Keberadaan Gus Dur dengan segala eksentrisitasnya dapat dikatakan
perlu. Paling tidak untuk memberikan isyarat, dan sekaligus memberikan
kewaspadaan kepada orang yg mendengarkannya. Isyarat untuk menjadikan
masyarakat sadar dengan suatu issue yg beliau lemparkan, dapat saya contohkan
adalah usulan mengganti/mambahasaindonesiakan salam "Assalamualaikum wr wb"
menjadi selamat pagi, dll. Kemarahan dan kejengkelan umat dan beberapa tokoh
saya kira justru membahagiakan Gus Dur sebagai tokoh Islam. Toh tidak perlu
memberikan penjelasan yang straight forward untuk membuat sadar, atau untuk
mendidik, atau untuk menyentil baik kawan, lawan politik, ataupun masyarakat
umum.

Untuk ulah Gus Dur yang terakhir ini, mungkin dapat kita terjemahkan menjadi
demikian (tentu saja tidak menutup kemungkinan lain):
- memang kehadiran provokator atau dalang tingkat tinggi ternyata ada?
  Atau dengan kata lain tidak mungkin sekedar pukul-pukulan antara sopir
  angkutan umum dan penyewa mobil.
- (sekelompok) militer ada di balik peristiwa Ambon? (Dengan penyebutan
  Mayjen).
Gusdur yg mempunyai intelektualitas yg tidak perlu disangsikan lagi tentu
sadar bahwa segala kata yang keluar dari mulutnya akan didengar orang.
Tentunya semuanya sudah dipikir masak-masak. Tinggal kita yang harus
pandai-pandai menterjemahkannya. Mesti pandai ngeluarin wiji dari bungkusnya
yg kadang berduri. Untuk kasus ini, justru mestinya pihak militer yg
tersentil hebat, bukan kita, bukan pula perseorangan di kalangan militer.

Mengapa banyak yg percaya? Tentu saja banyak yang percaya. Sepak terjang Gus
Dur tidak dapat dianggap enteng. Setiap kata yg keluar darinya mengandung
arti yang dalam, hasil dari a.l. pengalamannya. Bahkan Pak Harto yang mencoba
mengguncang NU pun gagal total (ehm, hampir berhasil tuh). Habibie dan
pejabat tinggi lainnya memerlukan datang ke rumahnya, paling tidak kita tahu
bahwa Gus Dur punya sesuatu. Sayang beliau sudah sepuh. Sebagai orang yg
pernah berkali-kali "disusahkan" oleh Pak Harto, Gus Dur masih mau bertandang
ke rumahnya. Saya kira jarang orang yg mampu mengendapkan rasa sakit hati
seperti ini (melawan arus). Belum lagi kerepotan untuk memperhitungkan
gunjingan atau kemarahan dari para tokoh dan masyarakat umum, tak terkecuali
kemarahan dari umatnya sendiri, akibat langkah yg tidak populer ini. Mungkin
kita mesti mengingat kembali sepak terjang dia bahkan jauh sebelum AR
terdengar suaranya.

Soal Banyuwangi, yang dibantai adalah umatnya. Justru mestinya kita salut
dengan kesabaran/kearifannya untuk tidak gegabah mengeluarkan statement. Saya
tidak dapat membayangkan bagaimana kalau Gus Dur tiba-tiba meminta umatnya
bergerak melawan keangkamurkaan thd mereka. Pasti kerusuhan akan melebar ke
mana-mana.


Salam,
Jaya



On Mar 8,  7:00pm, Mohammad Rosadi wrote:
> Subject: Kata-kata berbahaya !
>     Bukan Gus Dur namanya kalau tidak bikin heboh suasana dengan
> kata-katanya .....
>
> Mula-mula menuduh AS sebagai dalang pembantaian banyuwangi, lalu menjadi
> ES, lalu menyebutkan orang berinisial Y sebagai dalang kerusuhan di
> Indonesia timur, kemudian dalangnya bertambah dengan org berinitial
> Brigjen K..., eh kemudian di ralat jadi Mayjen K. Ketika org yg merasa
> mempunyai nama Mayjen K (Kivlan Zein) mengkonfirmasi, Gus Dur mengelak
> lagi. Gus Dur..Gus Dur...., tak selayaknya dikau berbuat seperti
> itu...., pitnah tu namanya.....
>
> Pertama AS,lalu ES,terus Y, terus Brigjen K, terus mayjen K, nanti bang
> A, Cak Z,bu S,satpam C,kemudian badut J,kernet U,kopral T,terus
> I,H,terussssssssssssssss......sampe habis semua abjad.
> Herannya walaupun sudah begini.., masih aja banyak yg percaya.....
> Ya...beginilah kalau orang sudah dikultuskan atau sengaja dikultuskan,
> apapun yg dikerjakan selalu dibenarkan ...
>
>
> Salam
> Mohamad Rosadi
> Virginia, USA

Kirim email ke