Nama dan Peristiwa Kompas 16/1/99 :

Sabtu, 17 Januari 1999

                               Nur Mahmudi Ismail tentang Kerukunan

SEBELUM meninggal dunia tahun 1975, sang ayah sempat
menitipkan
pesan pada anak-anaknya, "Yang rukun...." Pesan sederhana ini sangat
membekas dalam diri
Dr Nur Mahmudi Ismail MSc (37), anak ketujuh dari delapan bersaudara.
Dulu, pesan itu
dilontarkan ayahnya  karena  almarhum sering melihat bagaimana keluarga
maupun masyarakat
 cekcok gara-gara urusan warisan.

                               Kini, ketika Nur Mahmudi mulai menggeluti

dunia politik, sebagai
                               Presiden Partai Keadilan, ia merasakan
makna pesan itu menjadi
                               sangat relevan. "Pesan itu kini membekas
pada diri saya tentang
                               bagaimana berinteraksi dengan masyarakat.

Bahwa landasan
                               kerukunan itu memang lebih penting dari
yang lain," katanya.

                               Nama pria ramah yang berperawakan agak
gemuk ini, sebelumnya
                               hampir tak terdengar di panggung politik.

Namun sejak ia berkiprah di
                               Partai Keadilan, sosoknya mulai menjadi
sorotan. Banyak yang
                               terkesan oleh pernyataan maupun
pikiran-pikirannya yang dinilai
                               inklusif, khususnya mengenai bagaimana
Partai Keadilan yang
                               berasaskan Islam ini menempatkan diri
dalam percaturan politik di
                               Indonesia.

                               Partai berlambang kabah dengan gambar dua

bulan sabit mengarah
                               ke kanan dan ke kiri itu, populer di
kalangan kaum muda dan
                               kampus-kampus. Berbeda dengan sejumlah
partai yang memasang
                               tokoh-tokoh "lama dan punya nama" dalam
susunan DPP nya,
                               hampir seluruh pengurus Partai Keadilan
adalah muka-muka baru.
                               Mereka sebagian besar anak muda, dan
rata-rata belum pernah
                               berkecimpung di dunia politik. Yang juga
mencolok, hampir seluruh
                               pengurus DPP-nya bertitel sarjana sampai
doktor.

                               "Jalur kita para intelektual yang mau
berpikir tentang nasib bangsa.
                               Memang benar, basis kita kebanyakan dari
lembaga-lembaga
                               pendidikan. Namun, mereka itu banyak yang

berasal dari
                               masyarakat bawah. Mereka adalah
orang-orang biasa yang
                               sebelumnya memiliki interaksi di tataran
masyarakat bawah.
                               Sehingga, mereka kini memperoleh respons
yang cukup banyak dari
                               kalangan itu. Seperti kalangan buruh,
pesantren-pesantren," kata Nur
                               Mahmudi.

                               Nur Mahmudi mengakui, pada awalnya ia
banyak memperoleh
                               pertanyaan yang bernadakan kecurigaan
tentang arah perjuangan
                               partainya.

                               "Kami sering membuat imbauan untuk tidak
memplot-plotkan partai,
                               yang membuat kita sepertinya tidak bisa
bermitra. Ini membuat saya
                               gregetan. (Kecurigaan) itu wujud dari
orang yang tidak pernah
                               memperhatikan kualitas agama. Karena
selama Orde Baru orang
                               dikebiri untuk melihat kualitas agama
secara formal dan rasional.
                               Saya katakan, begitu mudahnya orang
terprovokasi membakar
                               rumah ibadah, karena tidak memahami
ajaran agama dengan baik.
                               Bagi saya, ini bukti keperluan kita
berpolitik dengan landasan
                               agama. Kita juga mengharapkan hal serupa
kepada partai agama lain
                               untuk menggunakan agama sebagai moral
force. Silakan, agar
                               rakyat dan bangsa ini bermoral dan
berakhlak," katanya.

                               Menurut pria kelahiran Kediri, 11
November 1961 itu, setelah
                               melakukan interaksi dengan
anggota-anggota Partai Keadilan,
                               ataupun setelah membaca ulasan-ulasannya
di berbagai media,
                               umumnya pihak-pihak yang awalnya
"mencurigai" Partai Keadilan,
                               kemudian menjadi paham. "Dan itu sudah
terbukti. Ada anggota baru
                               kami yang non-muslim, yaitu dari Kristen
dan Buddha. Ini
                               membuktikan bahwa itikad kami adalah
berpartisipasi membangun
                               bangsa yang sudah porak-poranda,"
ujarnya.

                               Berkali-kali ia menekankan, paradigma
yang digunakan Partai
                               Keadilan adalah, menganggap mitra partai
mana pun yang akan ikut
                               pemilu. "Sehingga kita tidak kaget
sewaktu berhadapan dengan
                               mereka. Dan kalaupun kita memiliki
pendekatan yang berbeda, itu
                               hanya soal timing saja kita bisa
bertemu."

                                                       ***

                               NUR Mahmudi tumbuh dari keluarga petani,
di Mranggen,
                               Kecamatan Purwosari, Kediri. "Kami hidup
dari tanah warisan seluas
                               3,5 hektar. Ayah dan Ibu saya bukan
termasuk yang berpendidikan
                               tinggi. Mereka tidak lulus SD. Maklumlah
zaman Belanda," tuturnya.

                               Meski begitu, kedua orangtuanya sangat
menekankan pentingnya
                               bekal pendidikan. "Almarhum bapak saya
sering mengatakan, beliau
                               akan berusaha semampunya untuk
menyekolahkan saya, karena
                               beliau tidak memiliki harta untuk
diwariskan," lanjutnya.

                               Nur memang terpacu untuk meraih
pendidikan setinggi-tingginya.
                               Dari biodata dirinya, bisa dilihat betapa

ia "lengket" dengan aneka
                               aktivitas dan gelar akademis. Ia meraih
gelar sarjana di IPB tahun
                               1984, lalu bekerja di Badan Pengkajian
Penerapan Teknologi (BPPT).

                               "Saya memilih BPPT karena kerja sebagai
Korpri dulu agak saya
                               benci, banyak peraturannya, termasuk
janji-janji. Saya lalu
                               menghadap Pak AM Satari (Guru Besar Ilmu
Tanah Institut Pertanian
                               Bogor - Red). Saya katakan bahwa saya
termasuk orang yang benci
                               terhadap peraturan yang membuat orang
tidak merasa merdeka.
                               Jawaban beliau, kalau Anda ingin merdeka,

BPPT adalah tempatnya.
                               Di situ Anda mengerjakan penelitian, Anda

laporkan, dan semua itu
                               dikerjakan sendiri," katanya.

                               Di BPPT lah Nur memperoleh kesempatan
untuk melanjutkan
                               studinya, dan meraih gelar MSc bidang
Food and Science
                               Technology di Texas A&M University, AS.
Ia lulus dengan predikat
                               cum laude. Nur lalu meraih gelar doktor
di universitas yang sama,
                               juga dengan predikat cum laude. Ia juga
memiliki sederet
                               pengalaman sebagai pembicara dalam
berbagai seminar mengenai
                               teknologi pangan.

                               Apakah ia gamang begitu terjun ke
panggung politik yang saat ini
                               justru sedang gonjang-ganjing? "Secara
prinsip tidak, karena
                               kejadian-kejadian yang ada sekarang ini
sudah ada sejak zaman
                               Orba," katanya. Nur bahkan mengaku cukup
enjoy dengan
                               aktivitasnya saat ini. "Saya merasa
inilah kehidupan. Kelanjutan
                               dunia akademik itu memang ada di
politik," tegasnya.

                               Sewaktu menjadi mahasiswa, Nur dikenal
sebagai teman yang
                               pendiam. Dia jarang nimbrung dalam
acara-acara yang diadakan
                               teman-temannya, seperti perayaan ulang
tahun misalnya.
                               "Bagaimana ya... sebenarnya mau-mau saja.

Tetapi kadang saya
                               berpikir, (itu) kurang landasan akhlak
yang dimunculkan, sehingga
                               membuat saya enggan. Dalam olahraga, saya

juga tidak memilih
                               renang tetapi sepak bola," kata Nur yang
semasa mahasiswa aktif
                               da-lam kegiatan masjid kampus.

                               Khusus soal perayaan ulang tahun, ia
secara pribadi menolaknya.
                               "Saya tidak bicara ini dari soal agama.
Tapi menurut saya di situ ada
                               suasana pengkultusan dan mengarah pada
kesombongan. Sehingga
                               istri maupun anak-anak saya tidak
merayakan ulang tahun,"
                               tegasnya.

                               Ada pengalaman yang membekas pada
dirinya. "Anda bisa
                               merasakan, di kala orang tidak punya
harta, kemudian dia dipoyoki
                               (diledek -Red) nggak ulang tahun. Itu
yang saya alami. Saya itu
                               hidup di tengah rakyat miskin. Dan itu
efeknya berat," katanya.

                               Ia juga mengaku tidak senang dengan
kebiasaan para karyawan
                               yang mengumpulkan uang ramai-ramai
setelah menerima gaji, lalu
                               kemudian dipakai untuk makan-makan atau
bentuk hura-hura
                               lainnya. "Di situ ada suasana tekanan,
nggak enak kalau nggak
                               begitu. Saya menginginkan orang itu hidup

tanpa ikatan hutang
                               budi," katanya.

                               Nur Mahmudi menikah dengan Nur Azizah
Tahid MA, pengajar di
                               Institut Ilmu Alquran Jakarta, November
1986. Pasangan ini dikaruniai
                               tiga anak, Ahmad Syihan Ismail (11),
Faathimah Mahmudi (8) dan
                               Abiir Mahmudi (4).

