Satu lagi problem besar buat Indonesia..."generasi stress dan pemboros".
Ada yang mau kasih komentar..???????????
======================================================================
GATRA:PESTA ANAK MUDA
Gila-gilaan Mandi Oli
Acara berbau Barat makin digemari anak-anak muda Jakarta.
Mudah-mudahan tak menjalar ke daerah.
LAKI-laki dan perempuan itu bergulat di tengah arena oil wrestling
berukuran 6 X 6 meter. Badan mereka berselimut pakaian ketat
mengkilat berlumur minyak. Tanpa malu-malu, mereka bergumul,
berguling-guling dilantai. Sementara itu, di arena lain, banyak yang
asyik berjingkrak-jingkrak ditengah busa-busa yang beterbangan.
Begitulah suasana "Pall Mall Bubble Party" yang digelar di Bengkel
Night Park, Jakarta, akhir tahun lalu.
Pesta-pesta macam begitulah yang kini digemari "anak-anak gaul".
Gawatnya,kegemaran melakukan hal-hal berbau Barat itu makin
menggejala. Sedikitnya ada lima acara heboh berbau Barat yang digelar
di sejumlah kota besar Indonesia. Mulai Valentine's Day, Halloween,
message party, sampai bubble party yang terhitung baru. Dan semua
digandrungi. Jumlah pengunjung "Pall Mall Bubble Party" mencapai 8.000
orang.Sampai-sampai, banyak anak muda yang tak dapat masuk ke dalam
arena yang berdaya tampung 6.000 orang itu. Padahal bagi kaum muda
kalangan menengah, tiket masuk seharga Rp 20.000 dinilai cukup mahal.
Digilainya acara-acara macam ini juga terlihat saat Fashion Cafe,
Jakarta, menggelar "Lucky Strike Message Party". Di acara yang
diselenggarakan berbarengan dengan Valentine's Day alias Hari Kasih
Sayang, pertengahan Februari lalu,jumlah pengunjung mencapai 2.000
orang.
Berjubelnya peminat acara-acara tersebut tampaknya tak lepas dari
minimnya minat anak muda terhadap acara lokal yang begitu-begitu saja.
Wayang kulit,misalnya, diakui atau tidak, jelas tak punya gereget bagi
generasi out of the box ini. Mimpi-mimpi dan keinginan liar mereka yang
terpendam, tak mungkin bisa diekspresikan cuma dengan melihat sang
dalang beraksi. Sebaliknya,kebutuhan mengekspresikan diri secara bebas
itu bisa disalurkan lewat acara-acara berbau Barat yang lebih funky dan
mampu memenuhi fantasi mereka.
Di "Pall Mall Bubble Party", misalnya, para kawula muda bisa bermain
"gila" apa saja. Bebas! Begitu melewati pintu masuk, mereka bebas
memilih permainan yang tersedia. Mulai mandi busa atau gulat, silakan.
Tinggal mengenakan pakaian superketat yang disediakan panitia. Ingin
tubuh dihiasi tato, tinggal mengunjungi corner body painting. Dan masih
banyak lagi permainan yang ditawarkan. Pokoknya, bebas! Seru! Bahkan ada
acara kontes yang mengejutkan. Bagaimana tidak. Para peserta kontes
boleh dibilang nyaris telanjang. Sehingga pesta yang bebas dan seru
berubah menjadi rada saru.
Lain lagi pergelaran "Lucky Strike Message Party" di Fashion Cafe. Di
acara ini, pengunjung bebas menyurati siapa saja yang ditaksirnya.
Dengan tiket Rp 35.000, mereka berhak mendapat satu paket berisi, buku
kecil yang akan ditulisi pesan dan nomor peserta. Nomor ini menjadi
identitas pengunjung dan bagian penting dalam permainan itu. Lewat nomor
itulah, para pengunjung dapat dikenali lewat pesan-pesan yang dikirim
atau diterimanya.
Bagi yang ingin menyampaikan pesannya, cukup menulis pesan dan nomor
orang yang diincarnya. Sebuah layar besar akan mempertontonkan nomor dan
pesan-pesan yang dianggap unik dan lucu. Pemenangnya mendapat hadiah
tiket menonton pembalap Formula I Jacques Villeneuve dari Tim Lucky
Strike berlaga di Australia.
Minat kaum muda Indonesia pada berbagai hal yang berbau Barat bisa jadi
bersifat temporer. Sebagaimana halnya tarian breakdance yang pernah
mewabah awal tahun 1980-an. Acara bubble party yang di negara
asalnya,Amerika Serikat, dikenal dengan sebutan wetsuit party atau wild
jungle itu pun merasuki kehidupan "anak-anak gaul" Indonesia. Entah
sampai kapan.
Tinggal, para orangtua, yang dulu pernah bangga mengenakan celana ketat
menari twist, mengelus dada. Mereka cuma bisa berharap agar anak-anaknya
tidak larut oleh budaya Barat yang usianya cuma semusim itu. Kalau
ketularan Valentine's Day yang kini sudah menjalar sampai kota-kota
kecil, tak jadi soal. Tapi, jika sampai ketularan mandi oli, bisa
repot.Lagi pula, acara pesta seperti itu bisa mengundang kecemburuan
sosial di saat sulit seperti ini, sebagaimana diakui Dandan Hamdani,
Manajer Humas dan Pemasaran Bengkel Night Park. "Tapi, kami cuma
memanfaatkan orang-orang yang dilanda stres di masa sulit seperti ini,"
kata Dandan kepada Aryananda dari Gatra. Tanggapan senada juga
diungkapkan Ismutia Rahmi. Kepala proyek acara "Lucky Strike Message
Party" ini membidik orang-orang mapan sebagai sasaran promosinya. "Kami
menggelar acara ini memang untuk mereka," ujarnya kepada Aditya
Wicaksono dari Gatra.
Dan yang terkena bidikan itu adalah cewek bernama samaran Ina. Pelajar
SMU Sumbangsih ini sampai berbohong kepada maminya, agar bisa hadir di
message party itu. "Rugi lho nggak dateng. Gue bisa kenalan sama lima
cowok berbeda," tutur cewek yang mengendarai mobil BMW warna merah
itu. Perasaan serupa juga diutarakan Karina, yang menikmati acara
tukar-tukaran pesan itu. "Bawaannya seneng aja," kata mahasiswi berusia
23 tahun yang menghabiskan dana sekitar Rp 250.000 malam itu.
Wilis Pinidji
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com