Penculikan Aktivis = Aparat Terlibat (Koppassus)
Penembakan Trisakti = Aparat Terlibat (Polri)
Kerusuhan Mei = Aparat Terlibat (Prabowo & Cs.)
Penembakan Atmajaya = Aparat Terlibat
Ambon Berdarah = Siapa ?
Saya melihat untuk ke masa depan, profil ABRI mungkin tidak akan
dibutuhkan lagi. Semua kekerasan selalu berujung pada ABRI, entah itu
Oknum, Aktif, Elite, dll.
ABRI diciptakan untuk memberikan RASA AMAN, tetapi peran ABRI sekarang
justru Menciptakan TERROR dan KEKACAUAN.
Hanya anda-anda semua yang dimasa depan dapat menentukan perlu tidaknya
kita semua untuk mempertahankan Kekuatan Pertahanan
Andrew Pattiwael
(Calon pengangguran jika ABRI dibubarkan) :)
*************************************************************************
Munir SH: Aparat Terlibat
Kerusuhan Ambon
detikcom, Jakarta-Inilah temuan terbaru Kontras
(Komisi
untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan)
tentang kasus
Ambon, 19-23 Januari 1999 lalu. Lewat
koordinatornya, Munir
SH, Kontras menemukan keikutsertaan aparat
keamanan dalam
kerusuhan tersebut. Munir juga membenarkan
adanya preman
dari Jakarta yang didatangkan untuk mengobarkan
kerusuhan
tersebut.
Keterangan Munir disampaikan pada wartawan di
kantor
Kontras, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis
(18/2/1999).
Menurut Munir, aparat ikut bergabung dengan
massa dalam
kerusuhan dengan mengenakan pakaian sipil dan
mengenakan
sorban putih. Senjata mereka juga dibalut
sorban putih.
Diperkirakan aparat itu berasal dari kesatuan
Kostrad.
Selain itu, Munir juga menyatakan, kerusuhan
Ambon tidak bisa
dijauhkan dengan peristiwa bentrokan yang
terjadi pada 3
Maret 1995 maupun pada 21 Pebruari 1996.
Pertikaian ini
berhasil diselesaikan.
Pertikaian besar meledak kembali pada 15
Januari 1999. Di
Desa Dobo, Ambon, terjadi perkelahian
antarkelompok yang
mengatasnakaman agama. Hal yang sama juga
terjadi juga di
wilayah Wailete dan Bak Air.
Pada pertengahan Januari ada isu konflik
antaragama dan
bahaya saling menyerang antarkelompok agama.
Isu itu beredar
melalui selebaran yang berisi informasi yang
kian mempertajam
sentimen agama. Selain itu, Kontras juga
menemukan bukti
adanya pengerahan massa dari luar daerah Ambon,
menjelang
tanggal 19 Januari.
Sedang kronologi peristiwa Ambon 19-23 Januari
1999 temuan
Kontras adalah sbb:
Kerusuhan meletus di 3 wilayah sekaligus
simpang tiga antara:
Batu Merah, Amantelu dan Galugggung, jalan
depan gereja Silo
dan daerah Rajali.
Perkelahian preman di simpang tiga antara
ketiga daerah itu
justru tidak berhubungan dengan pertikaian
antarkelompok
agama yang telah terjadi sebelumnya.
Di kalangan Kristen muncullah isu ada gereja
yang dibakar. Di
kalangan Islam ada isu masjid Al Fattah juga
dibakar. Padahal
tidak ada kebakaran pada obyek yang disebutkan.
Kerusuhan 19 Januari lantas menyebar dan
melibatkan massa
besar di berbagai tempat. Antara pukul
15.30-16.45 WITA di
Silo, kosentrasi massa mencapai 5.000-6.000
orang . Mereka
berdatangan akibat adanya isu akan mendapat
serangan dan
terjadi pembakaran gereja.
Kosentrasi massa juga di daerah Mahardika,
Rijali, Waringin,
Kudamati, Arsarobar, Waehaum, dsb. Mereka
berusaha
mempertahankan gereja yang dihormati umat
Nasrani setempat.
Sedang pada 20 Januari, berkembang isu Masjid
Al Fattah
dibakar. Akibatnya, reaksi massa dari Hila
secara serentak
berjalan ke Ambon. Mereka lantas terseret dalam
kerusuhan
dan penyerangan.
Menurut Munir, laporan yang diterima Kontras
menunjukkan,
ada kelompok asing yang mempengaruhi akselerasi
massa
dengan bantuan alat komunikasi massa berupa
HT,HP
(handphone), dan senjata api. Aparat terlihat
memberi pasokan
senjata tajam pada massa.
Pengrusakan terjadi secara bergelombang.
Uniknya, provokasi
dilakukan dengan menggunakan kata-kata dan
istilah yang tidak
lazim digunakan di Ambon. Seperti menggunakan
kata Nasrani,
dan bukan Srani, kata umum yang dipakai untuk
menujukkan
kaum Kristen. Juga ditemukan selebaran
berbahasa Arab yang
ditulis dengan tidak benar.
Sementara itu, di Ambon sendiri, situasi belum
bisa dianggap
pulih benar. Kamis dinihari, terjadi pelemparan
bom rakitan
sendiri pada beberapa tempat ibadah tertentu.
Pelemparan bom
itu dilakukan warga Desa Batu Merah dari atas
bukit ke desa di
sebelahnya.
Pelemparan itu dibalas dengan warga yang
menjadi korban.
Bentrokan tidak bisa dihindarkan. Aparat
keamanan berusaha
meredam pertikaian dengan melepaskan tembakan.
Belum
diketahui dengan tepat berapa orang yang
menjadi korban
dalam peristiwa itu. Seorang ibu diketahui
mengalami luka
tembak di leher dan sedang dirawat di Unit
Gawat Darurat di
salah satu rumah sakit di Ambon.
Hingga kini, situasi Ambon dan sekitarnya terus
diguncang
berbagai pertikaian kecil. Terakhir, bentrokan
terjadi di Pulau
Haruku, Maluku Tengah.