Ini posting saya yg terakhir tentang Ambon. Sorry panjang....

Amien Rais mengundang macan masuk ke rumah?
Tokoh satu ini yang digadang-gadang jadi pemimpin bangsa
mungkin melangkah terlalu jauh untuk melakukan move politiknya.
Kita tidak tahu bagaimana Pak Amien menjelaskan bahwa
bentuk intervensi AS yg diinginkan hanya berupa intervensi moral saja.
Kita juga tidak tahu batas kemampuan Pak Amien bila AS
(baik sengaja atau tidak) menterjemahkan permintaan Pak Amien
secara keliru. Lagi pula pemimpin besar tidak pernah meminta
bantuan negara asing untuk menyelesaikan masalah dalam
negeri. Sesulit apapun kondisi yg ada.

Di lain pihak saya juga menyadari kefrustasian Pak Amien dalam
penyelesaian Ambon dan Banyuwangi. Pada saat kasus Mei thd
WNI Keturunan merebak semua ikut mengecam, tidak perduli
suku dan agama. Beberapa ketidakpuasan anggota masyarakat
muslim dengan pengeksposan salah satu agama sebagai pelakunya
dapat diredakan (Teriakan "Allahu Akbar" oleh perusuh dan pemerkosa).
Bahkan milis keislamanpun tak kalah garang dalam mengutuk kebiadaban
tersebut.

Hal yg berbeda ternyata terjadi pada 2 kebiadaban di Banyuwangi
dan Ambon. Jumlah korban jiwa pada kedua tempat ini sudah jauh
melebihi jumlah korban peristiwa Mei, namun kesatuan pendapat dari
masyarakatpun belum tercapai. Umat Islam di sini harus mengkonsolidasikan
diri sendiri untuk membantu saudara-saudaranya di Ambon. Tidak ada
(sedikit) respon dari umat yg lain. Hal ini agak menyulitkan penyelesaian
masalah ini.

Mbak Henny Halim menanyakan mengapa kita hanya membicarakan
problem saja tanpa berusaha membicarakan penyelesaian masalah.
Sebetulnya tidak tepat juga. Bung Andrew kalau tidak salah pernah
posting cara menyelesaikan masalah. Lagipula sebetulnya kita
mesti menanyakan kembali ke diri kita. Apakah memang kita sudah
mengerti problem yang ada di Ambon? Kalau saya sendiri kok
terus terang belum mengerti duduk persoalan sebenarnya. Bila
kita tidak mengerti masalahnya, bagaimana kita membicarakan
solusi?

Berbagai skenario dimunculkan oleh orang-orang. Saya coba tuliskan
beberapa:
- Sekedar gontok-gontokan antar warga berbeda agama yg berkembang
  menjadi perkelahian antar kampung dengan latar belakang agama
  yang bercampur dengan latar belakang etnis.
- Preman Ambon yg terusir dari Jakarta saat kejadian Ketapang, dan
  membalas dendam pada para pendatang di Ambon.
- Provokator yg didatangkan oleh orang-orang berkekuasaan tinggi
  untuk menciptakan instabilitas di wilayah-wilayah yg rawan, demi
  mencapai kepentingan politiknya.
- Provokator yg didatangkan oleh orang-orang berkekuasaan tinggi
  untuk menciptakan instabilitas di wilayah-wilayah yg rawan, demi
  memuaskan dendam akibat tergusur dari lingkaran kekuasaan.
- So on and so forth. Tak terhingga.

Bila skenario di atas berskala lokal dan nasional, Dosen Ilmu Pemerintahan
UGM Mashuri Maschab dalam diskusi di DPW PAN mengemukakan
konspirasi berskala internasional. Provokator didalangi oleh pihak luar
Indonesia, dengan mengincar posisi geografis Maluku yang strategis
untuk pangkalan militer negara adikuasa. Sangat menarik karena diskusi
dilakukan oleh PAN. Lantas bila kita kaitkan dengan move Amien bagaimana?
Mengapa Amien menempelkan diri pada adi kuasa yg mungkin juga di balik
peristiwa ini (Memang ada adikuasa lain?).

Bagaimanapun juga mesti balik lagi ke masyarakat kita. Apa mau dijadikan
wayang yang mudah dimainkan dalang atau tidak. Saat ini menurut saya
langkah menurunkan aparat keamanan sebanyak-banyaknya adalah yg
terbaik. Kerusakan sistem sudah demikian parah. Aparat keamanan dan sipil
lokal sudah tidak dapat diharapkan lagi. Langkah ini sudah dilakukan Wiranto.
Sayang ini sekedar Bodrex, obat penurun panas belaka. Lalu apa obat
mujarabnya? Kita mesti balik lagi ke obat tradisional yaitu TEPO SELIRO atau
tenggang rasa. Tidak ada obat artificial lain yg ampuh kecuali jamu yg
setengah alami ini. Tidak ada yang dapat menolong masyarakat Ambon
kecuali mereka sendiri. Kita mungkin dapat kumpulkan uang untuk membantu
membangun rumah-rumah mereka lagi. Lebih dari itu? Doa mungkin....


Salam,
Eyang Troy.

--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke