Yang pasti bukan dari harian Kompas :
(R) 5 Maret 1999
======================================
Resonansi
Bosnia, Kosovo, Ambon...!
Oleh Zaim Uchrowi
Innalillahi wainna ilaihi rajiun Jangan sedih
kawan, walau
tubuhmu dicabik-cabik oleh pedang, oleh peluru,
juga oleh
kebencian yang sama sekali tanpa akal sehat.
Wangi darahmu
bukan hanya tercium nanti di surga. Namun juga
telah tersebar
kini di relung-relung kami yang sungguh-sungguh
percaya pada
'jalan damai'.
Bukan kami --yang kau tinggalkan-- tak punya air
mata, kawan!
Bukan kami tanpa rasa prihatin. Namun, bukankah
kita pantang
menyesali nasib. Apalagi meratap-ratap agar
dikasihani.
Bukankah kita telah berikrar untuk tetap
menegakkan kepala.
Apa pun yang menimpa.
Sejarah mengajar bahwa jalan yang kita lalui
memang tak selalu
mudah. Terkadang malah terlalu pahit dan
berliku. Seperti yang
kalian alami, kini.
Maka, tersenyumlah. Tengoklah Muhammad Sang
Rasul. Bukan
hanya timpukan tahi unta dan caci maki yang
harus ia
tanggungkan di hari-hari awal perjuangannya.
Namun juga
kepalan-kepalan batu. Anak panah pun sempat
merobek
bibirnya. Bukan sekali pula mata pedang
tertempel di lehernya.
Lalu apa yang kemudian dilakukannya. Di saat
kemenangannya
yang paling puncak sekalipun, yakni penaklukan
Mekah. Tak
setitik pun darah diteteskan. Tak satu bata pun
bangunan
dirubuhkan.
Tengoklah pula betapa ksatria Salahuddin
Al-Ayyubi di Perang
Salib. Ia sendiri menyamar dan menyusup ke tenda
musuh
besarnya, Richard si Hati Singa. Jika mau, ia
dapat memenggal
leher lawannya dan memenangkan perang. Tapi
tidak. Ia memilih
untuk mengobati. Ia menunda pertempuran hingga
lawannya
benar-benar sembuh.
Itu jalan terhormat yang selama ini telah --dan
akan selalu-- kita
junjung, kawan. Jalan yang kita telah bersumpah
setia untuk
menempuhnya. Meskipun 'sebagian mereka'
menyambut pilihan
kita dengan cara yang sangat tidak senonoh.
Kita tak pernah lupa pada hawa pengap di daratan
Spanyol
abad pertengahan. Yakni saat tentara
Ferdinand-Issabella
mengejar-ngejar semua saudara kita (juga
orang-orang Yahudi),
mencincang dan membakarnya hingga lumat. Tak
seorang pun
tersisa.
Atas nama kebenaran, mereka hancurkan pintu
peradaban yang
telah membikin terang Eropa. Mereka mengaku
pengikut Sang
Juru Damai, namun memenggali leher pemeluk teguh
'Jalan
Damai' (Arti kata 'Islam' adalah 'Damai').
Mereka menuding kita
menggenggam kitab suci di satu tangan dan
menggenggam
pedang di tangan lainnya, namun mereka yang
mempraktekkannya secara sempurna.
Darah dan abu puluhan ribu saudara kita, mereka
jadikan
sebagai bagian prosesi mengawali 'misi suci'.
Yakni menjarah
dan menjajah dunia dengan label kolonialisme
untuk
mengajarkan peradaban. Abad-abad berikutnya,
mereka
memancing-mancing kita dengan tudingan
'fundamentalis' dan
malah 'teroris'. Lalu mereka terbahak-bahak
ketika sebagian
kita menjadi marah, atau malah terpancing
menjadi teroris.
'Religion cleansing' itu pula yang dipentaskan
di Bosnia dan
--kini-- Kosovo. Sekarang, di saat kita masih
ternganga dengan
tragedi di Eropa, mereka melakukannya di sini.
Di Ambon
(setelah sebelumnya di Kupang dan Dili). Mereka
tak merasa
cukup menumpahkan darah di saat Idul Fitri.
Mereka pun ingin
membantai kalian di saat kalian seharusnya
khusyuk shalat
Subuh.
Kehormatan telah menjadi milik kalian
selama-lamanya, kawan!
Jangan berkecil hati. Meskipun para penguasa
sibuk
menutup-tutupi kenyataan sebenarnya: seolah yang
terjadi
adalah konflik biasa dan bukan pemerangan
terhadap agama.
Mereka mengaku hendak menjaga perdamaian.
Sepertinya kita
adalah si penyimpan dendam kesumat yang akan
menghalalkan
segala cara.
Benar, sebagian kita memang masih gampang
meletup emosi,
seperti dalam kasus Ketapang. Tapi kita tak
pernah sebiadab di
Ambon: membantai warga di saat ibadah. Di
Ketapang, yang
tewas adalah para preman pembuat onar. Toh kita
semua masih
mengutuk perusakan -- apalagi terhadap gereja.
Sebuah
perilaku yang sangat tidak Islami.
Kasihanilah mereka, para pejabat itu. Mereka
adalah
sosok-sosok yang lemah dan kerdil hati.
Kegagahan duniawi
mereka sama sekali tak setara dengan kehormatan
kalian.