Bung Hadeer,
Satu pertanyaan buat Anda. Bagaimana kalau anakketurunan cina
itu dari keluarga miskin, yang bapaknya sudah meninggal dunia serta
ibunya bekerja sebagai penjaja makanan kecil (jajanan) keliling, yang
di rumahnya tidak ada listrik sehingga harus belajar pakai lampu
minyak tanah sehingga dipagi harinya lubang hidung si anak itu penuh
dengan jelaga? Pendeknya, tak beda dengan anak petani gurem atau buruh
tani?
Berkenaan dengan kuota masuk perguruan tinggi, ada cerita dari
dosen pembimbing saya yang lahir di dan keturunan Jepang. Suatu
waktu, mungkin awal th 1980-an, dengan kriteria seleksi yang ada, yang
masuk dalam jurusan kedokteran di universitas-universitas di
California kebanyakan adalah orang Asia (keturunan Vietnam, China,
Jepang, Indonesia dll). Mungkin orang keturunan Asianya tidak sampai
lebih dari 50%, tapi pendeknya proporsi keturunann Asia yang di
sekolah kedokteran jauh lebih tinggi dari proporsi demografi mereka.
Ini membuat pimpinan universitas yang kebanyakan bule kurang senang.
Sebab bagaimana bisa mempertanggungjawabkan pengelolaan sekolah pada
pembayar pajak yang mayoritas bule bila lebih banyak Asia di "sekolah
bule". Lalu pihak sekolah menambahkan satu lagi kriteria seleksi
masuk sekolah kedokteran yaitu mengarang. Begitu kriteria mengarang
masuk, kontan jumlah anak Asia menurun. Sebab, anak asia yang orang
tuanya immigran kan kurang canggih bahasa Inggrisnya dan
anak-anaknyapun jadi kurang canggih Inggrisnya. Tapi ini sebenarnya
hanyalah taktik untuk mengurangi jumlah Asianya. Kriteria tambahan
ini tidak ada relevansinya dengan dugaan keberhasialn di kedokteran.
Tentu saja lalu banyak yang protes dan memang akhirnya kriteria ini di
hilangkan. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan dari kasus ini. Namun
di AS ada prinsip, atau undang-undang (atau apa saya kurang tahu)
yang disebut affirmative action. Prinsipnya affirmative action ini
untuk menghindari ketimpangan-ketimpangan keterwakilian berdasarkan
proporsi demografi. Misalnya saja, di California Selatan komposisi
demografinya adalah 10% Asia, 15% Hispanik (orang Amerika Serikat
keturunan orang Latin)adalh 20% kulit Hitam dan sisanya bule. Bila di
suatu department semua dosennya bule, maka sesuai dengan affirmative
action, dalam rekrutment mendatang harus menerima yang minoritas
sampai mendekati proporsi demografi tersebut. Namun dalam seleksi
tersebut, berlaku kriteria akademik yang sama dan semua harus memenuhi
kriteria yang ada. Di sini, etnis dipakai sebagai penentu terakhir.
Seandainya saja affirmative action ini berlaku di Indonesia,
maka pembauran akan berjalan lebih baik. Dan ketimpangan juga akan
berkurang. Orang Irian dan Timor Timur dapat jatah di Perguruan Tinggi
Negeri, begitu juga si anak keturunan cina yang berjelaga lubang
hidungnya. Untuk menghindari kalah bersaingnya anak petani miskin
dengan si kaya pengikut bimbingan tes, maka ada PMDK di samping UMPTN.
Sayang, PMDK tidak berlaku untuk semua jurusan. Memang mungkin
kriteria UMPTN tidak sempurna, mungkin bagus seperti sistim di AS
pakai aptitude test (SAT, GRE, GMAT dsb)serta rapor . Ebta sebenarnya
juga tidak perlu. Emangnya pelajran 3 tahun bisa di tebus hanya dalam
seminggu atau maksimum 1 bulan?
Bagaimana pendapat Anda serta rakan-rakan yang lain?
Wassalam,
PPWW
---Hadeer <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Harusnya Bang Alex lebih memperluas pandangan dalam melihat sesuatu,
> jangan sempit sekali analisa nya dalam memandang sesuatu.
>
> Kebetulan juga saya mempunyai sahabat-sahabat sewaktu kuliah menjadi
> OPERATOR seleksi UMPTN (BUKAN IKUT DALAM PENENTUAN KRITERIA KELULUSAN
> UMPTN...tolong di ralat, karena seorang mahasiswa tidak dapat
menentukan
> kriteria UMPTN...!!!!!!!! Hati - hati menulis jangan berbohong dan
> membuat OPINI palsu ..!!!!!......)
>
> Yang ada adalah SEDAPAT MUNGKIN KEADILAN BAGI SELURUH PESERTA UMPTN
> UNTUK DAPAT MERASAKAN KULIAH DI PTN.
>
> Di sini seluruh faktor dari seseorang calon menjadi variable dalam
> seleksi : Asal SMA, Orang tua kerja dimana, Pendapatan Orang Tua,
Agama,
> Keturunan, Jurusan yang dituju, Propinsi, dan masih banyak lagi (saya
> sudah lupa).
>
> Seseorang dari Irian Jaya atau dari Aceh tentu juga ingin merasakan
> sekolah di ITB atau UI atau UGM, bukan hanya seorang keturunan cina
yang
> dari kecil sudah mendapat sekolah yang layak di yayasan mereka dan
> kekayaan dari orang tua mereka, tetapi juga ingin ikut masuk sekolah
ke
> NEGERI......:-)....anak petani yang sebagian besar di negara ini juga
> mau sekolah di NEGERI...yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama
> dalam bersaing dan belajar semasa SMA....karena mereka orang
miskin.....
>
> Dan juga jangan Anda Bilang bahwa "penjatahan masuk UMPTN yang
> juga sering didasarkan pada alasan agama tertentu atau keturunan
> tertentu", ini adalah pernyataan yang SOMBONG....apa anda pikir mereka
> lebih hebat dari orang lain.....he....he....nanti dulu......
>
> SMILE.....YOU MAKE ME SICK....
>
>
> Alexander Lumbantobing wrote:
>
> > Kenyataan ini memang pahit dan meresahkan, tetapi inilah salah
satu PR
> > kita
> > memberantas KKN di bidang pendidikan - termasuk penjatahan masuk
UMPTN
> > yang
> > juga sering didasarkan pada alasan agama tertentu atau keturunan
> > tertentu
> > (sistem kuota). Ssahabat-sahabat saya sewaktu kuliah dulu banyak
yang
> > ikut
> > dalam proses penentuan kriteria kelulusan UMPTN dan pemeriksaan
ujian
> > di Pusat
> > Ilmu Komputer UI, Salemba. Begitu nyata dan terang-terangan....
> >
> > Warm regards,
> >
> > Alexander Lumbantobing
>
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com