Sebenarnya di beberapa PTN Indonesia pernah diberlakukan program pemerataan
mahasiswa daerah. Di ITB di tahun ajaran 1989 ada program PPMD (?), meski
tetap lewat UMPTN (hanya ITB yg. tidak pernah mau melakukan PMDK, karena
menurut mereka PMDK sering dipengaruhi dg. manipulasi dan KKN).
Di IPB juga sudah lama diberlalukan PMDK. Tetapi memang pada kenyataannya
banyak juga mahasiswa daerah ini yg. keteter dan kalah bersaing dg.
mahasiswa dari kota-kota besar di Jawa.
Sebelum diberlakukannya sistem test bersama (SIPENMARU kemudian UMPTN),
seleksi mahasiswa di PTN diberlakukan secara langsung di masing-masing
kampus (kecuali di 5 PTN: UI, ITB, UGM, IPB, UNAIR yg. sebelum SIPENMARU
sempat menggunakan sistem perintis-1, kemudian kampus lain sempat pula
mengikutinya dg. memasukkannya ke perintis-2).
Pada masa tahun 70-an ke belakang, calon mahasiswa mendaftarkan diri
langsung ke tiap kampus. Saat itu pendaftaran dilakukan secara langsung
tatap muka (selain dg. tertulis), sehingga para penyeleksi dapat melihat
tampang calon. Saya dengar banyak penyeleksi yg. menggunakan kriteria
non-akademis.
Namun sejak SIPENMARU, proses tsb. berlahan-lahan hilang dg. sendirinya
(meskipun tetap dicantumkan di formulir pendaftaran ras calon yg. harus
diisi). Menurut saya, seleksi ca-ma semakin sulit untuk menentukan mana
mahasiswa dari keturunan tertentu, apalagi sekarang kan banyak warga
keturunan yg. namanya sangat "ngejawa" atau "ngeropa".
Di kampus spt. ITB contohnya, kita dapat lihat banyak juga alumnus ket. cina
yg. mendedikasikan dirinya menjadi dosen, bahkan menjadi dosen-dosen bahkan
professor yg. cemerlang dan berprestasi (spt. misalnya Prof. Oei Ban Liang,
Prof. Tjia May On, DR. Tan Ik Gie, Prof. The How Liong yg. pakar fisika
teori, Agoes Soe han nie, Ph.D). Di UI ada Prof. Ong Hok Ham dsb.
Sebetulnya pemerataan jenis mahasiswa saya pikir sah-sah saja, asalkan
beralasan dan adil (tentu setelah memenuhi syarat-syarat akademis). Di US
saja spt. diceritakan saudar Panut melakukan cara-cara demikian (satu cara
lagi untuk memberikan hak lebih bagi warga state yg. mendaftarkan diri
adalah dg. menaikkan tuition bagi ca-ma inter-state. Bayaran ini dapat
berkali-kali lipat dari tuition untuk mahasiswa dari state itu sendiri).
Kalau mau dilihat ke belakang, pembedaan ca-ma yg. terjadi di Indonesia
tidak lepas dari apa yg. dilakukan pemerintah penjajah Belanda zaman dahulu.
Para inlander tentu saja akan dibedakan sekolahnya sejak dari sekolah dasar.
Hanya segelintir yg. dapat masuk ke sekolah belanda dan meneruskan ke
perguruan tinggi.
> ----------
> From: Panut Wirata[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Friday, January 22, 1999 5:44 AM
> Subject: UMPTN, untuk Bung Hadeer
>
> Bung Hadeer,
> Satu pertanyaan buat Anda. Bagaimana kalau anakketurunan cina
> itu dari keluarga miskin, yang bapaknya sudah meninggal dunia serta
> ibunya bekerja sebagai penjaja makanan kecil (jajanan) keliling, yang
> di rumahnya tidak ada listrik sehingga harus belajar pakai lampu
> minyak tanah sehingga dipagi harinya lubang hidung si anak itu penuh
> dengan jelaga? Pendeknya, tak beda dengan anak petani gurem atau buruh
> tani?
> Berkenaan dengan kuota masuk perguruan tinggi, ada cerita dari
> dosen pembimbing saya yang lahir di dan keturunan Jepang. Suatu
> waktu, mungkin awal th 1980-an, dengan kriteria seleksi yang ada, yang
> masuk dalam jurusan kedokteran di universitas-universitas di
> California kebanyakan adalah orang Asia (keturunan Vietnam, China,
> Jepang, Indonesia dll). Mungkin orang keturunan Asianya tidak sampai
> lebih dari 50%, tapi pendeknya proporsi keturunann Asia yang di
> sekolah kedokteran jauh lebih tinggi dari proporsi demografi mereka.
> Ini membuat pimpinan universitas yang kebanyakan bule kurang senang.
> Sebab bagaimana bisa mempertanggungjawabkan pengelolaan sekolah pada
> pembayar pajak yang mayoritas bule bila lebih banyak Asia di "sekolah
> bule". Lalu pihak sekolah menambahkan satu lagi kriteria seleksi
> masuk sekolah kedokteran yaitu mengarang. Begitu kriteria mengarang
> masuk, kontan jumlah anak Asia menurun. Sebab, anak asia yang orang
> tuanya immigran kan kurang canggih bahasa Inggrisnya dan
> anak-anaknyapun jadi kurang canggih Inggrisnya. Tapi ini sebenarnya
> hanyalah taktik untuk mengurangi jumlah Asianya. Kriteria tambahan
> ini tidak ada relevansinya dengan dugaan keberhasialn di kedokteran.
