Mudah-mudahan berita dari Kompas soal konflik yang mereda dan anjuran
agar kita semua menghindari slogan-slogan panas yang hanya memancing
amarah bisa mengurangi penderitaan rakyat Ambon.
peace.
Minggu, 14 Maret 1999
Konflik Ambon Mereda
Ambon, Kompas
Konflik Ambon sudah mereda dan dapat
dikendalikan. "Laporan
terakhir yang saya terima, Ambon (konflik
Ambon - Red) sudah
menurun jauh," tegas Kepala Kepolisian RI
(Kapolri) Jenderal (Pol)
Roesmanhadi ketika ditanya Kompas tentang
situasi terakhir di
Ambon, Sabtu (13/3) kemarin, di Ruang VIP
Lapangan Terbang
Pattimura, Ambon, seusai melakukan kunjungan
kerja.
Bagi banyak warga Ambon, situasi sekarang
dipandang jauh
memberi harapan dibanding sebelumnya.
Terbukti misalnya, tengah
hari kemarin arus lalu lintas di Ambon sudah
ramai, banyak toko
buka. Bahkan sebagian sekolah sudah mulai
kegiatan belajar dan
mengajar.
Di Jakarta Ketua DPRD Maluku, Abdul Fatah
Syah Doa serta Wakil
Ketua DPRD dan fraksi-fraksinya meminta
bantuan pers ikut
menyejukkan situasi Ambon. Mereka tidak
melihat bukti keterlibatan
apa yang dinamakan "RMS" ("Republik Maluku
Selatan") dalam
kerusuhan Ambon.
Berangsur pulih
Kapolri mengatakan, meski sudah jauh mereda,
di Ambon masih ada
perkelahian pribadi, seperti peristiwa
penusukan yang terjadi Sabtu
kemarin. Namun beberapa hari terakhir ini,
kata Kapolri, tidak lagi
terjadi bentrokan antarwarga secara massal.
Menurut pengamatan Kompas, Ambon yang memanas
akibat
diguncang kerusuhan sejak 19 Januari 1999,
mulai mereda dalam
dua hari terakhir ini. Sabtu kemarin,
mobil-mobil mulai berseliweran
di dalam kota maupun menuju Lapangan Terbang
Pattimura, meski
banyak di antaranya masih dikawal aparat
militer.
Situasi Ambon berangsur pulih sejak komando
pegendalian operasi
penanggulangan kerusuhan di Ambon dan
sekitarnya dialihkan dari
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku ke
Komandan Korem
(Danrem) 174 Pattimura. Pengendalian operasi
itu mulai berlaku 11
Maret 1999.
Sementara itu, Mayor (CPM) Djuhendi dari
Detasemen Polisi Militer
VIII/3 Ambon yang dihubungi Kompas juga
mengatakan Ambon
dalam keadaan terkendali. Ditanya situasi
selanjutnya, Djuhendi
belum dapat menjelaskan. Alasannya, keamanan
sulit diperkirakan.
Tidak seperti Jawa
Dalam menyelesaikan masalah Ambon yang
berkembang menjadi
konflik agama, Kapolri menghimpun
masukan-masukan dari tokoh
masyarakat, agama, dan pemerintah. "Dari
masukan itu dapat
disimpulkan, peristiwa Ambon tidak bisa
diselesaikan seperti
menangani kasus-kasus di Jawa dan daerah
lainnya," kata Kapolri.
"Di Jawa, kalau tokohnya sudah dipegang,
masyarakatnya nurut
(mengikuti -Red)," tutur Roesmanhadi. Tetapi
lain di Ambon. Menurut
Kapolri, walau sudah ada kesepakatan antara
tokoh agama, tokoh
adat, dan pemerintah di Ambon, peristiwa demi
peristiwa masih
muncul, sehingga mengakibatkan korban tewas
yang teridentifikasi
185 orang.
Itu sebabnya, dalam peristiwa Ambon, kata
Kapolri, diperlukan
penelitian yang mendalam. Perlu dicari tahu
mengapa masyarakat
tidak rukun, padahal ada budaya pela gadong
yang mengandung
makna ikatan persaudaraan tanpa melihat
agama.
Mengenai pengamanan Roesmanhadi berpendapat,
Maluku yang
terdiri dari beberapa pulau dan
kejadian-kejadian yang bersifat
sporadis, memerlukan banyak pasukan. Dengan
ditambahnya
pasukan, diharapkan persoalan Ambon dapat
diselesaikan
secepatnya.
Sekarang ini, selain ada satuan organik,
disebar satu satuan
setingkat kompi (SSK, sekitar 160 orang)
Brimob dari Kendari, satu
SSK dari Ujungpandang, dan satu SSK dari
Bali. Selain itu,
disiagakan satu batalyon (sekitar 750 orang)
503 Kostrad dari Jawa
Timur, dan satu batalyon 432 dari Jawa
Tengah.
Dalam kunjungan itu, Kapolri didampingi
isterinya, Ny. Pertiwi
Roesmanhadi, dan beberapa pejabat Polri
seperti Asisten Bimbingan
Masyarakat Mayjen Drs Dasuki dan Kepala Dinas
Penerangan Polri
Brigjen Togar M Sianipar.
Meski memberi harapan, pagi kemarin masih
terjadi pembakaran
rumah dan Hotel Monalisa di Tantui. Sedang
pada tengah hari saat
Kompas menuju bandara Pattimura, sesosok
mayat terkapar di sisi
jalan di Galunggung. Pria berusia sekitar 25
tahun mengenakan
celana jeans dan kaus ini, lehernya nyaris
putus. Tidak ada yang
mengurus mayat itu, sementara kendaraan lalu
lalang di situ.
Di sejumlah sekolah, aparat keamanan masih
berjaga-jaga. Bahkan
ikut mengawal murid-murid dengan menggunakan
truk. Demikian
pula karyawan kantor pemerintah maupun
swasta. Komandan Korem
berjanji akan menindak tegas mereka yang
mencoba melakukan
kerusuhan.
"Terhadap mereka yang tertangkap membawa
senjata, akan diproses
secara hukum," ujar Komandan Detasemen Polisi
Militer VIII, Letkol
CPM Soegijanto. Petugas juga menyita satu
truk dan lima mobil
lainnya yang mereka gunakan. Sejak Jumat lalu
aparat keamanan
mulai melakukan sweaping senjata tajam dan
bahan peledak.
Sebelumnya Pangdam VIII Trikora, Mayjen TNI
Amir Sembiring,
mengeluarkan perintah tembak di tempat
terhadap mereka yang
membawa senjata tajam atau benda-benda yang
bisa
membahayakan keselamatan orang lain.
Pers
Dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi
media cetak dan
elektronik Sabtu (13/3) malam di Departemen
Penerangan, Ketua
DPRD Maluku dengan fraksi-fraksi di DPRD
mengharapkan bantuan
pers untuk ikut menyejukkan Ambon. "Mohon
bantuan pers
membantu pemerintah dan aparat untuk
menumbuhkan ketenangan
dalam hati supaya bisa rukun seperti
sediakala. Mohon komentar
wartawan yang menyejukkan, jangan yang
panas-panas," pinta
Abdul Fatah Syah Doa dalam silaturahmi yang
dimoderatori Menpen
Moh Yunus. Pimpinan DPRD Maluku itu akan
mengusahakan
terjadinya rekonsiliasi di antaranya
melakukan pertemuan dengan
raja-raja, pemangku adat di Maluku serta
tokoh-tokoh masyarakat.
Mereka juga menilai perlunya dilakukan
pemekaran wilayah, karena
luasnya wilayah Maluku. (nas/mt)