Pak Risfan situasi masa kini memang sangat kompleks. Menurut saya kita memerlukan mindset kreatif yang arif dalam melakukan inovasi atau terobosan, bukan sekedar birokratis yang deduktif manut aturan saja, meskipun aturan itu penting. Pada awalnya peraturan memang kita buat, tetapi pada akhirnya dia akan mengatur kita juga. Sebagai bekal awal peraturan penting, tetapi penerapannya pada realitas empiris memerlukan sebuah hub atau proses sejenak untuk penyesuaian antara yang teoritik dengan yang empirik melalui proses yang memproduksi inovasi. Nuwun.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Fri, 2/5/10, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: [perkotaan] Memborong masalah? To: [email protected] Date: Friday, February 5, 2010, 9:53 PM Mindset Perencana Insinyur Sipil urusannya relatif pasti, yaitu merancang struktur bangunan sesuai sifat (mekanika) tanah di persil tertentu. Kalau desainnya rumit, komputer bisa bantu. Persoalan besar terjadi kalau anggaran tak tentu, manajemen proyek kacau. Arsitek juga pekerjaannya relatif pasti kalau yang dihadapi adalah individu yang kaya, maunya jelas. Persoalan timbul kalau si pengguna jasa maunya tidak jelas, berselisih antara suami-istri. Atau arsitek mencoba mempromosikan desain asli nusantara, sementara masyarakat sukanya mengadopsi desain dari luar. Lain lagi Ekonom, yang dihadapi hal yang dinamis (bergerak terus), dinamika supply vs demand produsen/konsumen, masyarakat dan investor yang saling merespons. Memang sering situasi, kondisi, perilaku pelaku yang diluar "control" ekonom. Tapi, setidaknya dia bisa membatasi pikiran pada kaidah utama "B/C ratio, dan hukum supply vs demand, etc". Tujuannya relatif pasti, terfokus. Instrumennya jelas. Walau untuk memprediksi kian sulit, target dan prediksinya sering meleset, tapi Ekonom oke saja karena menyadari banyak hal diluar kontrolnya. Ahli ilmu sosial, mungkin sudah ditakdirkan untuk "bersedih", karena harus menegakkan keadilan, kesetaraan di masyarakat (manusia) yang sepertinya cenderung serakah, eksploitatif. Tapi setidaknya sosiolog tahu bahwa takdir nya memang untuk mengritik, oposan. Mainannya memang kritik sosial. Positioningnya jelas, menganalisa, mengritik, bukan merencana tatanan masyarakat. Antrhopolog, umumnya asyik mengamati fenomena kehidupan kelompok manusia. Mempelajari pola-pola. Dia tidak bermaksud untuk merubah obyek penelitiannya. Hanya kalau dia berusaha melestarikan sesuatu, budaya lokal, nasional, maka persoalan atau kekecewaan timbul, karena arus budaya luar. Tapi kebanyakan enjoy dengan ke-bohemian- nya. Ahli lingkungan, juga takdirnya jelas sedih. Karena yang dihadapi adalah 'angkara murka' yang suka merusak lingkungan. Tapi urusan lingkungan ini menariknya sudah jadi kepedulian semua bidang, semua profesi, semua usia. Kalahan tapi ada dimana-mana. Dan upaya-upaya nya tak harus besar dan dalam bentuk tertentu. Mulai dari tindakan menyapu, mengurangi pemakaian plastik yang bisa dilakukan secara individual, hingga advokasi anti penebangan hutan. Dan, Planner, datang untuk merencanakan wilayah, kota, zona. Dalam benak Planner ini adalah soal membagi zona (ruang fisik). Tapi kenyataannya wilayah, kota, zona itu isinya adalah "persoalan2 lingkungan, ekonomi, sosial, perilaku warga, kepemerintahan" yang berasal dari ketidaktahuan warga,dampak kemiskinan, keserakahan orang kuat, ketidak- berdayaan birokrasi, ketidak- jelasan hukum. Kalau tak sadar Planner bisa MEMBORONG PERSOALAN yang dihadapi semua profesi ke dalam pikirannya. Sebagian Planner ada yang berasumsi bahwa Rencana sudah bagus, orang saja yang bandel. Sehingga perlu mendidik masyarakat, menyadarkan pejabat dan aparat, memberantas korupsi. Sekali lagi mengharap SELURUH UNSUR MASYARAKAT, BIROKRAT, PENGUSAHA untuk "berubah" supaya Rencana bisa diterapkan. Ini jelas menambah beban pikiran sendiri. Sentralisme Orde Baru bisa mengecewakan para Planner, Otonomi daerah yang menumbuhkan raja-raja kecil bisa mengecewakan Planner, democrazy bisa mengecewakan Planner. Akhirnya para planner mengecewakan para planner. Akhirnya Planner jadi stress, merasa tak berdaya. Bidang multi-disiplin bisa mengundang beban pikiran yang berat, lalu rasa tak berdaya. Padahal bisa saja multi-disiplin ini "dimainkan". Tak usah memborong beban semua profesi. Tapi sebagai Planner bisa pakai mindset pemeduli Lingkungan Hidup, atau mindset ala Ekonom yang kalau angka target gak tercapai "gak apa2". Kalau perlu juga bisa pakai mindset Sosiolog, ya siap lah sedih, kecuali kalau menikmati jadi activist. Kalau mindset Antrhopolog, pilihlah yang asyik, bohemian, jangan yang murung. He he he he. Pokoknya jangan borong persoalan semua profesi. Planning is multisektor, tapi pilihlah sisi positifnya, yang berorientasi action, bukan sisi sedihnya. Gitu saja kok repot. Salam, Risfan Munir