                               "Waktu itu saya menyampaikan niat saya
pada teman bahwa saya
                               ingin berkeluarga, dan saya gambarkan
idola saya. Saya lalu
                               diperkenalkan dengan ca-lon istri saya.
Tentu saya mengevaluasi
                               dulu, dia pun demikian. Dia itu tepat
menurut kaca mata fikih saya,"
                               kata Nur tentang istrinya. (myr/atk)


HARRY A AZIS wrote:

> On Fri, 15 Jan 1999, Achmad Aliyadin wrote:
>
> > Harry A. Azis :
> >
> > >         Soal RUU Politik, saya sendiri termasuk yang ragu. Saya
> termasuk
> > > yang setuju PNS itu netral. Pemimpin partai yang mempunyai sikap
> seperti
> > > ini (PNS harus netral) harusnya konsisten dengan sikapnya. Saya
> lihat  ada
> > > tiga ketua partai yang masih PNS (bahkan sekjen yang dua partai
> juga PNS),
> > > padahal kalau tidak salah sikap
> > > partai mereka adalah PNS netral. Saya sebut saja nama2nya  biar
> diskusi
> > > kita terbuka yaitu: Amien Rais dan Faisal Basir (Ketua dan sekjen
> PAN),
> > > Yusril (Ketua PBB), Nur dan Anis (Ketua dan sekjen PK)
> > >
> > Yadin :
> >
> >       Saya pernah baca (kalau tidak salah di Detik.com) bahwa Amien
> Rais dan
> > Faisal Basri sudah mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai PNS.
> Mengenai
> > Anis Matta ( Sekjen PK ), setahu saya dia bukan PNS. Anis Matta
> adalah
> > direktur Al-manar ( sebuah lembaga pendidikan Islam ). Ada yang bisa
>
> > mengklarifikasi...?
> >
> > Mengenai sikap PAN mengenai netralitas PNS, ketika di wawancara di
> sebuah
> > TV, Amien Rais mengatakan kalau PNS boleh berpolitik maka PNS harus
> > dibebaskan untuk memilih Partai apapun. Kalau tidak boleh berpolitik
> ya
> > sebaiknya netral.
> >
> > Wallahu 'Alam.
>
> Harry Azhar Azis:
>
>         Maafkan, kalau saya keliru. Setahu saya, Amin Rais masih PNS.
> Jadi bukan
> mengundurkan diri, tapi istilahnya non aktif. Posisinya kira2 sama
> dengan apa yang dilakukan selama ini oleh para PNS yang anggota Golkar
> dan
> kemudian
> terpilih sbg anggota DPR/MPR, mereka umumnya non aktif dari PNS dan
> bukan
> mengundurkan
> diri. Saya belum mendengar FaisalBasri mengundurkan diri dari UI?
> Setahu
> saya ia masih sebagai ketua suatu lembaga resmi di FEUI. Baru2 ini,
> Arbi
> Sanit bahkan tegas2 minta agar Amin Rais  dan Yusril mundur (total)
> dari
> PNS, kalau mereka mau konsisten dengan sikap dan perjuangannya.
> Otherwise,...
>         Soal Anis Matta, saya hanya baca sendiri riwayat hidupnya,
> yang
> pernah sampai ke meja saya. Ia memang kerja di Al Manar, tapi
> menurut daftar riwayat yang ditulisnya sendiri itu ia juga dosen agama
> di
> UI. Soal Sdr. Anis ini sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi yang
> lebih penting, yang tidak anda  komentari adalah ttg sdr. Nur yang
> sampai sekarang sebagai seorang pejabat BPPT dan ketua Partai Keadilan
>
> itu, yang jelas2 pernah dikirim sbg PNS tugas belajar ke Texas (bukan
> ke
> Jerman) untuk studinya ketika Soeharto masih jaya2nya dulu?
>         Sekali lagi, maaf, tidak ada niat saya untuk menjelek2kan para
> pemimpin
> itu. Saya pribadi termasuk yang kagum kepada satu dua di antara
> mereka atas perjuangannya selama ini. Yang saya  ingin katakan, dengan
>
> mengambil contoh2 itu, adalah bahwa tidak akan ada bedanya
> antara "omong kosong" di era Orba dengan "omong kosong" di masa yad,
> kalau
> para pemimpinnya tidak lebih dari sekedar "pemain sandiwara". Bukankah
>
> sikap2 serupa juga terjadi, banyak para "pemimpin" Orba yang menikmati
>
> kekuasaan (dan tidak pernah terdengar suaranya) di masa jaya2nya
> Soeharto,
> kini setelah terdepak malah seolah2 menjadi semacam "pemimpin
> reformasi".
>         Tentu anda bertanya kenapa saya memandang penting soal posisi
> pemimpin politik di Indonesia saat ini? Jawabnya sederhana saja,
> karena
> Indonesia sampai saat ini tidak mempunyai satupun sistem
> ketatanegaraan
> yang mapan. Sehingga peran pemimpin politik menjadi penting dalam
> membawa
> Indonesia bukan sekedar menjadi "panggung sandiwara". Bandingkan
> dengan
> Amerika Serikat, misalnya, karena sistemnya yang relatif mapan,
> pemimpin
> politik apalagi pemimpin negara tidak bisa "seenak udelnya"
> berbuat tanpa kontrol ketat dari sistem dan rakyatnya.
>         Kasihan memang rakyat kita, kalau yang memimpin mereka adalah
> "pemain sandiwara".
>         Wassalam,

Kirim email ke