Pak Djarot, ya boleh pelajaran filsafatnya dibabarkan di sini. Saya hanya mendapatkan dari kuliah dulu: phylo = cinta, sophia = kebijakan. Jadi memang usaha terus-menerus untuk menggali 'kebenaran'. Beberapa ilmuwan dulu mempelajari sistem nilai filsafat ini, dan ketemu dengan 'etik'. Memang dulu sudah ada pembedaan kajian tentang 'seharusnya' (norma) dan 'sebaiknya' (moral), dan teori etik muncul sebagai jalan tengah. Hal ini diperdalam pada lapangan hukum, sehingga muncul teori grundnorm (norma dasar = etik), yang mendasari konstruksi ilmu hukum selanjutnya. Hal ini juga menjelaskan posisi 'hukum' dalam Mazhab Chicago; bahwa sistem nilai terbangun berdasarkan sistem nilai etik.
Ketika varian Chicago diterapkan dalam hukum positif, sebenarnya hal ini sama-sama konstruktif, dan sumber nilainya kemungkinan juga sama, yaitu 'etik'. Namun pemaknaan etik seharusnya berbeda, karena etika hukum berkembang menjadi 'kaidah', sementara etika positivisme berkembang menjadi bentuk yang lebih konstruktif. Hal ini ingin saya tunjukkan terhadap contoh-contoh yang disampaikan guru bapak, bahwa 'format perkembangan' dengan basis keilmuan kelihatannya bisa sama, namun bisa juga berbeda. Jadi di lapangan kita berkenalan dengan beberapa istilah seperti: 'kebenaran ilmiah' (yang dibawa nara sumber akademisi), 'kebenaran praktek' (yang dibawakan birokrat), 'kebenaran/keadilan sosial', dst. Dalam kondisi multi-kebenaran ini maka yang sebenarnya kian mengemuka adalah 'etika', atau masing-masing akan bermain di 'hulu kebenaran'. Tentunya siapa yang lebih memahami filsafat akan bersikap lebih bijak. Sementara demikian pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Eka, menurut yang saya pelajari, filsafat merefleksikan seluruh usaha ilmu pengetahuan, tetapi ilmu dengan kacamata kuda terbatasnya hanya mengkaji sebagian dari realitas. Ilmuwan memasok temuan-temuan kepada para filsuf untuk merefleksikan seluruh realitas supaya terjadi pemahaman realitas yang lebih mendalam, semakin mendalam dari waktu ke waktu. Konon nih, filsuf berangkat dari pertanyaan dan berakhir dengan pertanyaan baru, sedangkan ilmuwan berangkat dari pertanyaan dan berhenti pada jawaban. Filsuf tugasnya merefleksikan, ilmuwan tugasnya mencari jawaban pada pertanyaan keilmuan, bukan pertanyaan filsafati. Gagasan ini ada dalam kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan minggu pertama yang saya berikan minggu kemarin pada mahasiswa S1 lho Pak....jadi masih ingat. > > Jadi, dari renungan tentang "memborong masalah" tampaknya perlu dicermati benar-benar topik diskusi yang dilontarkan Pak RM guru saya ini hehehee..... > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Sat, 2/6/10, ffekadj 4ek...@... wrote: > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [perkotaan] Re: Memborong masalah? > To: [email protected] > Date: Saturday, February 6, 2010, 6:25 AM > > Pak Risfan ysh. > > > > Saya kira hampir semua disiplin ilmu dapat 'memborong masalah', namun > > yang paling berkompeten adalah 'ilmu filsafat', karena berpijak pada > > etik. Untuk pendekatan yang saya pernah kenali dapat menganalisis > > kompleksitas adalah 'system analysis' dan untuk pemetaannya adalah > > 'etnografi'. Apakah perencana diajarkan hal-hal itu? Salam. > > > > -ekadj > > > > --- In perkot...@yahoogrou ps.com, Risfan M risfano@ > wrote: > > > > > > Mindset Perencana > > > > > > Insinyur Sipil urusannya relatif pasti, yaitu merancang struktur > > bangunan sesuai sifat (mekanika) tanah di persil tertentu. Kalau > > desainnya rumit, komputer bisa bantu. Persoalan besar terjadi kalau > > anggaran tak tentu, manajemen proyek kacau. > > > > > > Arsitek juga pekerjaannya relatif pasti kalau yang dihadapi adalah > > individu yang kaya, maunya jelas. Persoalan timbul kalau si pengguna > > jasa maunya tidak jelas, berselisih antara suami-istri. Atau arsitek > > mencoba mempromosikan desain