Ichwan Ramli wrote:

>>Assalamualikum wr.wb
>Saya juga tergelitik untuk menanggapi e.mail bung Rosadi berikut :
>Menurut saya, si penulis berita sudah berusaha untuk bersikap fair, dan
tidak bermaksud untuk memojokkan Islam. Yang dipersalahkan adalah
>kefanatikan yang membutakan, sehingga tidak bisa memisahkan masalah
akibat pemalakan atau apapun (keterjepitan ekonomi atau kriminal),
dengan masalah agama. Penulis sudah berusaha fair, dan sebenarnya juga
diakui oleh bung Rosadi sendiri dalam tanggapan berikutnya.

Waalaikum Salam wr.wb bung Icwan....
Saya juga ikutan tergelitik ni jadinya memabaca email anda ini..(asal
nggak kegelian aja...:-). Bung Ichwan,saya tidak mengatakan bahwa
penulis berita kerusuhan Ambon yang asli(bukan bung Adri loh..)bermaksud
memojokkan Islam. Hanya saya kurang sependapat jika ajaran kefanatikan
"negatif"(atau kefanatikan yang membutakan menurut istilah anda)hanya
ditimpakan kepada pihak Islam saja (dalam hal ini kaum pendatang dari
luar Maluku). Apa kondisi umat kristen di Maluku sudah sedemikian
baiknya, sehingga bisa dipastikan terhindar dari kefanatikan yang
membutakan, seperti yang anda sebutkan itu..? Dan apakah tidak mungkin
ada pendatang dari luar Maluku yang beragama kristen yang merusak adat
dan budaya "Pela Gandong".., yang merupakan simbol kerukunan antar umat
beragama di Maluku..???

Ichwan Ramli wrote:

>Kalau kita baca dengan baik, kesimpulan atau analisa penulis tidak
>menyalahkan pendatang atau ummat Islam, tetapi menyalahkan
ajaran-ajaran >kefanatikan yang tidak mengenal budaya kerukunan beragama
masyarakat Maluku.
>Karenanya menurut saya tanggapan bung Rosadi tidaklah perlu dan
berlebihan.

Saya rasa saya sudah cukup baik membaca berita tersebut secara
berulang-ulang.Memang betul berita tersebut TIDAK SECARA LANGSUNG
menyalahkan kaum pendatang atau umat Islam di Maluku. Cuma akan tampak
LUGU SEKALI jika kita hanya memahami berita tersebut sebatas pengertian
bahwa ajaran-ajaran kefanatikan(yang tidak mengenal budaya kerukunan
beragama masyarakat maluku) sebagai penyebab lunturnya budaya
"Pela-Gadong".., sehingga memicu timbulnya kerusuhan. Yang benar
sajalah.., memangnya ajaran kefanatikan itu bisa "jalan-jalan sendiri"
dan mempengaruhi masyarakat asli maluku..:-). Jelas sekali SECARA TIDAK
LANGSUNG berita tersebut bernada menyalahkan kaum pendatang. Saya
sebenarnya juga kurang bisa mengerti apa yang dimaksud dengan
"ajaran-ajaran kefanatikan" seperti yang disebutkan oleh berita itu(ada
yang bisa menjelaskan..?). Apakah Ajaran kefanatikan ini berarti
menjalankan Ajaran Islam dengan sebenarnya (Kaffah) menurut versi Allah
SWT(bukan versi manusia).., ataukah "ajaran-ajaran kefanatikan" disini
berarti ajaran-ajaran yang BERTENTANGAN dengan ajaran Islam.., seperti
melakukan pemalakan(pemerasan) kepada supir omprengan/angkutan
umum...??? Kalo memang pengertian "ajaran-ajaran kefanatikan"
dimaksudkan ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam..,
berarti kesimpulannya memang semua atau sebagian besar kaum pendatang di
Maluku yang beragama Islam memang begitu BURUK ke-Islamannya, sehingga
"kalah jauh" pemahaman Islamnya dibanding umat non muslim di Maluku.
Apakah sudah sedemikian CELAKANYA kaum pendatang muslim di Maluku
sehingga dengan seenaknya merusak budaya kerukunan di maluku, yang pada
akhirnya memicu kerusuhan dan malah membuat terjadinya PENGUNGSIAN
BESAR-BESARAN masyarakat pendatang itu sendiri dari daerah yang
merupakan bagian dari TANAH AIR mereka sendiri..??????????
Justru disaat-saat "kondisi gawat" seperti saat ini, seharusnya kita
sedapat mungkin menghindarkan tindakan mencari kambing hitam (cari yang
putih saja kenapa..heheheheh) dari penyebab terjadinya kerusuhan.
Sebaliknya marilah kita BELAJAR dari kejadian-kejadian buruk yang
menimpa bangsa dan negara kita untuk diambil hikmahnya, agar
kejadian-kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang.

