Saya tidak bisa menyalahkan bung,
sudah begitu banyak hati rakyat yang disakiti oleh "Kami"
Tidak tahulah bagaimana cara mengobati sakit hati rakyat tanpa
menambah kesakitan yang telah ada dihati mereka2.
Hanya waktulah dan Tuhan yang dapat mengampuni semua dosa-dosa
yang telah diperbuat oleh "kami"
Tapi pernyataan maaf saya hanyalah sebuah permintaan maaf pribadi,
tidak dapat mewakili para Oknum, Elite, Aktif yang juga ikut
andil dalam kesalahan2 ini. Hanya mereka pribadilah yang dapat meminta
maaf pada saudara2. Dan terserah pada keputusan saudara masing2 untuk
dapat mengampuni kami.
Bagaimana ya?, saya berasal dari Ambon, tapi "Oknum" aparat yang terlibat
adalah dari kesatuan atau angkatan saya, sedih rasanya, kok tega-teganya
temen gituiin temennya sendiri. Namanya juga Uang dan Politik, semua serba
kotor. Ternyata Ambisi dan Uang telah mengalahkan Pengabdian dan Sumpah
Prajurit.
Memang saat baru lulus dari Akmil, dada ini penuh dengan Jiwa dan Semangat
pengabdian, tetapi setelah 10 - 15 tahun Mengabdi, hanya bergaji sekedarnya,
makan beras dan terima gula jatah. Melihat begitu makmurnya rekan2 senior
yang dapat menaikan derajat hidupnya dengan kerja luaran, hati ini juga
tak tahan, apalagi kebutuhan akan uang sekolah anak dan keinginan untuk
mencicipi kehidupan yang serba cukup (setingkat dibawah "berkecukupan")
Bukan lagi apa yang dapat saya sumbangkan kepada ABRI, Negara dan Bangsa,
tetapi apa yang dapat saya TERIMA dari posisi saya di ABRI, Negara dan
Bangsa. Persaingan untuk saling mengejar "Setoran" juga harus memenuhi
tugas-tugas setiap kesatuan. Setiap ada kunjungan dari Jakarta, harus segara
cari tambahan dana, hiburan atau cendera mata bagi Ibu-ibu Persit di pusat.
Posisi pun terus kita lirik, lihat mana yang basah dan strategis, agar
dapat katrol kenaikan pangkat dan jabatan secepat mungkin. Mungkin kalau
beruntung, salah satu anak gadis "Bapak" waktu menjadi ajudannya dapat
dilirik. Lumayan menjadi nilai tambahan waktu penilaian tahunan. Wah,
menantunya si ini atau si anu.
Mungkin terima penempatan tugas di daerah-daerah yang rawan, seperti Tim-Tim,
Aceh atau Irian, setelah setahun, dua tahun, tiga tahun, menunggu terus
untuk dipanggil pulang ke kesatuan masing-masing. Apalagi bila record
telah cukup bagus untuk pulang dengan begitu banyak penghargaan, ataupun
bila koneksi dan kiss Axx cukup mendapat perhatian atasan.
Setelah pangkat melewati Kapten, mulailah Ilmu Berpolitik seorang Perwira
harus digunakan untuk menjalin koneksi dan politik. Masa depan harus
direncanakan dengan sematang-matangnya. Apakah ingin lulus Sesko,
pensiun dengan pangkat Kolonel atau terus menembus pangkat Jendral.
Lihat kanan-kiri, teman-teman seangkatan banyak yang berguguran dan banyak
yang berhasil. Persaingan pun tak terelakan, baik itu persaingan jujur
ataupun kotor. Siapa saja kenalan atau istilahnya "Abang-abang/Senior-senior"
yang berpengaruh, terus coba didekati.
Setelah berhasil tersaring masuk ke pangkat berbintang, mulailah lagi
melirik lagi untuk meloncat lagi ke arah yang lebih tinggi lagi.
Ambisi, ambisi untuk dikenal, apalagi setelah 20-25 tahunan "mengabdi"
untuk negara dan "berkorban" demi bangsa.
Vokal sedikit thd atasan atau pada kebijaksanaan kesatuan, pangkat dan
karir yang telah dirintis belasan atau puluhan tahun menjadi taruhannya.
Mungkin yang Kolonel akan mandeg pensiun dengan pangkat kolonel saja,
atau pangkat Brigjen dan mayjen mandeq, ditarik ke mabes, kasih meja satu
terus disuruh menunggu sampai waktu pensiun tiba. Sedikit beruntung mungkin
bisa dikirim jadi dubes. Atau dimasukan kedalam PNS dan diberi jabatan yang
tidak sesuai dengan kemampuan. Karena memang kemampuan ya ..hanyalah memimpin
para prajurit, bukan mengurusi dana, atau menjadi Presdir di PT. IPTN,
atau jadi ketua KONI. Kadang memang ada permintaan dari mereka sendiri untuk
ditempatkan di dunia Sipil sambil menunggu surat pensiun turun, atau kadang
juga "dibuang".
Dunia militer kadang tidak jauh dari dunia sipil, ada persaingan, ada yang
kalah, ada yang menang, ada yang jujur ,ada yang tidak jujur.
Kadang ada yang memang berani untuk berkata demi kebenaran, namun mereka
juga harus mempertaruhkan semuanya. Ada yang tidak berani berkata ttg
kebenaran, tapi karir mereka terus maju. Siapa yang dapat disalahkan?
Untuk yang telah diatas, kejujuran tidak selalu harus dimulai dari bawah,
mungkin dapat dimulai dari atas, atau dari anda-anda yang punya inisiatif
demi kemajuan dan kesucian pengabdian ABRI kepada bangsa dan negara.
Mereka juga manusia, dan kita juga manusia. Walau pengabdian mereka
memang dituntut untuk seputih dan sesuci kapas, namun ada saja kadang
nila yang jatuh dalam susu.
Sekelumit kehidupan seorang Perwira.
Andrew :)
On Thu, 18 Feb 1999, Blucer Rajagukguk wrote:
> Maafkan jika kata-kata saya sangat kasar.
> Mengacu kepada laporan Munir yang sangat dikenal obyektif maka saya
> mengutuk para perusuh yang berjiwa binatang agar terkena balasan yang
> lebih sadis dan melihat keluarganya mati terbakar dan teraniaya oleh
> orang lain, sehingga merasakan betapa sakitnya dibakar dan dianiaya
> serta tidak berdaya melihat keluarga dibantai.
>
> Andrew G Pattiwael wrote:
> >
> > Penculikan Aktivis = Aparat Terlibat (Koppassus)
> > Penembakan Trisakti = Aparat Terlibat (Polri)
> > Kerusuhan Mei = Aparat Terlibat (Prabowo & Cs.)
> > Penembakan Atmajaya = Aparat Terlibat
> > Ambon Berdarah = Siapa ?
> >
> > Saya melihat untuk ke masa depan, profil ABRI mungkin tidak akan
> > dibutuhkan lagi. Semua kekerasan selalu berujung pada ABRI, entah itu
> > Oknum, Aktif, Elite, dll.
> >
> > ABRI diciptakan untuk memberikan RASA AMAN, tetapi peran ABRI sekarang
> > justru Menciptakan TERROR dan KEKACAUAN.
> >
> > Hanya anda-anda semua yang dimasa depan dapat menentukan perlu tidaknya
> > kita semua untuk mempertahankan Kekuatan Pertahanan
> >
> > Andrew Pattiwael
> > (Calon pengangguran jika ABRI dibubarkan) :)
> > *************************************************************************
> > Munir SH: Aparat Terlibat
> > Kerusuhan Ambon
> >
> > detikcom, Jakarta-Inilah temuan terbaru Kontras
> > (Komisi
> > untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan)
> > tentang kasus
> > Ambon, 19-23 Januari 1999 lalu. Lewat
> > koordinatornya, Munir
> > SH, Kontras menemukan keikutsertaan aparat
> > keamanan dalam
> > kerusuhan tersebut. Munir juga membenarkan
> > adanya preman
> > dari Jakarta yang didatangkan untuk mengobarkan
> > kerusuhan
> > tersebut.
> >
> > Keterangan Munir disampaikan pada wartawan di
> > kantor
> > Kontras, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis
> > (18/2/1999).
> > Menurut Munir, aparat ikut bergabung dengan
> > massa dalam
> > kerusuhan dengan mengenakan pakaian sipil dan
> > mengenakan
> > sorban putih. Senjata mereka juga dibalut
> > sorban putih.
> > Diperkirakan aparat itu berasal dari kesatuan
> > Kostrad.
> >
> > Selain itu, Munir juga menyatakan, kerusuhan
> > Ambon tidak bisa
> > dijauhkan dengan peristiwa bentrokan yang
> > terjadi pada 3
> > Maret 1995 maupun pada 21 Pebruari 1996.
> > Pertikaian ini
> > berhasil diselesaikan.