asli nusantara, sementara masyarakat > > sukanya mengadopsi desain dari luar. > > > > > > Lain lagi Ekonom, yang dihadapi hal yang dinamis (bergerak terus), > > dinamika supply vs demand produsen/konsumen, masyarakat dan investor > > yang saling merespons. Memang sering situasi, kondisi, perilaku pelaku > > yang diluar "control" ekonom. Tapi, setidaknya dia bisa membatasi > > pikiran pada kaidah utama "B/C ratio, dan hukum supply vs demand, etc". > > Tujuannya relatif pasti, terfokus. Instrumennya jelas. Walau untuk > > memprediksi kian sulit, target dan prediksinya sering meleset, tapi > > Ekonom oke saja karena menyadari banyak hal diluar kontrolnya. > > > > > > Ahli ilmu sosial, mungkin sudah ditakdirkan untuk "bersedih", karena > > harus menegakkan keadilan, kesetaraan di masyarakat (manusia) yang > > sepertinya cenderung serakah, eksploitatif. Tapi setidaknya sosiolog > > tahu bahwa takdir nya memang untuk mengritik, oposan. Mainannya memang > > kritik sosial. Positioningnya jelas, menganalisa, mengritik, bukan > > merencana tatanan masyarakat. > > > > > > Antrhopolog, umumnya asyik mengamati fenomena kehidupan kelompok > > manusia. Mempelajari pola-pola. Dia tidak bermaksud untuk merubah obyek > > penelitiannya. Hanya kalau dia berusaha melestarikan sesuatu, budaya > > lokal, nasional, maka persoalan atau kekecewaan timbul, karena arus > > budaya luar. Tapi kebanyakan enjoy dengan ke-bohemian- nya. > > > > > > Ahli lingkungan, juga takdirnya jelas sedih. Karena yang dihadapi > > adalah 'angkara murka' yang suka merusak lingkungan. Tapi urusan > > lingkungan ini menariknya sudah jadi kepedulian semua bidang, semua > > profesi, semua usia. Kalahan tapi ada dimana-mana. Dan upaya-upaya nya > > tak harus besar dan dalam bentuk tertentu. Mulai dari tindakan menyapu, > > mengurangi pemakaian plastik yang bisa dilakukan secara individual, > > hingga advokasi anti penebangan hutan. > > > > > > Dan, Planner, datang untuk merencanakan wilayah, kota, zona. Dalam > > benak Planner ini adalah soal membagi zona (ruang fisik). Tapi > > kenyataannya wilayah, kota, zona itu isinya adalah "persoalan2 > > lingkungan, ekonomi, sosial, perilaku warga, kepemerintahan" yang > > berasal dari ketidaktahuan warga,dampak kemiskinan, keserakahan orang > > kuat, ketidak- berdayaan birokrasi, ketidak- jelasan hukum. > > > Kalau tak sadar Planner bisa MEMBORONG PERSOALAN yang dihadapi semua > > profesi ke dalam pikirannya. > > > Sebagian Planner ada yang berasumsi bahwa Rencana sudah bagus, orang > > saja yang bandel. Sehingga perlu mendidik masyarakat, menyadarkan > > pejabat dan aparat, memberantas korupsi. Sekali lagi mengharap SELURUH > > UNSUR MASYARAKAT, BIROKRAT, PENGUSAHA untuk "berubah" supaya Rencana > > bisa diterapkan. Ini jelas menambah beban pikiran sendiri. > > > > > > Sentralisme Orde Baru bisa mengecewakan para Planner, Otonomi daerah > > yang menumbuhkan raja-raja kecil bisa mengecewakan Planner, democrazy > > bisa mengecewakan Planner. Akhirnya para planner mengecewakan para > > planner. > > > > > > Akhirnya Planner jadi stress, merasa tak berdaya. Bidang > > multi-disiplin bisa mengundang beban pikiran yang berat, lalu rasa tak > > berdaya. > > > Padahal bisa saja multi-disiplin ini "dimainkan". > > > > > > Tak usah memborong beban semua profesi. Tapi > > > sebagai Planner bisa pakai mindset pemeduli Lingkungan Hidup, atau > > mindset ala Ekonom yang kalau angka target gak tercapai "gak apa2". > > Kalau perlu juga bisa pakai mindset Sosiolog, ya siap lah sedih, kecuali > > kalau menikmati jadi activist. Kalau mindset Antrhopolog, pilihlah yang > > asyik, bohemian, jangan yang murung. He he he he. > > > Pokoknya jangan borong persoalan semua profesi. Planning is > > multisektor, tapi pilihlah sisi positifnya, yang berorientasi action, > > bukan sisi sedihnya. Gitu saja kok repot. > > > > > > Salam, > > > Risfan Munir > > > >
