Mindset Perencana

Insinyur Sipil urusannya relatif pasti, yaitu merancang struktur bangunan 
sesuai sifat (mekanika) tanah di persil tertentu. Kalau desainnya rumit, 
komputer bisa bantu. Persoalan besar terjadi kalau anggaran tak tentu, 
manajemen proyek kacau.

Arsitek juga pekerjaannya relatif pasti kalau yang dihadapi adalah individu 
yang kaya, maunya jelas. Persoalan timbul kalau si pengguna jasa maunya tidak 
jelas, berselisih antara suami-istri. Atau arsitek mencoba mempromosikan desain 
asli nusantara, sementara masyarakat sukanya mengadopsi desain dari luar.

Lain lagi Ekonom, yang dihadapi hal yang dinamis (bergerak terus), dinamika 
supply vs demand produsen/konsumen, masyarakat dan investor yang saling 
merespons. Memang sering situasi, kondisi, perilaku pelaku yang diluar 
"control" ekonom. Tapi, setidaknya dia bisa membatasi pikiran pada kaidah utama 
"B/C ratio, dan hukum supply vs demand, etc". Tujuannya relatif pasti, 
terfokus. Instrumennya jelas. Walau untuk memprediksi kian sulit, target dan 
prediksinya sering meleset, tapi Ekonom oke saja karena menyadari banyak hal 
diluar kontrolnya.

Ahli ilmu sosial, mungkin sudah ditakdirkan untuk "bersedih", karena harus 
menegakkan keadilan, kesetaraan di masyarakat (manusia) yang sepertinya 
cenderung serakah, eksploitatif. Tapi setidaknya sosiolog tahu bahwa takdir nya 
memang untuk mengritik, oposan. Mainannya memang kritik sosial. Positioningnya 
jelas, menganalisa, mengritik, bukan merencana tatanan masyarakat.

Antrhopolog, umumnya asyik mengamati fenomena kehidupan kelompok manusia. 
Mempelajari pola-pola. Dia tidak bermaksud untuk merubah obyek penelitiannya. 
Hanya kalau dia berusaha melestarikan sesuatu, budaya lokal, nasional, maka 
persoalan atau kekecewaan timbul, karena arus budaya luar. Tapi kebanyakan 
enjoy dengan ke-bohemian-nya.

Ahli lingkungan, juga takdirnya jelas sedih. Karena yang dihadapi adalah 
'angkara murka' yang suka merusak lingkungan. Tapi urusan lingkungan ini 
menariknya sudah jadi kepedulian semua bidang, semua profesi, semua usia. 
Kalahan tapi ada dimana-mana. Dan upaya-upaya nya tak harus besar dan dalam 
bentuk tertentu. Mulai dari tindakan menyapu, mengurangi pemakaian plastik yang 
bisa dilakukan secara individual, hingga advokasi anti penebangan hutan.

Dan, Planner, datang untuk merencanakan wilayah, kota, zona. Dalam benak 
Planner ini adalah soal membagi zona (ruang fisik). Tapi kenyataannya wilayah, 
kota, zona itu isinya adalah "persoalan2 lingkungan, ekonomi, sosial, perilaku 
warga, kepemerintahan" yang berasal dari ketidaktahuan warga,dampak kemiskinan, 
keserakahan orang kuat, ketidak- berdayaan birokrasi, ketidak- jelasan hukum.
Kalau tak sadar Planner bisa MEMBORONG PERSOALAN yang dihadapi semua profesi ke 
dalam pikirannya.
Sebagian Planner ada yang berasumsi bahwa Rencana sudah bagus, orang saja yang 
bandel. Sehingga perlu mendidik masyarakat, menyadarkan pejabat dan aparat, 
memberantas korupsi. Sekali lagi mengharap SELURUH UNSUR MASYARAKAT, BIROKRAT, 
PENGUSAHA untuk "berubah" supaya Rencana bisa diterapkan. Ini jelas menambah 
beban pikiran sendiri.

Sentralisme Orde Baru bisa mengecewakan para Planner, Otonomi daerah yang 
menumbuhkan raja-raja kecil bisa mengecewakan Planner, democrazy bisa 
mengecewakan Planner. Akhirnya para planner mengecewakan para planner.

Akhirnya Planner jadi stress, merasa tak berdaya. Bidang multi-disiplin bisa 
mengundang beban pikiran yang berat, lalu rasa tak berdaya.
Padahal bisa saja multi-disiplin ini "dimainkan". 

Tak usah memborong beban semua profesi. Tapi 
sebagai Planner bisa pakai mindset pemeduli Lingkungan Hidup, atau mindset ala 
Ekonom yang kalau angka target gak tercapai "gak apa2". Kalau perlu juga bisa 
pakai mindset Sosiolog, ya siap lah sedih, kecuali kalau menikmati jadi 
activist. Kalau mindset Antrhopolog, pilihlah yang asyik, bohemian, jangan yang 
murung. He he he he. 
Pokoknya jangan borong persoalan semua profesi. Planning is multisektor, tapi 
pilihlah sisi positifnya, yang berorientasi action, bukan sisi sedihnya. Gitu 
saja kok repot.

Salam,
Risfan Munir












      

Kirim email ke