Anda hebat loh..., masih 'mempunyai' kata-kata....,
banyak orang yang even sudah engga mau ngomongin ini lagi....:(
--
At 15:54 18/02/99 -0500, Blucer Rajagukguk wrote:
>Maafkan jika kata-kata saya sangat kasar.
>Mengacu kepada laporan Munir yang sangat dikenal obyektif maka saya
>mengutuk para perusuh yang berjiwa binatang agar terkena balasan yang
>lebih sadis dan melihat keluarganya mati terbakar dan teraniaya oleh
>orang lain, sehingga merasakan betapa sakitnya dibakar dan dianiaya
>serta tidak berdaya melihat keluarga dibantai.
===
>Andrew G Pattiwael wrote:
>>
>> Penculikan Aktivis = Aparat Terlibat (Koppassus)
>> Penembakan Trisakti = Aparat Terlibat (Polri)
>> Kerusuhan Mei = Aparat Terlibat (Prabowo & Cs.)
>> Penembakan Atmajaya = Aparat Terlibat
>> Ambon Berdarah = Siapa ?
>>
>> Saya melihat untuk ke masa depan, profil ABRI mungkin tidak akan
>> dibutuhkan lagi. Semua kekerasan selalu berujung pada ABRI, entah itu
>> Oknum, Aktif, Elite, dll.
>>
>> ABRI diciptakan untuk memberikan RASA AMAN, tetapi peran ABRI sekarang
>> justru Menciptakan TERROR dan KEKACAUAN.
>>
>> Hanya anda-anda semua yang dimasa depan dapat menentukan perlu tidaknya
>> kita semua untuk mempertahankan Kekuatan Pertahanan
>>
>> Andrew Pattiwael
>> (Calon pengangguran jika ABRI dibubarkan) :)
>> *************************************************************************
>> Munir SH: Aparat Terlibat
>> Kerusuhan Ambon
>>
>> detikcom, Jakarta-Inilah temuan terbaru Kontras
>> (Komisi
>> untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan)
>> tentang kasus
>> Ambon, 19-23 Januari 1999 lalu. Lewat
>> koordinatornya, Munir
>> SH, Kontras menemukan keikutsertaan aparat
>> keamanan dalam
>> kerusuhan tersebut. Munir juga membenarkan
>> adanya preman
>> dari Jakarta yang didatangkan untuk mengobarkan
>> kerusuhan
>> tersebut.
>>
>> Keterangan Munir disampaikan pada wartawan di
>> kantor
>> Kontras, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis
>> (18/2/1999).
>> Menurut Munir, aparat ikut bergabung dengan
>> massa dalam
>> kerusuhan dengan mengenakan pakaian sipil dan
>> mengenakan
>> sorban putih. Senjata mereka juga dibalut
>> sorban putih.
>> Diperkirakan aparat itu berasal dari kesatuan
>> Kostrad.
>>
>> Selain itu, Munir juga menyatakan, kerusuhan
>> Ambon tidak bisa
>> dijauhkan dengan peristiwa bentrokan yang
>> terjadi pada 3
>> Maret 1995 maupun pada 21 Pebruari 1996.
>> Pertikaian ini
>> berhasil diselesaikan.
>>
>> Pertikaian besar meledak kembali pada 15
>> Januari 1999. Di
>> Desa Dobo, Ambon, terjadi perkelahian
>> antarkelompok yang
>> mengatasnakaman agama. Hal yang sama juga
>> terjadi juga di
>> wilayah Wailete dan Bak Air.
>>
>> Pada pertengahan Januari ada isu konflik
>> antaragama dan
>> bahaya saling menyerang antarkelompok agama.
>> Isu itu beredar
>> melalui selebaran yang berisi informasi yang
>> kian mempertajam
>> sentimen agama. Selain itu, Kontras juga
>> menemukan bukti
>> adanya pengerahan massa dari luar daerah Ambon,
>> menjelang
>> tanggal 19 Januari.
>>
>> Sedang kronologi peristiwa Ambon 19-23 Januari
>> 1999 temuan
>> Kontras adalah sbb:
>>
>> Kerusuhan meletus di 3 wilayah sekaligus
>> simpang tiga antara:
>> Batu Merah, Amantelu dan Galugggung, jalan
>> depan gereja Silo
>> dan daerah Rajali.
>>
>> Perkelahian preman di simpang tiga antara
>> ketiga daerah itu
>> justru tidak berhubungan dengan pertikaian
>> antarkelompok
>> agama yang telah terjadi sebelumnya.
>>
>> Di kalangan Kristen muncullah isu ada gereja
>> yang dibakar. Di
>> kalangan Islam ada isu masjid Al Fattah juga
>> dibakar. Padahal
>> tidak ada kebakaran pada obyek yang disebutkan.
>>
>> Kerusuhan 19 Januari lantas menyebar dan
>> melibatkan massa
>> besar di berbagai tempat. Antara pukul
>> 15.30-16.45 WITA di
>> Silo, kosentrasi massa mencapai 5.000-6.000
>> orang . Mereka
>> berdatangan akibat adanya isu akan mendapat
>> serangan dan
>> terjadi pembakaran gereja.
>>
>> Kosentrasi massa juga di daerah Mahardika,
>> Rijali, Waringin,
>> Kudamati, Arsarobar, Waehaum, dsb. Mereka
>> berusaha
>> mempertahankan gereja yang dihormati umat
>> Nasrani setempat.
>>
>> Sedang pada 20 Januari, berkembang isu Masjid
>> Al Fattah
>> dibakar. Akibatnya, reaksi massa dari Hila
>> secara serentak
>> berjalan ke Ambon. Mereka lantas terseret dalam
>> kerusuhan
>> dan penyerangan.
>>
>> Menurut Munir, laporan yang diterima Kontras
>> menunjukkan,
>> ada kelompok asing yang mempengaruhi akselerasi
>> massa
>> dengan bantuan alat komunikasi massa berupa
>> HT,HP
>> (handphone), dan senjata api. Aparat terlihat
>> memberi pasokan
>> senjata tajam pada massa.
>>
>> Pengrusakan terjadi secara bergelombang.
>> Uniknya, provokasi
>> dilakukan dengan menggunakan kata-kata dan
>> istilah yang tidak
>> lazim digunakan di Ambon. Seperti menggunakan
>> kata Nasrani,
>> dan bukan Srani, kata umum yang dipakai untuk
>> menujukkan
>> kaum Kristen. Juga ditemukan selebaran
>> berbahasa Arab yang
>> ditulis dengan tidak benar.
>>
>> Sementara itu, di Ambon sendiri, situasi belum
>> bisa dianggap
>> pulih benar. Kamis dinihari, terjadi pelemparan
>> bom rakitan
>> sendiri pada beberapa tempat ibadah tertentu.
>> Pelemparan bom
>> itu dilakukan warga Desa Batu Merah dari atas
>> bukit ke desa di
>> sebelahnya.
>>
>> Pelemparan itu dibalas dengan warga yang
>> menjadi korban.
>> Bentrokan tidak bisa dihindarkan. Aparat
>> keamanan berusaha
>> meredam pertikaian dengan melepaskan tembakan.
>> Belum
>> diketahui dengan tepat berapa orang yang
>> menjadi korban
>> dalam peristiwa itu. Seorang ibu diketahui
>> mengalami luka
>> tembak di leher dan sedang dirawat di Unit
>> Gawat Darurat di
>> salah satu rumah sakit di Ambon.
>>
>> Hingga kini, situasi Ambon dan sekitarnya terus
>> diguncang
>> berbagai pertikaian kecil. Terakhir, bentrokan
>> terjadi di Pulau
>> Haruku, Maluku Tengah.
>
>