Gimana dengan yang satu ini..? (PBB)
baca dulu deh wawancara dengan ketua partainya.
==============================================================Wawancara
Prof Dr Yusril Ihza Mahendra :
Tak Aneh kalau Saya Dicalonkan Jadi Presiden
WAWANCARA
------------------------------------------------------------------------

ISTIQOMAH. Itulah jalan hidup yang ditempuh Prof Dr Yusril Ihza
Mahendra.
Ketua Umum Partai Bulan Bintang ini sejak remaja memang aktif
berorganisasi. Ketika masih di SLTP, ia aktif di KAPPI. Saat berstatus
mahasiswa pada 1978, ia pun sempat diskor 1,5 tahun ketika membakar
patung
Pak Harto.

Lalu mengapa pakar hukum tata negara itu saat ini aktif berpolitik?
''Itu
tuntutan keadaan,'' tukasnya.

Pria kelahiran Belitung, 5 Februari 1956 silam ini mengatakan tak dapat
menolak ketika orang banyak mendaulatnya sebagai ketua umum partai.
Namun
ia mengaku tak asal terjun ke dunia politik. Guru Besar Luar Biasa
Fakultas
Hukum Universitas Indonesia ini berprinsip menggabungkan antara
intelektualisme dan aktivisme. Artinya, ia tidak malu terjun dalam dunia
pergerakan karena memiliki base akademik yang kuat.

''Dengan cara itu kita tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan dan apa
yang semestinya tidak diperbuat,'' ujarnya.

Walaupun saat ini waktunya banyak tersita mengurus partai, namun ia
masih
bisa meluangkan waktu bercengkerama dengan istri dan keempat anaknya.
''Saya tak ngotot-ngotot sehingga keluarga ditinggalkan begitu saja.''

Bekas pejabat tinggi di Sekretariat Negara RI ini menerima Hotma Siregar
dari Media, Selasa silam, di rumahnya yang asri di bilangan Ciputat,
Jakarta Selatan. Ia berbicara panjang lebar mengenai partainya, PBB,
kemungkinan koalisi antarpartai, peran ABRI, kandidat presiden, isu
kedekatan dengan Cendana hingga kehidupan pribadinya. Berikut
petikannya:

Mukernas PBB yang berakhir Februari lalu merekomendasikan agar pemilihan
presiden dilakukan secara langsung. Bisa dijelaskan mengapa PBB
merekomendasikan hal itu?

Mukernas kemarin kita memang menegaskan kembali bahwa prinsipnya kita
menghendaki presiden dipilih langsung. Tapi tidak untuk pemilihan
presiden
1999.

Memang partai akan mengajukan calon presiden, prinsip yang kita sepakati
adalah bahwa capres harus dari partai sendiri. Sangat ganjil jika partai
mencalonkan ketua dari partai lain, misalnya PBB mencalonkan Habibie.

Kami ingin partai ini sedemokratis mungkin. Karena itu waktu mukernas
kita
menginventarisasi nama-nama berdasarkan usulan-usulan dari utusan
cabang-cabang. Dari 318 utusan cabang diinventarisasi ada 10 nama
capres.
Nama saya masuk dan kita belum tahu hasilnya. Proses penilaian kesepuluh
capres itu berlangsung selama satu bulan dan akan selesai April
mendatang.
Mereka inilah yang memilih 10 bakal calon yang diinventarisasi untuk
ditentukan siapa yang skornya tertinggi.

Ini mencegah terjadinya nepotisme, begitu pula dalam mencalonkan anggota
DPR sampai ke bawah (DPR pusat, DPRD I, dan DPRD II). Selain itu kecil
kemungkinan terjadinya kolusi.

Dengan kata lain PBB akan mengusulkan untuk mengamandemen pasal 2 dan
pasal
6. Dan itu berarti pula akan mengubah fungsi MPR?

Ya, dengan sendirinya. Di dunia ini kalau negara republik menganut
sistem
presidensial, pada umumnya presiden dipilih langsung. Misalnya Alberto
Fujimori menjadi Presiden Peru, begitu juga Filipina dengan konstitusi
baru. Barangkali cuma kita (Indonesia) di mana presidennya dipilih MPR.

Dari 48 parpol yang dinyatakan berhak ikut pemilu mendatang, 17 di
antaranya adalah parpol yang berasaskan Islam. Berbagai usulan telah
diajukan untuk menyatukan visi dan misi parpol Islam. Di antaranya
pembentukan forum silaturahmi, koalisi, aliansi kampanye hingga aliansi
figur. Bagaimana pendapat Anda?

Antara tuntutan normatif dengan realitas itu dua hal yang berbeda.
Keinginan kita dari awal sebetulnya hanya ada satu kekuatan politik
Islam,
tapi kenyataannya ada banyak.

Saya yakin landasan filofis dari partai-partai itu sama. Tapi proses
transformasi yang menjadi ideologi politik masing-masing partai Islam
menunjukkan perbedaan-perbedaan.

Namun demikian keinginan untuk mencari titik temu bersama memang sudah
banyak dilakukan hasilnya masih fifty-fifty belum sepenuhnya memuaskan
karena masih ada perbedaan-perbedaan. Inilah realitas politik namanya.
Parpol kan tidak sama dengan organisasi massa, bahkan ormas pun sulit
bisa
bersatu.

Saya kira tidak mungkin melebur parpol-parpol Islam menjadi satu, karena
tidak demokratis juga. Saya melihat Islam itu menjunjung tinggi
demokrasi,
perbedaan dan keragaman. Bukan saja keragaman umat manusia tapi
keragaman
di kalangan umat Islam.

Saya kira akan terjadi proses seleksi secara wajar. Saya pernah
mengatakan
kalau PBB tidak mendapat kursi satu pun di DPR kita bubar saja. Buat apa
mempertahankan sesuatu yang tidak laku dijual kepada rakyat.

PBB dinilai oleh pengamat sebagai salah satu parpol yang akan meraih
suara
banyak. Bagaimana komentar Anda?

Begitu partai ini berdiri perkembangannya cepat sekali. Terdapat di 27
provinsi dan 327 cabang dalam waktu enam bulan. Ya, sesuatu yang
barangkali
punya kekuatan juga di masyarakat.

Partai ini bukan partai yang sama sekali baru. PBB mempunyai sejarah dan
akar sosiologis dalam masyarakat. Walaupun partai ini bukan
mentah-mentah
Masyumi dihidupkan kembali, tapi melihat Masyumi sebagai mentor politik:
bagaimana kita bisa belajar, menimba pengalaman. Kita membikin partai
baru
tapi tidak menafikan sejarah. Kita tidak anti ahistoris, tidak mungkin.

Apakah PBB sudah mengamati kira-kira partai apa yang akan diajak
berkoalisi?

Kita tidak bisa membuat perkiraan-perkiraan oleh karena masing-masing
kekuatan riil parpol itu belum jelas. Kalau sekarang kita mengatakan
akan
berkoalisi dengan partai ini dan itu, pertanyaannya siapa membonceng
siapa?
Karena kekuataannya tidak jelas.

Kalau saya mengajak partai A ke PBB, saya mengajak dia atau sepantasnya
saya yang dia ajak. Itu kan baru bisa diketahui setelah pemilu nanti.

Saya pikir tidak ada yang mendapatkan suara mayoritas sehingga mau tidak
mau harus koalisi. Saya kira tidak ada satu kelompok pun yang bisa
menafikan keberadaan golongan lain. Sebenarnya, secara politis dengan
siapa
pun kita bisa bekerja sama demi kebaikan bersama.

Mencermati kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini, masyarakat menyorot
peran ABRI yang tampaknya tak mampu menyelesaikan dengan segera.
Pendapat
Anda?

Saya kira memang berat bagi ABRI karena memikul beban sejarah. Karena
keterlibatan dalam dwifungsi dan begitu Orde Baru terpuruk, ABRI
dianggap
sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Secara politik, sebetulnya ABRI berada dalam posisi yang sulit karena
pemihakannya pada satu kekuatan. Ketika terjadi perubahan politik
besar-besaran ABRI berada pada posisi yang sulit karena peran sospolnya
lebih menonjol dibanding kekuatan hankam.

Oleh sebab itu ketika menghadapi masalah-masalah dalam negeri, ABRI jadi
serbasulit. Itu kita lihat pengalaman sekarang. Sejak awal saya tidak
setuju ABRI terlibat dalam politik bukan hanya pemilu sekarang.

Dalam pemilu mendatang ABRI masih memperoleh ''jatah'' 38 kursi. Menurut
Anda, apakah keterwakilan ABRI di DPR itu cukup untuk lima tahun ke
depan?

Secara prinsip kami menolak, yang membuat kesepakatan kan kelompok
Ciganjur. Saya nggak mau ikut.

Kekuatan ABRI di DPR setelah pemilu diperkirakan masih kuat. Kursi
''pasti'' 38 diperkiarakan akan bertambah dengan kursi dari utusan
daerah
dan golongan. Bagaimana analisis Anda?

Utusan daerah tidak sesederhana seperti apa yang dikatakan Amien Rais.
Amien masih berpikir dalam konteks Orde Baru bahwa utusan daerah
otomatis
akan dikantongi Habibie. Karena siapa yang menjadi utusan daerah itu
tergantung dari komposisi DPRD I.

Utusan golongan juga tak akan semena-mena otomatis akan dikantongi
presiden. Karena itu ditetapkan berdasarkan usulan dari
golongan-golongan
yang bersangkutan. Muhammadiyah, misalnya, diberi utusan golongan,
terserah
mereka mau utus siapa. Presiden, sebagai head of state, dia hanya
mengesahkan saja. Tidak berarti bahwa orang itu harus ditunjuk
presiden.

Mengenai netralitas PNS dalam pemilu nanti, bagaimana status Anda?

Saya sudah mengajukan permintaan berhenti sebagai pegawai Sekneg sejak 5
Februari lalu ketika keluarnya PP tentang PNS. Jangan lupa, saya adalah
ketua tim RUU tentang netralitas PNS. Saya memang tegas berpendirian
bahwa
PNS itu netral, tidak usah terlibat dalam orsospol.

Sebab saya berkeyakinan bahwa negara ini akan berjalan baik: pertama,
kalau
ada politikus yang idealis, punya komitmen besar untuk memajukan
bangsa dan
negara. Kedua, sistem kuat yang ditopang norma-norma hukum dan
ditegakkan
dengan konsisten. Ketiga, birokrasi yang bekerja secara profesional. Itu
prasyarat untuk menyelesaikan problem-problem negara ini.

Karena saya yang menyusun RUU bahwa PNS tidak boleh ikut parpol, maka
sayalah orang pertama yang akan menjadi korban. Dan saya konsisten,
setelah
UU-nya selesai, saya mengajukan permohonan dan pada 19 Februari sudah
keluar keputusan presiden yang menyatakan saya berhenti terhitung
sejak 1
Maret. Termasuk juga sebagai dosen di UI, jadi status saya akan berubah
sebagai guru besar luar biasa. Tapi Anda boleh tanya Amien Rais,
kabarnya
dia cuti hingga lima tahun, tapi kok keluar surat pengangkatannya
sebagai
guru besar.

Berbagai isu menerjang Anda mulai dari kedekatan dengan Prabowo, lalu
PBB
mendapat dana dari Pak Harto. Tanggapan Anda?

Saya sering difitnah macam-macam, rumah saya ini katanya dikasih Pak
Harto.
Padahal saya tinggal di sini sejak 1984. Masuk di Sekneg baru 1995.
Itu pun
jadi orang kecil, masih anak buahnya Moerdiono (mantan Mensesneg).
Ketemu
presiden saja tidak pernah, masa ada kepala bagian ketemu presiden yang
benar saja.

Ketika kami mengadakan muktamar di Padepokan Pencak Silat TMII muncul
isu
itu tempatnya Prabowo, Masya Allah. Bila dibandingkan dengan
partai-partai
lain, PAN misalnya Munasnya di Savoy Homan, PUDI di HI atau PKB di
Peninsula. Kami tak sanggup menyewa gedung-gedung mewah. Isu di luar
juga
menyebutkan partai kami dibiayai Pak Harto. Saya tertawa saja
mendengarnya.

Orang harus melihat kenyataannya, PBB itu uangnya pas-pasan. Ketika kami
melakukan muktamar, pesertanya harus bermalam dalam satu kamar yang
diisi
enam orang.

Kenapa tidak bertanya mengapa PKB bisa menyewa Stadion Utama, Hotel
Peninsula, dan helikopter. Duitnya banyak benar, tapi orang kok tidak
bertanya uangnya dari mana. Kami yang partainya sederhana begini
dibilang
mendapat dana dari Pak Harto sedangkan Gus Dur yang mondar-mandir ke
Cendana kenapa nggak ditanya.

Pak Harto dari dulu nggak pernah menyumbang untuk gerakan Islam. Kalau
dia
mau menyokong seharusnya dilakukan pada waktu masih berkuasa. Alangkah
bodohnya saya menjadi ketua partai, ketika semua orang menghujat Pak
Harto,
kok tiba-tiba PBB menerima duit dari beliau. Kalau begitu nggak usah
berpredikat profesor untuk seorang ketua partai, orang bego saja. Tapi
kadang-kadang begitulah romantika politik, isu-isu yang berkembang. Tapi
percayalah kami fair dan saya tidak akan memfitnah orang lain.

Barangkali itu risiko partai Islam, kita harus berpolitik secara etik
keagamaan. Orang memfitnah kita tapi etik keagamaan mengatakan kita
tidak
boleh memfitnah orang lain. Repot juga, tapi itu kenyataannya.

Bisa diceritakan bagaimana Anda memandang hidup ini?

Usia saya 43. Saya menjadi profesor termuda di UI. Jabatan saya eselon
IA
di Sekneg, sama seperti dirjen. Beginilah hidup saya. Mobil itu (sambil
menunjuk Volvo hitam di garasi) jangan salah paham, merupakan mobil
pejabat
eselon I yang nggak boleh dijual. Saya sendiri nggak sanggup
membelinya.

Banyak dalam hidup ini peristiwa-peristiwa terjadi tanpa terduga. Saya
tidak pernah bermimpi akan seperti ini, tidak pernah mengejar-ngejarnya.
Segalanya berjalan secara alamiah. Kalau saya lihat ke belakang, saya
ini
anak orang kampung, anak biasa-biasa saja.

Sering kali saya memperoleh satu jabatan hanya beberapa tahun. Sebagai
Ketua Tim Ahli Hukum DPR hanya 1,5 tahun; guru besar di UI hanya dua
tahun;
pejabat eselon I di Sekneg nggak sampai satu tahun. Saya memang tiga
tahun
di Sekneg (sejak 1995) tapi pangkat saya dua tahun lebih eselon 3 hanya
kepala bagian. Apalah artinya yang bisa dibikin seorang kepala bagian.

Saya masih tetap dengan kebiasaan mengendarai mobil sendiri, dulu naik
bus,
memakai jins, memakai celana pendek di rumah. Kalau mau makan saya
stop di
pinggir jalan. Bukan satu dua saya makan, tiba-tiba banyak orang
mengerubungi saya. Kadang-kadang saya merasa rikuh juga.

Jadi barangkali ada kesyukuran tapi juga banyak hal yang membuat saya
harus
banyak istighfar. Karena orang seperti saya kontrol sosialnya pasti kuat
sekali.

Sekarang ini saya menjadi pengangguran, lebih banyak waktu mengurus
partai.
Kadang-kadang saya bertanya saya berhenti kerja mau makan dari mana.
Belum
tahu lagi apa yang mau dikerjakan.

Bagaimana jika nantinya PBB menetapkan Anda sebagai kandidat presiden?

Saya juga tidak membayangkan suatu ketika banyak orang mendukung saya
menjadi presiden. Nggak ada sesuatu yang aneh kalau saya dicalonkan jadi
presiden. Kalau nggak terpilih nggak apa-apa. Tak ada beban moral bagi
saya. Barangkali orang seperti Pak Amien beban morilnya berat. Saya
pikir
jabatan dan lain-lain adalah amanah.

Kalaupun nanti saya didaulat menjadi presiden cukup sekali saja, setelah
itu beri kesempatan kepada yang lain. Selalu saya punya pikiran semakin
cepat selesai tugas yang diamanatkan kepada saya, semakin baik.
Barangkali
saya menjadi ketua partai ini sekali inilah. Kalaupun masih didesak
maksimum dua kali setelah itu didesak seperti apa pun saya nggak mau
lagi.

Apakah Anda sepakat bahwa kandidat presiden yang ada sekarang sudah
harus
mulai menjual program partainya?

