Yah... memang masalah 'kota penyangga' jadi nya sebatas wacana saja.. karena yg (pernah) punya power (policy-actor) pun toh tidak cukup percaya diri utk ber-aksi.
Mungkin penyangga dalam pikiran sy beda dengan model keterkaitan segitiga emas - Bodetabek. Sy pikir penyangga memang lebih dalam konteks ekologi. kalau segitiga emas menjadi 'pusat komersial' dan bodetabek menjadi perumahan, sy pikir akan terjadi juga tanpa intervensi kebijakan, dan secara gaya-ekonomi akan terjadi. pemerintah pada dasarnya hanya efektif mengintervensi dengan penyediaan infrastruktur transportasi... zoning law, building code pada umumnya tidak compatible dengan daya-penegakan (enforcing-capacity). mungkin ada cara lain utk menjelaskan fenomena spasial-pembangunan kita, yg lebih efektif dari pendekatan kota penyangga. mungkin juga istilah 'kota penyangga' adalah label bagi sesuatu fenomena empirik, yg akhirnya lebih mempunyai daya eksplanatif daripada interventif. salam, -K- 2008/8/22 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>: > > > > Bpk2 Abimanyu, Djarot, Koko, ibu Nita dan milister semuanya ysh, > > __________________________ > "…Emil dan Budhy sedang ber-reaksi terhadap fenomena urbanisasi kota-kota > di Jawa (khususnya Jakarta) yang konon dianggap merupakan hasil kebijakan > yang keliru tentang pembangunan perkotaan di Jawa. Keduanya menanggapi > kebijakan pembangunan kota yang menggunakan konsep kota penyangga dan konsep > tol trans Jawa…..". > > > > Yang jelas dari konteks tulisan di Kompas itu…… mereka dua "bereaksi" karena > ngejawab pertanyaan Kompas….. > > Pertanyaan saya no.1 …. Kalo nggak ditanya Kompas terus mereka tetap > bereaksi 'keras' juga apa nggak ya?.... Kalo model seperti saya yang hanya > rakyat dan ngga pernah jadi pejabat dan hanya 'pengamat Planologi jalanan > saja'…. "Bereaksi" mungkin hanya satu-satunya 'aksi' yang dapat saya > lakukan….. tapi kalo pak Emil yang sekian lama pernah duduk di kabinet dan > bu Budhi sekian lama juga jadi deputi di Bappenas….. lalu "hanya bereaksi" > secara verbal saja?...... tidakkah mereka bisa berbuat jauh lebih banyak > lagi?....... dengan konco2nya seabreg yang orang besar semua …. Tidakkah > mereka bisa "berserikat"… lalu misalnya saja membuat semacam "Komisi > Independen Perencanaan Ruang Nasional"?...... yang bila itu ditempatkan > dibawah DPR…. kedudukannya bisa demikian kuatnya untuk mengontrol bahkan > 'menekan' eksekutif dibidang perencanaan ruang?........ > > "Bereaksi" atau "pura2 bereaksi"?.... > > > > Komentar saya tentang istilah "kota penyangga"….. > > Sebagaimana manusia satu-sama-lain saling tergantung, saling membutuhkan > dan saling menolong…. Kota-kotapun demikian juga….. > > Jkt paling efisien menjadi pusat perkantoran, perdagangan, pemerintahan, > pendidikan, diplomatik dsb…. Tentu saja untuk kebutuhan ruang pabrik > berasap serta rumah rakyat landed house dengan taman-taman…. Kota-kota > sekitarnya lebih tepat menampung fungsi2 itu…. Demikian juga Karawang, > Pasar Minggu dan Parung akan lebih tepat mengemban fungsi-fungsi lahan padi, > kebun buah serta kolam2 ikan…. Priok dan Cengkareng akan lebih tepat > mengemban fungsi pelabuhan dan bandara.. Puncak mengemban fungsi rekreasi > pegunungan hawa sejuk, Anyer untuk rekreasi pantai… dst…Semuanya saling > menyangga satu-sama lain….. dan emangnya "siapa telah mengeksploitasi (kata > mas Djarot 'menghisap'?) siapa?"….. > > Orangkota membeli (menyangga?) produk pertanian orangdesa…. Orang desa > membeli (menyangga?) produk industri orang kota…. Botabek mensuplai SDM > perkantoran segitiga Kuningan… sementara segitiga Kuningan menyediakan > 'kerjaan dan napkah' untuk klas menengah Botabek…. Jadi siapa menyangga / > siapa menghisap siapa?… > > > > ++: "…Gimana Eyang....apakah nilaiku bagus ?... > >>>: "Wow.. lumayan mas….lumayan membikin aku tambah puyeng aja..hehe.. tapi >>> triimssek atas komentarnya"… > > > > Salam, > > aby > > > > > > Re: [referensi] Re: [kebudayaan] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1) > > Thursday, August 21, 2008 7:08 AM > > From: "Djarot Purbadi" <[EMAIL PROTECTED]> > > To: [EMAIL PROTECTED] > > > > Eyaaang Aby jangan sewotlah.... wong nyatanya aku tahu ada dua wartawan yang > jebolan planologi (satu yang barusan nulis dan satunya hebat tapi sudah > meninggal dunia)....malah mungkin baik jika para wartawan(ti) yang jebolan > planologi pada rame-rame berwacana... .biar heboh dan tahu (ngakunya) bahwa > pengetahuan dirinya tentang kota penyangga sudah kuno....ya sabaaar Yang, > dikasih tau jangan malah dilirik sebelah mata....wah wah wah ada fenomena > bagus nih...lulusan planologi bergabung menjadi jurnalis.... pantes soal > planologi diangkat.... nggak diobok-obok lho Yang ! > > > > Begini nih Yan, menurut catatanku dibawah ini kok cukup jelas apa yang > ditulis jurnalis kompas, bagi aku yang awam planning kok nggak banyak > salahnya...meski mungkin ada jika yang melihat para Begawan seperti Eyang > Aby dan lainnya....nih Yang catatanku... mohon dipriksani ya... > > > > Catatanku: > > > > Emil dan Budhy sedang ber-reaksi terhadap fenomena urbanisasi kota-kota di > Jawa (khususnya Jakarta) yang konon dianggap merupakan hasil kebijakan yang > keliru tentang pembangunan perkotaan di Jawa. Keduanya menanggapi kebijakan > pembangunan kota yang menggunakan konsep kota penyangga dan konsep tol trans > Jawa. > > Emil dan Budhy sama-sama berpendapat bahwa pengembangan perkotaan di Jawa > dengan "konsep kota penyangga" mengandung kekeliruan, namun dengan > argumentasi berbeda: > > (1) Emil: konsep kota penyangga bak lingkaran setan, kota yang lebih besar > akan menghisap kota yang lebih kecil, maka semestinya pembangunan perkotaan