> Tentu saja lalu banyak yang protes dan memang akhirnya kriteria ini di
> hilangkan. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan dari kasus ini. Namun
> di AS ada prinsip, atau undang-undang (atau apa saya kurang tahu)
> yang disebut affirmative action. Prinsipnya affirmative action ini
> untuk menghindari ketimpangan-ketimpangan keterwakilian berdasarkan
> proporsi demografi. Misalnya saja, di California Selatan komposisi
> demografinya adalah 10% Asia, 15% Hispanik (orang Amerika Serikat
> keturunan orang Latin)adalh 20% kulit Hitam dan sisanya bule. Bila di
> suatu department semua dosennya bule, maka sesuai dengan affirmative
> action, dalam rekrutment mendatang harus menerima yang minoritas
> sampai mendekati proporsi demografi tersebut. Namun dalam seleksi
> tersebut, berlaku kriteria akademik yang sama dan semua harus memenuhi
> kriteria yang ada. Di sini, etnis dipakai sebagai penentu terakhir.
> Seandainya saja affirmative action ini berlaku di Indonesia,
> maka pembauran akan berjalan lebih baik. Dan ketimpangan juga akan
> berkurang. Orang Irian dan Timor Timur dapat jatah di Perguruan Tinggi
> Negeri, begitu juga si anak keturunan cina yang berjelaga lubang
> hidungnya. Untuk menghindari kalah bersaingnya anak petani miskin
> dengan si kaya pengikut bimbingan tes, maka ada PMDK di samping UMPTN.
> Sayang, PMDK tidak berlaku untuk semua jurusan. Memang mungkin
> kriteria UMPTN tidak sempurna, mungkin bagus seperti sistim di AS
> pakai aptitude test (SAT, GRE, GMAT dsb)serta rapor . Ebta sebenarnya
> juga tidak perlu. Emangnya pelajran 3 tahun bisa di tebus hanya dalam
> seminggu atau maksimum 1 bulan?
> Bagaimana pendapat Anda serta rakan-rakan yang lain?
>
> Wassalam,
> PPWW
>
>
>
>
>
>
>
> ---Hadeer <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Harusnya Bang Alex lebih memperluas pandangan dalam melihat sesuatu,
> > jangan sempit sekali analisa nya dalam memandang sesuatu.
> >
> > Kebetulan juga saya mempunyai sahabat-sahabat sewaktu kuliah menjadi
> > OPERATOR seleksi UMPTN (BUKAN IKUT DALAM PENENTUAN KRITERIA KELULUSAN
> > UMPTN...tolong di ralat, karena seorang mahasiswa tidak dapat
> menentukan
> > kriteria UMPTN...!!!!!!!! Hati - hati menulis jangan berbohong dan
> > membuat OPINI palsu ..!!!!!......)
> >
> > Yang ada adalah SEDAPAT MUNGKIN KEADILAN BAGI SELURUH PESERTA UMPTN
> > UNTUK DAPAT MERASAKAN KULIAH DI PTN.
> >
> > Di sini seluruh faktor dari seseorang calon menjadi variable dalam
> > seleksi : Asal SMA, Orang tua kerja dimana, Pendapatan Orang Tua,
> Agama,
> > Keturunan, Jurusan yang dituju, Propinsi, dan masih banyak lagi (saya
> > sudah lupa).
> >
> > Seseorang dari Irian Jaya atau dari Aceh tentu juga ingin merasakan
> > sekolah di ITB atau UI atau UGM, bukan hanya seorang keturunan cina
> yang
> > dari kecil sudah mendapat sekolah yang layak di yayasan mereka dan
> > kekayaan dari orang tua mereka, tetapi juga ingin ikut masuk sekolah
> ke
> > NEGERI......:-)....anak petani yang sebagian besar di negara ini juga
> > mau sekolah di NEGERI...yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama
> > dalam bersaing dan belajar semasa SMA....karena mereka orang
> miskin.....
> >
> > Dan juga jangan Anda Bilang bahwa "penjatahan masuk UMPTN yang
> > juga sering didasarkan pada alasan agama tertentu atau keturunan
> > tertentu", ini adalah pernyataan yang SOMBONG....apa anda pikir mereka
> > lebih hebat dari orang lain.....he....he....nanti dulu......
> >
> > SMILE.....YOU MAKE ME SICK....
> >
> >
> > Alexander Lumbantobing wrote:
> >
> > > Kenyataan ini memang pahit dan meresahkan, tetapi inilah salah
> satu PR
> > > kita
> > > memberantas KKN di bidang pendidikan - termasuk penjatahan masuk
> UMPTN
> > > yang
> > > juga sering didasarkan pada alasan agama tertentu atau keturunan
> > > tertentu
> > > (sistem kuota). Ssahabat-sahabat saya sewaktu kuliah dulu banyak
> yang
> > > ikut
> > > dalam proses penentuan kriteria kelulusan UMPTN dan pemeriksaan
> ujian
> > > di Pusat
> > > Ilmu Komputer UI, Salemba. Begitu nyata dan terang-terangan....
> > >
> > > Warm regards,
> > >
> > > Alexander Lumbantobing
> >
>
> _________________________________________________________
> DO YOU YAHOO!?
> Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
>
application/ms-tnef