Saya setuju sekali dengan pendapat Mas Panut Wirata. Yang paling ultimate
ditegakkan adalah supremasi hukum. Mengadili suatu tindakan/event dari
ukuran moral sangatlah terlalu subyektif, karena ukuran moral seseorang
berbeda dengan orang lainnya, sedangkan hukum berlaku untuk setiap
individu di indonesia.
Sekarang ini yang diributkan malahan fenomena AGI ini ( yang tidak
melanggar hukum yang berlaku di Indonesia) ironically, buaaannyaaaakk
sekali event dan peristiwa dan tindakan2 yang dilakukan oleh orang2 di
indonesia yang jelas2 melanggar hukum, akan tetapi dicuekin saja.
Yang suka 'diresehkan' adalah hal2 yang trivial : simbol2, lifestyle, cara
berpakaian (pakai kopiah enggak.. kalau pakai kopiah dan suka senyum pasti
orangnya baik dll), dll, tetapi hal2 yang esensial seperti penegakan hukum
di taruh di belakang.

dan lucunya, kalau ada apa2, yang dikorbankan adalah masyrakat sipil.
contoh : dalam kasus ambon, sudah jelas sekali bahwa pemerintah dan ABRI
super memble, jadi sepatutnya masyrakat mendesak pemerintah melalui DPR
atau MPR untuk bertanggung jawab, dan menyeret habibie, wiranto, dll ke
MPR, dan penghapusan dwifungsi ABRI IMMEDIATELY...eeeeehhh...yang ada
malah mengorganisasi orang2 untuk perang jihad di ambon.
well, on a second thought...mungkin ada baiknya juga perang2 ini..biar
negara cepet bubar... :)

A case of ultimate hipocrisy ? u bet!!

contoh : peristiwa2 banyuwangi, ketapang, ambon, pemilik2 bank2 yang
jelas2 melanggar hukum, pejabat2 yang melanggar hukum, etc etc etc
bahkan pejabat presiden ( is habibie a president ? guess not! ) sekarang
pun sibuk mengobral kebohongan, tetapi dibiarkan saja.

contoh hipocrisy lain yang terjadi dalam kehidupan sehari2 di indonesia :
acara2 TV yang menampilkan adegan ciuman hampir selalu kena sensor.
Alasannya katanya 'saru', 'bukan budaya kita' etc etc...
Lha...apa adegan2 pembunuhan, peledakan, potong memotong tubuh dan adegan
kekerasan lainnya yang selalu ditampilkan oleh semua stasiun TV setiap
hari itu budaya kita ????????????
Dulu kadang2 ada orang2 yang concerned dengan adegan buka2an atau ciuman
etc, dan melakukan protes katanya tidak sesuai dengan norma agamanya,
lhaaaa... apa bunuh membunuh itu sesuai dengan norma agama2 di indonesia
??
so whats the moral of the story ?.. mencium orang lain kagak boleh, tapi
membunuh oke2 aja...??
No wonder akhirnya banyak yang mempunyai kecenderungan untuk resort to
violent means to solve any problems.

BTW, saya pergi ke bubble party pall mall di bengkel cafe tersebut. Dan
saya kira, reportase majalah populer tersebut sangatlah bias, dan hanya
mengekstrimkan apa yang terjadi.
yang katanya mandi busa, sebenarnya hanyalah sekitar 6x8 m area of
dancefloor yang disemprot dengan busa kering. jadi yang kebetulan mau
danced di area tersebut ya kena busa...dan bukannya 'mandi busa'
juga tentang 'gulat oli'.. yang saya lihat sama sekali jauh dengan yang
diberitakan di majalah tersebut.

tentang bubble (atau kalau di western europe dan australia lebih dikenal
dengan sebutan foam party) sebenarnya tidak berasal dari USA, tapi dari
Ibiza (sebuah pulau di selatan spanyol.. mirip seperti Bali.. banyak
tourists) sekitar 7 tahun yang lalu.

Foam parties sendiri di western europe dan australia
adalah semacam variasi dari 'electronic  music' parties
dan para fans dari electronic music (dulunya agak underground,
tapi sekarang sudah mulai banyak masyarakat umum
yang menyukai jenis2 electronic music) mempunyai
semboyan PLUR (Peace, Love, Unity, Respect) -
yang jauh lebih baik dari korupsi, bunuh-membunuh,
curi-mencuri, bohong-membohong, fitnah-memfitnah.


salam,
Ian


On Thu, 11 Mar 1999, Panut Wirata wrote:

> Perlu dibedakan antara kegiatan yang mengganggu orang lain dan tidak.
> Menjarah kan mengganggu orang lain dan jelas melanggar hukum, tapi
> gulat oli kan tidak mengganggu orang lain (kecuali lawan gulatnya
> patah tulang atau apa).  Kelakuan menghambur-hambur uang ini tidak
> melanggar hukum walaupun tidak bisa dibilang perbuatan yang mulia.
>
> Panut
>
>
>
>
> ---"Lutfi M." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Kalau para fakir-miskin yg. sedang kelaparan (bahkan mungkin hampir
> mati)
> > sangat kesal dg. tingkah orang-orang kebanyakan uang spt. itu,
> kemudian
> > mencari cara 'refreshing' yg. lain, spt. menjarah dsb. bisa
> dikatagorikan
> > untuk menghilangkan stress akibat 'kejenuhan' perut mereka tidak ya?
> Kan
> > kalau lagi "stress" perut, apa saja toh bisa dilakukan untuk bikin
> "seger"
> > perut...:-)

Kirim email ke