Jangan salah Bung Panut yang ikut ya anaknya pejabat itu donk!!!



At 15:31 20.01.1999 -0800, you wrote:
>Mungkin memang pengalokasian beasiswa dari uang utangan itu tidak 100%
>melalui seleksi, tetapi yang saya tahu adalah beasiswa yang dikelola
>BPPT.  Beasiswa ini untuk  LPND (Lembaga PEmerintah non Departemen)
>yang di dalamnya adalah LIPI, BATAN, LAPAN, BPS, dan BPPT sendiri dll.
> Untuk mendapat beasiswa ini, tesnya juga bertingkat-tingkat, dari tes
>mirip GRE, lalu tes psikology lalu tes akademik, lalu harus khursus
>bahasa Inggris dan  TOEFLnya harus 530 atau 550, lalu harus dapat
>Universitas. (Saya punya teman yang belajarnya setengah mampus untuk
>akhirnya bisa sampai di AS). Lalu beasiswanya tidak banyak.  Melihat
>prosesnya yang demikian, maka sulitlah untuk berarisan dengan beasiswa
>ini.  Selain itu, pejabat mana yang mau ikut beasiswa seperti ini?
>Kalau sudah menjadi pejabat, ikut program ini maka jabatannya hilang,
>tunjangan jabatannya hilang, tidak sempat ngobyek,sedangkan beasiswa
>hanya pas-pasan. Harus pisah dengan keluarga, sebab keluarga tidak
>ditanggung.  Saya percaya tidak ada pejabat mapan yang begitu gila
>untuk mengarisankan dirinya untuk beasiswa ini.  Saya kira beasiswa
>dari Bappenas juga mirip dengan yang dari BPPT ini.  Saya tidak tahu
>tentang beasiswa Departemen.  Saya pernah dengar beasiswa untuk
>orang-orang bank barulah gila-gilaan gedenya.  Sampai tiga kali dari
>beasiswa BPPT.  Selain itu juga disewain rumah dan fasilitas-fasilitas
>lain.
>    Selain itu, sebelum berangkat ke negara tujuan, penerima beasiswa
>menandatangani kontrak bahwa yang bersangkutan harus kembali dan
>bekerja selama dua kali lamanya menerima beasiswa tambah satu tahun,
>atau harus mengganti seluruh biaya yang telah dikeluarkan (tidak tahu
>apakah sama atau duakali).  Nah, para penerima beaiswa yang melarikan
>diri perlu bersiap-siap bila nanti dikejar oleh pemberi beasiswa.
>     Anak orang kaya yang pingin dapat beasiswa BPPT lalu pingin ke
>luar, mungkin belum begitu mengenal prosesnya.  Sebab, untuk dapat
>ikut test saja seringkali harus bekerja 2--4 tahun dahulu (tergantung
>pimpinan dan kantor masing-masing).
>     Mungkin bagi-bagi rejeki jatah jabatan untuk ke luar negeri itu
>hanya untuk perjalanan dinas, atau training jangka pendek 1--6 bulan.
>     Beasiswa dari BPPT dan Bappenas yang saya tahu tersebut telah
>berjalan bertahun-tahun (entah sekarang masih ada atau tidak) dan
>untuk ratusan orang.  Jadi peluang konflik karena ada dua orang
>nilainya sama tapi beda agama atau beda keturunan sangat kecil.  Lagi
>pula, jumlah keturunan tertentu yang bekerja di lembaga pemerintah kan
>juga sedikit.  jadi praktis untuk beasiswa BPPT dan Bappenas tsb,
>penerima beasiswanya boleh dibilang jauh dari bau-bau KKN.  Saya
>bilang penerima beasiswanya.  Saya tidak berbicara tentang apakah
>pengelolaan beasiswa itu efisien dan efektif dan  bebas korupsi.
>     Tentang seleksi masuk perguruan tinggi, seharusnya ada
>affirmative action.  Dan saya setuju bahwa itu memang masih terus
>menjadi PR bagi yang punya wewenang dalam hal itu.  Perlu dipikirkan
>cara-cara mempersempit kesenjangan itu.  Ini bagus untuk topik
>pembauran.
>
>Wassalam,
>Panut Wirata W.

Kirim email ke