Saya forwardkan satu berita. Email ini saya maksudkan agar kita
mendapatkan gambaran lain tentang skala kerusakan yg ada,
bukan untuk bahan gontok-gontokan baru.


Salam,
Eyang Troy

'----------------------------
   05 Mar 1999

    Kesaksian Imam Masjid Al Fatah Ambon
    Setelah 1,5 bulan berlangsung, kerusuhan di
    Ambon hingga kini belum juga padam. Banyak
    pihak yang menganggap kecil kerusuhan yang
    menurut versi ABRI telah menelan korban 159
    jiwa -- versi Posko Partai Keadilan lebih dari
    seribu jiwa. Cerita penderitaan rakyat Maluku
    itu pun masih simpang siur. Bahkan, menurut
    Imam Besar Masjid Al-Fatah Ambon H Abdul Azis
    Arby, banyak cerita yang ditutup-tutupi. Untuk
    memperjelas pemahaman tentang kasus Ambon, di
    bawah ini penurutan Abdul Azis seperti yang ia
    kemukakan kepada pers di masjid Al-Azhar,
    Jakarta, Kamis (4/3). Kisah ini hanyalah
    sepenggal kisah yang ada di pulau Maluku. Masih
    banyak kisah lain yang belum terungkap.

    ''Kejadian Ambon membuat kita sangat-sangat
    terpojok. Kita berada di pihak yang selalu
    diserang. Umat Islam tak pernah memulai
    peperangan itu dari mulai terjadinya
    penyerangan pertama di Desa Wailette, di Desa
    Paimiri, dan di Desa Airbah sebelum Ramadhan.
    Tiga desa ini merupakan test case. Mereka
    menyerang umat Islam dan membakar
    perkampungannya, tapi umat Islam tidak
    bereaksi.

    Bukan umat Islam tidak sanggup menyerangnya,
    tapi selalu para pejabat dan arapat di sana
    menyatakan tidak usah dibalas diserang biar
    mereka yang menanganinya. Tapi karena tidak ada
    pembalasan dari umat Islam, maka terjadilah
    tragedi Idul Fitri berdarah 1 Syawal 1409 H (19
    Januari 1999) di mana umat Islam sedang
    merayakan Idul Fitri. Jadi kita tidak tahu sama
    sekali. Tiba-tiba kita dikejutkan dengan
    serangan mereka.

    Namun opini diputarbalikkan. Seakan umat Islam
    yang memeras sopir angkot bernama Yopie. Justru
    Yopie itulah yang menyewa angkot orang Islam
    dari orang Bugis dengan harga dan waktu yang
    telah disepakati. Tetapi ketika tiba waktunya,
    dia mengingkari untuk membayar. Akhirnya, Usman
    kernet yang ditugaskan untuk meminta uang,
    marah. Kemudian kernet itu diserang dan lari ke
    Batu Merah minta pertolongan. Dua pemuda
    kampung keluar menolong Usman. Tetapi tiba-tiba
    pemuda-pemuda lawan dari Kampung Mardika
    menyerang pemuda-pemuda Islam dengan panah
    beracun, tombak beracun, dan parang.

    Pemuda-pemuda Islam keluar dengan tangan kosong
    karena tidak punya persiapan apa-apa. Setelah
    itu kita pun melihat serangan bertubi-tubi
    membabi-buta. Akhirnya bambu di rumah kita
    runcingkan, kayu pun kita runcingkan dan batu
    pun kita gunakan sebagai alat untuk membela
    diri.

    Pada saat yang sama, itu terjadi pukul 16.00
    sore, perkampungan Islam Gang Diponegoro
    diserang. Kemudian di Jalan Baru di depan
    Masjid Agung Al-Fatah juga diserang, Waihong
    diserang, Cilale diserang, tanah lapang kecil
    diserang pada jam yang sama. Begitu juga Desa
    Batugantung. Mereka semuanya menyerang rumah
    umat Islam. Berarti mereka sudah mempunyai
    rencana betul-betul matang, sedangkan umat
    Islam tidak mempunyai persiapan apa-apa. Itulah
    yang terjadi di Ambon. Sedangkan aparat yang
    ada itu kebanyakan bukan orang Islam, di mana
    mereka menyerang kita. Kita diperintahkan untuk
    mundur dan masuk saja ke dalam mempertahankan
    kampung. Begitu kita masuk ke dalam, mereka pun
    kembali menyerang. Aparat-aparat membiarkan
    mereka menyerang kita seenaknya. Kita balas
    menyerang untuk membela diri, kemudian
    aparat-aparat itu menembaki kita. Jadi kita
    sekarang berhadapan dengan aparat. Kalau kita
    diserang dan balik menyerang, kita berhadapan
    dengan senjata-senjata sedangkan kita tidak
    mempunyai apa-apa.

    Begitu juga kejadian terakhir di Amuru, Desa
    Rejani. Umat Islam betul-betul sedang
    melaksanakan shalat Subuh, bukan seperti yang
    dibicarakan dan disiarkan di media massa. Jadi
    mereka betul-betul sedang melaksanakan shalat
    Subuh kemudian dibantai aparat kepolisian. Dua
    orang meninggal langsung di dalam masjid, dan
    satu yang di luarnya. Yang meninggal adalah
    mahasiswa STAIN, yang menelepon saya adalah
    murid saya Abdul Rasyid namanya. Dua orang
    meninggal dalam masjid dan beberapa lainnya
    luka-luka.

    Di samping itu juga, satu keluarga dibantai.
    Tapi sebelum dibantai habis diikat seluruh
    tubuhnya kemudian dimasukkan ke dalam lumpur
    baru kemudian dibantai di dalam lumpur itu.
    Saudara Abdul Rasyid ini yang mengambil
    jenazahnya di Kepolisian. Semuanya dalam
    keadaan berlumpur. Itulah yang terjadi di Ambon
    sebenarnya. Jadi kita bukan pihak yang
    menyerang, tapi pihak yang diserang.

    Kemudian saya minta kepada ulama-ulama di sana,
    bagaimana caranya mengatasinya. Ulama-ulama
    harus mengeluarkan seruan. Tapi hanya ustazd
    Ali Fauzi yang berani. Sedangkan Majelis Ulama
    Indonesia sendiri, Pak Rusdi Hasanuddin tidak
    berani karena maklum Pak Rusdi adalah polisi.
    Jadi beliau berada di bawah perintah atasannya.
    Kalau Pak Rusdi tidak mau, ya ulama-ulama yang
    lainlah memberikan seruan jihad.

    Jadi kita bukan orang-orang Islam yang ekstrem,
    tidak. Kita selalu berada di pihak yang
    diserang. Kalau kita diam saja kita akan mati
    konyol. Membela diri hukumnya wajib.

    Jadi ketika kejadian pertama, kita berada di
    pihak yang diserang dan tidak mempunyai senjata
    apa-apa. Banyak saudara-saudara kita yang kena
    panah beracun. Kemudian kita bawa
    saudara-saudara kita ke rumah sakit umum yang
    berada di Desa Kuda Mati. Desa Kuda Mati adalah
    basis mereka. Jadi saudara kita yang kita bawa
    ke Kuda Mati untuk diobati, ternyata bukannya
    diobati, tetapi malah dibunuh.

    Bahkan, semuanya pasien diperiksa KTP-nya satu
    per satu. Bila KTP-nya Muslim, maka mereka
    dihabiskan. Dan banyak ibu-ibu yang datang
    untuk melahirkan, tapi malah dibunuh. ''

Kirim email ke