Setuju Mas Brawijaya.
Buat saya pribadi Gus Dur adalah tokoh yang misterius tetapi selalu
dibelakang rakyat. Dengan mata batinnya (bukannya mengkultuskan beliau
lho :) beliau mampu melihat persoalan dengan jernih. Sementara banyak
orang mengesampingkan Soeharto, gus dur malah melihat bahwa soeharto
adalah salah satu elemen penting yang perlu diperhatikan. Sebenarnya
pemikiran beliau yang sedehana namun amat kritis ini sangat wajar.
Bagaimana mungkin seorang yang sudah berkuasa 32 tahun dan diduga
memiliki harta Rp400 triliun, dimana tangan dan kakinya bebas bergerak
(tidak seperti saat soeharto memperlakukan soekarno, dimana baik, kaki,
tangan, mata dan telinga dibuat tidak berfungsi) tidak diperhitungkan.
Hanya yang berlandaskan emosi dan tidak rasional saja yang tidak
memperhatikan keberadaan soeharto. Lain cerita kalau pemerintah ataupun
negara memperlakukan soeharto seperti soekarno dahulu.
Gus dur juga sangat peduli akan kepentingan umat mana saja, termasuk
saat HKBP diobrak-abrik. Ada beberapa pihak yang menganggap kerusuhan di
HKBP ini adalah semata-mata kelemahan orang-orang batak. Saat itu Gus
dur mampu memandang bahwa ada sekelompok orang yang sedang hobi-hobinya
mempraktekan chaos teori (sekarang kelihatannya kelompok ini sedang
menguji thesisnya). Sebelum HKBP diaduk-aduk, kelompok Hindu dan Budha
sudah merasakannya. Muhammadiyah juga digoyang, apalagi NU. Untungnya NU
benar-benar kelompok yang solid yang sukar diacak-acak, walaupun gus dur
sendiri secara implisit mengemukakan angin yang menimpa NU cukup keras.
Keunikan gus dur adalah harta bangsa. Ada baiknya kita mampu menghargai
orang-orang seperti beliau yang hampir tidak pernah (sejauh yang saya
ketahui) menghantam rakyat, melainkan selalu berusaha adil dan bergerak
atas kemauan rakyat.
peace.
. Brawijaya wrote:
>
> Keberadaan Gus Dur dengan segala eksentrisitasnya dapat dikatakan
> perlu. Paling tidak untuk memberikan isyarat, dan sekaligus memberikan
> kewaspadaan kepada orang yg mendengarkannya. Isyarat untuk menjadikan
> masyarakat sadar dengan suatu issue yg beliau lemparkan, dapat saya contohkan
> adalah usulan mengganti/mambahasaindonesiakan salam "Assalamualaikum wr wb"
> menjadi selamat pagi, dll. Kemarahan dan kejengkelan umat dan beberapa tokoh
> saya kira justru membahagiakan Gus Dur sebagai tokoh Islam. Toh tidak perlu
> memberikan penjelasan yang straight forward untuk membuat sadar, atau untuk
> mendidik, atau untuk menyentil baik kawan, lawan politik, ataupun masyarakat
> umum.
>
> Untuk ulah Gus Dur yang terakhir ini, mungkin dapat kita terjemahkan menjadi
> demikian (tentu saja tidak menutup kemungkinan lain):
> - memang kehadiran provokator atau dalang tingkat tinggi ternyata ada?
> Atau dengan kata lain tidak mungkin sekedar pukul-pukulan antara sopir
> angkutan umum dan penyewa mobil.
> - (sekelompok) militer ada di balik peristiwa Ambon? (Dengan penyebutan
> Mayjen).
> Gusdur yg mempunyai intelektualitas yg tidak perlu disangsikan lagi tentu
> sadar bahwa segala kata yang keluar dari mulutnya akan didengar orang.
> Tentunya semuanya sudah dipikir masak-masak. Tinggal kita yang harus
> pandai-pandai menterjemahkannya. Mesti pandai ngeluarin wiji dari bungkusnya
> yg kadang berduri. Untuk kasus ini, justru mestinya pihak militer yg
> tersentil hebat, bukan kita, bukan pula perseorangan di kalangan militer.
>
> Mengapa banyak yg percaya? Tentu saja banyak yang percaya. Sepak terjang Gus
> Dur tidak dapat dianggap enteng. Setiap kata yg keluar darinya mengandung
> arti yang dalam, hasil dari a.l. pengalamannya. Bahkan Pak Harto yang mencoba
> mengguncang NU pun gagal total (ehm, hampir berhasil tuh). Habibie dan
> pejabat tinggi lainnya memerlukan datang ke rumahnya, paling tidak kita tahu
> bahwa Gus Dur punya sesuatu. Sayang beliau sudah sepuh. Sebagai orang yg
> pernah berkali-kali "disusahkan" oleh Pak Harto, Gus Dur masih mau bertandang
> ke rumahnya. Saya kira jarang orang yg mampu mengendapkan rasa sakit hati
> seperti ini (melawan arus). Belum lagi kerepotan untuk memperhitungkan
> gunjingan atau kemarahan dari para tokoh dan masyarakat umum, tak terkecuali
> kemarahan dari umatnya sendiri, akibat langkah yg tidak populer ini. Mungkin
> kita mesti mengingat kembali sepak terjang dia bahkan jauh sebelum AR
> terdengar suaranya.
>
> Soal Banyuwangi, yang dibantai adalah umatnya. Justru mestinya kita salut
> dengan kesabaran/kearifannya untuk tidak gegabah mengeluarkan statement. Saya
> tidak dapat membayangkan bagaimana kalau Gus Dur tiba-tiba meminta umatnya
> bergerak melawan keangkamurkaan thd mereka. Pasti kerusuhan akan melebar ke
> mana-mana.
>
> Salam,
> Jaya
>
> On Mar 8, 7:00pm, Mohammad Rosadi wrote:
> > Subject: Kata-kata berbahaya !
> > Bukan Gus Dur namanya kalau tidak bikin heboh suasana dengan
> > kata-katanya .....
> >
> > Mula-mula menuduh AS sebagai dalang pembantaian banyuwangi, lalu menjadi
> > ES, lalu menyebutkan orang berinisial Y sebagai dalang kerusuhan di
> > Indonesia timur, kemudian dalangnya bertambah dengan org berinitial
> > Brigjen K..., eh kemudian di ralat jadi Mayjen K. Ketika org yg merasa
> > mempunyai nama Mayjen K (Kivlan Zein) mengkonfirmasi, Gus Dur mengelak
> > lagi. Gus Dur..Gus Dur...., tak selayaknya dikau berbuat seperti
> > itu...., pitnah tu namanya.....
> >
> > Pertama AS,lalu ES,terus Y, terus Brigjen K, terus mayjen K, nanti bang
> > A, Cak Z,bu S,satpam C,kemudian badut J,kernet U,kopral T,terus
> > I,H,terussssssssssssssss......sampe habis semua abjad.
> > Herannya walaupun sudah begini.., masih aja banyak yg percaya.....
> > Ya...beginilah kalau orang sudah dikultuskan atau sengaja dikultuskan,
> > apapun yg dikerjakan selalu dibenarkan ...
> >
> >
> > Salam
> > Mohamad Rosadi
> > Virginia, USA