Bung Ichwan.., kalo anda menganggap tanggapan saya yang sebelumnya(juga
tanggapan yang ini) TIDAK PERLU dan BERLEBIHAN, itu merupakan hak
pribadi anda, sebagaimana halnya juga menjadi HAK PRIBADI saya
memberikan tanggapan atas berita kerusuhan Ambon yang beredar di Milis
ini.

Wassalam
Mohamad Rosadi
Virginia










>
>-----Original Message-----
>From: Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: 26 Januari 1999 11:44
>Subject: Re: Kerusuhan di Ambon (3)
>
>
>>
>>>Tapi perkembangan akhir-akhir ini kerukunan antar umat beragama di
>>Maluku, khususnya antar Agama Kristen dan Agama Islam sudah mulai
>>luntur. Secara sadar dapat dianalisa bahwa kelunturan umat beragama di
>>Maluku disebabkan karena adanya unsur-unsur kefanatikan agama yang
>>dibawa oleh pihak luar dan secara jujur pihak luar ini dapat
disebutkan:
>>Suku Bugis-Makassar, Buton,>Padang dan Jawa. Ajaran-ajaran kefanatikan
>>merekalah yang mempengaruhi masyarakat asli Maluku yang beragama Islam
>>telah ter-kooptasi dengan ajaran-ajaran kefanatikan mereka (mohon maaf
>>bukannya kami sengaja ekstrim untuk menjelekkan saudara-saudara kami
>>selaku orang Maluku yang beragamaIslam, tapi kami ungkapkan ini demi
>>tegaknya kembali hidup kerukunan beragama selaku saudara dalam satu
>>budaya Pela-Gandong). Dan ini bukanlah kami diskriminatif, tapi
>>kenyataan inilah yang terjadi.
>>
>>M.rosadi menanggapi:
>>
>>Pernyataan di atas ini sepertinya kurang fair. Tidak adil rasanya
>>menyatakan bahwa masyarakat pendatang di maluku sebagai penyebab
>>terjadinya kerusuhan yang terjadi belakangan ini.(saya menangkap
maksud
>>yang demikian). Dan lebih tidak adil lagi menimpakan "ajaran
>>kefanatikan"(sepertinya definisi kefanatikan yang disebutkan disini
>>mempunyai arti negatif)kepada pihak islam saja. bukankah di pihak
>>kristen (dalam masyarakat maluku) juga terdapat orang-orang yang
fanatik
>>(dalam artian negatif),yang bisa jadi punya andil cukup besar terhadap
>>terjadinya kerusuhan..?????
>>
>>Berita Postingan:
>>
>>>Secara sadar dapat dikatakan bahwa seandainya kali selaku Asli Maluku
>>Agama >Kristen dan Agama Islam tanpa ter-kooptasi dengan kefanatikan
>>yang ada >sampai kapan pun tidak mungkin terjadi peristiwa yang sangat
>>memalukan ini.
>>
>>M.Rosadi menanggapi:
>>Secara tidak langsung sebenarnya penulis email diatas ini mengakui
bahwa
>>kefanatikan (dalam artian negatif)dapat terjadi pada umat di kedua
belah
>>pihak, kristen dan Islam.
>>
>>Berita postingan:
>>>Pe4ngalaman telah membuktikan bahwa konflik SARA yang terjadi di
Maluku
>>di waktu-waktu lalu sampai saat ini selalu dipicu oleh mereka-mereka
>>yang tidak pernah mengenal budaya kerukunan umat beragama masyarakat
di
>>Maluku.
>>
>>M.rosadi menanggapi:
>>
>>Dalam beberap kasus bisa saja demikian. Tapi saya kurang yakin kalo
>>semua konflik SARA yang terjadi di maluku SELALU dipicu oleh pihak
>>pendatang(yang dikatakan tidak pernah mengenal budaya kerukunan umat
>>beragama masyarakat di Maluku). Tidak semua kaum pendatang di maluku
itu
>>penjahat kan.., sebagaimana halnya tidak semua orang maluku itu
>>preman..????? Setiap golongan masyarakat tentunya menyimpan
benih-benih
>>yang baik dan jahat...., so jangan cepat men-'judge' suatu kejahatan
>>merupakan "trade mark" dari suatu kelompok/golongan.
>>
>>
>>Wassalam
>>Mohamad Rosadi
>>Virginia
>>
>>
>>-----------------------------delete-----------------------------------
>>
>>______________________________________________________
>>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke