Gile sepi amat hari ini. Pada ujian ya? Okay lah daripada sepi saya
bikin orek-orek satu lagi.

PK juga sudah mulai mengeluarkan jurus-jurusnya lewat Anis Matta.
Saudara Anis ini menyatakan bahwa peranan wanita di bidang
perpolitikan sangat kurang yaitu kira-kira 11% padahal padahal
jumlah pemilih 54% (pemilu lalu). Yang jadi sorotan adalah peranan
ORBA yg menjadikan peran wanita lebih sebagai pendamping.
Setelah itu baru faktor kultural, pendidikan, kapabilitas.

Saya sangat menyayangkan pengkambing-hitaman ORBA thd
minimalnya peran wanita. Model seperti itu sudah terlalu banyak
dilakukan orang. Alih-alih cari cara penyelesaian kok malah lagi-
lagi latah nyalahin ORBA. Kuno ah, mestinya kreatif dikit. Kalau
mau bikin perbandingan sih kita boleh lihat pada jaman ORLA,
atau di negara-negara maju macam AS, Inggris, Perancis. Jangan
ambil contoh Jepang, entar kita makin terperanjat. Eh, ini bukannya
saya belain ORBA, nggak ada untungnya sih, lha wong sudah
bangkrut. Sudah jadi sejarah. Menurut saya sih ini masalah kultural,
nggak ada hubungannya dengan orde-orde-an.

Memang sih PK kelihatan mengincar suara dari kaum wanita. Sah
saja, dapat dikata cerdik. Move-nya mempertanyakan kapabilitas MS
dan sekaligus mengedepankan Dewi Fortuna Anwar dan Marwah Daud.
Ini juga sah saja. Sampai di sini saya mempertanyakan nama Dewi Fortuna
Anwar. Dia itu kan pembantunya BJH, berarti masuk golongan
orang lama dong.

Satu hal lagi. PK sangat agresif dalam mencari massa lapis bawah.
Langkah ini berhasil dengan baik. Selamat deh atas jitunya strategi
cari pencoblos. Untuk beginian PAN kalah deh. Padahal dari segi
dana kan mestinya PAN lebih jago nyari dg modal persona AR itu.
Lain dengan presiden PK yg pegawai BPPT biasa, tapi punya
kemampuan menggalang kekuatan yg mestinya perlu dana besar.
Hmm...impresif.... saya benar-benar ter-impres (bukan imstruksi
presiden lho).

Yang menarik buat saya adalah belum terdengarnya capres yg
dipunyai PK. Faktor "BPPT" membuat saya agak "was-was" bahwa
pada nantinya yg akan dimunculkan adalah BJH. Toh sudah kondang
bahwa di masa lalu BJH menggunakan IPTN, BPPT, dan ICMI sebagai
modal dasar pembangunan jangka panjang. Eh, maksudnya modal thok.
BJH memang dikenal bagus dalam mengelola instutusi ini. Beberapa
teman demikian bangga menjadi anak buah BJH. Oya, istilah "was-was"
bukan berarti nggak suka BJH. Cuma masalah nggak ketemu istilah yg
tepat saja. Sah saja sih kalaupun BJH yg dicalonkan. Tebak tidak tepat
saya juga disentil oleh munculnya Dewi Fortuna tadi, sebagai pembantu
terpercaya BJH. Apakah betul tebakan saya ya mari kita lihat. Syukur
kalau ternyata nggak tepat, eh, nggak pengaruh ding.

Lihat : http://www.jawapos.com/19mar/me19ma1.htm
Sekian dulu. Any thought? Any comment?

Salam,
Eyang Troy


--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke