Baguslah jika anda termasuk orang yang "concern" akan keadaan di
tanah air. "Andai-andai" saya HANYA saya tujukan buat orang-orang yang
yang "lupa diri" dan hanyut dalam kemewahan, tanpa mau peduli dengan
keadaan saudara-saudara kita di Indonesia. Kalau saya ber"andai-andai"
seperti itu, tak lain karena saya masih menyaksikan betapa masih banyak
orang Indonesia yang hidupnya ber"hura-hura" disaat krisis ekonomi yang
melanda negeri kita. Selama mereka masih berbuat demikian, tentunya kita
hanya bisa mengurut dada saja.., dan kata "andai-andai" akan tetap
ada.., dengan harapan suatu saat mereka menyadari kekeliruannya..,mau
merubah gaya hidupnya, dan tidak segan-segan membantu meringankan
penderitaan saudara-saudara kita di tanah air.

 Terima kasih atas Informasi saudara.., mudah-mudahan bermanfaat bagi
rekan-rekan yang lain. Tak usah khawatir.., saya bukan termasuk orang
yang berdiam diri saja melihat kesusahan saudara-saudara kita ditanah
air. Kegiatan pengumpulan sumbangan yang saudara lakukan, Alhamdulillah
telah sejak lama kami lakukan.., yang tentunya tidak seberapa jika
dibandingkan yang anda dan rekan anda lakukan.

Salam dari Virginia,

Mohamad Rosadi











>From [EMAIL PROTECTED] Mon Feb 22 17:48:45 1999
>Received: from [202.158.3.6] by hotmail.com (1.1) with SMTP id
MHotMailB89B53F91072ED101707ECA9E0306121D0; Mon Feb 22 17:48:45 1999
>Received: (qmail 280 invoked from network); 23 Feb 1999 01:56:37 -0000
>Received: from portland.cbn.net.id (HELO cbn.net.id) (202.158.3.4)
>  by willamette.cbn.net.id with SMTP; 23 Feb 1999 01:56:37 -0000
>Received: (qmail 17242 invoked from network); 23 Feb 1999 01:59:48
-0000
>Received: from unknown (HELO nawala.com) (202.158.26.211)
>  by portland.cbn.net.id with SMTP; 23 Feb 1999 01:59:48 -0000
>Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Sun, 21 Feb 1999 14:27:46 -0500
>From: Okki Soebagio <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>Organization: Soebagio Consulting Group
>X-Mailer: Mozilla 4.5 [en] (Win98; I)
>X-Accept-Language: en
>MIME-Version: 1.0
>To: Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]>
>CC: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [bincang] Cerita Sedih dari Tanah Air..:(
>References: <[EMAIL PROTECTED]>
>Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
>Content-Transfer-Encoding: 8bit
>
>Salam PERMIAS,
>
>Cerita sedih seperti ini banyak sekali di Indonesia.  Kalau kita hanya
>berandai-andai untuk membantu atau berandai-andai lainnya saja,
masalahnya tidak
>akan selesai or even tidak akan menjadi lebih kecil hanya karena kita
>berandai-andai.  Tindak nyata.  Ini yang kita perlukan.
>
>Teman-teman saya alumni SMP 12 Jakarta (angkatan kuliah '91) baru saja
bertemu
>untuk mengadakan reuni SMP angakatan kita yang pertama.  Salah satu
program yang
>akan kita jalankan adalah beasiswa bagi siswa yang kurang mampu
(financially) di
>sekolah ini untuk dapat terus melanjutkan sekolahnya.  Jika ingin
berpartisipasi,
>silahkan kontak saya di [EMAIL PROTECTED] langsung.  Pertanggungjawaban
dari
>penggunaan sumbangan anda akan didapatkan langsung dari kepala sekolah
>bersangkutan.
>
>Atau mungkin anda tidak 'konek' dengan ide diatas ?  Program lainnya
ada dari
>SPUR (Solidaritas Profesional Untuk Reformasi), untuk membantu para
korban
>kerusuhan Kupang.  Ada pemutaran film "Enemy of the State" sebagai
salah bentuk
>fundraising activities.  Silahkan email Hotasi Nababan
(ketua/koordinator SPUR?)
>langsung.
>
>Masih nggak konek ?  PILAS (Professional Indonesia Lulusan Amerika
Serikat)
>berencana untuk mengumpulkan dan mempromosikan berbagai
activities/programs dari
>LSM-LSM yang ada di seluruh Indonesia untuk kemudian dapat anda sumbang
secara
>terpisah/terperinci.   Jadi misalnya anda concern dengan issue
pendidikan anak
>Indonesia, anda bisa menyumbang langsung ke LSM bersangkutan yang
memang
>mempunyai program peningkatan kualitas pendidikan anak di Indonesia.
Or
>something like that..
>
>Target saya program ini sudah bisa jalan kira-kira 1 bulan dari
sekarang.  Please
>check PILAS's website at http://www.pilas.or.id (1 bulan dari sekarang
maksudnya,
>kalau sekarang masih belum ada apa-apanya).  All information on this
project will
>be posted at PILAS's website, so check it over.
>
>
>take care and regards from Jakarta,
>Okki
>
>
>
>Mohammad Rosadi wrote:
>
>> Assalamualaikum wr.wb
>>
>> Sedih sekali membaca berita dibawah ini. Benar-benar suatu perjuangan
>> berat untuk mempertahankan hidup di tengah-tengah kesulitan ekonomi,
>> sementara beratus bahkan beribu orang seolah tak peduli dan malah
sibuk
>> ber-"Valentine's Day" dan mengadakan acara-acara yang kurang
bermanfaat
>> lainnya, dengan menghambur- hamburkan begitu banyak uang.
>> Ah...., andai saja uangnya dibelikan sembako dan dibagikan kepada
>> saudara-saudara kita yang sudah tidak mampu lagi membeli makanan..,
>> andai saja berbagai hidangan berlebihan yang tersaji di meja pesta
bisa
>> juga dinikmati oleh para fakir miskin.., andai saja para anak muda
dan
>> orang-orang yang "kelebihan uang" itu mau mengeluarkan sedikit saja
>> uangnya untuk sedekah, andai saja..andai saja...dan andai saja yang
>> lainnya, Insya Allah akan banyak saudara-saudara kita yang dapat
kembali
>> "tersenyum ceria" menatap hari esok.
>>
>> Semoga berita dibawah ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita
>> semua....
>>
>> Wassalam
>> Mohamad Rosadi
>>
>>
>>
>>
======================================================================
>>
>> Demi Sekilo Beras, Anak-anak Jadi Pembantu
>>
>>
>> ''Saya terpaksa meninggalkan bapak dan kakak saya, karena
>>   saya harus bekerja untuk membantu mereka,'' kata Canih (11),
>>   dengan nada getir. ''Saya juga tak bisa sekolah lagi, tak ada
>>   biaya.''
>>
>>   Dijumpai di rumahnya, di Kampung Kaceot, Desa Tunggakjati,
>>   Karawang, Kamis (18/2), gadis berkulit hitam ini bercerita
>>   sambil menunduk dan menelan ludah, mencoba
>>   menyembunyikan beban kesedihannya. ''Saya terpaksa bekerja
>>   di warung nasi,'' katanya.
>>
>>   Nasib Canih memang cukup menyedihkan. Orangtuanya yang
>>   hanya buruh kasar tak mampu lagi menanggung beban hidupnya,
>
>>   kibat tekanan ekonomi dan terus meroketnya harga sembako.
>
>>
>>   Canih harus menjadi pekerja cilik -- sesuatu yang sesungguhnya
>>   melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan.
>>
>>   Tapi, Canih tidak sendiri. Di Indonesia sekarang ini ada ribuan,
>>   bahkan jutaan Canih -- anak-anak yang terpaksa mencari
>>   nafkah akibat krisis ekonomi. Dengan berbagai cara, mereka
>>   terpaksa menanggung hidup sendiri atau mencari tambahan
>>   penghasilan untuk keluarganya. Yang memilih menjadi anak
>>   jalanan saja, menurut Sekjen Departemen Sosial H Murwanto,
>>   saat ini sedikitnya ada 12.000 anak.
>>
>>   Di kampungnya, Canih juga tidak sendiri. Di dekat rumahnya,
>>   misalnya, ada Eti (10), juga terpaksa menjadi pebantu rumah
>>   tangga. Dan, jangan kaget, gaji mereka sebagai pembantu, baik
>>   di warung nasi maupun di rumah tangga, sangat kecil, jauh di
>>   bawah upah minimun regional (UMR). Canih maupun Eti
>>   mengaku hanya mendapatkan gaji Rp 30.000 per bulan atau Rp
>>  1.000 per hari. ''Gaji itu saya berikan pada ibu untuk membeli
>>  beras,'' kata Canih.
>>
>>  Namun, di tengah perjalanannya, Eti tersandung. Gadis yang
>>  tampak masih sangat kanak-kanak ini bernasib sama seperti
>>  ayahnya yang mantan sopir. Ia diberhentikan dari pekerjaannya
>>  karena majikannya sudah tidak mampu menggajinya.
>> ''Warungnya bangkrut,'' cerita Eti.
>>
>>  Jadilah Eti, dua kakak, dua adik, dan ayahnya, menjadi beban
>>  ibunya, Ny Iin (35), yang sehari-hari berjualan makanan kecil.
>>  Keuntungan kecil dari berjualan terpaksa dicukup-cukupkan
>>  untuk makan sehari-hari tujuh anggota keluarga. ''Untuk membeli
>>  beras saja sering tidak cukup. Ya, kadang-kadang terpaksa
>>  hanya makan sekali dalam sehari,'' kata Ny Iin.
>>
>>  Namun, Canih masih harus bertahan menjadi pembantu. Sebab,
>>  di gubuknya yang berlantai tanah, di pinggir Sungai Citarum, ada
>>  ayah yang sering sakit-sakitan sejak ibunya meninggal dua tahun
>>  lalu, dan seorang kakaknya yang menderita gangguan jiwa.
>>  ''Kalau saya tidak bekerja, bagaimana dengan bapak dan kakak
>>  saya?'' katanya.
>>
>>  Tidak jauh dari rumah Canih dan Eti, ada juga seorang nenek
>>  yang harus bertahan dengan uang hasil belas kasihan. Dia, Ny
>>  Anah (60), saat ditemui di gubuknya malah sempat bersembunyi,
>>  dan menolak difoto karena takut harus bayar. Nenek dua cucu
>>  ini sehari-harinya mengasuh dua cucu yang masih balita,
>>  sementara ibunya sedang pergi mencari jariah.
>>
>>  Telapak kaki kanan Ny Anah tampak membusuk. Ia
>>  menderita sakit sejak lama, namun belum bisa berobat
>>  karena tidak ada uang. ''Jangankan untuk berobat, untuk
>>  makan pun tidak ada,'' katanya sambil membujuk cucunya
>>  yang bersembunyi di bawah tempat tidur karena takut
>>  difoto.
>>
>>  Canih dan Eti juga hanya sebagian kecil dari ribuan anak
>>  Karawang yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah
>>  dan mencari nafkah untuk keluarganya. Dengan gaji Rp
>>  1.000 per hari, mereka menyambung hidupnya sendiri dan
>>  keluarganya. Dengan uang itu pula mereka tiap hari
>>  membeli satu kilogram beras operasi khusus Dolog yang
>>  harganya memang hanya Rp 1.000 per kg yang memang
>>  dikhususkan bagi keluarga miskin.
>>
>>  Canih dan Eti tentu masih terlalu muda untuk memikul
>>  beban hidup keluarganya. Tapi, hidup tidak memberikan
>>  pilihan pada anak usia sekolah dasar ini, kecuali menjadi
>>  pembantu. ''Daripada lapar,'' kata Canih. Sebelumnya gadis
>>  ini ditemukan lemas karena sejak dua hari makannya hanya
>>  satu kali. ''Itu pun hanya nasi dan air putih,'' akunya.
>>
>>  Kepahitan hidup seperti Canih, Eti, dan Ny Anah banyak
>>  ditemukan di Karawang, sejak jauh sebelum krisis ekonomi,
>>  dan jumlahnya membengkak setelah krismon. Tercatat di
>>  kantor BKKBN setempat ada 121.817 kepala keluarga (KK)
>>  miskin pada Januari l999. Sebelumnya, pada Desember l998
>>  ada 117.735 KK miskin -- dalam satu bulan bertambah
>>  4.082 KK. Jika dalam satu KK ada lima jiwa, maka di
>>  Karawang ada 609.085 jiwa yang miskin. Ini berarti hampir
>>  separo penduduk Karawang yang berjumlah l,5 juta jiwa.
>>
>>  Jumlah itu, kata Kepala Kantor BKKBN Karawang, Dedi
>>  Suwesdi, Kamis (18/2), akan terus bertambah jika kondisi
>>  ekonomi masih tetap seperti sekarang. Posyandu hampir 50
>>  persen tidak melakukan kegiatan. Dan, tekanan mengikuti
>>  pola makan sehat pun tidak didukung oleh gizi yang
>>  berimbang. Jangankan bisa minum susu, makan ikan atau
>>  telor pun hanya mimpi.
>>
>>  Bagaimana dengan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS)?
>>  Dana JPS tampaknya belum dapat menyantuni semua
>>  keluarga miskin. Di Kampung Kaceot, misalnya, menurut
>>  Ketua RT-nya (05/13), Acim, dari sekitar 20 KK miskin di
>>  wilayahnya, yang menerima dana JPS hanya lima KK.
>>  'Satu KK menerima Rp 100.000. Namun uang tersebut
>>   harus dikembalikan dan umumnya dipergunakan untuk
>>   membeli beras. Maklum warga di sini umumnya buruh tani
>>   dan sekarang belum panen,'' kata Acim.
>>
>>  Karena rata-rata buruh tani, wargga Kampung Kaceot, 15
>>  KM dari kota Karawang, hanya bekerja pada musim tanam
>>  dan musim panen. Itu pun mereka harus berebut dengan
>>  yang lain. ''Musim peceklik tahun ini dirasakan sangat berat
>>  oleh warga, karena harga kebutuhan pokok meningkat dan
>>  kerja serabutan di tempat lain nyaris tidak ada,'' keluh
>>  Acim.
>>
>>  Karena itu, lanjut Acim, banyak keluarga yang terpaksa
>>  memberhentikan anaknya dari sekolah dan merelakan
>>  mereka untuk bekerja seadanya, termasuk menjadi
>>  pembantu, buruh pasar, atau bahkan anak jalanan.
>>
>>
>>
>>
>>
>>                             [HOME ] [INDEX LENGKAP] [BERITA UTAMA]
>> [NASIONAL] [EKBIS]
>>                               [NUSANTARA] [METRO] [INTERNASIONAL]
>> [HIBURAN] [OPINI]
>>                        [IPTEK-KESH] [SUPLEMEN] [OLAHRAGA] [KONTAK
KAMI]
>> [BERITA LALU] [TELUSUR]
>>
>>                                     Diterbitkan oleh Republika Online
>>                                    Hak Cipta � PT Abdi Bangsa 1999
>>
>>
>>
>> ______________________________________________________
>> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>
>>
-----------------------------------------------------------------------------
>> To subscribe: send a blank email to: [EMAIL PROTECTED]
>> To unsubscribe: send a blank email to:
[EMAIL PROTECTED]
>> This mailing list sponsored by http://www.webIndonesia.com
>>
-----------------------------------------------------------------------------
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke