu
saja membutuhkan ‘lahan pertanian’ yang besar pula ….. sehingga potensial
memperluas pembukaan hutan dan merusak ekologi ……. Mana yang perlu
didahulukan…… ekologi atau penanggulangan kemiskinan (urban job creation, plus
KB juga)?.......
Kalau mendahulukan ekologi sementara rakyat banyak miskin, menganggur,
berladang secara tak efisien lahan dan lapar…. Sulit membayangkan
penyelamatan ekologi akan berhasil dengan memuaskan….
Yang jelas kegiatan pertanian per KK didesa sulit dijamin akan efisien
lahan….dan akan sangat memerlukan lahan yang luas (Argopuro dan banyak puncak
gunung lain terus dirambah untuk pertanian/ illegal logging)…. Sebaliknya
kegiatan perkotaan per KK jauh lebih hemat lahan.. perumahan dan ruang2
kegiatan dapat dibuat pada bangunan bertingkat ganda….. orang kota yang mapan
ekonominya dan tinggi intelektualitasnya terlihat kebutuhannya serta
kesadarannya akan ‘ruang hijau’ sangat besar…
Tanaman hias yang mahal harganya dibeli juga…. Atap bangunan sering dibuat
menjadi roof garden….. pameran flora ….
Penduduk negara-negara barat juga awalnya tak banyak mengerti ekologi ….
Hutannya rusak.. sungainya tercemar berat….Dan setelah makmur barulah tumbuh
dan berkembang kesadaran ekologi itu …..
Kota dan jaringan jalan memang melahap ruang hijau (hanya kenapa kok jawa
sentrisme terus?)…. Tapi kegiatan pertanian (bersama dengan ledakan jumlah
penduduk) juga tak kalah ganas ‘melahap’ ruang hijau pula untuk kegiatan
berladang…….
Pak Emil saya kira tak akan cukup bijak kalau sok lebih bicara tentang ekologi
terus … sementara tak jelas suara beliau tentang perluasan kesempatan kerja
bagi 10 juta TK kita, program KB (agar kalau sudah mendingan hidupnya segera
bergabung selamatkan ekologi bersama anda dan pak Emil)….. maupun juga tak
jelas apa pendapat pak Emil tentang “sistem nasional kota” kita………
Untuk mas Djarot…… dari catatan anda paragraf 1 saja dulu (kalo semua takut
kepanjangan) :
“…Emil dan Budhy sedang ber-reaksi terhadap fenomena urbanisasi kota-kota di
Jawa (khususnya Jakarta) yang konon dianggap merupakan hasil kebijakan yang
keliru tentang pembangunan perkotaan di Jawa. Keduanya menanggapi kebijakan
pembangunan kota yang menggunakan konsep kota penyangga dan konsep tol trans
Jawa…..”.
Yang jelas dari konteks tulisan di Kompas itu…… mereka dua “bereaksi” karena
ngejawab pertanyaan Kompas…..
Pertanyaan saya no.1 …. Kalo nggak ditanya Kompas terus mereka tetap bereaksi
‘keras’ juga apa nggak ya?.... Kalo model seperti saya yang hanya rakyat dan
ngga pernah jadi pejabat dan hanya ‘pengamat Planologi jalanan saja’….
“Bereaksi” mungkin hanya satu-satunya ‘aksi’ yang dapat saya lakukan….. tapi
kalo pak Emil yang sekian lama pernah duduk di kabinet dan bu Budhi sekian lama
juga jadi deputi di Bappenas….. lalu “hanya bereaksi” secara verbal saja?......
tidakkah mereka bisa berbuat jauh lebih banyak lagi?....... dengan konco2nya
seabreg yang orang besar semua …. Tidakkah mereka bisa “berserikat”… lalu
misalnya saja membuat semacam “Komisi Independen Perencanaan Ruang
Nasional”?...... yang bila itu ditempatkan dibawah DPR…. kedudukannya bisa
demikian kuatnya untuk mengontrol bahkan ‘menekan’ eksekutif dibidang
perencanaan ruang?........
“Bereaksi” atau “pura2 bereaksi”?....
Komentar saya tentang istilah “kota penyangga”…..
Sebagaimana manusia satu-sama-lain saling tergantung, saling membutuhkan dan
saling menolong…. Kota-kotapun demikian juga…..
