Rekan-rekan,

Yang juga harus diperhatikan adalah kehidupan sehari-hari mereka......

Apakah sebagai seorang PNS hidup dengan kewajaran sebagai sebagai seorang
PNS.......(saya tidak tahu apa ada diantara mereka memiliki warissan
yang luar biasa atau pernah memenagkan lotere).

Maksudnya saya yang lebih konkrit mengenai rumah, kendaraaan, gaya hidup,
sumber-sumber pendapatannya........sehingga benar-benar transparan,
pembayaran pajaknya..........

Memang terasa aneh semua itu bagi orang Timur, tapi saya rasa hal itu tidak
menjadikan alasan untuk tidak transparan.

Mengeani beasiswa, sudah menjadi rahasia umum adanya "permainan" dalam
kasus-kasus tertentu dalm memperoleh jatah beasiswa.

Salam
AL

At 07:56 19.01.1999 PST, you wrote:
>>Harry Azhar Azis:
>>
>> Maafkan, kalau saya keliru. Setahu saya, Amin Rais masih PNS. Jadi
>bukan mengundurkan diri, tapi istilahnya non aktif. Posisinya kira2 sama
>dengan apa yang dilakukan selama ini oleh para PNS yang anggota Golkar
>dan kemudian terpilih sbg anggota DPR/MPR, mereka umumnya non aktif dari
>PNS dan bukan mengundurkan diri. Saya belum mendengar Faisal Basri
>mengundurkan diri dari UI? Setahu
>>saya ia masih sebagai ketua suatu lembaga resmi di FEUI. Baru2 ini,
>Arbi Sanit bahkan tegas2 minta agar Amin Rais  dan Yusril mundur (total)
>dari PNS, kalau mereka mau konsisten dengan sikap dan perjuangannya.
>>Otherwise,...
>>        Soal Anis Matta, saya hanya baca sendiri riwayat hidupnya, yang
>pernah sampai ke meja saya. Ia memang kerja di Al Manar, tapi
>>menurut daftar riwayat yang ditulisnya sendiri itu ia juga dosen agama
>di UI. Soal Sdr. Anis ini sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi yang
>lebih penting, yang tidak anda  komentari adalah ttg sdr. Nur yang
>sampai sekarang sebagai seorang pejabat BPPT dan ketua Partai Keadilan
>itu, yang jelas2 pernah dikirim sbg PNS tugas belajar ke Texas (bukan ke
>Jerman) untuk studinya ketika Soeharto masih jaya2nya dulu? Sekali lagi,
>maaf, tidak ada niat saya untuk menjelek2kan para pemimpin itu. Saya
>pribadi termasuk yang kagum kepada satu dua di antara mereka atas
>perjuangannya selama ini. Yang saya  ingin katakan, dengan mengambil
>contoh2 itu, adalah bahwa tidak akan ada bedanya
>>antara "omong kosong" di era Orba dengan "omong kosong" di masa yad,
>kalau para pemimpinnya tidak lebih dari sekedar "pemain sandiwara".
>Bukankah sikap2 serupa juga terjadi, banyak para "pemimpin" Orba yang
>menikmati kekuasaan (dan tidak pernah terdengar suaranya) di masa
>jaya2nya Soeharto, kini setelah terdepak malah seolah2 menjadi semacam
>"pemimpin reformasi".
>>        Tentu anda bertanya kenapa saya memandang penting soal posisi
>>pemimpin politik di Indonesia saat ini? Jawabnya sederhana saja, karena
>Indonesia sampai saat ini tidak mempunyai satupun sistem ketatanegaraan
>yang mapan. Sehingga peran pemimpin politik menjadi penting dalam
>membawa Indonesia bukan sekedar menjadi "panggung sandiwara". Bandingkan
>dengan Amerika Serikat, misalnya, karena sistemnya yang relatif mapan,
>pemimpin politik apalagi pemimpin negara tidak bisa "seenak
>udelnya"berbuat tanpa kontrol ketat dari sistem dan rakyatnya.
>> Kasihan memang rakyat kita, kalau yang memimpin mereka adalah
>>"pemain sandiwara".
>>Wassalam,
>
>

Kirim email ke