Dear mbak Ida (yg katanya sudah 'nenek-nenek')......:-),
Kalau mbak ida tidak pernah liat, kan bukan berarti tidak ada acara yg
kayak gituan di AS ini? tapi saya setuju satu hal, bahwa "segila" apapun
kegiatan yg dilakukan orang barat disini (AS), hampir selalu diikuti
oleh berbagai macam aturan dan hukum, walaupun terkadang hanya untuk
"basa-basi" saja. Celakanya berbagai "kegilaan" yg bersumber dari barat
itu cepat sekali diadopsi oleh kalangan muda kita, dan tidak jarang
mereka sedemikian "inovatif"-nya mengembangkan "kegilaan" tsb ke level
yg lebih tinggi lagi, sementara hampir tidak ada peraturan dan perangkat
hukum yg mengendalikannya. Akibatnya kegiatan-kegiatan yg 'aneh bin
ajaib' kayak begitu merebak di kota-kota besar tanpa dapat dikendalikan
lagi.
Mbak Ida dan rekan-rekan,
Disaat-saat "KRISMON" seperti saat ini, dimana sebagian besar rakyat
Indonesia hidup dalam kondisi ekonomi yg sangat memprihatinkan, rasanya
sangat tidak pantas jika kegiatan-kegiatan yg bersifat liar dan
menghambur-hamburkan uang seperti itu digelar begitu rupa. memang,
merupakan hak setiap orang untuk berbuat "ini" dan "itu"..., tapi
bukankah bersenang-senang disaat saudara-saudara kita menderita adalah
perbuatan yg kurang terpuji dan tidak bijaksana..? bagi rekan-rekan yg
tinggal di luar negeri (terutama di AS)dan rekan-rekan yg hidupnya
selalu berkecukupan, tentunya acara-acara yg seperti itu tidak terlalu
masalah. Tapi cobalah kita melihat kondisi sebagian besar rakyat
Indonesia yg kehidupan ekonominya tidak seberuntung kita. jangankan
untuk menyekolahkan anak, untuk membeli makanan sehari-hari saja mereka
hampir tidak mampu lagi. Tak jarang mereka berhari-hari tidak makan.
Bisa makan satu kali sehari saja sudah merupakan nikmat yg tidak
terhingga rasanya.., padahal mungkin sudah tidak ada makanan lagi yg
tersisa untuk keesokan harinya. Belum lagi jika ada anggota keluarga
mereka yg sakit,tak ada uang untuk membawanya ke dokter atau membeli
obat. Banyak kisah sedih yg saya dengar dari tanah air, satu diantaranya
adalah kisah meninggalnya orang-orang yg tidak mampu (dari segi ekonomi)
untuk pergi berobat ke dokter. Cobalah kita semua bayangkan, betapa
menyedihkannya nasib mereka. Diluar dari masalah takdir,
kejadian-kejadian tsb seharusnya menggerakan hati nurani kita untuk peka
dan tanggap akan kesulitan yg dialami sebagian besar rakyat Indonesia
dan berusaha sedapat mungkin membantu mereka, bukannya malah
menghambur-hamburkan uang untuk kegiatan-kegiatan yg tidak berguna dan
tidak pantas untuk dilakukan itu. Malah seharusnya keadaan kita yg cukup
beruntung ini (dari segi ekonomi), semakin menambah rasa syukur kita
kepada Allah swt atas nikmat dan rezki yg telah Dia limpahkan..,
bukannya malah melakukan hal-hal yg membuat Dia murka kepada kita
sehingga menurunkan azabNya.
Terakhir..., kalo saya mengatakan fenomena AGI ini merupakan suatu
problem, tentu ada alasannya. Pertama, dengan semakin banyaknya generasi
AGI ini, maka bukan mustahil di masa mendatang sikap individualitas dan
sifat egoisme akan sangat mendominasi kehidupan masyarakat Indonesia..,
tidak ada lagi orang yg mau peduli dengan penderitaan orang lain..,
pokoknya semuanya serba "elu-elu" en "gua-gua". Biarin aja orang lain
sengsara, yg penting gue happy!
Yang kedua.., sikap berhura-hura (walaupun dengan uang sendiri), akan
menimbulkan kecemburuan sosial yg tinggi dan menciptakan jurang pemisah
yg semakin lebar antara si kaya dan si miskin. Bukan mustahil
kejadian-kejadian penjarahan dan kerusuhan yg jauh lebih hebat dari
peristiwa 14 mei lalu akan terjadi, karena semakin banyaknya jumlah
"orang lapar" yg sudah tidak dipedulikan lagi oleh si kaya. Si miskin yg
sudah sangat lapar akan nekad menjarah,merampok, atau bahkan membunuh,
demi sekedar untuk mendapatkan makanan.. atau mungkin untuk mendapatkan
"kehidupan mewah" yg selama ini sengaja dipamerkan oleh orang-orang
kaya.
Kalo sudah begini, bukan mustahil Indonesia akan menjadi porak poranda
dan tinggal puing-puing saja nantinya.
Apakah ini bukan problem besar namanya...?
Wassalam
Mohamad Rosadi
(Sama sekali bukan pejabat)
======================================================================
Mbak Ida wrote:
>Dear Bung Rosadi,
>
>Saya tidak yakin kalau pesta itu a la Barat. Sebab sudah nenek-nenek
di
>sini (US-red), saya belum pernah melihat acara semacam itu di expos di
>publik. Biasanya acara yang agak gila-gilaan, menurut ukuran orang
>timur, dilakukan di pantai. Kalau di US tempat paling terkenal itu NY,
>CA, atau FL. Ada beberapa tempat yang mempresentasikan acara-acara
yang
>berkategori liar dan sangat liar di nightclubs. Tapi ini tertutup
untuk
>umum. Pengujungnya terbatas anggota dengan tanda pengenal.
>
>Menurut saya, anak-anak Indonesia tidak sedang mengikuti gaya barat.
>Mungkin saja mereka kurang memiliki agenda yang lebih inovative and
>creative. Tidak bisa disalahkan juga posisi mereka. Rangkaian budaya
>politik kita yang terlalu kaku telah membatasi remaja Indonesia untuk
>mengekspresikan diri mereka baik di sekolah maupun di masyarakat.
>Tengok saja kurrikulum sekolah dan organisasi-organisasi sosial.
>Anak-anak Indonesia hanya diajarkan dua hal: pertama, ideology
Pancasila
>dan kedua, cari koneksi untuk jadi pegawai nanti.
>
>Nah mungkin saatnya kita memikirkan apa yang terbaik untuk pendidikan
>generasi muda Indonesia. Biar mereka bisa menciptakan acara yang lebih
>'beradat.'
>
>
>thank you,
>
>ida
>
>
>
>>From: Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]>
>
>>
>>Satu lagi problem besar buat Indonesia..."generasi stress dan
>pemboros".
>>
>>Ada yang mau kasih komentar..???????????
>>
>>======================================================================
>>
>>
>> GATRA:PESTA ANAK MUDA
>>
>> Gila-gilaan Mandi Oli
>>
>> Acara berbau Barat makin digemari anak-anak muda Jakarta.
>>Mudah-mudahan tak menjalar ke daerah.
>>
>> LAKI-laki dan perempuan itu bergulat di tengah arena oil wrestling
>> berukuran 6 X 6 meter. Badan mereka berselimut pakaian ketat
>>mengkilat berlumur minyak. Tanpa malu-malu, mereka bergumul,
>>berguling-guling dilantai. Sementara itu, di arena lain, banyak yang
>>asyik berjingkrak-jingkrak ditengah busa-busa yang beterbangan.
>>Begitulah suasana "Pall Mall Bubble Party" yang digelar di Bengkel
>>Night Park, Jakarta, akhir tahun lalu.
>>
>> Pesta-pesta macam begitulah yang kini digemari "anak-anak gaul".
>>Gawatnya,kegemaran melakukan hal-hal berbau Barat itu makin
>>menggejala. Sedikitnya ada lima acara heboh berbau Barat yang digelar
>>di sejumlah kota besar Indonesia. Mulai Valentine's Day, Halloween,
>>message party, sampai bubble party yang terhitung baru. Dan semua
>>digandrungi. Jumlah pengunjung "Pall Mall Bubble Party" mencapai
8.000
>>orang.Sampai-sampai, banyak anak muda yang tak dapat masuk ke dalam
>>arena yang berdaya tampung 6.000 orang itu. Padahal bagi kaum muda
>>kalangan menengah, tiket masuk seharga Rp 20.000 dinilai cukup mahal.
>>Digilainya acara-acara macam ini juga terlihat saat Fashion Cafe,
>>Jakarta, menggelar "Lucky Strike Message Party". Di acara yang
>>diselenggarakan berbarengan dengan Valentine's Day alias Hari Kasih
>>Sayang, pertengahan Februari lalu,jumlah pengunjung mencapai 2.000
>>orang.
>>
>> Berjubelnya peminat acara-acara tersebut tampaknya tak lepas dari
>>minimnya minat anak muda terhadap acara lokal yang begitu-begitu saja.
>>Wayang kulit,misalnya, diakui atau tidak, jelas tak punya gereget bagi
>>generasi out of the box ini. Mimpi-mimpi dan keinginan liar mereka
yang
>>terpendam, tak mungkin bisa diekspresikan cuma dengan melihat sang
>>dalang beraksi. Sebaliknya,kebutuhan mengekspresikan diri secara bebas
>>itu bisa disalurkan lewat acara-acara berbau Barat yang lebih funky
dan
>>mampu memenuhi fantasi mereka.
>>
>> Di "Pall Mall Bubble Party", misalnya, para kawula muda bisa bermain
>>"gila" apa saja. Bebas! Begitu melewati pintu masuk, mereka bebas
>>memilih permainan yang tersedia. Mulai mandi busa atau gulat, silakan.
>>Tinggal mengenakan pakaian superketat yang disediakan panitia. Ingin
>>tubuh dihiasi tato, tinggal mengunjungi corner body painting. Dan
masih
>>banyak lagi permainan yang ditawarkan. Pokoknya, bebas! Seru! Bahkan
>ada
>>acara kontes yang mengejutkan. Bagaimana tidak. Para peserta kontes
>>boleh dibilang nyaris telanjang. Sehingga pesta yang bebas dan seru
>>berubah menjadi rada saru.
>>
>>Lain lagi pergelaran "Lucky Strike Message Party" di Fashion Cafe. Di
>>acara ini, pengunjung bebas menyurati siapa saja yang ditaksirnya.
>>Dengan tiket Rp 35.000, mereka berhak mendapat satu paket berisi, buku
>>kecil yang akan ditulisi pesan dan nomor peserta. Nomor ini menjadi
>>identitas pengunjung dan bagian penting dalam permainan itu. Lewat
>nomor
>>itulah, para pengunjung dapat dikenali lewat pesan-pesan yang dikirim
>>atau diterimanya.
>>
>>Bagi yang ingin menyampaikan pesannya, cukup menulis pesan dan nomor
>>orang yang diincarnya. Sebuah layar besar akan mempertontonkan nomor
>dan
>>pesan-pesan yang dianggap unik dan lucu. Pemenangnya mendapat hadiah
>>tiket menonton pembalap Formula I Jacques Villeneuve dari Tim Lucky
>>Strike berlaga di Australia.
>>
>>Minat kaum muda Indonesia pada berbagai hal yang berbau Barat bisa
jadi
>>bersifat temporer. Sebagaimana halnya tarian breakdance yang pernah
>>mewabah awal tahun 1980-an. Acara bubble party yang di negara
>>asalnya,Amerika Serikat, dikenal dengan sebutan wetsuit party atau
wild
>>jungle itu pun merasuki kehidupan "anak-anak gaul" Indonesia. Entah
>>sampai kapan.
>>
>>Tinggal, para orangtua, yang dulu pernah bangga mengenakan celana
ketat
>>menari twist, mengelus dada. Mereka cuma bisa berharap agar
>anak-anaknya
>>tidak larut oleh budaya Barat yang usianya cuma semusim itu. Kalau
>>ketularan Valentine's Day yang kini sudah menjalar sampai kota-kota
>>kecil, tak jadi soal. Tapi, jika sampai ketularan mandi oli, bisa
>>repot.Lagi pula, acara pesta seperti itu bisa mengundang kecemburuan
>>sosial di saat sulit seperti ini, sebagaimana diakui Dandan Hamdani,
>>Manajer Humas dan Pemasaran Bengkel Night Park. "Tapi, kami cuma
>>memanfaatkan orang-orang yang dilanda stres di masa sulit seperti
ini,"
>>kata Dandan kepada Aryananda dari Gatra. Tanggapan senada juga
>>diungkapkan Ismutia Rahmi. Kepala proyek acara "Lucky Strike Message
>>Party" ini membidik orang-orang mapan sebagai sasaran promosinya.
"Kami
>>menggelar acara ini memang untuk mereka," ujarnya kepada Aditya
>>Wicaksono dari Gatra.
>>
>>Dan yang terkena bidikan itu adalah cewek bernama samaran Ina. Pelajar
>>SMU Sumbangsih ini sampai berbohong kepada maminya, agar bisa hadir di
>>message party itu. "Rugi lho nggak dateng. Gue bisa kenalan sama lima
>>cowok berbeda," tutur cewek yang mengendarai mobil BMW warna merah
>>itu. Perasaan serupa juga diutarakan Karina, yang menikmati acara
>>tukar-tukaran pesan itu. "Bawaannya seneng aja," kata mahasiswi
berusia
>>23 tahun yang menghabiskan dana sekitar Rp 250.000 malam itu.
>>
>> Wilis Pinidji
>>
>>
>>
>>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>
>
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com