Dear Bung Adi,
>Ah..nggak pa-pa kok...saya senang membaca tulisan mbak ini. Cuma ya
>itu..., saya kok nggak percaya kalo mbak itu sudah "nenek-nenek"...
>masak ada "nenek-nenek" yg jauh-jauh dari Indonesia sekolah di AS...,
>malah jadi loper koran lagi,...hehehehehhehe..sorry, just kidding..:-)
>
:) tidak percaya.....memang nenek-nenek tidak dibolehkan berkarya dan
berjuang? lihat Pak Harto dong, hingga usia 73 saja masih terus berjuang
jadi president dan jadi dalang kerusuhan, masa kan saya diragukan jadi
loper koran dan melanjutkan sekolah?
>Salam balik dari temen seperjuangan,
>
>Adi(nama kita hampir sama ni..:-)
:) Iya ya... kasihan bangsa Indonesia terlalu miskin sudah, cari huruf
aja susah ya?
salam balik,
ida
>
>
>
>
>
>
>
>>>
>>>Dear mbak Ida (yg katanya sudah 'nenek-nenek')......:-),
>>>
>>>Kalau mbak ida tidak pernah liat, kan bukan berarti tidak ada acara
yg
>>>kayak gituan di AS ini? tapi saya setuju satu hal, bahwa "segila"
>>apapun
>>>kegiatan yg dilakukan orang barat disini (AS), hampir selalu diikuti
>>>oleh berbagai macam aturan dan hukum, walaupun terkadang hanya untuk
>>>"basa-basi" saja. Celakanya berbagai "kegilaan" yg bersumber dari
>barat
>>>itu cepat sekali diadopsi oleh kalangan muda kita, dan tidak jarang
>>>mereka sedemikian "inovatif"-nya mengembangkan "kegilaan" tsb ke
level
>>>yg lebih tinggi lagi, sementara hampir tidak ada peraturan dan
>>perangkat
>>>hukum yg mengendalikannya. Akibatnya kegiatan-kegiatan yg 'aneh bin
>>>ajaib' kayak begitu merebak di kota-kota besar tanpa dapat
>dikendalikan
>>>lagi.
>>>
>>>Mbak Ida dan rekan-rekan,
>>>
>>>Disaat-saat "KRISMON" seperti saat ini, dimana sebagian besar rakyat
>>>Indonesia hidup dalam kondisi ekonomi yg sangat memprihatinkan,
>rasanya
>>>sangat tidak pantas jika kegiatan-kegiatan yg bersifat liar dan
>>>menghambur-hamburkan uang seperti itu digelar begitu rupa. memang,
>>>merupakan hak setiap orang untuk berbuat "ini" dan "itu"..., tapi
>>>bukankah bersenang-senang disaat saudara-saudara kita menderita
adalah
>>>perbuatan yg kurang terpuji dan tidak bijaksana..? bagi rekan-rekan
yg
>>>tinggal di luar negeri (terutama di AS)dan rekan-rekan yg hidupnya
>>>selalu berkecukupan, tentunya acara-acara yg seperti itu tidak
terlalu
>>>masalah. Tapi cobalah kita melihat kondisi sebagian besar rakyat
>>>Indonesia yg kehidupan ekonominya tidak seberuntung kita. jangankan
>>>untuk menyekolahkan anak, untuk membeli makanan sehari-hari saja
>mereka
>>>hampir tidak mampu lagi. Tak jarang mereka berhari-hari tidak makan.
>>>Bisa makan satu kali sehari saja sudah merupakan nikmat yg tidak
>>>terhingga rasanya.., padahal mungkin sudah tidak ada makanan lagi yg
>>>tersisa untuk keesokan harinya. Belum lagi jika ada anggota keluarga
>>>mereka yg sakit,tak ada uang untuk membawanya ke dokter atau membeli
>>>obat. Banyak kisah sedih yg saya dengar dari tanah air, satu
>>diantaranya
>>>adalah kisah meninggalnya orang-orang yg tidak mampu (dari segi
>>ekonomi)
>>>untuk pergi berobat ke dokter. Cobalah kita semua bayangkan, betapa
>>>menyedihkannya nasib mereka. Diluar dari masalah takdir,
>>>kejadian-kejadian tsb seharusnya menggerakan hati nurani kita untuk
>>peka
>>>dan tanggap akan kesulitan yg dialami sebagian besar rakyat Indonesia
>>>dan berusaha sedapat mungkin membantu mereka, bukannya malah
>>>menghambur-hamburkan uang untuk kegiatan-kegiatan yg tidak berguna
dan
>>>tidak pantas untuk dilakukan itu. Malah seharusnya keadaan kita yg
>>cukup
>>>beruntung ini (dari segi ekonomi), semakin menambah rasa syukur kita
>>>kepada Allah swt atas nikmat dan rezki yg telah Dia limpahkan..,
>>>bukannya malah melakukan hal-hal yg membuat Dia murka kepada kita
>>>sehingga menurunkan azabNya.
>>>
>>>Terakhir..., kalo saya mengatakan fenomena AGI ini merupakan suatu
>>>problem, tentu ada alasannya. Pertama, dengan semakin banyaknya
>>generasi
>>>AGI ini, maka bukan mustahil di masa mendatang sikap individualitas
>dan
>>>sifat egoisme akan sangat mendominasi kehidupan masyarakat
>Indonesia..,
>>>tidak ada lagi orang yg mau peduli dengan penderitaan orang lain..,
>>>pokoknya semuanya serba "elu-elu" en "gua-gua". Biarin aja orang lain
>>>sengsara, yg penting gue happy!
>>>Yang kedua.., sikap berhura-hura (walaupun dengan uang sendiri), akan
>>>menimbulkan kecemburuan sosial yg tinggi dan menciptakan jurang
>pemisah
>>>yg semakin lebar antara si kaya dan si miskin. Bukan mustahil
>>>kejadian-kejadian penjarahan dan kerusuhan yg jauh lebih hebat dari
>>>peristiwa 14 mei lalu akan terjadi, karena semakin banyaknya jumlah
>>>"orang lapar" yg sudah tidak dipedulikan lagi oleh si kaya. Si miskin
>>yg
>>>sudah sangat lapar akan nekad menjarah,merampok, atau bahkan
membunuh,
>>>demi sekedar untuk mendapatkan makanan.. atau mungkin untuk
>mendapatkan
>>>"kehidupan mewah" yg selama ini sengaja dipamerkan oleh orang-orang
>>>kaya.
>>>Kalo sudah begini, bukan mustahil Indonesia akan menjadi porak
poranda
>>>dan tinggal puing-puing saja nantinya.
>>>
>>>Apakah ini bukan problem besar namanya...?
>>>
>>>
>>>Wassalam
>>>Mohamad Rosadi
>>>(Sama sekali bukan pejabat)
>>>
>>>
>>>======================================================================
>>>
>>>
>>>Mbak Ida wrote:
>>>
>>>>Dear Bung Rosadi,
>>>>
>>>>Saya tidak yakin kalau pesta itu a la Barat. Sebab sudah
nenek-nenek
>>>di
>>>>sini (US-red), saya belum pernah melihat acara semacam itu di expos
>di
>>>>publik. Biasanya acara yang agak gila-gilaan, menurut ukuran orang
>>>>timur, dilakukan di pantai. Kalau di US tempat paling terkenal itu
>NY,
>>>>CA, atau FL. Ada beberapa tempat yang mempresentasikan acara-acara
>>>yang
>>>>berkategori liar dan sangat liar di nightclubs. Tapi ini tertutup
>>>untuk
>>>>umum. Pengujungnya terbatas anggota dengan tanda pengenal.
>>>>
>>>>Menurut saya, anak-anak Indonesia tidak sedang mengikuti gaya
barat.
>>>>Mungkin saja mereka kurang memiliki agenda yang lebih inovative and
>>>>creative. Tidak bisa disalahkan juga posisi mereka. Rangkaian
budaya
>>>>politik kita yang terlalu kaku telah membatasi remaja Indonesia
untuk
>>>>mengekspresikan diri mereka baik di sekolah maupun di masyarakat.
>>>>Tengok saja kurrikulum sekolah dan organisasi-organisasi sosial.
>>>>Anak-anak Indonesia hanya diajarkan dua hal: pertama, ideology
>>>Pancasila
>>>>dan kedua, cari koneksi untuk jadi pegawai nanti.
>>>>
>>>>Nah mungkin saatnya kita memikirkan apa yang terbaik untuk
pendidikan
>>>>generasi muda Indonesia. Biar mereka bisa menciptakan acara yang
>lebih
>>>>'beradat.'
>>>>
>>>>
>>>>thank you,
>>>>
>>>>ida
>>>>
>>>>
>>>>
>>>>>From: Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]>
>>>>
>>>>>
>>>>>Satu lagi problem besar buat Indonesia..."generasi stress dan
>>>>pemboros".
>>>>>
>>>>>Ada yang mau kasih komentar..???????????
>>>>>
>>>>>======================================================================
>>>>>
>>>>>
>>>>> GATRA:PESTA ANAK MUDA
>>>>>
>>>>> Gila-gilaan Mandi Oli
>>>>>
>>>>> Acara berbau Barat makin digemari anak-anak muda Jakarta.
>>>>>Mudah-mudahan tak menjalar ke daerah.
>>>>>
>>>>> LAKI-laki dan perempuan itu bergulat di tengah arena oil wrestling
>>>>> berukuran 6 X 6 meter. Badan mereka berselimut pakaian ketat
>>>>>mengkilat berlumur minyak. Tanpa malu-malu, mereka bergumul,
>>>>>berguling-guling dilantai. Sementara itu, di arena lain, banyak
yang
>>>>>asyik berjingkrak-jingkrak ditengah busa-busa yang beterbangan.
>>>>>Begitulah suasana "Pall Mall Bubble Party" yang digelar di Bengkel
>>>>>Night Park, Jakarta, akhir tahun lalu.
>>>>>
>>>>> Pesta-pesta macam begitulah yang kini digemari "anak-anak gaul".
>>>>>Gawatnya,kegemaran melakukan hal-hal berbau Barat itu makin
>>>>>menggejala. Sedikitnya ada lima acara heboh berbau Barat yang
>digelar
>>>>>di sejumlah kota besar Indonesia. Mulai Valentine's Day, Halloween,
>>>>>message party, sampai bubble party yang terhitung baru. Dan semua
>>>>>digandrungi. Jumlah pengunjung "Pall Mall Bubble Party" mencapai
>>>8.000
>>>>>orang.Sampai-sampai, banyak anak muda yang tak dapat masuk ke
dalam
>>>>>arena yang berdaya tampung 6.000 orang itu. Padahal bagi kaum muda
>>>>>kalangan menengah, tiket masuk seharga Rp 20.000 dinilai cukup
>>mahal.
>>>>>Digilainya acara-acara macam ini juga terlihat saat Fashion Cafe,
>>>>>Jakarta, menggelar "Lucky Strike Message Party". Di acara yang
>>>>>diselenggarakan berbarengan dengan Valentine's Day alias Hari Kasih
>>>>>Sayang, pertengahan Februari lalu,jumlah pengunjung mencapai 2.000
>>>>>orang.
>>>>>
>>>>> Berjubelnya peminat acara-acara tersebut tampaknya tak lepas dari
>>>>>minimnya minat anak muda terhadap acara lokal yang begitu-begitu
>>saja.
>>>>>Wayang kulit,misalnya, diakui atau tidak, jelas tak punya gereget
>>bagi
>>>>>generasi out of the box ini. Mimpi-mimpi dan keinginan liar mereka
>>>yang
>>>>>terpendam, tak mungkin bisa diekspresikan cuma dengan melihat sang
>>>>>dalang beraksi. Sebaliknya,kebutuhan mengekspresikan diri secara
>>bebas
>>>>>itu bisa disalurkan lewat acara-acara berbau Barat yang lebih funky
>>>dan
>>>>>mampu memenuhi fantasi mereka.
>>>>>
>>>>> Di "Pall Mall Bubble Party", misalnya, para kawula muda bisa
>bermain
>>>>>"gila" apa saja. Bebas! Begitu melewati pintu masuk, mereka bebas
>>>>>memilih permainan yang tersedia. Mulai mandi busa atau gulat,
>>silakan.
>>>>>Tinggal mengenakan pakaian superketat yang disediakan panitia.
Ingin
>>>>>tubuh dihiasi tato, tinggal mengunjungi corner body painting. Dan
>>>masih
>>>>>banyak lagi permainan yang ditawarkan. Pokoknya, bebas! Seru!
Bahkan
>>>>ada
>>>>>acara kontes yang mengejutkan. Bagaimana tidak. Para peserta kontes
>>>>>boleh dibilang nyaris telanjang. Sehingga pesta yang bebas dan seru
>>>>>berubah menjadi rada saru.
>>>>>
>>>>>Lain lagi pergelaran "Lucky Strike Message Party" di Fashion Cafe.
>Di
>>>>>acara ini, pengunjung bebas menyurati siapa saja yang ditaksirnya.
>>>>>Dengan tiket Rp 35.000, mereka berhak mendapat satu paket berisi,
>>buku
>>>>>kecil yang akan ditulisi pesan dan nomor peserta. Nomor ini menjadi
>>>>>identitas pengunjung dan bagian penting dalam permainan itu. Lewat
>>>>nomor
>>>>>itulah, para pengunjung dapat dikenali lewat pesan-pesan yang
>dikirim
>>>>>atau diterimanya.
>>>>>
>>>>>Bagi yang ingin menyampaikan pesannya, cukup menulis pesan dan
nomor
>>>>>orang yang diincarnya. Sebuah layar besar akan mempertontonkan
nomor
>>>>dan
>>>>>pesan-pesan yang dianggap unik dan lucu. Pemenangnya mendapat
hadiah
>>>>>tiket menonton pembalap Formula I Jacques Villeneuve dari Tim Lucky
>>>>>Strike berlaga di Australia.
>>>>>
>>>>>Minat kaum muda Indonesia pada berbagai hal yang berbau Barat bisa
>>>jadi
>>>>>bersifat temporer. Sebagaimana halnya tarian breakdance yang pernah
>>>>>mewabah awal tahun 1980-an. Acara bubble party yang di negara
>>>>>asalnya,Amerika Serikat, dikenal dengan sebutan wetsuit party atau
>>>wild
>>>>>jungle itu pun merasuki kehidupan "anak-anak gaul" Indonesia. Entah
>>>>>sampai kapan.
>>>>>
>>>>>Tinggal, para orangtua, yang dulu pernah bangga mengenakan celana
>>>ketat
>>>>>menari twist, mengelus dada. Mereka cuma bisa berharap agar
>>>>anak-anaknya
>>>>>tidak larut oleh budaya Barat yang usianya cuma semusim itu. Kalau
>>>>>ketularan Valentine's Day yang kini sudah menjalar sampai kota-kota
>>>>>kecil, tak jadi soal. Tapi, jika sampai ketularan mandi oli, bisa
>>>>>repot.Lagi pula, acara pesta seperti itu bisa mengundang
kecemburuan
>>>>>sosial di saat sulit seperti ini, sebagaimana diakui Dandan
Hamdani,
>>>>>Manajer Humas dan Pemasaran Bengkel Night Park. "Tapi, kami cuma
>>>>>memanfaatkan orang-orang yang dilanda stres di masa sulit seperti
>>>ini,"
>>>>>kata Dandan kepada Aryananda dari Gatra. Tanggapan senada juga
>>>>>diungkapkan Ismutia Rahmi. Kepala proyek acara "Lucky Strike
Message
>>>>>Party" ini membidik orang-orang mapan sebagai sasaran promosinya.
>>>"Kami
>>>>>menggelar acara ini memang untuk mereka," ujarnya kepada Aditya
>>>>>Wicaksono dari Gatra.
>>>>>
>>>>>Dan yang terkena bidikan itu adalah cewek bernama samaran Ina.
>>Pelajar
>>>>>SMU Sumbangsih ini sampai berbohong kepada maminya, agar bisa hadir
>>di
>>>>>message party itu. "Rugi lho nggak dateng. Gue bisa kenalan sama
>lima
>>>>>cowok berbeda," tutur cewek yang mengendarai mobil BMW warna merah
>>>>>itu. Perasaan serupa juga diutarakan Karina, yang menikmati acara
>>>>>tukar-tukaran pesan itu. "Bawaannya seneng aja," kata mahasiswi
>>>berusia
>>>>>23 tahun yang menghabiskan dana sekitar Rp 250.000 malam itu.
>>>>>
>>>>> Wilis Pinidji
>>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>>>>
>>>>
>>>>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>>>
>>>
>>>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>>
>>
>>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>
>
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com