salam,
saya tambahkan beberapa info baru.....
NU dan muhammadiyah sudah mengeluarkan sikap
mendukung "tindakan tegas " ini.
Keterangan resmi dari ABRI pun mengatakan bahwa tindakan
tembak di tempat bertujuan melumpuhkan,bukan mematikan.
inikah bentuk konsensus yang anda maksudkan?

saya pribadi melihat gejala meningkatnya kekerasan yang dibarengi hilangnya
rasa hormat terhadap hukum tidak dapat hanya diatasi dengan cara-cara
represif!. namun masyarakat butuh contoh bahwa hukum berlaku bagi setiap
orang. Bukannya masyarakat harus ditakut-takuti, melainkan penyelesaian
hukum
juga bagi para elit yang mampu bermain-main dengan mengorbankan rakyat
sipil.

pada tulisan saya yang lalu saya sempat mengajak agar kita mewaspadai
penggunaan istilah-istilah seperti "provokator","ditunggangi" dsb oleh elit
militer/politik namun tidak jelas siapa dan apanya  .Bukannya kita yang suka
memakai istilah itu disini.
kenyataannya memang selama ini dalam berbagai demo ada penyusup yang
tujuannya memang mengacau atau dulu mereka (biasanya suaranya paling
kenceng) teriak-teriak menghujat dan akhirnya para koordinator demo yang
dikenai pasal-pasal karet.

Jadi menurut pendapat saya, tindakan represif (meskipun mendapat dukungan
dari berbagai ormas) hanya mampu memerangi ekses dari kerusuhan-kerusuhan
namun tidak menyentuh dasar permasalahan, bahkan membuka peluang konflik
baru yang lebih luas.
saya berpendapat, kunci penyelesaian konflik ini berada di tingkat elit. dan
harus segera dicari solusinya.
mungkin dengan segera mengganti si jaksa agung andy ghalib??

wassalam

deddy priadi

-----Urspr�ngliche Nachricht-----
Von: Dodo D. <[EMAIL PROTECTED]>
An: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Datum: Montag, 8. Februar 1999 03:18
Betreff: Re: Wiranto=Pahlawan baru....


>Menarik Bung Budi,
>
>Tapi pertanyaannya, bagaimana kita mengkategorikan "perusuh" itu.
>Apakah setiap orang yang telibat kerusuhan lantas disebut perusuh dan
>perlu di tembak di tempat? Sementara, setiap kerusuhan pasti
>melibatkan ratusan bahkan ribuan orang, lalu apakah ABRI akan
>menmbantai seribu orang dengan alasan melakukan kerusuhan? ini
>mustahil, dan tidak masuk akal.
>
>Kalau kita mempersempit kategori perusuh sebagai orang yang
>menggerakkan kerusuhan, atau yang akhir2 ini populer disebut
>provokator, bagaimana kita mengidentifikasi provokator tersebut?
>Seperti yang pernah saya kemukakan, kita ini sering menggunakan
>istilah-istilah yang tidak jelas definisinya, mulai dari OTB, oknum2
>tertentu, ninja, perusuh sampai dengan provokator. Semuanya hanya
>istilah yang tidak jelas artinya dan hanya berdasarkan dugaan tanpa
>ada bukti2 yang nyata.
>
>Kalau ABRI hanya menduga duga si "perusuh" atau "provokator" kemudian
>main tembak tempat, justru itu akan menyulitkan ABRI sendiri, karena
>besar sekali kemungkinan menembak sasaran yang salah. Dan kalau itu
>terjadi, rakyat akan semakin marah dan brutal serta menghujat ABRI
>habis habisan. Hal ini akan membuat posisi ABRI yang sudah sulit,
>menjadi lebih sulit lagi. Ini juga akan menghambat reformasi internal
>yang sedang dilakukan oleh ABRI.
>
>Dalam hal ini, saya rasa perlu adanya konsensus bersama antara ABRI
>dengan para tokoh masyarakat dalam menentukan tindakan terhadap
>kerusuhan yang terjadi, sehingga ABRI mempunyai semacam guidelines
>dalam melakukan tindakannya. Dalam hal ini, saya tidak berbicara
>tentang hukum formal yang berlaku di negara kita maupun aturan main di
>dalam tubuh ABRI sendiri. Saya rasa konsensus bersama akan lebih
>memudahkan semua pihak untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian,
>tindakan ABRI tetap bisa terkontrol dan tidak boleh keluar dari aturan
>main yang sudah disepakati. Hal ini pula akan memudahkan semua pihak
>apabila terjadi kesalahan prosedur di lapangan, karena sudah ada
>guidelines yang jelas yang bisa dipedomani oleh semua pihak.
>
>Mungkin ada pendapat dari rekan2 yang lain tentang ABRI ini?
>
>Wassalam
>
>
>
>

Kirim email ke