Jkt paling efisien menjadi pusat perkantoran, perdagangan, pemerintahan,
pendidikan, diplomatik dsb…. Tentu saja untuk kebutuhan ruang pabrik berasap
serta rumah rakyat landed house dengan taman-taman…. Kota-kota sekitarnya
lebih tepat menampung fungsi2 itu…. Demikian juga Karawang, Pasar Minggu dan
Parung akan lebih tepat mengemban fungsi-fungsi lahan padi, kebun buah serta
kolam2 ikan…. Priok dan Cengkareng akan lebih tepat mengemban fungsi
pelabuhan dan bandara.. Puncak mengemban fungsi rekreasi pegunungan hawa
sejuk, Anyer untuk rekreasi pantai… dst…Semuanya saling menyangga satu-sama
lain….. dan emangnya “siapa telah mengeksploitasi (kata mas Djarot
‘menghisap’?) siapa?”…..
Orangkota membeli (menyangga?) produk pertanian orangdesa…. Orang desa membeli
(menyangga?) produk industri orang kota…. Botabek mensuplai SDM perkantoran
segitiga Kuningan… sementara segitiga Kuningan menyediakan ‘kerjaan dan napkah’
untuk klas menengah Botabek…. Jadi siapa menyangga / siapa menghisap siapa?…
++: “…Gimana Eyang....apakah nilaiku bagus ?...
>>: “Wow.. lumayan mas….lumayan membikin aku tambah puyeng aja..hehe.. tapi
>>triimssek atas komentarnya”…
Salam,
aby
Re: [referensi] Re: [kebudayaan] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1)
Thursday, August 21, 2008 7:08 AM
From: "Djarot Purbadi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Eyaaang Aby jangan sewotlah.... wong nyatanya aku tahu ada dua wartawan yang
jebolan planologi (satu yang barusan nulis dan satunya hebat tapi sudah
meninggal dunia)....malah mungkin baik jika para wartawan(ti) yang jebolan
planologi pada rame-rame berwacana... .biar heboh dan tahu (ngakunya) bahwa
pengetahuan dirinya tentang kota penyangga sudah kuno....ya sabaaar Yang,
dikasih tau jangan malah dilirik sebelah mata....wah wah wah ada fenomena bagus
nih...lulusan planologi bergabung menjadi jurnalis.... pantes soal planologi
diangkat.... nggak diobok-obok lho Yang !
Begini nih Yan, menurut catatanku dibawah ini kok cukup jelas apa yang ditulis
jurnalis kompas, bagi aku yang awam planning kok nggak banyak salahnya...meski
mungkin ada jika yang melihat para Begawan seperti Eyang Aby dan lainnya....nih
Yang catatanku... mohon dipriksani ya...
Catatanku:
Emil dan Budhy sedang ber-reaksi terhadap fenomena urbanisasi kota-kota di Jawa
(khususnya Jakarta) yang konon dianggap merupakan hasil kebijakan yang keliru
tentang pembangunan perkotaan di Jawa. Keduanya menanggapi kebijakan
pembangunan kota yang menggunakan konsep kota penyangga dan konsep tol trans
Jawa.
Emil dan Budhy sama-sama berpendapat bahwa pengembangan perkotaan di Jawa
dengan “konsep kota penyangga” mengandung kekeliruan, namun dengan argumentasi
berbeda:
(1) Emil: konsep kota penyangga bak lingkaran setan, kota yang lebih besar
akan menghisap kota yang lebih kecil, maka semestinya pembangunan perkotaan
hendaknya hemat tanah dan intensifkan sarana transportasi (kereta api) yang
sudah ada.
(2) Budhy: konsep kota penyangga dianggapnya tidak terkait dengan
pengembangan pedesaan; kota-kota semestinya terikat dalam relasi saling
mendukung dengan desa.
Emil dan Budhy sama-sama melihat konsep pertumbuhan perkotaan di Jawa dengan
basis Jalan Tol Trans Jawa mengandung banyak kekeliruan dan masalah, namun
dengan argumentasi berbeda:
(1) Emil: pembangunan Tol Trans Jawa rakus tanah dan mendorong munculnya
krisis pangan, enerji listrik, bbm, air bersih, sebaiknya dilakukan
intensifikasi Jalur Kereta Api yang sudah ada.
(2) Budhy: pembangunan Tol Trans Jawa memicu pertumbuhan kota-kota menjadi
permukiman dan industri baru yang akan mendorong krisis kehidupan masyarakat,
sebaiknya kota ber-relasi erat dengan desa sekitarnya.
Emil dan Budhy sama-sama tidak bereaksi langsung terhadap fenomena urbanisasi
di kota-kota di Jawa melainkan melihatnya dari aspek pertumbuhan perkotaan,
khususnya pada kebijakan pertumbuhan kota-kota di Jawa.
Tesisnya, urbanisasi dapat diatasi dengan kebijakan pembangunan perkotaan yang
benar atau urbanisasi akan terus terjadi karena kebijakan pembangunan perkotaan
selama ini keliru dan kekeliruan tersebut terus terjadi.
Keduanya mengusulkan konsep pembangunan perkotaan yang berbeda. Emil dengan
konsep hemat tanah dan intensifikasi hal-hal yang sudah ada, sedangkan Budhy
dengan konsep mendorong relasi yang saling mendukung antara kota dengan desa
sekitarnya.
Dari paparan argumentasinya, Emil dan Budhy menolak pembangunan perkotaan di
Jawa menggunakan konsep Tol Trans Jawa dengan argumentasi yang berbeda: (1)
Emil: pembangunan tol trans-Jawa rakus tanah dan mendorong munculnya berbagai
krisis, (2) Budhy: pembangunan tol trans-Jawa membelokkan / membalikkan arah
pembangunan dan menimbulkan krisis kehidupan masyarakat dalam bentuk yang lain
(tidak dijelaskan detilnya).
Gimana Eyang....apakah nilaiku bagus ?
Salam,
Cucunda Djarot
--- On Thu, 8/21/08, arinynta <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: arinynta <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [referensi] Re: [kebudayaan] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1)
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Thursday, August 21, 2008, 2:47 PM
permisi, ikut sedikit....
please jangan salahkan jurnalis. bukan sekadar krn saya jurnalis, jadi mau
membela diri.
jurnalis juga bisa salah krn tidak tahu. nah, supaya si jurnalis juga tahu, yg
merasa lebih tahu harus memberi tahu.
saya kalau tidak belajar di planologi dulu juga tidak mengerti apa itu kota
penyangga. tapi, sekarang saya merasa, pemahaman yg dulu mungkin sudah tidak
betul atau berubah. so, ada yg mau kasih tahu pengertian paling mukhtahir apa
itu kota penyangga?
salam,
nita
----- Original Message ----
From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com; forum-pembaca- kompas <Forum-Pembaca- [EMAIL
PROTECTED] ps.com>
Cc: [EMAIL PROTECTED] ups.com; [EMAIL PROTECTED] ps.com; [EMAIL PROTECTED]
ups.com; laut-dan-pesisir@ yahoogroups. com
Sent: Thursday, August 21, 2008 12:47:42
Subject: [referensi] Re: [kebudayaan] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1)
Sorry cross posting.
It's a good debate nonetheless.
Planning pun suatu yg dinamis, jadi wacana-2 semacam ini sih sehat-2 saja, dan
tidak perlu paranoid terhadap kebebasan jurnalisme.
Juga kita tidak perlu merasa lebih pintar dari masyarakat, dan meragukan bahwa
lemparan wacana akan mencerdaskan masyarakat.
Sy sih setuju dengan pendapat yg dikutip dalam artikel tsb, bukan artinya
pendapat lain pasti salah lo ya...
Btw, Kompas memang sedang mengupas soal Jalan Pantura (Anyer-Panarukan) ...
makanya tulisannya fokus ke Jawa.
Proyek liputan khusus yg sama juga pernah dilakukan Kompas utk Pulau-2 lain dan
topik-2 lain juga.
kembali ke substansi artikel; memang rel adalah infrastruktur regional yg lebih
'efisien' dibanding jalan raya.
kalau diukur dari penumpang-km atau Kg barang-km per satuan biaya atau energi
(termasuk carbon footprint).
Memang jawa sentrisme selama ini menyebabkan Jawa jadi overloaded.. .
meaning, kondisi ekologi jawa saat ini akan sangat berbeda apabila kebijakan
pembangunan dari dulu berbeda.
salam hangat,
-K-
Re: [referensi] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1)
Wednesday, August 20, 2008 8:11 AM
From: "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Dear pak Aby, apa kabar, sudah lama juga ga utik-utik referensi,
Saya sepakat bila pak Aby khawatir atau curiga kepada tulisan dalam suatu
media, karena saya juga mengalami bahwa pewarta kadang-kadang dapat
memberitakan kembali suatu pernyataan dengan makna yang berbeda dengan apa yang
dimaksud oleh sumber beritanya.
Namun walaupun saya tidak mengikuti acara tersebut (untuk menggelitik atau
mengobok-obok pemikiran pak Aby, he he...maaf) saya sepaham dengan basis
pemikiran sumber berita aslinya (Emil Salim).
Menurut saya, pak Emil menyatakan kesalahan penataan kota dalam konteks
"ecological footprint". Saya juga selalu menyatakan bahwa "suatu kota
merupakan kota penyangga kota lain", adalah suatu kesalahan, karena (dalam
konotasi negatif) penempatan status tersebut menagndung konsep "eksploitasi"
oleh yang disangga (center) terhadap yang menyangga (pinggiran, footprint).
Apalagi kalau yang lemah justru yang harus menyangga yang kuat hanya karena
yang disangga tersebut memiliki status lebih penting. Teori "trickle down
effect" adalah teori ekonomi yang egoistis (dukung saya, jadikan saya kaya dulu
agar saya bisa membagi makanan buatmu...tetapi tanpa mengurangi posisi saya
sebagai penentu), hedonik, ....yang dianut oleh sementara punggawa atau
pengatur bangsa selama ini.
Kita boleh merencanakan suatu kota unggul, tanpa menempatkan kota atau daerah
lain menjadi kantong uang atau pijakan kakinya. Semoga pusat pertumbuhan baru
yang pak Aby konsepkan tidak melahirkan kota-kota penyangga dalam konteks
negatif tersebut, tetapi justru kota-kota dan daerah-daerah lain yang sama-sama
tumbuh dan berinteraksi dalam keragaman potensi dan integratif serta setara
dalam mentransfer kekayaan sumber daya masing-masing. Jangan sampai dengan
dalih multiplier effect, bachward-forward linkage, yang berkembang adalah
backwash effects. Bukan hirarkhi ekonomi-fisik- politis tetapi sinergi
peningkatan kualitas dan kapasita unsur jaringan eko-antroposistem yang
diharapkan..
Salam,
Abimanyu
2008/8/20 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>
Ada yang ingin wacana planologi / perencanaan kota masuk dimedia……
Tapi apa jadinya kalau media memilih menulis sendiri dengan selera sendiri dan
seperti assaal?..... ...
Sepotong-sepotong dan serba tak jelas konteksnya….
Mencerdaskan masyarakat?. ...Atau bukankah malah membingungkan masyarakat?.
.......Atau jangan2 Kompas malah seperti mengobok2 planologi?.. ......
Pada dasarnya 'kota penyangga' bukanlah konsep ruang yang "akan selalu
pasti salah"…..
Ketika pertamakali Indonesia menggeliat dari 'negara agraris' ingin menjadi
'negara industri'….. atau itu artinya dari mayoritas masyarakat agraris
sebagian dari masyarakat Indonesia ingin bergeser menjadi 'masyarakat
industri'……
Jelas bahwa untuk itu sebagai "langkah awal" strategi industrialisasi yang
praktis diperlukan "kebutuhan ruang" berupa "konsentrasi perkotaan" (untuk
langkah awal strategi pengembangan potensi pasar serta efisiensi industri) …
dimana untuk itu diperlukan city size tak hanya 'metropolitan' namun juga
nyatanya bahkan juga 'megapolitan' ..……..
Benar bahwa ketika (megapolitan) Jakarta telah berkembang pesat namun tak
kunjung dikembangkan pusat pertumbuhan baru lain "yang setara"…… utamanya
diluar Jawa….. maka sejak itu "sistem kota kita secara nasional" menjadi tidak
sehat… dan saya sepakat kalau Kompas mengatakan itu sebagai "ketidakmampuan
pengambil kebijakan mendistribusikan pusat pertumbuhan"…….
Tetapi selanjutnya ketika "para pendapat" mulai dan masih tetap saja bicara
"jawa sentrisme" terus….. maka itu menjadi tak tepat lagi kalau dikaitkan
dengan "sistem kota secara nasional"….. karena Jawa hanya 6.7% saja luas
wilayah nasional kita……
Bicara "sistem kota secara nasional" logikanya harus lebih bicara tentang
ruang nasional yang 93.3% itu........
Kalau tidak ini tak bedanya pola pikir jawasentrisme itu juga sama saja seperti
"meng-obok2" sistem kota secara nasional juga........
Berikut dibawah adalah satu kutipannya dari Kompas…….
aby