Setahu saya di negara maju istilah yang popular "growth management".
Rasanya ini mencerminkan upaya mengelola dan mengatasi masalah yang
dinamis dan tak kunjung habis. Karena pendekatan gonta-ganti atau adu
konsep rencana, kok kesannya ganti pejabat ganti rencana, ganti ahli
ganti konsep rencana. Kota satelit, kota mandiri, kota penyangga, dst.,
dalam kenyataannya sulit membedakannya dengan dormitory town biasa (kota
tempat tinggal, kerja warganya tetap di DKI). Kan tak mungkin
mengaharapkan developer menyeleksi pembeli rumah berdasarkan lokasi
kerja. Sementara persoalannya jumlah penduduk (kiriman)yang meningkat
terus di wilayah itu. Yang bisa membendung kan bukan pemda Jabodetabek.

Yang bisa mereka lakukan ya "manajemen pertumbuhan", atau mengelolanya,
dengan cara apapun. Dengan "carrot dan stick", tapi kalau pemerintah
nasional dalam skala nasional tidak banyak membantu maka pemda setempat
akan semakin kewalahan dan semakin keras saja.  Atau inovasi-inovasi,
merelokasi "secara membudayakan" dst. Intinya ya siapa suruh datang
Jakarta.

Hari ini di Kompas hlm 1, ada berita "Warga area resapan air bayar pajak
lebih mahal", ini termasuk diinsentif yang memang bisa diterapkan.
Walaupun efektivitasnya sebagai disinsentif mungkin sulit, karena kalau
dapat rumah KPR nya di situ, apa ya mau pindah gara-gara pajaknya naik.
Sedang yang punya villa, duitnya banyak jagi tak soal. Tapi setidaknya
ada tambahan pendapatan untuk membiayai pengelolaan lingkungan. Perlu
dicari inovasi seperti ini secara lebih kreatif dan efektif, daripada
gonta-ganti konsep rencana.

Salam,
Risfan Munir

--- In [email protected], "Harya Setyaka" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Yah... memang masalah 'kota penyangga' jadi nya sebatas wacana saja..
> karena yg (pernah) punya power (policy-actor) pun toh tidak cukup
percaya
> diri utk ber-aksi.



Kirim email ke