> >
> > Pertikaian besar meledak kembali pada 15
> > Januari 1999. Di
> > Desa Dobo, Ambon, terjadi perkelahian
> > antarkelompok yang
> > mengatasnakaman agama. Hal yang sama juga
> > terjadi juga di
> > wilayah Wailete dan Bak Air.
> >
> > Pada pertengahan Januari ada isu konflik
> > antaragama dan
> > bahaya saling menyerang antarkelompok agama.
> > Isu itu beredar
> > melalui selebaran yang berisi informasi yang
> > kian mempertajam
> > sentimen agama. Selain itu, Kontras juga
> > menemukan bukti
> > adanya pengerahan massa dari luar daerah Ambon,
> > menjelang
> > tanggal 19 Januari.
> >
> > Sedang kronologi peristiwa Ambon 19-23 Januari
> > 1999 temuan
> > Kontras adalah sbb:
> >
> > Kerusuhan meletus di 3 wilayah sekaligus
> > simpang tiga antara:
> > Batu Merah, Amantelu dan Galugggung, jalan
> > depan gereja Silo
> > dan daerah Rajali.
> >
> > Perkelahian preman di simpang tiga antara
> > ketiga daerah itu
> > justru tidak berhubungan dengan pertikaian
> > antarkelompok
> > agama yang telah terjadi sebelumnya.
> >
> > Di kalangan Kristen muncullah isu ada gereja
> > yang dibakar. Di
> > kalangan Islam ada isu masjid Al Fattah juga
> > dibakar. Padahal
> > tidak ada kebakaran pada obyek yang disebutkan.
> >
> > Kerusuhan 19 Januari lantas menyebar dan
> > melibatkan massa
> > besar di berbagai tempat. Antara pukul
> > 15.30-16.45 WITA di
> > Silo, kosentrasi massa mencapai 5.000-6.000
> > orang . Mereka
> > berdatangan akibat adanya isu akan mendapat
> > serangan dan
> > terjadi pembakaran gereja.
> >
> > Kosentrasi massa juga di daerah Mahardika,
> > Rijali, Waringin,
> > Kudamati, Arsarobar, Waehaum, dsb. Mereka
> > berusaha
> > mempertahankan gereja yang dihormati umat
> > Nasrani setempat.
> >
> > Sedang pada 20 Januari, berkembang isu Masjid
> > Al Fattah
> > dibakar. Akibatnya, reaksi massa dari Hila
> > secara serentak
> > berjalan ke Ambon. Mereka lantas terseret dalam
> > kerusuhan
> > dan penyerangan.
> >
> > Menurut Munir, laporan yang diterima Kontras
> > menunjukkan,
> > ada kelompok asing yang mempengaruhi akselerasi
> > massa
> > dengan bantuan alat komunikasi massa berupa
> > HT,HP
> > (handphone), dan senjata api. Aparat terlihat
> > memberi pasokan
> > senjata tajam pada massa.
> >
> > Pengrusakan terjadi secara bergelombang.
> > Uniknya, provokasi
> > dilakukan dengan menggunakan kata-kata dan
> > istilah yang tidak
> > lazim digunakan di Ambon. Seperti menggunakan
> > kata Nasrani,
> > dan bukan Srani, kata umum yang dipakai untuk
> > menujukkan
> > kaum Kristen. Juga ditemukan selebaran
> > berbahasa Arab yang
> > ditulis dengan tidak benar.
> >
> > Sementara itu, di Ambon sendiri, situasi belum
> > bisa dianggap
> > pulih benar. Kamis dinihari, terjadi pelemparan
> > bom rakitan
> > sendiri pada beberapa tempat ibadah tertentu.
> > Pelemparan bom
> > itu dilakukan warga Desa Batu Merah dari atas
> > bukit ke desa di
> > sebelahnya.
> >
> > Pelemparan itu dibalas dengan warga yang
> > menjadi korban.
> > Bentrokan tidak bisa dihindarkan. Aparat
> > keamanan berusaha
> > meredam pertikaian dengan melepaskan tembakan.
> > Belum
> > diketahui dengan tepat berapa orang yang
> > menjadi korban
> > dalam peristiwa itu. Seorang ibu diketahui
> > mengalami luka
> > tembak di leher dan sedang dirawat di Unit
> > Gawat Darurat di
> > salah satu rumah sakit di Ambon.
> >
> > Hingga kini, situasi Ambon dan sekitarnya terus
> > diguncang
> > berbagai pertikaian kecil. Terakhir, bentrokan
> > terjadi di Pulau
> > Haruku, Maluku Tengah.
>