The Silicon Valley, January 20, '99
Adik saya pernah sudah lulus semua seleksi (dari suatu BUMN terkemuka) dan
tinggal menunggu jawaban dari universitas di USA. Tiba-tiba, di hari terakhir
seleksi, muncul oknum yang belum pernah terlihat mengikuti ujian dan terpilih
berangkat. Ternyata beliau itu adalah putra salah seorang direksi BUMN
tersebut yang mendadak dimunculkan karena program beasiswa tersebut akan
segera ditutup. Rombongan saat itu adalah rombongan terakhir dans sebetulnya
direktur tersebut memiliki dana yang lebih dari cukup untuk menyekolahkan
putranya di USA (dengan menggunakan kurs rupiah saat itu). Sayangnya
mentalitas "mumpung gratis" terlibat di dalam pengambilan keputusan tersebut.
Kalau soal seleksi, tentu saja semua orang yang mengajukan permohonan beasiswa
akan belajar sungguh-sungguh dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan
serius. Kalau soal prestasi akademik, ada beberapa pertimbangan yang mencakup
- namun tidak terbatas kepada - asal lembaga pendidikan S1 calon tersebut.
Jangan beranggapan buruk: hal ini merupakan akibat belum adanya akreditasi
yang baku di Indonesia. Bahkan sewaktu saya kuliah S1, hal ini juga sudah
menjadi kenyataan yang dijalankan oleh pemberi beasiswa. Sewaktu saya
mendapatkan beasiswa S1 dari suatu BUMN terkemuka dan suatu kelompok
perusahaan swasta raksasa di Indonesia, prestasi akademik saya biasa-biasa
saja untuk ukuran universitas tempat saya belajar. Namun ternyata ada
pembedaan pembobotan untuk tiap universitas. Pembobotan ini sebagai akibat
kesalahan sistem, bukan itikad buruk.
Demikian juga soal pengalaman kerja. Kita semua mengetahui bahwa para calon S2
memang harus telah memiliki pengalaman kerja yang cukup (dalam kasus yang saya
ceritakan mengenai penerima beasiswa titipan di Bappenas itu, beliau baru
masuk beberapa bulan. Seperti membenarkan apa yang diucapkan seorang rekan
kita di mailing-list ini, beliau masuk Bappenas hanya supaya bisa sekolah
gratis sambil jalan-jalan di LN). Memang tidak semua penerima beasiswa
melakukan kekonyolan itu, tetapi kita semua sudah mahfum mengenai keberadaan
kongkalikong seperti ini.
Mungkin Anda sudah mendengar bahwa beberapa donor telah mengganti haluan
mereka? Sekarang ini beberapa donor beasiswa (misalnya AIDAB dan British
Chevenin Awards) justru menghindari pemberian beasiswa kepada pegawai negeri
atau badan-badan yang terlalu government-minded. Salah satu alasan mereka
adalah kurang jujurnya proses seleksi para calon dan, kemudian, sesudah
kembali dari proses belajar itu, kebanyakan di antara penerima beasiswa itu
bekerja di pemerintahan (departemen, BUMN, dll) yang dikenal sebagai lembaga-
lembaga birokratis yang sangat tidak efisien di negeri ini (tentunya tidak di
semua departemen dan BUMN). Dikhawatirkan nantinya para sarjana beasiswa itu
akan kehilangan kesempatan untuk memberi kontribusi yang diharapkan
sebelumnya. Hal ini diceritakan kepada saya oleh kakak kandung saya sendiri
seperti yang disampaikan oleh pihak kedutaan Inggris sewaktu kakak akan
berangkat dan sewaktu kakak saya selesai kuliah dan pulang ke Indonesia
beberpa tahun yang lalu. Beberapa donor beasiswa luar negeri justru
mengarahkan dana bantuan mereka kepada organisasi-organisasi bukan pemerintah
(NGO) dan bukan mencari laba (alias non-profit). Kemudian, para donor beasiswa
itu juga melirik para calon penerima beasiswa dari kalangan pegawai swasta,
terutama mereka yang berasal dari perusahaan swasta kecil yang memiliki
semangat juang yang tinggi. Tujuannya adalah sebagai resource empowerment.
Memasuki abad mendatang, peranan pemerintah (departemen, BUMN) akan berkurang
dalam kaitannya dengan gerak roda pembangunan Indonesia. Nantinya, pemerintah
akan lebih banyak berfungsi sebagai "wasit", bukan lagi sebagai "pemain".
Swasta akan sangat naik daun, terutama karena kebanyakan perusahaan swasta
tidak terlalu besar dan dengan demikian masih memilki keluwesan yang memadai.
Lagipula, swasta akan jauh lebih lincah menghadapi jaman perdagangan bebas
beberapa tahun lagi, karena memang secara alamiah birokarasi itu kurang
keluwesannya. Para donor beasiswa itu belajar dari evaluasi mengenai dampak
para sarjana yang mereka bantu.
Warm regards,
Alexander Lumbantobing