Saya kok masih punya pikiran positif dengan menyebarnya kekuatan suara di
SU MPR ini. Perkiraan saya, akan terjadi suatu 'kompromi nasional' terhadap
susunan pimpinan pemerintahan Indonesia (presiden dan kabinetnya) pada SU
MPR dan setelahnya. Artinya, tidak akan terjadi suatu dominasi partai
tertentu dalam susunan pimpinan pemerintahan Indonesia hasil SU MPR ini,
partai-partai lain yang besar juga ikut berkontribusi dalam mendudukkan
wakilnya dalam susunan pimpinan pemerintahan tsb.
Saya pikir ini cukup fair dan kemungkinan dapat lebih diterima oleh semua
pihak. Siapapun yang akan menjadi presiden bukan lagi menjadi isu sentral.
Sebagai gantinya, komposisi susunan pimpinan pemerintahan akan menjadi satu
paket isu sentral yang lebih penting. Bagaimanapun, ini akan memberikan
'angin baru' yang penuh harapan terhadap perbaikan bangsa kita ini.
Salam,
Budi
At 09:29 AM 10/3/99 -0400, you wrote:
>In a message dated 10/3/99 9:17:18 AM Eastern Daylight Time,
>[EMAIL PROTECTED] writes:
>
>> No Way Lae Irwan......!
>> Tidak mungkin akan ada yang setuju dengan Orang Golkar!
>> Tidak mungkin !!
>>
>> Jadi jangan dulu tukar Rupiahnya ya....:)
>>
>> Salam,
>> bRidWaN
>
>
>Irwan:
>Di dalam kamus politik tidak ada tercantum kata2 "tidak mungkin"....:)
>Di dalam masa pergerakan pun tidak ada tercantum kata2 "tidak mungkin"
>
>Se-kharisma apa pun pemimpin suatu kelompok/masyarakat
>tapi bila rakyatnya sudah marah dan mengamuk tidak ada lagi
>yg bisa mengendalikan. Sudah banyak contoh di tanah air (daerah2).
>
>Saya hanya bisa berharap agar para elit politik berhenti bermain
>politik dan beralih ke rakyat dengan memenuhi apa yg menjadi
>keinginan rakyat.
>
>Kalau anda amati peristiwa demi peristiwa di tanah air,
>anda bisa melihat adanya gejala tidak sehat dimana untuk
>mendapatkan sesuatu suatu kelompok terkadang sering
>melepaskan sesuatu. Parahnya, yg dilepaskan tersebut terkadang
>adalah yg dimaui oleh rakyat. Agenda reformasi terancam
>gagal. Karenanya menurut saya agenda revolusi perlu disiapkan,
>just in case agenda reformasi gagal.
>
>Janji2 sewaktu kampanye tampaknya sudah menunjukkan gejala2
>hanya tinggal janji.
>
>Terkadang, namanya manusia, ketika masih di bawah (belum memiliki
>power/jabatan/otoritas) omongannya masih muluk2 masih idealis.
>Tapi ketika sudah mendapatkan hal2 tersebut, (power/jabatan/otoritas),
>sejarah lama bisa terulang kembali. Karenanya kita butuh orang2/wakil2
>yg memang punya integritas tinggi.
>
>Saya hanya mempercayakan kepada mahasiswa2 pejuang untuk
>menjaga secara konsisten agenda reformasi yg ada.
>Perjuangan masih panjang kawan.
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
>