Menarik sekali ulasan dari Bhima ini.
Tertangkap kejernihan berpikir didalamnya, yang akhirnya membuahkan
sebuah analisa yang rasional dan logis serta tidak dilandasi oleh emosi.
Gimana kalau ditambahin dikit..??
Selain lack of control of emotion yang kadang2 menjadi trend di
diskusi kita ini (khususnya kalau sudah menyangkut masalah keagamaan,
saya juga menagkpa trend lain, yang mungkin juga terjadi pada saya.
Yaitu, bahwa kadang2 kita memberikan tanggapan atas tulisan rekan
hanya karena faktor "pokoknya ngasih komentar," walaupun seringkali
tanggapan yang disampaikan agak kurang relevan dengan inti
permasalahan yang sedang di diskusikan. Ini juga saya rasakan terjadi
pada diri saya sendiri, karena saya memang bukan orang yang pinter
nulis dan membikin analisa yang canggih seperti rekan2 lainnya. Hanya
saya menangkap kesan bahwa terkadang kita sering terjebak untuk
menanggapi tulisan rekan yang lain hanya berdasarkan satu point yang
kecil dalam tulisan itu, yang mungkin kurang "sreg" di benak kita, dan
kemudian kita kembangkan menjadi argumen yang panjang lebar, regarless
of tanggapan kita sudah keluar dari konteks yang sedang dibicarakan
atau tidak.
Sering kali kita melihat sebuah diskusi yang akhirnya melebar kemana2
dan jauh meninggalkan inti dari pembicaraan, dan seringkali pula kita
end up dengan debat kusir yang kebanyakan bertitik tolak pada masalah
agama.
Saya rasa akan sangat bagus kalau kita belajar berpikir dan
mengemukakan pendapat serta menghargai pendapat orang lain seperti
tulisan Bhima tersebut.
Dodo
(lagi belajar nulis)
========================================================================
........deleted..
Situasi in-group dan out-group ini
> > sebenarnya fakta yang sudah lama diingatkan oleh para sosiolog.
Keseleo
> > lidah sedikit akan dapat memicu amuk massa. Apalagi kalau keseleonya
> > banyak dan sering sekali. Di forum Bincang ini yang notabene
warganya
> > memiliki latar belakang pendidikan yang baik (setidaknya bisa main
> > e-mail), seringkali emosi lebih berperan dalam diskusi, apalagi
> > saudara-saudara kita yang langsung mengalami persoalan di sana.
> >
> > Karena menyangkut sifat dasar atau alami manusia tadi, maka
penyelesaian
> > atau penanganan persoalannya seharusnya juga senatural mungkin.
Jangan
> > pakai deklarasi bersama atau pernyataan damai yang diprakarsai
> > (baca:dipaksakan) oleh aparat seperti masa lalu yang maunya cepat
selesai.
> > Itu sebabnya projek-projek yang hanya mengejar target waktu,
hasilnya pada
> > umumnya berantakan.
> > Teoritis kedengarannya? Betul sekali karena memang pada dasarnya
yang saya
> > ingin kemukakan adalah bagaimana mendewasakan pola berpikir kita
sebagai
> > orang Indonesia MUMPUNG (sorry lagi) sedang ada di negeri orang
(ada cukup
> > jarak untuk melihat Indonesia) agar tidak mudah terjebak
> > pemikiran-pemikiran yang terlalu sempit atau pun sebaliknya
terlalu luas
> > sehingga tidak jelas lagi batas-batasnya. Ada koridor yang cukup
luas bagi
> > kita untuk bekerja sama dan bergaul tanpa harus menjadikan
perbedaan agama
> > sebagai ganjalan di antara kita. Sayangnya tidak semua orang mau
> > memanfaatkan koridor ini atau justru cenderung mengabaikan
batas-batasnya.
> > Kalau kita yang sekolah di Amerika saja masih berpola pikir garis
keras,
> > apalagi saudara-saudara kita yang ada di seberang sana yang
mengalami
> > kekerasan itu dalam arti yang sebenarnya.
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com