Saya sering jelaskan dan saya mau berdebat dengan siapa pun. Saya heran
orang seperti Amien Rais berdebat dengan saya kok tidak berani. Beberapa
kali telah diusahakan. Celakanya dia kalau hadir dalam debat atau sesi,
datang belakangan sedangkan pulang paling duluan. Itu tidak fair. Di TPI
pernah mau debat langsung, katanya sudah on the way, saya tunggu,
tiba-tiba
dia tidak muncul.

Saya ingin ada debat terbuka, siaran langsung yang tidak diedit TV. Saya
pikir itu akan fair. Apalagi, misalnya, kalau nanti saya diputuskan
korps
pemilih sebagai capres, saya akan ajak debat Megawati dan Amien Rais,
ayo
kita uji program-program. Tapi kesan saya orang-orang itu memilih
menghindar. Saya tak tahu alasan mereka apa.

Kalau budaya politik Indonesia, misalnya, yang menjadi alasan?

Jangan lagi hidup-hidupkan jargon Orde Baru yang selalu bilang budaya
belum
siap. Negara ini nggak akan maju-maju. Kalau orang menyatakan siap
menjadi
presidennya harus siap segala-galanya. Jangan mencari-cari dalih tidak
siap, dong. Masa rakyatnya tidak siap mendengar. Pak Harto juga berdalih
budaya kita belum siap menjalankan demokrasi. Dengan cara itu ia
berhasil
mempertahankan kekuasaan selama 32 tahun. Janganlah rakyat dianggap
bodoh.
Rakyat itu kan tergantung pada pemimpin-pemimpinnya.

Beberapa pengamat asing memprediksi akan muncul lima partai yang akan
memperoleh suara berimbang. Komentar Anda?

Saya kira mereka nggak mengerti apa-apa, orang lain mungkin bisa
dikibulin.
Barangkali dalam hal ini saya lebih intens mengkaji politik Indonesia.
Saya
bilang awak ini profesor politik, apa pula yang mau dia bilang.

Analisis tentang satu partai akan keliru jika melihat pada banyaknya
bendera dan massa. Itu kan yang tampak di permukaan.

Karena pemilu kan one man one vote. Sepuluh ribu mahasiswa memilih sama
juga dengan sepuluh ribu pembantu rumah tangga atau tukang becak.
Nggak ada
perbedaan. Jadi saya pikir tidak sederhana menganalisis partai hanya
melihat di Pulau Jawa, banyaknya bendera. Terlalu naif.

Apakah PBB juga menargetkan perolehan suara yang akan dicapai?

Kita tidak punya target karena tidak mendidik dan implikasinya besar
sekali. Anda bisa bayangkan kalau partai A menargetkan 40% suara
kenyataannya cuma mendapatkan 10% suara. Kan mereka bisa bilang
macam-macam
pemilu berlangsung curang, menuduh apalah.

Kami hanya ingin berpolitik secara jujur, adil. Kita mau melihat politik
sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja. Kita ikut saja pemilu. Berapa
pun
suara yang kita dapat nanti, itulah hasilnya.

Apalagi saat ini PDI targetnya 40% suara, PKB 50% suara, PAN 35%, tiga
partai itu saja sudah meraih lebih dari 100% suara. Saya pikir hal itu
tidak mendidik. Kadang-kadang kita merasa diri sebagai harimau.

Karena ucapannya orang di atas bisa ditafsirkan lain pada level bawah.
Dan
saya tidak ingin membuat suasana politik menjadi keruh. Lebih baik kita
siap pemilu; ya, kita siap menang tapi kita juga harus siap kalah. Kalau
memang cuma itu yang kita dapat, ya, itulah yang harus diperjuangkan.

Saya ingin realistis saja. Kalau tidak mendapatkan suara seperti yang
ditargetkan lantas apa statement politiknya. Apakah akan berani mengakui
saya gagal, atau malah sebaliknya menyatakan pemilu berlangsung curang.
Kalau pemilunya sudah dilaksanakan secara fair, lalu apa lagi alasan
yang
akan digunakan.

Saya pikir menahan dirilah, mudah-mudahan walaupun saya jauh lebih muda
dari yang lain. Barangkali di antara nama-nama capres yang sudah
beredar,
saya paling muda, tapi saya ingin dan saya berharap lebih dewasa dalam
pemikiran dan sikap politik, ha... ha... ha.... M-2




_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke